Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-20 (Season 2)


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Sid langsung menggendong Kiran dan membawanya ke ruang Unit Gawat Darurat tanpa menunggu para perawat membawakan bantuan.


"Dokter!" Teriak Sid. Hasilnya seorang dokter langsung menghampirinya dan memeriksa Kiran.


"Pak, keluarlah, kami akan langsung memberinya tindakan! Tolong anda urus pendaftaran pasien di resepsionis!" Sid langsung berlari.


Diluar ayah Deva dan ibu Aisha sudah sampai dengan wajah cemas.


"Dimana Kiran?"


"Dia ada didalam, aku akan mengurus data-datanya."


"Tidak, tunggu disini! Ayah yang akan mengurus segalanya!" Ayah Deva langsung berlari ke resepsionis dan mengurus seluruh biaya serta apa yang diperlukan Kiran.


"Lakukan yang terbaik untuk istri dari anakku!"


...****************...


Lima belas menit, keadaan sunyi namun dalam ketegangan dan kecemasan. Ibu Aisha tak berhenti menangis. Bahkan ibu Rhea yang baru datang langsung shock saat mengetahui putrinya dalam keadaan antara hidup dan mati.


Dokter Niken keluar dari ruangan tindakan, membuat beberapa orang langsung menghampiri Dokter Niken.


"Apa Kiran memiliki riwayat keguguran?" Sid mengangguk. "Kapan?"


"Belum lama, karena komplikasi dan dokter melarangnya hamil lagi." Dokter Niken menjadi terkejut atas pernyataan itu.


"Apa dia atau siapapun tahu bahwa Kiran hamil lagi saat ini?" Semuanya sagat terkejut, terutama Sid yang langsung menjatuhkan dirinya hingga lututnya membentur ke lantai.


Hamil lagi?


"Jadi tidak ada yang tahu?" Sid dan keluarga menggeleng cepat.


"Beberapa hari yang lalu Kiran datang kesini untuk menanyakan kehamilan di usia yang sudah tua apakah berbahaya atau tidak." Ujar Dokter Ema dengan penjelasan yang membuat Sid semakin terkejut.


"Lalu, terakhir kemarin Kiran datang dengan sebuah testpack yang menunjukan dua garis merah yang artinya Kiran hamil lagi. Dia sangat senang dan bahagia karena kehamilannya sangat sehat. Lalu berencana untuk mengajakmu kesini besok, memberi kejutan padamu. Dia bilang Sid sangat ingin memiliki bayi lagi."


Sid kembali tercengang dalam kenyataan itu.


Ya Tuhan, dia ingin memberiku kejutan. Tapi aku telah membuatnya dalam keadaan ini.


"Sekarang pilih kau ingin mempertahankan kehamilan Kiran atau melakukan aborsi?"


Sid masih terdiam.


"Aku tidak berhak memutuskan, hanya Kiran yang berhak untuk saat ini."

__ADS_1


"Dia benar, dia sangat tidak berhak. Ini adalah anakku, aku ingin bayi ini lahir meski aku akan pergi setelah bayi ini lahir." Sahut Kiran yang ternyata sudah sadar dan duduk disebuah kursi roda dengan tangan terpasang selang infus.


Sid menoleh ke arah suara kemudian langsung berjalan dengan langkah gontai mendekati Kiran.


"Tidak, aku tidak bisa jika kau seperti ini."


"Kau bisa, bahkan kau bisa mengkhianatiku dengan kebenaran itu." Ucap Kiran dengan wajah pucat dan suara yang masih lemah.


Dokter Niken dengan wajah cemas menghampiri Kiran dan memintanya kembali kedalam.


"Kiran, kau masih harus dirawat. Kembalilah kedalam."


Kiran menggeleng dan menatap dokter Niken dengan wajah memelas.


"Aku baik-baik saja, aku ingin pulang. Aku tidak bisa berada disini dengan suasana seperti ini."


Dengan terpaksa dokter Niken mengangguk, meski dengan satu syarat untuk mengirim salah seorang perawat yang akan menjaga dan mengawasi Kiran.


Selama perjalanan pulang Kiran masih melamun memikirkan nasib rumah tangganya dengan Sid. Meski Sid sejak tadi meliriknya sambil mengendarai mobil, Kiran tak sedikitpun melihatnya.


"Putar mobilnya ke arah rumahmu!" Perintah Kiran. Sid mengangguk, lebih memilih menuruti apa keinginan Kiran.


Hingga sampai di depan rumah Kiran turun sendiri dan memasuki rumah dengan koper yang dibawakan Sid.


"Kiran, jangan begitu aku mohon buka pintunya. Jangan biarkan kau kelaparan, kau pasti belum makan, kan?" Kiran tak menjawab lebih memilih menangis terisak dengan wajah tertutup bantal.


Dia anakku, bukan anakmu!


Ingin sekalin Kiran berteriak seperti itu pada Sid, akan tetapi keadaannya saat ini tak memungkinkan.


Diluar kamar Sid menjatuhkan dirinya diatas lantai dan menangis sambil menyandarkan kepalanya.


Merutuki kebodohannya dimasa lalu, itulah yang sangat ingin Sid lalukan saat ini. Meski rutukan itu tak dapat mengulang waktu dan menghilangkan kesalahan Sid di masa lalu.


Bodoh, Siddharth! Sanya adalah kebodohanmu!


"Kiran, buka pintunya. Izinkan aku menemanimu, aku mohon!" Ucap Sid dengan isakannya yang membuat Sid bicaranya tidak terdengar jelas.


Kiran membuka pintunya hingga membuat Sid ikut terjungkal saat terbukanya pintu.


Kiran melihat Sid dengan tatapan terkejut saat Sid terjungkal hingga telentang sambil memegangi kepalanya yang terbentur lantai.


"Apa yang kau lakukan? Aku harus istirahat, carilah kamar lain dan istirahatlah! Jangan pernah menunjukan wajahmu dihadapanku!" Ketus Kiran.


Sid bangun masih dengan mengelus kepalanya.

__ADS_1


Kiran menahan tawanya yang hampir lepas dengan membuang pandang ke arah lain dan mencoba mengingat apa yang telah Sid lakukan padanya.


Sid berdiri menatap Kiran dengan tatapan memohon.


"Kau adalah tanggung jawabku, aku tidak ingin terjadi apapun padamu ataupun bayi kita." Ucap Sid sambil mengelus perut Kiran.


Kiran menahan tangan Sid dan menepisnya dari perutnya lalu membuang pandang lagi ke arah lain.


"Dia anakku, bukan anakmu!" Sinis Kiran sambil mendorong Sid keluar dari kamarnya dan menutup pintunya segera.


Setelah itu Kiran mengambil ponselnya dan menelepon supir untuk menyuruhnya mengantarkan Kal dan si kembar ke rumah Sid.


Sid yang masih berada diluar kamar Kiran tentunya mendengar apa yang Kiran katakan.


Hingga tak lama terdengar suara anak-anaknya yang memasuki rumah dan berlari menuju dirinya.


"Ayah, kenapa diam disini? Ayo masuk, kita temani ibu! Nani bilang aku akan punya adik lagi, kan?" Sid menatap Kal dan memeluknya. Si kembar ikut memeluk Sid.


"Kiran, anak-anak sudah datang!" Ucap Sid sambil mengetuk pintu kamar.


Kiran membukanya dan menyuruh ketiganya masuk.


"Ayah akan mengambilkan kalian makanan dan minuman, apakah kalian lapar?" Kal dan si kembar mengangguk semangat. Sid langsung bergegas pergi membeli makanan dan juga minuman.


Baru satu langkah pergi, Sid kembali dan menghampiri Kiran.


"Kau tidak ingin meminta sesuatu?" Tanya Sid dengan suara pelan. Kiran menatap Sid dengan tatapan sendu.


"Tidak, aku akan membeli apapun yang aku inginkan sendiri. Aku bukan istri yang manja seperti wanita itu!" Bisik Kiran pelan.


Sid tertegun dan segera pergi dengan satu tetes air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya.


Sebenci itukah kau padaku? Padahal kebenarannya sudah jelas, meski dia mirip denganku bukan berarti dia anakku.


Sid melajukan mobilnya dengan kepala yang dipenuhi pikiran tentang bagaimana caranya mencari kebenaran tentang Rana dan Sanya. Apakah Rana anaknya atau ada sebuah rencanan dalam diri Sanya hanya untuk membuat keluarganya hancur?


Tes DNA, pasti harus menggunakan salah satu bagian dalam dirinya tapi bagaimana caranya aku mengambil sample untuk yes DNA?


"Hanya jika aku mendekati Rana dan Sanya, aku baru bisa melakukan tes DNA dan mengambil samplenya!" Gumam Sid.


Pikirannya terus memikirkan bagaimana cara mendekati Sanya tanpa membuat Kiran semakin marah dan membuat hubungan mereka lebih parah dari saat ini.


"Biar nanti aku pikirkan, sebaiknya aku harus secepatnya melakukan itu!" Gumam Sid lagi dengan terus melajukan mobilnya untuk menuju supermarket dan membelikan makanan untuk keluarganya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2