
Beberapa tahun berlalu, keadaan Keyra sudah mulai membaik karena pengobatannya di Singapura.
Hari ini mereka berencana akan pulang kembali ke tanah air mereka.
"Semua sudah siap kan? Ayah sudah memesan tiketnya, besok kita akan pulang." Keyra tersenyum girang, pasalnya dia sudah sangat merindukan tempat kelahirannya.
"Semua sudah dikemas, aku sudah memeriksanya kembali juga." Jawab Ami sambil mengelus kepala putrinya.
"Aku senang sekali, bisa kembali ke Indonesia." Keyra bersandar di tangan ayahnya sambil memegang kalung yang memiliki liontin berbentuk bulan tersebut di lehernya.
"Senang karena akan bertemu lagi si pemilik kalung ini, begitu 'kan?" Keyra tersipu malu.
"Asal kau tahu saja, dia itu anak bibimu sendiri! Kau tahu bibi siapa?" Keyra menggeleng.
"Siapa?"
"Anak Bibi Kiran." Ami memberitahu Keyra.
"Tapi tidak apa-apa, jika kau dan Kal saling menyukai suatu saat nanti semoga kalian berjodoh. Dan ayah doa'kan juga semoga hanya maut yang akan memisahkan kalian." Sambil mengecup pipi Keyra.
"Ayah, ayah ini!" Rafa dan Ami terkekeh, melihat pipi putrinya bersemu merah karena malu.
"Ayah hanya bercanda, lagipula ayah tidak ingin menjodohkanmu. Biarlah hatimu sendiri yang memilih nanti." Mengecup lagi pipi Keyra.
"Sudah, Keyra masih kecil jangan membahas tentang jodoh dulu!" Ujar Ami. "Ayo tidur, besok kita dapat penerbangan pagi, kan?" Rafa mengangguk, lalu menggendong Keyra dan menidurkannya diatas ranjang dengan posisi di tengah-tengah.
...----------------...
Pagi hari tiba. Rafa, Ami, dan Keyra sudah duduk di dalam pesawat.
Ketiganya tersenyum gembira karena akan kembali ke tanah air mereka. Terutama Keyra, yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kal.
"Ayah, kapan pesawatnya akan turun?"
Rafa menepuk keningnya, sebab Keyra sudah berkali-kali menanyakan kapan pesawatnya akan turun.
"Sayang, sebentar lagi! Kau ini kenapa tidak sabar sekali?" Mencubit pipi Keyra gemas.
"Pasti dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kal." Timpal Ami dari belakang sambil terkekeh.
"Ibu!" Rengek Keyra sambil menyembunyikan kepalanya di dada ayahnya.
"Sudah jangan menggodanya terus, lihat itu wajahnya sudah seperti kepiting rebus." Ejek Rafa, membuat Keyra semakin tersipu malu.
Beberapa menit kemudian, Pesawat sudah mendarat sempurna di bandara.
__ADS_1
Keyra, Ami, dan Rafa sudah berada di dalam mobil dengan supir yang menjemputnya.
Selama perjalanan Keyra tertidur, sedangkan Ami dan Rafa terus mengobrol.
Tiba-tiba ponsel supir berdering. Ami pun menyuruh supir mengangkatnya, beberapa saat supir mengangkatnya sambil menyetir. Tidak sadar bahwa kendaraan yang mereka tumpangi tersebut sudah oleng akibat hujan yang membasahi jalan dan membuatnya licin.
Semuanya masih belum menyadarinya, bahkan supir masih terus berbicara di telepon hingga saat mobil sudah oleng supir itupun menjadi panik.
"Hei, pak! Hati-hati!" Teriak Ami sambil memeluk Keyra. Supir hanya menoleh sekilas sambil mengangguk.
Mobil terus oleng, membuat Rafa menjadi tambah panik. Rafa memeluk Ami dan Keyra.
Supir terus berusaha mengendalikan mobilnya. Dari belakang terlihat sebuah truk yang melaju dengan sangat cepat, mungkin bersiap akan mendahului mobil yang ditumpangi Keyra.
Benar saja, mobil itu sudah semakin dekat dan akan menyalip mobil yang ditumpangi Keyra.
Supir pun membanting setir ke kanan, dimana ada banyak juga kendaraan. Ami, Rafa, dan Keyra berteriak.
"Keyraaaa!" Ami dan Rafa memeluk Keyra, mobil yang ditumpangi terus oleng hingga akhirnya truk yang menyalip mereka tadi pun ikut oleng.
Braak...
Truk itu menabrak mobil milik Rafa, hingga terbalik dan sudah keluar percikan api dari mobil tersebut.
Sudah banyak orang yang berkerumun melihat kecelakaan yang menimpa Rafa, Ami, dan Keyra. Mereka mencoba mengeluarkan satu-persatu orang didalamnya.
Ami masih setengah sadar ketika seseorang mengeluarkannya dari dalam mobil.
"Ke... Keyra." Ucapnya lemah, lalu detik berikutnya matanya sudah tertutup rapat dan napasnya berhenti berhembus.
"Dia sudah meninggal." Salah seorang pengendara mobil yang membantu mengeluarkan Ami, Rafa, dan Keyra memeriksa keadaan ketiganya.
Lalu orang itu memeriksa Rafa dan supir yang mengendarai mobil Rafa.
"Mereka juga sudah meninggal." Ucapnya lagi sambil menatap dengan tatapan iba.
Salah seorang wanita yang berjualan di pinggir jalan meraih Keyra, lali memeriksanya.
Ia berbinar taatkala memeriksa Keyra.
"Anaknya masih hidup!" Serunya sambil menggendong Keyra.
"Ayo cepat, bawa dia ke rumah sakit!" Seru yang lainnya.
...-----------------------...
__ADS_1
Satu minggu berlalu setelah kecelakaan tragis menimpa Keyra dan kedua orang tuanya, hingga Ami dan Rafa meninggal. Kini Keyra masih berada di dalam rumah sakit, dalam masa perawatan.
Ia sudah sadar dua hari yang lalu, bahkan sempat menangis saat mengetahui bahwa kedua orang tuanya telah tiada.
Hari ini Keyra sudah diperbolehkan pulang karena keadaannya sudah membaik. Tapi, yang membuat Keyra tambah sedih lagi adalah ia harus pulang kemana? Bahkan saat ini Keyra tidak tahu ada di daerah mana.
"Bagaimana? Nak, apa kau tahu alamat rumah kerabatmu?" Keyra terdiam, memikirkan sesuatu.
"Sukabumi, nenek dan kakek ada di Sukabumi." Ya, yang saat ini bisa Keyra ingat hanyalah daerah pulau terpencil tersebut yang berada di Sukabumi.
...----------------...
Sudah satu minggu, Keyra berada di rumah neneknya. Setiap harinya ia menangis karena merindukan ibu dan ayahnya yang sudah tiada.
Kini, ia sendiri. Meskipun ada nenek dan kakeknya tapi hatinya tetap merasa kesepian.
"Keyra, ayo makan dulu. Nenek sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Keyra menggeleng.
"Sayang, sudah jangan bersedih. Biarkan ayah dan ibumu tenang di dunia barunya." Kakeknya Keyra yang baru datang langsung mengelus kepala Keyra.
"Iya, jika kau rindu nanti kita ke rumahmu yang di Jakarta." Keyra menoleh, kini wajahnya sedikit ceria.
"Benarkah?" Kakek dan Neneknya mengangguk.
Kenapa bisa begini? Aku tidak menyangka, bahwa satu telepon saja ternyata bisa merenggut nyawa orang yang aku sayangi. Keyra.
...----------------...
Sejak pukul sepuluh siang, Siran dan nenek Rhea sudah menunggu di depan rumah Keyra untuk menyambut kepulangan keluarga Keyra.
Dua jam berlalu, sejak Rafa mengabari bahwa mereka sudah dalam perjalanan pulang di dalam mobil menuju ke rumah.
Sid dan Kiran yang ikut cemas. Keduanya mencoba menghubungi ponsel Ami dan Rafa berkali-kali.
Setiap hari bahkan selama dua minggu Kal tidak berhenti mengunjungi rumah Keyra.
Hingga pada suatu hari Kal menyerah karena tak kunjung bisa bertemu dengan Keyra sahabatnya tersebut.
Dimana dia? Kenapa tidak pulang juga? Apa dia baik-baik saja?
Batinnya berkecamuk, antara marah dan sedih. Di satu sisi ia merindukan Keyra dan di sisi lainnya kecewa karena prasangkanya pada Keyra bahwa Keyra tidak ingin menjadi sahabatnya lagi.
**Tambahan partnya masih ada ya, kita mulai fokus ke kehidupan masa kecil Keyra dan Siran.
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, kasih gift juga boleh... Jangan lupa juga baca karya terbaru author.
SIRAN : THE MUSICIAN'S LOVE STORY**