
Kiran sedang bercanda ria dengan Sid, ketika sebuah telepon membuat ponselnya bernyanyi nyaring dengan lagu kesukaan Sid.
Kal sedang bermain bersama kakek Deva dan Lakshmi.
Karena Kiran tak mendengarnya, Sid pun mengambilnya.
"Kiran, ponselmu berbunyi!" Sid memberikan ponsel Kiran yang tergeletak di meja.
"Terima kasih." Kiran menerimanya dan mengangkatnya.
"Hallo, Ami? Ada apa?" Mata Kiran membelalak, seketika wajahnya berubah jadi sedih.
"Aku akan membantumu, pasti aku akan membantumu. Aku akan bicarakan ini padanya." Kiran menutup teleponnya dan berjalan dengan wajah sedih menghampiri Sid.
"Ada apa? Siapa yang menelepon?" Tanya Sid sambil berdiri dan melangkah menghampiri Kiran.
"Bisa kita bicara sebentar? Berdua di kamar." Sid menggangguk.
"Iya, tentu. Sekalian menengok bayi kembarku."
Plak...
Kiran memukul tangan Sid lalu mendelikkan matanya tajam.
"Pikiranmu mesum terus, aku ingin bicara serius!" Kiran mencubit pinggang Sid, lalu menariknya menuju kamarnya.
"Ada apa? Lepaskan cubitannya, sakit sekali!" Sid meringis.
"Aku serius, tapi kau bercanda! Rasakan ini!" Kiran mencubiti tubuh Sid.
"Iya, maaf! Ada apa?" Sambil mengelus bekas cubitan Kiran di pinggangnya.
"Apa kau bisa membantu Ami? Dia sedang membutuhkan bantuan kita sekarang."
"Bantuan apa? Memangnya Ami kenapa? Apa dia kecelakaan?" Kiran menggeleng.
"Rafa sakit parah, dia dirawat di rumah sakit. Dokter bilang Rafa harus menjalani terapi, sedangkan terapi pasti membutuhkan biaya yang sangat besar dan Ami tidak mempunyai uang sebanyak itu." Jelas Kiran dengan detail.
"Memangnya Rafa sakit apa?" Sid memasang raut wajah penasaran.
"Leukimia, sudah lama sepertinya." Mata Sid membulat sempurna.
"Lalu kita harus membantunya seperti apa?" Kiran memutar bola matanya, dia merasa kesal dengan pertanyaan Sid kali ini.
"Bukankah aku sudah menjelaskan masalahnya barusan? Uang, Sid. Uang!" Kata uang Kiran beri nada penuh penekanan.
"Aku harus membayar biaya terapi dan rumah sakitnya, begitu?" Kiran mengangguk. "Tidak!" Tegas Sid.
__ADS_1
"Apa? Tapi kenapa?"
"Dulu aku sudah pernah membantunya, tapi kau lihat kelakuan Rafa seperti apa? Dia menghabiskan uang yang aku berikan dengan bermain-main bersama wanita j*l*ng itu!"
"Sid, kali ini Rafa sudah berubah! Dia benar-benar sakit, dan membutuhkan bantuan kita!" Bujuk Kiran.
"Tapi Kiran aku tidak mau..."
"Sid! Setidaknya bantulah Ami, balaslah kebaikannya yang dulu sudah memberikan semua keperluan bayi padaku disaat aku tinggal bersama kakek Narja dan nenek Anjum dalam keterbatasan segalanya! Jangankan pakaian bayi, makan saja kau tahu sendiri kan? Kami memakan singkong setiap harinya!" Kiran mengingatkan kembali kenangan akan dirinya bersama Ami, dan mengingat betapa besarnya jasa Ami terhadapnya.
Sid terdiam, dengan isi kepala yang mulai memikirkan apa yang dikatakan Kiran.
Ada benarnya juga, mungkin setidaknya aku bisa membalas jasa Ami.
"Baiklah, tapi hanya karena kau saja aku akan membantunya." Kiran mengangguk cepat.
"Terima kasih." Kiran memeluk Sid, Sid tersenyum senang. Istrinya memang berhati mulia, ia tak akan pernah melupakan jasa orang yang sudah membantunya. Hal seperti itulah yang membuat Sid menjadi semakin jatuh cinta pada kirananya ini.
Sungguh, ia akan menyesal seumur hidup jika dirinya berani menyakiti Kiran.
"Sid, kehidupan Ami sangat keras. Setidaknya, bantulah dia meringankan bebannya itu. Jika kita yang mengalami kerasnya kehidupan Ami, pasti itu akan sangat menyakitkan. Apalagi jika tidak ada yang mau membantunya, bukankah itu sangat keras dan menyedihkan?" Sid mengangguk.
"Maaf, aku akan membantunya. Terima kasih, kau sudah membuatku mengerti, hanya kau yang mengerti diriku." Kiran mengangguk. "Di rumah sakit mana mereka sekarang?" Kiran memberitahukan alamat rumah sakitnya, lalu Sid mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan menelepon seseorang.
"Hallo, tolong kemarilah nanti malam aku ada tugas yang sangat penting untukmu!" Setelah itu Sid menutup teleponnya, dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
"Aku ingin ikut, aku ingin bertemu dengan Ami." Sid menatap Kiran, dan memelototinya.
"Jangan! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Pikirkan dua nyawa juga yang ada di dalam kandunganmu saat ini!" Sid mengelus perut Kiran yang mulai terlihat menonjol.
"Baiklah, tapi kau benar akan kesana kan?" Sid mengangguk. "Saat pulang dari rumah sakit nanti bawakan aku jus buah naga ya?" Pinta Kiran dengan suara manjanya.
"Tentu saja, sekarang masuk ke kamarmu saja dan istirahatlah. Aku akan menyuruh pelayan mengantarkan makananmu dan juga buah untuk kau makan nanti." Kiran mengangguk, ia menurut dan masuk ke kamarnya. Sementara Sid kembali ke tempat tadi dirinya duduk bersama Kiran.
Kal masih bermain-main dengan kakek dan juga bibinya. Sid menunggu anak buahnya yang tadi di teleponnya.
"Ayah... Yah... Auh... Auh..." Kal menarik-narik celana Sid.
"Ada apa, Kal anak ayah?" Sid mengangkat Kal dan mendudukannya di pangkuannya.
"Mbu... Ibu.."
"Ibu istirahat di kamar, kau ingin bertemu ibu?" Kal mengangguk.
"Lakhsmi, tolong bawa Kal menemui Kiran!"
"Baik, kak." Lakshmi menggendong Kal, dan membawanya menemui Kiran. Ayah Deva berpindah duduk menjadi di sebelah Sid.
__ADS_1
"Ada apa tadi? Sepertinya kau terlihat bicara serius dengan Kiran."
"Kiran memintaku membantu Ami, temannya yang berada di pulau terpencil bersamanya waktu itu."
"Maksudnya?" Tanya Ayah Deva tak mengerti.
"Suaminya Ami sakit parah, ayah ingat kan? Rafa Adinata?" Ayah Deva mengangguk. "Dia terkena Leukimia sudah sangat parah, Kiran memintaku membantu biaya terapi Rafa. Itu semua karena Kiran ingin membalas kebaikan Ami." Sambung Sid.
"Bantulah dia, Ami memang sudah sangat berjasa untuk Kiran. Lakukanlah, jika itu hal baik. Jauhilah bila itu hal buruk." Nasehata ayah Deva.
"Baiklah, semua ini demi perikemanusiaan dan juga keluargaku." Angguk Sid.
"Ya, setidaknya sebagian harta kita bermanfaat dalam hal kebaikan. Semoga dengan kebaikan ini keluarga kita akan selalu diberkati dengan kebahagiaan, dan tidak ada masalah lagi yang membuat keluarga kita hancur."
Sid sangat senang, ketika ayah Deva sedang menasehatinya. Karena nasehat ayahnya memang selalu benar.
"Tuan muda, kami datang." Reihan memasuki rumah bersama Ridan.
"Bagus, terima kasih. Sekarang aku punya tugas untuk paman Reihan tolong bawa Rafa ke rumah sakit khusus penderita Leukimia, untuk paman Ridan kau yang akan bertugas memenuhi semua kebutuhan Ami dan Rafa." Keduanya langsung melaksanakan perintah Sid dengan sesegera mungkin.
Kiran yang sedari tadi memperhatikan Sid merasa terharu dan bangga pada Sid.
Sidku memang sangat terbaik.
Saat Sid menoleh ke arahnya, Kiran buru-buru pergi memasuki kamarnya lagi.
Bi Asih membawa nampan berisi makanan dan buah-buahan, ia berjalan melewati Sid. Namun Sid menghentikannya.
"Tunggu, bi. Kemarikan." Sid mengambil nampan di tangan bi Asih.
"Tuan muda, biar bibi saja yang mengantarnya untuk nona muda."
"Tidak, bi. Biar aku saja, sekalian istirahat." Bi Asih pun mengalah dan kembali kedapur setelah menyerahkan nampan ditangannya pada Sid.
Sid membawa nampan itu ke kamar Kiran, pada saat memasuki kamar ia begitu terkejut dengan penampilan kamarnya saat ini.
Kiran sedang duduk di sofa dengan wajah lesu, Kal berada di atas ranjang sambil memegang lipstik berwarna merah.
Lakshmi berada dihadapan Kal wajahnya sudah dipenuhi coretan lipstik yang berwarna sama dengan yang dipegang Kal.
"Ada apa ini?" Tanya Sid sambil menahan tawanya pada saat melihat adik semata wayangnya itu seperti badut sirkus.
Kiran menoleh, sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Putra kesayanganmu itu merusak semua alat rias dan make up ku." Lirih Kiran dengan suara lemah.
Bersambung...
__ADS_1