
Jangan lupa makan ya, laper sama baper sama-sama butuh makanan!🤣😁
"Hei, bangun! Bangunlah bos galak, jangan terlalu lama tidur. Aku rindu dimarahi dan dibentak olehmu. Aku rindu dipelototi oleh matamu itu." Kiran mengelus-ngelus tangan Sid dengan sangat lembut.
Benarkah kau mencintaiku? Jika benar, aku akan sangat senang. Jika tidak, maka tidak mengapa. Aku akan berusaha untuk melupakanmu.
Kiran menggenggam jemari Sid dengan penuh kelembutan, mungkin jika Sid dalam keadaan sadar, ia akan bisa merasakan kehangatan genggaman jari Kiran. Sayangnya, saat ini Sid masih belum sadar.
"Ki... Kiran." Sosok di depannya mulai menggerakkan jemarinya, dan bergumam lirih. Kiran antusias, ia mendekatkan kepalanya ke dekat Sid.
"Ki... Kiran." Lirih Sid lagi dengan suara lemah.
"Sid, aku disini." Kiran semakin mengeratkan genggamannya, seolah takut yang digenggam melepaskannya.
Perlahan, mata dengan tatapan teduh itu terbuka. Bola matanya bergerak kesana kemari, seolah mencari sebuah sosok yang sangat ia rindukan. Sosok yang telah berhasil mencairkan es di dalam hatinya.
Pada saat menemukan sosok yang dicari, sebuah senyum terbit di bibir Sid, membuat hati Kiran menghangat.
"Tunggu, aku akan memanggil dokter." Kiran melepaskan genggamannya. Lalu memencet tombol yang terhubung keruangan dokter. Tak lupa juga. memberitahu Deva, Rhea, Dendi, dan Mira yang sedang menunggu di luar.
"Paman, Sid sudah sadar!" Seru Kiran.
Merekapun masuk, dan langsung bersyukur karena kekhawatiran mereka berhenti karena Sid sudah sadar. Tak lama, datanglah dokter yang tadi menangani Sid. Untuk mengecek keadaan Sid.
"Keadaannya sudah membaik, setelah dua hari baru boleh pulang. Tapi, usahakan jangan terlalu banyak bergerak atau lukanya akan kembali terbuka."
"Baik, dokter. Terima kasih." Dokter mengangguk, dan pamit kembali bekerja.
"Sid, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih terasa sakit?" Deva mendekati putranya dan merangkulnya.
"Tidak, ayah. Aku sudah merasa lebih baik." menjawab pertanyaan ayahnya, tapi matanya hanya memandang ke satu arah. Kiran.
"Bisa kau jelaskan, apa yang terjadi padamu? Rio sudah menceritakannya, tapi ayah ingin mendengarnya langsung darimu."
"Ayah, aku tidak ingin kembali pada Kanaya. Aku tidak bisa, hatiku sudah kututup rapat untuknya. Saat ini hanya ada satu nama dalam hatiku, aku akan memulai hidup baru. Bersamanya, untuk selamanya." Semua tertegun mendengar kata-kata Sid, terutama Kiran. Kiran menatap mata Sid dalam-dalam dan mencoba mencari kebohongan dalam sorot matanya itu. Sid pun menatap Kiran dengan wajah yang dipenuhi kesungguhan sambil tersenyum.
Tidak ada, hanya ada cinta dan kesungguhan.
Ternyata kau membalas perasaanku? Bagaimana bisa? Tuhan, apakah ini sungguh nyata? Jika memang iya, aku berharap kau menyatukan kami sebagai cinta sejati.
Hatinya tersentuh, air mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Siapa? Katakanlah, ayah ingin mendengar kau mengatakan cinta pada wanita itu."
Maafkan ayah, tapi ayah harus mengujimu dulu dengan rencana ini!
Yaelah Deva, anak sendiri diisengin! 😁
"Aku mencintai Kiran, sangat mencintai Kiran. Aku ingin memulai hidup baruku bersamanya, selamanya." Ucap Sid tegas.
__ADS_1
"Maaf, nak. Tapi Kiran sudah dijodohkan, dan akan segera menikah dengan lelaki pilihan paman dan ibunya."
Duaaarr.....
Sid terdiam, hatinya terasa sakit. Sementara Kiran tersenyum. Yang lainnya memasang senyum jahil pada Sid.
"Benarkah?" Sudah hampir menangis.
Semua mengangguk, termasuk Kiran sendiri.
"Maaf." Lirih Sid pelan, sambil menunduk.
Sekali lagi, Tuhan! Aku harus menutup hatiku lagi, setelah ini aku tidak akan mencintai wanita manapun lagi.
Semua terdiam, Sid memalingkan wajahnya ke arah jendela. Hatinya terasa begitu sakit, benar-benar sakit. Lebih dari pada saat Kanaya mengkhianatinya dengan pria lain.
"Ayah juga sudah memilihkan seorang wanita untukmu. Kau pasti akan menyukainya." Sid menoleh pada ayahnya. Hatinya tambah sakit ketika ayahnya mengatakan bahwa sudah memilih wanita lain untuknya.
"Hmm.." Hanya berdeham, tidak tahu harus berkata apa.
"Kau istirahatlah, kami akan menunggumu diluar." Tanpa menunggu jawaban dari Sid, semua keluar dari ruangan itu. Kiran berjalan paling belakang, saat ia hendak keluar ia menoleh sebentar pada Sid yang sudah berurai air mata.
"Aku ingin bicara denganmu, Kiran." Langkah Kiran terhenti, ia menoleh. Lalu berjalan mendekati Sid.
"Ya, pak." Sid menatap Kiran.
"Maaf, aku tidak bisa. Kau pasti akan mendapatkan wanita yang lebih baik daripada diriku."
Maaf, ini gara-gara paman Deva. Tapi, aku juga mencintaimu. Melebihi diriku sendiri.
"Terserah, pergilah. Aku akan melupakanmu, semoga kau bahagia." Sid melepaskan tangan Kiran dengan sangat kasar, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela lagi.
Lihat itu, kau sudah menyerah? Aaaah... Menyebalkan.
Kiran meninggalkan ruangan Sid dengan senyuman jahil tentunya, bagaimana tidak? Rencana yang sudah diatur oleh ayah dari Sid sendiri berhasil.
...----------------...
Sudah satu minggu sejak kejadian Kanaya menusuk Sid, keadaan Sid sudah berangsur membaik.
Hari ini ia berencana pergi ke kantor untuk terakhir kalinya. Ya, ia memutuskan untuk pergi ke London.
"Bi Asih, tolong bantu aku mengemasi barang-barangku! Aku akan pergi ke kantor sebentar, setelah itu langsung berangkat ke bandara."
"Baik, tuan muda." Bi Asih segera melaksanakan pekerjaannya.
Sid memutuskan untuk pergi ke London hari ini karena tidak mungkin, ia akan bisa kuat mendengar Kiran yang akan menikah dengan lelaki pilihan keluarganya.
Sid memasuki mobilnya dan langsung melajukannya dengan kecepatan sedang. Setelah sampai di kantor, ia disambut oleh karyawannya dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Selamat datang kembali di kantor, pak." Sambut Rio.
"Terima kasih." Balas Sid dengan wajah datar. "Tolong kumpulkan seluruh karyawan kantor, aku ingin mengumumkan sesuatu." Lanjutnya memerintah.
Rio bergegas untuk mengumpulkan seluruh karyawan kantor, tak lama semua sudah berbaris rapi.
"Kehadiranku saat ini, ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting pada kalian." Sid menghela napas panjang, pada saat menoleh pada Kiran yang ternyata masih bekerja di kantornya. Lalu mengalihkan matanya menatap lurus ke depan.
"Mulai besok, kantor akan diberikan tanggung jawabnya pada Rio. Karena aku akan pergi ke London dengan waktu yang tidak dapat ditentukan, untuk mengurus perusahaan yang berada di London." Semua tampak terkejut, namun Kiran terlihat tetap santai.
Kenapa, Kiran? Kenapa kau seperti tidak peduli? Apa kau memang tidak memiliki sedikitpun perasaan padaku? Baiklah, jila memang begitu. Maka aku akan mengikuti caramu ini. Aku akan menghilang dari hidupmu, jika itu memang membuatmu bahagia.
"Tapi kenapa, pak? Bukankah yang berada di London itu hanya cabang saja?" Edi memberanikan diri bertanya.
"Ya, kau benar. Tapi, sedang ada masalah besar di cabang itu yang mengharuskan aku turun tangan langsung." Jawab Sid, tentunya itu tidak benar.
"Baiklah, semoga masalahnya cepat teratasi pak. Kami akan menunggumu disini." Kiran ikut berbicara.
Masalahku teratasi jika aku sudah bisa melupakan dirimu, Kiran.
Sid mengangguk dengan wajahnya yang berekspresi datar.
Sid, andai ayahmu tidak merencanakan ini, maka kita tidak perlu bersandiwara seperti ini.
"Kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing." Semua membuabarkan diri, tinggal Kiran yang masih berdiri disana bersama Sid.
"Sid, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Kiran melangkah mendekati Sid.
"Apa?" Tanya Sid dengan nada suara dingin.
"Terimalah." Sambil menyerahkan sebuah kotak pada Sid.
"Apa ini?" Sid meraih kotak itu.
"Bukalah, dan terima kasih kau sudah memberikannya padaku. Hari ini aku mengembalikannya padamu. Karena besok aku juga sudah tidak akan bekerja disini lagi." Sid mengepalkan tangannya, dan meremas kotak itu hingga hancur.
Terlihatlah isi dari kotak itu. Kunci mobil-Siran.
"Kau serius? Kiran! Kau benar-benar membuatku terluka!" Bentak Sid. Kiran sedikit terkejut, namun ia tetap bersikap santai.
Paman Deva, kau membuatku berada dalam masalah besar! Bukannya menyatukan kami, kau malah menjauhkan kami!
"Maaf, tapi aku..."
"Aku tau, kau tidak mencintaiku. Baiklah, terima kasih untuk jasamu selama ini! Kau boleh pergi dari kantor ini. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu itu." Sid berbalik dan meninggalka Kiran yang masih berdiri disana, mematung.
Bersambung...
Sid, kamu dijebak loh! 🤣 Deva tega banget sih jailin putranya sendiri ih jadi kesel deh!
__ADS_1