
**Aku lanjutkan novel ini hanya karena banyak yang masih menunggu, semoga engga pusing sama alur ceritanya karena sebenarnya authornya otaknya cekak kaya kiran dulu jadi alurnya serasa ngaco.
😁🤣🤣🤣
oh iya setuju gak kalo nanti author bikin Bos Galak IdamanKu 2? Dengan peran anak ke empat Sid dan Kiran yaitu Arsya dengan sekretaris yang lebih koplak dari Kiran dan Bos yang lebih Galak dari Sid? Tapi nanti, ya setelah novel-novel author yang masih on going selesai. 🤣🤣**
...****************...
Pintu dibanting Kiran, membuat Sanya dan Sid sama-sama terperanjat. Sid hanya bisa mengelus dadanya melihat kelakuan Kiran, ia sedikit tahu juga bahwa Kiran masih mencintainya.
Buktinya, pada saat Sid disandari Sanya Kiran langsung terlihat cemburu dan membuat ulah.
"Berhenti, Sanya! Jangan dekati aku sampai pernikahan kita berlangsung!" Sambil menjauh dan menyusul Kiran.
Sanya menganga mendengar itu, ia mengira bahwa Sid memang benar-benar berniat menikahinya.
Didalam kamar, Kiran mengumpati Sid dengan kata-kata kasar di depannya langsung.
"Pantas saja, kau disandari perempuan sepertinya nyaman! Dasar makhluk astral! Aku membencimu!" Teriaknya dengan jari yang menunjuk-nunjuk Sid.
Yang diteriaki hanya bisa melongo, sifat dasar istrinya telah kembali, sifat yang saat pertama kali Kiran bekerja di kantornya sering mengumpatnya.
Sid benar-benar sangat merindukan umpatan Kiran, tapi kenyataannya waktu sangat cepat berlalu. Dua minggu lagi ia dan Kiran akan berpisah secara resmi.
Oh bunda, aku harap kau menemukan bukti besar yang bisa membuatku membongkar kejahatan Sanya tepat waktu!
Sid membayangkan ibu Aisha yang diluar sana sedang berjuang untuk membongkar kejahatan Sanya, Ibu Aisha juga berjuang untuk membatalkan perceraiannya dengan Kiran.
Itu sebabnya, Ibu Aisha menghilang tanpa kabar selama ini.
"Siddharth Kera Albino!" Teriak Kiran sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya didepan wajah Sid.
"Ya, sekretaris gila? Kenapa? Apa kau merasa menyesal menggugat cerai aku?!" Umpatan itu sebenarnya tidak nyata, bukan lain adalah rencana Kiran yang berusaha membuat Sanya yakin Sid dan Kiran sudah saling membenci dan hubungan mereka sebatas atasan dan sekretaris.
"Apa? Tidak! Aku justru menyesal menikah denganmu!"
"Ya sudah, kenapa kau terus mengumpatku? Kita akan segera bercerai bukan? Dan aku akan menikah dengan Sanya!"
Di luar Sanya tersenyum mendengarkan pertengkaran itu. Di sela-sela menguping, Rana datang dan membuat Sanya terkejut.
__ADS_1
"Ibu mendengarkan apa?"
"Sssttt... Jangan ingin tahu, kita sebentar lagi akan jadi kaya! Ibu akan menikah dengan ayah Sid." Mata Rana berbinar mendengar itu.
"Jadi dia memang ayahku?"
"Bukan!" Seketika bibirnya tidak tersenyum lagi.
"Lalu aku anak siapa?" Rana menyentuh tangan Sanya, sementara Sanya menatap Rana dengan tatapan sinis.
Sanya tak menjawab pertanyaan Rana, ia malah menarik tangan Rana pergi dan masuk kedalam kamar.
"Kau ingin tahu anak siapa?" Rana mengangguk.
Sanya kemudian mengeluarkan kopernya dan membukanya. Lalu mengambil sebuah figura berisi foto seorang laki-laki.
"Ini Ayahmu!" Memberikannya pada Rana. Rana menatap wajah laki-laki dalam foto itu, sangat mirip dirinya.
"Dimana dia sekarang, bu? Apa dia masih ada?"
Sanya melipat kedua tangannya di dada, ia menghadap jendela yang mengarah ke taman belakang rumah besar milik ayah Deva.
"Dia masih bagian dari keluarga ini, tapi entah dimana. Dia adalah cucu dari kakek Deva juga."
Suara itu tiba-tiba mengalihkan perhatian Sanya dan Rana, dengan cepat Sanya keluar dari kamar. Melihat ada siapa diluar.
Namun yang bisa dilihat, hanya vas bunga alumunium yang sudah tergeletak diatas lantai.
"Siapa?!" Teriak Sanya sambil mencari-cari.
"Mungkin kucing, nona!" Pelayan rumah yang lewat menjawab. "Kebetulan nona kembar baru saja membeli kucing dan kehilangan kucingnya!"
Sanya tak menghiraukan jawaban, karena ia tiba-tiba melihat sebuah bayangan melintas.
"Nona, tuan Sid menyuruhku mengantarka sesuatu untuk anda!" Pelayan menyerahkan sebuah nampan berisi makanan kesukaan Sanya.
Sanya tersenyum senang, kemudian membawanya masuk kedalam kamar.
"Kau lihat ini? Jangan tanyakan ayahmu lagi dimana! Sekarang dia jadi ayahmu!" Yang dimaksud adalah Sid.
__ADS_1
Rana tidak mengangguk, ia masih penasaran dengan dimana sosok ayahnya berada saat ini.
...*********...
Sementara di luar, Sid terlihat panik sambil menyembunyikan seseorang dengan kain penutup.
"Bunda tidak apa-apa?" Ibu Aisha membuka kain penutupnya dan mengangguk.
"Sid, ibu akan pergi dulu! Besok ibu akan mengumpulkan semua buktinya!" Sid mengangguk, kemudian mengantar ibu Aisha keluar.
Ayah Deva yang sejak tadi memperhatikan merasa terkejut, melihat Sid mengendap-endap keluar dengan wanita yang memakai jubah menutupi kepalanya.
"Sid, itu siapa?" Cegahnya pada saat Sid akan keluar.
Sid terdiam, jantungnya berdebar kencang. Ia pasti akan ketahuan, pasalnya Sid tidak bisa berbohong jika pada orang tuanya.
Tak mendapat jawaban, ayah Deva mendekati orang yang tertutup jubah itu. Bermaksud membuka jubahnya.
"Dia..." Berhenti, ketika melihat tangan yang meingsyaratkan Sid untuk diam.
"Sid! Ayah!" Tiba-tiba Kiran terdengar berteriak, tak lupa diiringi suara tangisan bayi Arsya yang menggelegar membuat seketika perhatian ayah Deva beralih.
Ayah Deva menghampiri Kiran tanpa peduli lagi Sid membawa siapa. Sedangkan Sid menggunakan kesempatan itu untuk membawa ibu Aisha keluar.
"Hati-hati, bunda! Sampai jumpa besok!"
Sementara di dalam kamar, Kiran sudah sangat panik melihat bayi Arsya yang memuntahkan cairan berwarna merah.
"Sid! Ayah!" Lagi-lagi Kiran berteriak, Ayah Deva akhirnya datang lebih dulu.
"Ya Tuhan!" Ia sangat terkejut melihat hak itu. Terutama Sid yang baru masuk langsung menggendong bayi Arsya dan membawanya keluar.
"Siapkan pakaiannya! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Waktu berlalu begitu cepat, Sid dan Kiran sudah sangat cemas menunggu hasil pemeriksaan anaknya.
Dokter didepannya masih membaca laporan mengenai bayi Arsya.
"Bayi kalian..."
__ADS_1
Bersambung...
Segitu dulu hehe, nanti malam kalo ada waktu up lagi 😁