
Tepat pada hari ini, sudah satu minggu Sid dan Kiran menghabiskan waktu bersama. Sekaligus hari terakhir mereka bertemu.
Sid sudah bersiap untuk menjemput Kiran ke rumahnya, tapi dalam penampilan yang berbeda seperti seharu-hari. Jika setiap harinya ia berpenampilan rapi dengan setelan formal seperti jas, kali ini ia memakai pakaian biasa. Dengan celana jeans, dan kemeja motif kotak. Tampak seperti orang biasa. Tak lupa sepatu olahraga merk XX.
Walaupun berpenampilan biasa, aura ketampanannya tetap memancar, malah bisa dibilang bertambah.
Sid menuju garasi, memundurkan mobil dan setelah mobil keluar dari garasi, Sid turun dari mobil dan masuk ke garasi lagi. Tak lama, keluarlah ia dengan sepeda motor trail berwarna merah. Tak lupa juga membawa dua buah helm.
"Selamat pagi, pak." Sapa penjaga rumahnya sambil membukakan pintu gerbang.
"Pagi." Balas Sid ramah. Setelah gerbang terbuka, Sid melajukan motornya meninggalkan rumahnya dan pergi menunu rumah Kiran.
...----------------...
Seperti juga Sid, Kiran sudah bersiap untuk pergi. Kini dia sedang menunggu Sid di depan gerbang rumahnya.
Tak lama, yang ditunggu datang dengan membawa sepeda motor. Sid berhenti tepat di hadapan Kiran.
"Sid, aku pikir kau siapa tadi!" Sid tersenyum, dan melihat penampilan Kiran dari atas hingga ke bawah.
"Kiran, kita akan naik motor. Ganti bajumu!" Perintah Sid.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika tahu kau akan membawa sepeda motor, aku tidak akan memakai gaun ini!" Protes Kiran.
"Sudahlah, jangan banyak protes! Kau ganti baju dan aku menunggumu disini!" Perintah Sid sambil terkekeh.
"Baik, baik, kau tunggu disini ya? Jangan kabur! Atau aku akan memukulmu dengan ini!" Sambil menunjukkan stilleto hitam yang dikenakan Kiran.
"Kiran, cepat atau aku benar-benar kabur. Kau ini cerewet sekali ya? Mau aku jitak keningmu itu?" Sid balil mengancam Kiran.
Tanpa berkata-kata lagi, Kiran masuk ke dalam rumahnya kembali untuk berganti baju. Sid menunggu didepan gerbang sambil duduk di atas motor.
15 menit kemudian...
"Apa wanita mengganti baju dengan waktu selama ini? Kenapa dia masih belum keluar juga?" Gumam Sid bertanya pada dirinya sendiri.
Beberapa menit lagi kemudian, yang ditunggu sudah datang. Sid menyambutnya dengan bibir yang sudah hampir seperti kerucut.
"Kau lama sekali!" Ketus Sid.
"Maaf, tadi Mira bertanya terus padaku."
"Ya sudah, ayo naiklah!" Sid menyerahkan salah satu helm yang dibawanya pada Kiran. Dan satu helm lagi dipakai olehnya.
Melihat Kiran yang kesusahan memakai helmnya, Sid memakaikannya.
Deg...
__ADS_1
Jantung keduanya berdebar kencang. Mata Kiran memandang kebawah, dia merasa malu sendiri jika pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Sid.
"Naiklah." Kiran mengangguk malu. Lalu segera menaiki motor.
Sid melajukan motornya, menuju arah yang tidak Kiran ketahui. Yang dibonceng hanya bisa diam, Kiran hanya akan mengikuti kemana Sid membawanya. Karena baginya, kebahagiaannya adalah bersama Sid. Hanya Siddharth seorang, tiada yang lain.
Besok, adalah awal baru bagi mereka. Meskipun Sid belum mengetahui bahwa Kiran akan menikah dengannya, tapi Kiran bahagia dan tetap berdoa semoga rencana yang telah dibuat matang-matang oleh calon ayah mertuanya itu akan berhasil dan tidak akan terjadi masalah pada saat pernikahan mereka berlangsung.
"Kenapa tersenyum sendiri? Kau kehabisan obat?" Sid yang memperhatikan Kiran lewat kaca spion motornya, merasa ngeri melihat Kiran yang tersenyum sendiri.
"Maksudmu, kau mengataiku gila?" Kiran cemberut.
"Lagipula, aku memperhatikanmu sedari tadi kau hanya tersenyum-senyum sendiri." Kiran cemberut lagi.
"Jadi kau hanya memperhatikanku sedsri tadi? Kenapa tidak memperhatikan jalan? Bagaimana kalau kita celaka?!" Mencibir Sid.
"Tidak apa-apa. Asalkan kita celaka bersama." Sid terkekeh, lalu tanpa aba-aba mempercepat laju motornya hingga Kiran berteriak histeris karena terkejut.
"Berpegangan Kirana! Atau kau akan jatuh!" Dengan spontan, Kiran melingkarkan tangannya pada perut Sid. Lalu menyandarkan kepalanya di punggung pria yang dia cintai itu.
Mendapat perlakuan seperti itu, Sid tersenyum gembira. Sampai sedetik kemudian senyum itu pudar.
Ini hari terakhir, Siddharth! Lupakan perasaanmu. Relakan Kiran bersama lelaki itu, kau harus memulai hidup barumu juga dengan wanita pilihan ayahmu itu! Dadanya terasa sesak, apalagi saat memikirkan bahwa besok mereka akan sama-sama melangsungkan pernikahan yang tak sama sekali mereka inginkan.
"Sid, kemana kita akan pergi?" Teriak Kiran, karena takut suaranya tak bisa didengar oleh Sid. Jadi, Kiran memutuskan untuk berteriak saja.
"Jangan berteriak! Aku tidak tuli! Dan jangan banyak bertanya, kau cukup ikut saja kemanapun aku membawamu!" Sid balas berteriak.
"Baiklah, pak bos!"
"Apa?"
"Baiklah pak bos!" Kiran berteriak sangat kencang.
"Aku mendengarnya!" Sid tertawa lepas. Kiran melepaskan pegangannya pada Sid, lalu merentangkan tangannya menyambut angin yang berhembus kencang menerpa tubuhnya.
"Awas, Kiran! Nanti kau jatuh!" Sid memperingatkan.
"Biarkan saja, aku akan tetap seperti ini." Sid tergelak, melihat kelakuan Kiran yang kekanak-kanakan itu.
"Kiraaaaaaannnnn!!!! I Love You................!!!!" Teriak Sid.
"I Love You Tooo,....... Bos Galak!" Balas Kiran. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Sekretaris cengeeeeeennnngggggg.........!!!" Sepanjang perjalanan, mereka saling mengatai dengan berteriak. Tak peduli orang lain menilai mereka tidak waras. Yang saat ini sangat penting adalah mereka ingin menghabiskan waktu mereka di hari terakhir kebebasannya dengan penuh kebahagiaan.
Sampai tak terasa mereka sudah satu jam menempuh perjalanan di atas kendaraan beroda dua tersebut.
__ADS_1
"Kita sudah sampai. Ayo turun, kita beli makan dan minum disana! Kau pasti lelah." Kiran turun dari motor, dan Sid memakirkan motornya di tempat parkir.
Pada saat membuka helm, rambut Kiran menjadi berantakan. Dengan cekatan, Sid merapikan rambut Kiran dengan tangannya.
"Terima kasih." Ucap Kiran sambil tersenyum manis pada Sid.
"Berbaliklah, aku akan mengikat rambutmu." Sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna hitam.
Walaupun merasa aneh, Kiran menuruti perintah Sid. Sid menggulung sapu tangan itu, lalu mengikatkannya pada rambut Kiran.
"Selesai. Ini baru rapi." Sid kemudian mengeluarkan sebuah topi dari dalam tas selendangnya, dan memakaikannya pada Kiran.
"Ayo kita masuk." Sambil meraih lengan Kiran dan menggenggamnya.
"Tapi tempat apa ini? Kelihatannya ramai sekali."
"Ikut saja, sudah aku bilang jangan banyak bertanya." Sid memelotot gemas.
"Baik, baik, bos galak!" Mendengar panggilan itu, Sid mencubit hidung Kiran. "Hei!" Protes Kiran.
"Sekretaris cengeng! Jangan cengeng ya, dihadapan suamimu nanti!" Kira mengangguk.
Merekapun memasuki tempat yang disebut tempat menjelajah alam itu. Saat melihat keindahan tempat tersebut, Kiran dan Sid antusias mencoba satu-persatu permainan yang menarik disana.
Yang paling mahir adalah Sid. Selesai bermain, Kiran melihat sebuah air terjun.
"Sid, ayo kita bermain air terjun itu!" Sambil menunjuknya.
"Tapi, kita tidak membawa pakaian ganti! Bagaiman kalau basah?" Sid terlihat sedikit ragu.
"Ayolah, udara panas! Pasti nanti pakaian kita kering!" Rengek Kiran seperti anak kecil.
Dengan terpaksa, Sid menuruti keinginan Kiran.
Baiklah, ini demi dirimu, Kiran!
"Tunggu sebentar, aku akan menelepon dulu anak buahku." Kiran mengangguk.
Sid mengeluarkan ponselnya dan menelepon anak buahnya.
"Tolong belikan satu setelan pakaian pria, dan satu setelan pakaian wanita. Dan antarkan ke tempat ini, nanti aku akan memberikan lokasinya padamu." Setelah selesai, Sid menutup teleponnya dan segera menyusul Kiran yang sedari tadi sudah memanggil-manggilnya.
"Kau ini! Ayo cepat!" Ucap Kiran sambil cemberut.
"Iya, sebentar!" Kiran menarik tangan Sid dan membawanya memasuki air terjun.
Mereka bermain air hingga sore, tanpa sadar ada yang sedang memerhatikannya dari kejauhan.
__ADS_1
"Benar ternyata, kau sudah memiliki yang lain. Tapi aku tidak akan menyerah, kau pasti akan kembali padaku." Gumamnya.
Bersambung...