
Sid masih merasa kesal, lantaran Kiran tidak mengangkat teleponnya. Sedangkan adiknya, Lakshmi tidak dapat dia andalkan.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar.
"Siapa? Masuklah!" Pintu terbuka, munculah sosok Rio.
"Pak, itu em... Aku ingin melaporkan bahwa dibawah terjadi keributan." Ucap Rio sambil tertunduk.
"Siapa? Siapa yang telah berani membuat keributan di kantorku?" Sambil berdir tegak.
"Seorang wanita, pak. Dia bilang, dia adalah kekasihmu."
"Kekasih?" Sid mengerutkan dahinya.
Jangan-jangan ini ulah....? Shit!
Tanpa berkata-kata lagi, Sid segera meninggalkan ruangannya dengan Rio mengikuti di belakangnya.
Tiba di lobi, ia sangat terkejut melihat wanita yang di katakan Rio sedang membuat keributan di dalam kantornya.
"Siddharth, lihat! Mereka melarangku menemuimu. Katakan pada mereka bahwa aku adalah kekasihmu." Sambil berhambur, memeluk Sid.
Cih, menjijikkan!
"Diam kau, Kanaya! Sudah ku bilang, jangan berani-beraninya masuk ke kantpr ini lagi! Kekasih apa? Kau hanya wanita j*l*ng yang dengan sukarela menyerahkan tubuhmu pada pria lain!" Sid mendorong tubuh Kanaya hingga terjatuh.
"Siddharth, aku mohon percayalah padaku, aku tidak akan mengkhianatimu lagi!" Memeluk sebelah kaki Sid, sambil menangis.
"Dengar baik-baik Kanaya! Aku tidak akan memungut sampah, apalagi bekas orang lain! Aku tidak sudi bersama dirimu lagi!" Tegas Sid, sambil memberikan isyarat pada penjaga kantornya untuk membawa Kanaya pergi.
"Tidak, hei! Jangan menyentuhku! Berani sekali kau!" Kanaya berusaha melepaskan tangan kedua penjaga itu yang memegang tangannya.
"Seret dia keluar!" Perintah Sid.
"Tunggu, Sid aku ingin memberitahu hal yang penting padamu!" Sid langsung memberi isyarat pada para penjaga, agar berhenti menyeret Kanaya.
"Katakan! lima menit, kau punya waktu lima menit. Dimulai dari sekarang!" Sid menunjukkan kelima jarinya, sambil melihat jam tangannya.
Kanaya merogoh tas yang di tentengnya, lalu mengeluarkan sebuah benda. Ia berjalan mendekati Sid dengan langkah cepat, setelah dekat ia mengarahkan beda itu pada tubuh Sid.
"Ini untukmu, Sid!" Benda yang dikeluarkan Kanaya ternyata adalah sebuah pisau lipat, ia menancapkan pisau itu pada tubuh Sid.
__ADS_1
Sid yang tidak memiliki persiapan langsung terjatuh ke lantai dengan perut yang sudah mengeluarkan darah.
"Pak Sid!" Rio segera menghampiri Sid.
"Ta... Tangkap... Di... Dia." Dengan sisa tenaga, Sid menyuruh Rio menangkap Kanaya.
"Tangkap dia! Dan bawa dia ke kantor polisi!" Perintah Rio. Beberapa karyawan kantor mencoba menangkap Kanaya yang sudah akan berlari, berhasil. Mereka segera membawa Kanaya ke kantor polisi.
"Kalian, bantu aku membawa pak Sid ke rumah sakit." Rio segera memapah Sis menaiki mobil, dan membawanya ke rumah sakit. Sebelum melajukan mobilnya ia berbicara dengan Niki terlebih dahulu.
"Niki, telepon pak Deva. Beritahu dia tentang ini, dan katakan bahwa kami akan membawa pak Sid ke rumah sakit xx!" Niki mengangguk, lalu menghubungi Deva dengan ponselnya.
...----------------...
Semua sedang asyik tertawa, lalu sebuah telepon menghentikkan tawa mereka.
"Niki menelepon." Deva langsung menoleh.
"Angkat saja, mungkin Niki ingin memberitahumu bahwa Sid sedang marah-marah mencarimu."
Kiran mengangkat telepon dari Niki.
"Ya, Hallo Niki. Ada apa?"
Kiran membelalakkan matanya, saat mendengar kata-kata Niki di telepon.
"Baiklah, kami akan segera kesana!" Kiran memutuskan teleponnya.
"Ada apa Kiran? Kenapa kau panik sekali?" Deva mendekati Kiran yang suda menangis.
"Paman, kita harus segera ke rumah sakit XX. Sid, terluka!" Semua orang membelalak.
"Apa? Terluka bagaimana?" Deva terkejut.
"Kanaya... Ka... Kanaya, di... Dia.." Tangis Kiran pecah, tidak mampu menjelaskan apa yang dikatakan Niki.
"Sudahlah, lebih baik kita langsung pergi ke rumah sakit! Kita akan menanyakan itu pada Sid langsung!" Usul Dendi.
"Baiklah, ayo cepat. Kiran, di rumah sakit mana dia sekarang?"
"Rumah sakit XX."
Tak berlama-lama mereka segera bergegas pergi menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan oleh Niki.
__ADS_1
Setengah jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Deva sudah tidak bisa menahan lagi dirinya, ia langsung berlari menuju resepsionis rumah sakit.
"Pasien yang bernama Siddharth Adeva Rafandi, dimana dia?"
"Sebentar, pak. Kami akan melihatnya dulu." Resepsionis itu segera mencari nama Sid di layar komputer. "Ruangan gawat darurat, pak. Di sebelah sana." Deva segera berlari menuju ruangan yang ditunjukkan.
Kiran dan keluarganya mengikuti dari belakang. Di depan ruangan, sudah terdapat Rio, Alfi, dan Edi, tak ketinggalan juga Ikhsan 😌.
"Rio, bagaimana Sid?" Deva langsung menyerbu Rio dengan pertanyaan.
"Sedang di tangani, pak." Jawab Rio.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa dia terluka?" Kembali menyerbu Rio, menanyakan kronologinya.
"Pak, tadi kami sedang bekerja. Lalu seorang wanita bernama Kanaya, datang dan meminta bertemu dengan pak Sid. Kami menolaknya, karena dia tidak memiliki pertemuan dengan pak Sid." Berhenti sebentar. "Lalu wanita itu membuat keributan dengan berteriak-teriak bahwa dia kekasih pak Sid. Aku segera memberitahu pak Sid, dan pak Sid turun untuk melihat kekacauan yang dibuat wanita itu. Pak Sid sudah mengatainya dan menyuruh penjaga menyeretnya keluar, lalu tiba-tiba wanita itu bilang ingin mengatakan hal yang sangat penting pada pak Sid. Pak Sid menurutinya, wanita itu mendekati pak Sid, dan setelah sangat dekat dia mengeluarkan sebuah pisau lipat yang langsung dia tusukkan pada pak Sid." Jelas Rio dengan sangat detail.
"Kanaya! Kenapa dia selalu membuat hidup putraku penuh masalah, apa maunya?!" Deva memukul tembok di sampingnya.
"Paman, aku mohon tenanglah. Lebih baik saat ini kita berdoa untuk kesembuhan Sid." Deva mengangguk.
Seorang dokter keluar dari ruangan gawat darurat. Deva segera menghampirinya dan segera menanyakan keadaan putra sulungnya itu.
"Bagaimana putraku, dokter?"
"Lukanya memang dalam, tapi kami berhasil menghentikkan pendarahannya. Saat ini keadaan pasien juga sudah mulai stabil kembali. Kami akan langsung memindahkannya ke ruang perawatan." Jelas dokter bernama Arman.
"Terima kasih dokter, apa kami boleh menemuinya?"
"Tentu, silahkan setelah kami memindahkannya ke ruang perawatan."
Setelah Sid dipindahkan ke ruang perawatan, Deva dan Kiran beserta keluarganya langsung menemuinya.
Hati Kiran terenyuh, melihat pria yang dia cintai terbaring di atas ranjang rumah sakit. Ditatapnya wajah Sid dengan penuh cinta.
"Kiran, kau temani dia dulu. Paman akan menemuinya setelah dirimu. Kalian juga harus sadar diri, biarkan Kiran menemani calon suaminya." Rhea dan Dendi terkekeh, lalu mengikuti Deva keluar. Sementara Kiran menepuk keningnya pelan.
Bisa-bisanya bercanda, padahal anaknya sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit!
Pandangannya kembali beralih pada sosok yang sedang memejamkan mata di hadapannya.
Lihatlah, matamu terpejam saja kau terlihat tampan. Pantas saja banyak waita yang tergila-gila padamu. Termasuk aku. Sid, aku ingin melihat wajah tampanmu yang sedang tertidur ini setiap pagi. Aku harap kau mencintaiku. Eh, apa? Kau ini memalukan sekali ya, Kiran!
Kiran meraih tangan Sid, dan menggenggamnya pelan. Penuh cinta dan kasih sayang.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Sid. Sangat mencintaimu."
Bersambung...