
Sekeluarnya dari ruangan Kiran, Sid tidak langsung pulang melainkan masuk ke ruangan dokter Ema. Tujuannya bukan lain untuk mencari bukti-bukti bahwa dirinya dan Rana tidak memiliki hubungan apapun termasuk sebagai seorang ayah dan anak.
Berjam-jam mencari, hanya ada bukti bahwa Rana memang benar adalah anaknya. Itu membuat hati Sid hancur dan air matanya meleleh saat itu juga.
Hari ini, aku harus menerima bahwa keluargaku telah hancur.
Esoknya, Sid mendatangi kembali rumah sakit. Setelah pulang dari rumah sakit dengan kesal karena Kiran yang terus menjauhi dirinya, Sid bergegas menuju sebuah kantor yang akan membuat Kiran benar-benar tak memiliki ikatan lagi dengannya, pengadilan agama.
Ia menatap nanar kantor itu, kemudian melangkah dengan berat memasukinya. Tak lupa sebuah surat tergenggam di tangannya yang lesu.
Sampai di dalam, Sid menyerahkan surat itu pada seorang pengacara.
"Apa kau memberikan sesuatu pada perpisahanmu ini?" Tanya pengacara itu.
Sid mengangguk, kemudian menatap ke atas. Memandangi langit-langit ruangan.
"Tuliskan!" Perintah Sid yang langsung diangguki pengacara dan mengambil pena serta kertas putih.
"Aku memberikan rumahku dan akan mengalihkan kepemilikannya atas nama Zoya Amaira Rafandi. Perusahaan SAR-E Group atas nama Siran Kalandra Adeva Rafandi. Dan sebuah apartemen untuk Zoya Raima Rafandi. Uang sebanyak satu triliun untuk Kirana Farella Adinata." Pengacara itu membelalakan matanya mendengar semua yang Sid katakan.
Namun, tak berani bertanya dan segera menuliskannya sebagai hak anak-anak Sid yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
"Satu lagi, sisa kekayaanku aku berikan pada anakku yang belum lahir."
Semua yang berada dalam ruangan nampak terkejut. Bisa-bisanya ia memberikan seluruh kekayaannya seperti itu.
"Lalu untuk putri diluar-"
"Tidak ada, dia tidak berhak atas apapun!" Pungkas Sid cepat saat pengacara mengingatkannya pada Rana.
Sid berdiri setelah menandatangani surat wasiat untuk anak-anaknya, kemudian berlalu meninggalkan pengadilan begitu saja.
Pengacara membuka surat perpisahan Sid, kemudian tersenyum saat melihat sesuatu yang janggal di dalamnya.
"Sepertinya mereka tidak akan berpisah jika seperti ini!" Ucapnya sambil memperlihatkan surat itu pada rekannya.
Semuanya terkekeh, kemudian berujar dengan hal-hal menggelikan.
"Aku akan sangat sedih, jika mereka berpisah! Bukankah kalian tahu mereka pasangan paling unik? Perjuangan cintanyapun diingat banyak orang!"
...****************...
Di rumah sakit, keadaan menjadi genting saat Kiran mengaduh kesakitan. Ibu Aisha segera memanggil dokter untuk melihat keadaan Kiran.
__ADS_1
"Mohon semuanya keluar! Kami akan melakukan tindakan yang sangat serius dan besar! Ini darurat!" Semua keluar.
Beberapa menit, dokter keluar lagi.
"Dimana suaminya?" Sid yang baru datang langsung ditunjuk keluarganya.
"Kami harus melakukan operasi saat ini juga, karena pasien mengalami kontraksi yang sangat serius!" Sid mengangguk yakin.
"Apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik! Selamatkan keduanya!"
...****************...
Hati semua orang diliputi kecemasan, satu jam di ruangan operasi dokter masih belum selesai juga. Ada yang menangis, berdoa, bahkan pingsan.
Hingga tak lama, lampu ruangan operasi dimatikan dan seorang perawat keluar membawa seorang bayi yang wajahnya sangat persis ketika Siran masih bayi.
"Selamat, keduanya sudah selamat dengan bayi kalian yang lahir dengan berjenis kelamin laki-laki!"
Sid meraih bayi itu dan menggendongnya.
"Pak, jangan lama-lama karena kami harus memasukan bayi anda kedalam incubator mengingat usianya yang baru delapan bulan di dalam kandungan!"
Sid mengangguk, setelah menciumi bayi itu ia memberikannya lagi pada seorang perawat.
Sid ikut mendorong, ini adalah kesempatan baginya. Menyentuh Kiran sebelum dia sadar. Maksudnya adalah menyentuh dan memegang tangan yang selalu ia rindukan sentuhannya.
Di dalam ruang rawat, Kiran masih belum sadar akibat bius yang diterimanya. Sid meraih tangan Kiran dan menggenggamnya.
"Aku harap kau bahagia, tidak ada yang akan melukaimu lagi terutama aku! Hartaku sudah jadi milik kalian, meski terpisah aku juga milikmu. Mungkin sanya memiliki tubuhku, tapi tidak dengan jiwa dan segala yang aku punya!" Sid mengecupi Kiran, lalu pergi begitu saja dari ruangan Kiran.
Kemana lagi, jika bukan melihat bayinya yang berada di ruang khusus bayi prematur. Maksudnya kali ini adalah untuk memberinya nama.
"Arsya Putra Rafandi," ucap Sid saat melihat pelayan yang ingin menulis nama bayi digelang bayi itu namun terdiam karena kebingungan.
"Eh, pak."
"Namanya Arsya Putra Rafandi, katakan ini pada ibunya jika sudah sadar!" Perawat itu mengangguk. Lalu Sid mengeluarkan uang sebanyak sepuluh lembar berwarna merah dan memberikannya pada perawat itu.
"Aku memberimu uang ini, jadi tolong rawat bayiku dengan sebaik mungkin!" Perawat itu mengangguk dan menerima uangnya dengan senang hati.
Sementara di ruangan rawat Kiran membuka matanya dan berteriak ketika menyadari perutnya tidak besar lagi.
"Bayiku?!" Tepat saat itu, Sid masuk dengan mendorong kotak kaca berisi bayi merah.
__ADS_1
Ia mendorongnya mendekati Kiran, kemudian mengambilnya dan meletakannya diatas gendongan Kiran.
Seorang perawat yang tadi diberi uang oleh Sid mengikuti.
Sid memberi kode pada perawat itu yang langsung diangguki. Setelah itu, Sid keluar dari ruangan Kiran.
"Tega sekali, bahkan ayahmu tidak ingin melihatmu!" Umpat Kiran sinis, menyindir Sid.
Sid berhenti, lalu menarik napas panjang. Ia masih membelakangi Kiran.
"Aku takut, bukankah kau tidak ingin melihat wajahku? Aku takut kau semakin benci padaku." Sid masih membelakangi Kiran. Sementara Kiran menunduk terdiam.
Setelah itu Sid menutup matanya sebentar kemudian bergegas keluar, sebelum suasananya akan semakin membuatnya disudutkan.
Kiran memandangi putranya itu dengan tatapan heran, saat melihat sebuah gelang melingkar dengan sebuah nama yang ditulis oleh entah siapa.
Perawat yang tadi diberi uang oleh Sid tersenyum.
"Bu, itu nama anakmu. Tadi suamimu yang memberikannya." Kiran menganga tak percaya, ia pikir Sid tidak peduli hingga tak memberi nama anaknya.
Kenyataannya, ia telah memberi nama anaknya dengan nama yang indah.
Arsya??? Bagaimana dia bisa memberi nama ini?
...****************...
flashback sebelum Rana datang
"Jika dulu kita punya anak lagi, kau akan beri nama siapa?" Kiran bertanya sambil membelai rambut Sid yang kepalanya sedang bersandar di bahunya.
"Arsya, jika laki-laki. Jika perempuan aku akan beri nama Rana!" Kiran terdiam, ia diam-diam memikirkan sebuah hal diluar dugaan.
Apa aku bisa melahirkan anak lagi? Akan aku coba! Batinnya dengan keyakinan besar, ia tak menghiraukan peringatan dokter yang melarangnya hamil lagi.
Keanehan setelah hari itu sering terjadi, dimana Kiran meminum sebuah obat yang tidak diketahui untuk apa.
Flashback off
"Ya Tuhan, kenapa harus begini? Apa kesalahanku sampai dihukum seberat ini?" Gumam Kiran yang mengalihkan perhatian perawat yang duduk disampingnya.
Perawat itu mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan permasalahan pasiennya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1
Maafin ya baru bisa up lagi, inipun baru sembuh setelah satu minggu lebih harus bedrest....