
Sid dan Kiran membuka kado mereka sampai habis. Semua isi kadonya membuat keduanya kesal, lantaran isi kadonya tidak ada yang bagus sama sekali.
"Sudahlah, ayo kita tidur." Sid menarik tangan Kiran hingga duduk di pangkuannya.
"Sid, kau mengajak tidur atau apa? Kenapa malah membuatku duduk dipangkuanmu?!" Gerutu Kiran sambil cemberut.
"Kenapa memangnya? Tidak boleh ya?" Sid mencubit pipi Kiran gemas.
"Kau ini." Kiran menyusupkan wajahnya ke dada Sid, karena malu.
"Kiran, kita ini sudah menjadi sepasang suami istri!" Sid menegaskan. "Jadi, kita bebas melakukan apapun di kamar ini berdua." Kiran mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di dada Sid.
"Sid, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?" Tanya Kiran tiba-tiba yang membuat Sid langsung menegakkan duduknya.
"Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak bahagia menikah denganku?" Wajah Sid mulai menunjukkan raut kepanikan.
"Bukan begitu, kau ini kenapa berfikiran buruk seperti itu?" Kiran cemberut lagi sambil menarik kedua sisi kerah jas yang dipakai Sid.
"Lalu kenapa menanyakan itu?" Sid meraih kedua tangan Kiran, dan menggenggamnya.
"Aku hanya ingin tahu!" Ujar Kiran sambil menarik hidungnya Sid pelan.
"Bohong."
"Kau ini, kenapa jadi sensitif begitu? Dulu saja, kau suka sekali menghinaku dan mengataiku!" Ketus Kiran.
"Heii... Siapa yang mengataimu? Kau sendiri yang suka mengataiku! Kau ingat, kakek lampir, kera albino dan lain sebagainya?!" Kiran terkekeh, mendengar bahwa Sid masih mengingat seluruh julukan yang diberikannya.
"Sudahlah, ayo tidur! Aku mengantuk." Kiran turun dari pangkuan Sid, tapi Sid menahannya.
"Tidur saja? Kau yakin?" Kiran bersemu malu, mendapat pertanyaan seperti itu.
"Memangnya mau apa? Apa kita akan mengobrol semalaman di sofa ini?" Kiran pura-pura polos.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Ketus Sid sambil menurunkan Kiran dari pangkuannya dan menariknya menuju tempat tidur.
Setelah itu, dia mendudukkan Kiran di atas tempat tidur.
Hei kenapa tempat tidurnya seperti ini? Rasanya seperti... Ah, mungkin memang seperti ini tempat tidur di rumah ini!
Kiran merasa ada sesuatu yang berbeda, seperti tidur di atas bola karet.
"Kau siap?" Tanya Sid. Kiran mengangguk malu-malu.
Sid memulai aksinya, dia merebahkan Kiran di ranjang. Namun salah satu jepitan yang berada di rambut Kiran yang berbentuk runcing tidak sengaja menusuk tempat tidur.
Duaarr... Byuuurr...
__ADS_1
Tiba-tiba tempat tidur itu meledak dan mengeluarkan air yang sangat banyak. Sid yang tidak tahu-menahu, langsung ambruk kelantai menindih tubuh Kiran.
"Aw!" Pekik Kiran pada saat tubuhnya terbentur ke lantai.
"Apa ini?!" Teriak Sid, penuh keterkejutan dan kemarahan. "Siapa yang melakukan ini?" Sid bangun, dan cepat-cepat menggendong Kiran yang sudah tampak kesakitan.
Pakaian yang mereka pakai basah kuyup akibat air yang keluar dari kasur tersebut. Sid mendudukkan Kiran di atas sofa. Kiran memegangi bagian pinggangnya yang kesakitan.
"Kiran, kau baik-baik saja? Maaf, tadi aku terkejut! Jadi tidak bisa menahan tubuhku sendiri!"
Kiran menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa hanya sedikit terbentur ke lantai."
"Ini semua pasti ulah Lakshmi dan Mira!" Sid memasang wajah kesalnya. "Tunggu, aku akan memarahi Lakshmi!" Pada saat beranjak pergi, Kiran menahan tangan Sid.
"Tidak, ini sudah malam! Jangan ganggu mereka. Lebih baik kita bereskan semua ini, dan cepat-cepat tidur." Sid akhirnya mengalah, walaupun dia sudah sangat kesal. Akibat ulah Lakshmi dan Mira, malam pertama mereka gagal total.
Keduanya membereskan kekacauan didalam kamarnya. Setelah selesai, Sid mengganti bajunya yang basah.
"Kiran, kenapa kau tidak mengganti bajumu? Nanti kau masuk angin!" Ujar Sid saat melihat Kiran masih duduk dengan gaun pengantin yang basah kuyup.
"Pakaianku mana?" Sid menepuk keningnya.
"Maaf, aku lupa mengatakannya. Ikut denganku, disini ada pakaian ibu. Mungkin cukup dengan badanmu." Sid membawa Kiran keluar dari kamar menuju kamar bekas ibunya dulu yang sudah lama tak Deva tempati. Karena disana bagi Deva terlalu banyak kenangan antara dirinya dan mendiang Aisha.
Sampai di kamar itu, Sid memberikan pakaian tidur bekas ibunya. Kiran mengganti bajunya di ruangn ganti. Ternyata baju ibunya Sid memang sangat pas dengan tubuh Kiran.
Sid membantu Kiran naik ke tempat tidur, lalu membaringkan dirinya disamping Kiran. Kiran berbalik membelakangi Sid, bukan karena marah. Tapi karena pinggangnya terasa sangat sakit.
Sid yang tidak nyaman Kiran membelakanginya, langsung memeluk Kiran dari belakang.
"Sayang."
"Hmm." Kiran berdeham.
"Kau marah padaku?" Kiran berbalik, dan memasukkan dirinya kedalam pelukan Sid.
"Tidak, hanya saja... Pinggangku sakit."
"Besok kita ke dokter, aku takut kau kenapa-kenapa." Sid menarik Kiran lebih dalam kedalam pelukannya. Lalu dia mengecup kening Kiran. "Maafkan adikku, dia memang suka usil pada orang lain."
"Tidak, ini pasti ulah Mira juga. Dia suka sekali membuatku kesal." Kiran membalas pelukan Sid erat.
"Hmm... Tidurlah, kau harus istirahat."
"Lalu, kau? Tadi kau bilang..."
"Tidak usah, lain kali saja. Tidak mengapa, saat ini kau sedang sakit. Tidak baik jika kita melakukan hal itu sekarang." Sid mengerti dengan apa yang ingin Kiran katakan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sid yang mengerti keadaannya saat ini, Kiran tersenyum didalam pelukan Sid.
Aku sangat mencintaimu, Sid. Kau adalah laki-laki yang sangat pengertian dan paling mengerti diriku. Aku akan selalu bersamamu, apapun keadaannya.
Kiran memejamkan matanya, tak lama sakitnyapun terlupakan seiring dengan masuknya Kiran ke alam mimpi.
"Maaf, Kiran. Gara-gara Lakshmi, kau harus mengalami hal ini di malam pertama kita!" Sid menghela napas kasar, lalu menarik selimut hingga menutupi dada keduanya dan ikut menyusul Kiran ke alam mimpi.
...----------------...
Pagi menyapa. Sinar matahari sudah menembus kaca kamar yang ditempati Kiran dan Sid. Keduanya sudah terbangun sejak tadi.
Kiran sudah mandi lebih dulu, ia sudah mencuci rambutnya dan mengganti bajunya yang sudah diantarkan oleh supir dari rumah ibunya. Sid masih berada di kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Walaupun pinggangnya masih terasa sangat sakit, tak mengurungkan Kiran untuk membereskan kamar itu. Dia bahkan sudah menyiapkan pakaian Sid.
Kriet...
Suara pintu terbuka, Sid keluar dari kamar mandi. Bibirnya tersenyum manis saat melihat Kiran sudah menyiapkan pakaiannya.
"Terima kasih, kau sudah menyiapkan pakaianku." Sid mencium pipi Kiran sekilas, lalu berniat memakai pakaiannya di hadapan Kiran.
"Apa yang akan kau lakukan?" Protes Kiran sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Sid.
"Maaf!" Sid yang tersadar langsung menunduk.
Apa ini? Bodoh! Kau sudah punya istri, tapi bukan berarti kau akan berpakaian dihadapannya kan, kan? Memalukan!
"Tidak, aku keluar dulu." Kiran keluar dari kamar. Sid langsung memakai pakaiannya.
Setelah selesai, keduanya turun bersamaan dari atas tangga menuju dapur untuk sarapan.
Deva dan Lakshmi terlihat sudah duduk di meja makan sedang memakan sarapannya. Sid membantu Kiran berjalan, Deva menoleh mengetahui putra dan menantunya datang.
"Hei, Sid! Ada apa dengan menantuku?" Lakshmi ikut menoleh.
"Ayah, kenapa ayah bertanya? Tentu saja semalam mereka membuat cucu untuk ayah!" Timpal Lakshmi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sid.
Sementara Deva kebingungan dengan kedua anaknya itu.
"Ayah, itu ulah putri manjamu itu! Mereka membuat istriku celaka!" Adu Sid, Deva langsung menghela napas kasar.
"Lakshmi!" Panggil Deva dengan nada suara agak meninggi. Lakshmi memandang ayahnya dan langsung menyengir kuda.
"Maaf.."
Bersambung....
__ADS_1