Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Siran Kallandra Adeva Rafandi


__ADS_3

"Ayah disini?" Sambut Kiran sambil tersenyum pada ayah Deva.


"Ya, kenapa? Tidak boleh ya?" Ayah Deva cemberut, lalu melangkah menghampiri Sid yang sedang menggendong bayinya.


"Ayah, lihat cucumu ini!" Sid memperlihatkan bayinya pada ayah Deva.


"Kemarikan, aku akan menggendongnya." Sid memberikan bayinya pada ayah Deva.


"Ayah, dia tampan kan? Sepertiku!" Ujar Sid dengan tidak tahu malunya.


"Iya, dia tampan sepertimu." Kiran menyetujui ucapan suaminya itu. "Karena dia bayi laki-laki, jika dia bayi perempuan mana mungkin tampan seperti ayahnya." Sambung Kiran yang membuat Sid cemberut.


"Sudah-sudah! Kau percaya diri sekali, dia tampan seperti kakeknya ini!" Timpal ayah Deva sambil menyengir kuda.


"Sama saja!" Timpal ibu Rhea dengan nada ketus.


"Kemarikan cucuku, pak Deva! Aku juga ingin menggendongnya." Bu Rhea merebut bayi itu dari gendongan ayah Deva.


"Baik-baik, ambilah!" Ketus ayah Deva.


Sid dan Kiran hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan perdebatan antar besan tersebut.


"Sudah tua, tapi masih saja berebut anak!" Gerutu Sid.


"Sudah, biarkan saja!" Ucap Kiran sambil mengelus tangan Sid.


"Dimana kakek Narja dan nenek Anjum?" Tanya Kiran, karena dari tadi belum melihat kedua orang tua yang sudah dianggapnya sebagai kakek dan neneknya sendiri itu.


"Kami disini." Sahut Ami dari belakang ayah Deva dan bu Rhea. Tampak dibelakangnya ada kakek Narja dan nenek Anjum.


"Ami, kau disini juga?" Kiran berbinar, saat melihat temannya di desa terpencil tersebut.


"Iya, tentu saja! Kau tega sekali, ya! Pergi tanpa memberi tahu aku!" Rajuk Ami dengan bibir cemberutnya yang menjadi ciri khasnya.


"Aku pikir kau senang aku pergi!" Ujar Kiran membuat Ami semakin cemberut.


"Mana mungkin, kau adalah sahabatku!" Ami mendekati Kiran dan memeluknya. Membuat Sid cemberut.


"Jangan memeluknya!" Ketus Sid dengan nada cemburu.


"Sid!" Kiran mencubit tangan Sid.


"Sakit, sayang!" Ringis Sid sambil mengusap tangan yang dicubit Kiran.


"Kalian dekat bertengkar, berdebat! Tapi jika jauh saling merindukan dan saling mencari!" Cibir ayah Deva, membuat keduanya jadi gelagapan.


"Kiran yang lebih dulu menyebalkan!" Sid menunjuk Kiran. Yang lainnya tengah asyik menggendong bayi yang baru lahir beberapa jam yang lalu tersebut, sedangkan Sid, Kiran, Ami, dan ayah Deva sibuk berdebat.


"Kiran, suamimu ini menyebalkan sekali ya?! Dia seorang bos, tapi kelakuannya somplak!" Sid menatap Ami tajam, ketika dirinya dikatakan somplak.


"Sudah, cukup!" Ibu Rhea melerai perdebatan keempat manusia konyol itu.


Keempatnya serempak menghentikan mulut mereka yang sedang mengeluarkan kata-kata perdebatan.

__ADS_1


"Iya, bu." Ucap keempatnya.


"Apa, Deva? Tidak salah ya, kau memanggilku ibu? Aku bukan ibumu!" Deva langsung memasang wajah datar.


"Iya, iya!" Ucap ayah Deva kesal.


"Sekarang sudah cukup, debatnya! Apa kalian sudah memberi nama anak kalian ini?" Tanya ibu Rhea sambil mengayun-ngayun bayi Sid dan Kiran.


Sid dan Kiran sambil memandang, tapi sebelum mereka mengucapkan nama yang sudah dipersiapkan ayah Deva langsung memotongnya.


"Aku yang akan memberinya nama!" Sahut ayah Deva. "Namanya adalah Albizar Adeva Rafandi." Sambungnya sambil tersenyum bangga.


"Apa? Kenapa dia memakai namamu juga? Jika dia memakai namamu, artinya aku juga akan menambahkan nama ayahnya Kiran!" Kali ini kedua besan itu yang memulai perdebatan.


"Namanya adalah Kallandra Adeva Rafandi." Ucap ibu Rhea, lalu mencium pipi gembul bayi itu.


"Nama yang aneh!" Ejek ayah Deva.


"Kau yang aneh, anaknya adalah anak Sid dan Kiran! Tapi kenapa kau yang memberinya nama?!"


"Terserah padaku, dia adalah calon pewaris perusahaanku!" Ayah Deva tak terima di katakan aneh.


"Dia juga calon pewaris keluarga Adiwijaya!" Nada suara ibu Rhea semakin meninggi.


Bayi yang berada di gendongan sang nenek itu menangis. Tapi ibu Rhea dan ayah Deva terus saja berdebat, tak mempedulikan tangisan bayi itu.


Sid menghela napas kesal, lalu beranjak mengambil bayi itu dan membayanya ke pangkuan ibunya.


"Jangan menangis, sayang." Kiran mengayun-ayun bayinya.


"Biarkan nenek dan kakekmu berdebat, tapi namamu ayah dan ibumu ini sudaj menentukannya." Kiran mengajak berbicara bayi merah itu, seketika tangisnya mereda.


"Siran." Ucap Sid dan Kiran bersamaan. Bayi itu tiba-tiba tersenyum, seolah senang dengan nama yang diberikan ayah dan ibunya tersebut.


"Lihat, dia tersenyum!" Seru Sid antusias.


Seketika, perdebatan antar besan itu berakhir.


"Apa? Tadi namanya apa?" Tanya ayah Deva sambil mengambil bayi yang berada di gendongan Sid.


"Siran, ayah." Jawab Sid sambil mengelus pipi bayinya lembut.


"Siddharth dan Kiran." Ucap Kiran sambil menatap Sid.


"Wah, nama yang sangat bagus!" Puji kakek Narja dan nenek Anjum.


"Siran Kallandra Adeva Rafandi." Sid menyebutkan nama lengkap sang bayi.


"Jangan berdebat lagi, nama kedua kakeknya sudah ada. Mau bagaimanapun mereka keturunan kedua kakeknya juga, kan?" Ibu Rhea dan ayah Deva mengangguk.


"Kita panggil dia siapa?" Tanya ibu Rhea.


"Kal, baby Kal." Jawab Kiran sambil meminta bayinya. Ibu Rhea segera memberikan bayi itu pada Kiran. Sid mendekati Kiran, lalu mengadukan keningnya dengan kening Kiran.

__ADS_1


"Hmm... Serasa dunia ini milik berdua saja mereka." Cibir Ami. "Ayo, kita yang hanya menyewa keluar saja! Kita harus sadar diri!" Ami membuka pintu, semua keluar dari ruangan.


Tinggal Sid, Kiran, dan baby Kal yang berada di ruangan.


"Semoga kebahagiaan ini tidak akan hilang, bayi ini akan menjadi kekuatan kita, bukan kelemahan." Lirih Sid pelan.


"Dia anugerah terbesar kita dari Tuhan. Dia adalah bukti cinta kita." Lirih Kiran sambil mencium bayinya.


Sid mencium kening Kiran, setelah berbagai rintangan yang dilalui akhirnya kebahagiaan mereka dapatkan.


...----------------...


Tiga hari sudah, Kiran berada di rumah sakit. Kini ia sudah diperbolehkan pulang. Sid tidak pernah pulang selama tiga hari Kiran berada di rumah sakit, selain itu mereka juga masih berada di kota Sukabumi.


Rencananya, Sid dan Kiran akan kembali ke jakarta setelah perbaikan rumah kakek Narja dan nenek Anjum selesai. Selain itu, Sid akan meresmikan dulu dimulainya proyek pulau milik ayahnya, setelah itu baru mereka akan pulang.


"Kiran, semua sudah lengkap? Tidak ada yang ketinggalan?" Kiran menggeleng. Baby Kal sibuk menyusu pada ibunya, sedangkan Sid mengabsen barang-barang bawaan Kiran.


"Oh iya, Sid!" Seru Kiran.


"Ya, sayang?"


"Aku bisa meminta sesuatu padamu?" Sid mengangguk.


"Ami sudah sangat banyak membantuku, selama aku tinggal di pulau itu dia yang memberiku semua pakaian bayi ini. Tolong bantu dia, Sid."


"Katakan, aku harus membantunya apa?" Sid duduk di samping Kiran, lalu membingkai wajah Kiran dengan kedua tangannya. "Aku akan selalu mengabulkan semua keinginanmu, asalkan itu mebuatmu bahagia." Kiran tersenyum senang.


"Suaminya Ami telah lama pergi, Ami bilang dia pergi saat Ami baru tahu bahwa dirinya hamil." Kiran mulai menceritakan tentang Ami.


"Lalu?"


"Tolong cari dia, agar Ami bisa tahu apa alasannya meninggalkan Ami. Setidaknya, walaupun Ami tidak bisa bersatu dengan suaminya lagi tapi dia sudah tabu apa alasan kepergian suaminya itu." Kiran menghela napas, mencoba tidak mengeluarkan air matanya.


"Sid, mereka menikah karena dijodohkan. Sebelumnya suaminya Ami menerima Ami dengan tulus dan sepenuh hati, tapi pada saat ia tahu bahwa Ami hamil, secara tiba-tiba suaminya Ami pergi dari rumah Ami." Kiran meneruskan ceritanya.


"Apa Ami tahu dia pergi kemana?" Tanya Sid menyelidik.


"Jakarta, Ami bilang suaminya sempat bilang bahwa ia akan pergi ke jakarta untuk mencari pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan lalu setelah itu menghilang tanpa kabar."


"Siapa nama suaminya?" Tanya Sid kembali.


"Rafa, namanya Rafa Adinata." Seketika Sid membelalak.


"Sid, ada apa? Kenapa kau terkejut?" Tanya Kiran saat melihat reaksi Sid lada saat Kiran menyebutkan nama suaminya Ami.


"Aku tahu, harus apa! Aku akan segera membawanya ke hadapan Ami." Sid mengangguk, dia yakin bahwa dia mengenal nama suaminya Ami dan sosoknya sudah tidak asing di matanya.


"Bagaimana caranya?" Tanya Kiran ragu.


Sid mulai menceritakan semua pada Kiran, tentang sosok Rafa yang disebut sebagai suaminya Ami.


"Baiklah, semoga berhasil." Kiran menyemangati Sid.

__ADS_1


"Ayo, sekarang kita pulang ke hotel." Sid membantu Kiran turun dari ranjang.


Bersambung...


__ADS_2