
Pagi harinya, Kiran sudah berada di ruangan kantornya.
"Hai Kiran!" Tiba-tiba sebuah kepala muncul dari balik pintu, lalu diikuti seluruh tubuhnya.
"Hai." Jawab Kiran datang karena yang datang adalah Ikhsan membawa nampan berisi makanan.
"Boleh aku menemanimu?"
"Sepertinya tidak, karena pekerjaanku sangat banyak. Mungkin lain kali saja." Jawab Kiran berusaha ramah, namun hatinya jengkel dengan pria aneh dihadapannya ini.
"Ooo... Begitu ya." Ucap Ikhsan dengan raut wajah kecewa, membuat Kiran terkikik di dalam hatinya.
Lagipula untuk apa kau menemaniku? Hanya membuat perutku mulas saja!
"Baiklah, jika begitu aku keluar dulu ya? Sampai jumpa!" Ikhsan keluar dari ruangan Kiran tanpa menoleh lagi.
"Pergi saja, tidak ada yang mengundangmu untuk masuk ke ruanganku!" Ketus Kiran.
Tak lama, terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai. Kiran segera berdiri, lalu masuklah sang empu pemilik kantor itu bersama dengan Rio asisten pribadinya.
"Selamat pagi, pak." Sapa Kiran pada Sid.
"Pagi." Balas Sid singkat seperti biasanya, sambil berjalan lurus menuju ruangannya.
"Kau hanya menyapa dia saja? " Tanya Rio tiba-tiba.
"Selamat pagi pak Rio!" Sapa Kiran dengan suara berusaha ramah, karena mengingat Rio pernah menghinanya saat pertama kali Kiran dibawa oleh Edi ke kantor ini.
"Huh, terlambat!" Ketus Edi, lalu langsung menyusul Sid yang sudah berada di ruangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pulang bekerja, wajah Kiran tampak kusut dan matanya sembab, membuat paman dan ibunya keheranan, tak terkecuali adiknya yang suka bicara seenaknya seperti bosnya itu.
"Kak, kenapa wajah kakak sembab begitu?" Tanya Mira sambil memperhatikan wajah Kiran.
Kiran tidak menjawab pertanyaan adiknya itu.
"Ibu, Paman, aku istirahat dulu!" Rhea sang ibu dan Dendi sang paman mengangguk.
Sementara Mira mengikutinya menuju kamar.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Kiran dengan wajah kesal.
"Kakak, aku hanya ingin bertanya! Kenapa kakak menangis?"
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa Mira!" Jawab Kiran dengan suara yang menggelegar di telinga Mira.
"Jangan bohong, kak! Aku tau, kakak pasti hamil dan kak Rian tidak ingin bertanggung jawab!" Tebak Mira.
"Miiiraaaaaa! Kau itu kenapa?! Tidak mungkin kakak hamil, kak Rian tidak akan bisa..."
"Maksud kakak, kak Rian impoten?"
"Sudah kakak bilang, dia tidak akan bisa berbuat yang tidak-tidak pada kakak!" Jawab Kiran marah.
"Iya, iya! Aku hanya bertanya, tapi kakak marah-marah!" Dengus Mira sebal. Mira kemudian mendahului Kiran dan masuk ke kamar Kiran, ia menjatuhkan tubuhnya di sisi ranjang, menyelonjorkan kakinya dengan santai. Kiran mengamati.
"Mira, kakak bingung dengan sikapmu Kenapa kau jika berbicara tidak berpikir lebih dulu? Seperti kau tidak diajari pendidikan moral saja di kampus!"
"Kak, dalam sehari di kampus itu hanya beberapa jam saja. Waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah."
"Oke, jika begitu kakak ralat. Kau seperti tidak di ajarkan di rumah..."
"Hei, jadi kakak menuduh ibu dan paman tidak mengajarkan pendidikan moral padaku? Ibuuuuu....!"
Kiran cepat-cepat membungkam mulut Mira dengan tangannya. "Kau memang pantas kuliah di jurusan hukum! Pintar sekali mencari celah!"
Mira terkekeh.
"Kakak masih sebal dengan bosmu itu? Sampai kapan?"
"Selamanya, dia lebih cocok dipanggil kakek lampir! Lulusan luar negeri, S2 tapi jika berbicara tidak pernah berfikir terlebih dahulu! Jika dia mati, sepertinya harus membeli dua peti mati. Satu untuk jasadnya dan yang satunya lagi untuk lidahnya." Kiran menerawang, kembali mengingat Sid.
"Kakak, batu jangan pernah dilawan dengan batu. Yang bisa memadamkan api adalah air, bukan api juga. Jika kakak ingin bisa akur dengan bos kakak, bersikaplah berbeda! Berhikmatlah!" Mira menyibak rambut sebahunya.
"Maksudmu?"
"Jika bos kakak galak, kakak seharusnya tidak mengikutinya galak. Seharusnya sebaliknya, terkadang orang yang keras itu rapuh. Dia bersikap dingin, pasti karena dia tidak ingin di remehkan. Dia ingin terlihat keras dan kuat, padahal sebenarnya dia itu pura-pura kuat. Orang seperti itu jangan kita sikapi dengan keras, tapi berbaik hatilah padanya. Rangkulah dia!" Mira menarik napas panjang, sebelum melanjutkan wejangannya. "Kakak, cobalah bersikap baik padanya. Aku yakin lama-kelamaan pasti dia akan luluh dan baik padamu. Buktikanlah!"
Kiran terdiam, tercenung. Meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir mungil Mira. "Mira, kau benar. Dia galak, aku juga ikut galak. Selalu membantah, yang ada pasti kami akan terus menjadi musuh bebuyutan."
"Itulah, kak! Mulai sekarang kakak ubahlah sikapmu!"
"Tapi kau tidak mengenal pak Sid. Jika dia berbicara, terkadang dia selalu menghina. Kakak ingin sekali menggampar wajahnya."
"Semuanya memang tidak mudah, tapi jika kita berusaha pasti berhasil! Anggaplah ini permainan. Tantangan untuk meluluhkan hati bos di kantor kakak! Bagaimana?"
"Iya, kau benar! Kakak pasti akan mencobanya! Terima kasih Mira, adikku tersayang!" Kiran mengacak rambut Mira lembut. "Tapi, kebetulan otakmu bisa benar? Tidak melantur."
"Sebenarnya aku memang baik budi. Tapi kakak yang tidak pernah bisa melihat kebaikan dalam diriku selama ini." Mira terkekeh geli, sembari berdiri. Lalu berjalan menuju pintu keluar kamar.
__ADS_1
Ya, Kiran dan Mira memang tidak pernah akur sedari kecil. Bahkan saat masih ada ayah mereka, selalu berebutan jika ayahnya pulang membawa makanan kesukaan mereka. Tak jarang, rumah Rhea berisik bukan karena banyaknya anggota keluarganya, tapi karena pertengkaran Kiran dan Mira.
"Mira." Panggil Kiran.
"Ya?" Mira memutar kepalanya, menghada Kiran.
"Sepertinya kau sangat cocok kuliah di jurusan Psikologi daripada kakak."
"Sebenarnya kakak juga cocok mengambil jurusan itu. Tapi, karena kakak terlalu banyak bermain, otak kakak jadi tertutup oleh lemak. Hilanglah semua ilmu yang sudah kakak pelajari selama.... ENAM TAHUN!"
"Br*ngs*k! Baru dipuji sedikit tapi sudah besar kepala! Keluar kau!" Kiran melempar bantalnya pada Mira, sementara Mira berlari sambil tertawa terbahak-bahak.
Kiran merebahkan dirinya dan kembali bergelung di antara bantal-bantal nesar yang berserakan di atas karpet sambil memikirkan Sid. Eh, Sid?
Pak Sid, lihat saja! Aku akan mulai mencari tahu kenapa kau segalak itu! Aku pasti bisa menemukan alasan kegalakanmu itu! Eh, kenapa aku jadi memikirkannya? Ada apa ini? Ingat Kiran, kau hanya ingin berbaikan dengannya, jangan terlalu mengingatnya! Kau punya Rian di seberang sana!
Kiran mengusap wajahnya pelan, mencoba menepis Sid dari benaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sid sedang duduk di balkon kamarnya, ia memandang langit yang gelap itu.
"Bunda, maaf! Aku belum bisa membalaskan apa yang telah terjadi padamu hingga membuatmu terpisah dariku, ayah, dan adikku selamanya. Aku berjanji, aku akan segera menemukan keluarga pelenyapmu dan akan membuat hidup mereka menderita!" Gumam Sid masih dengan mata tertuju pada Langit gelap yang hanya dihiasi cahaya kerlap-kerlip bintang.
"Sid, kau belum tidur?" Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Sid dari arah belakang.
"Ayah, aku tidak bisa tidur. Ayah juga belum tidur?"
"Ayah juga tidak bisa tidur. Kau sedang apa disini?"
"Aku sedang memikirkan bunda, aku merindukannya." Ucap Sid sambil memandang langit kembali dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah lebih merindukannya. Ayah rindu segalanya yang dia miliki." Ucap Deva, ayahnya Sid.
"Ayah, siapa yang telah melenyapkan bunda?" Deva terdiam mendengar pertanyaan Sid.
"Ayah tidak bisa memberitahumu saat ini, tapi kau pasti akan tahu siapa yang telah melenyapkan ibumu!" Deva berbalik, lalu meninggalkan Sid sendirian lagi di balkon.
Ayah, aku pasti akan tahu! Ayah tenang saja, aku akan membalas perbuatan mereka yang telah membuat ayah kehilangan bunda!
Sebenarnya, Sid tahu siapa pembunuh ibunya. Akan tetapi karena insiden yang dialaminya tempo dulu, membuat ia tak bisa mengingat pembunuh sang ibu.
"Arrrggghhh! Kenapa aku harus kehilangan ingatan, jika saja itu tidak terjadi pasti aku sudah bisa membalaskan kematian bunda!" Sid beranjak, lalu memasuki kamarnya dan merebahkan dirinya di atas ranjang hingga kantuk mulai menerpanya hingga akhirnya ia tertidur pulas.
Bersambung...
__ADS_1