Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Jalan-jalan Berdua


__ADS_3

Taman itu lumayan ramai. Beberapa orang duduk bergerombol diatas rumput, ada juga yang duduk di atas bangku kayu yang tersedia.


Sid dan Kiran memilih duduk diatas bangku kayu yang persis menghadap kolam di tengah taman. Kolam itu memiliki air mancur ditengahnya, ikan-ikan pun terdapat banyak didalamnya. Berbagai jenis pohon tumbuh di beberapa bagian taman. Memberi kesan teduh dan romantis.


Sid memasukan jemari Kiran dalam genggamannya, membuat tangan Kiran terasa hangat.


Kiran menyandarkan tubuhnya di bahu Sid, dengan sesungging senyuman yang tak kunjung lenyap dari bibirnya. Sesekali mereka saling memandang penuh rasa cinta.


"Indah sekali, ya." Gumam Kiran pelan.


"Tentu saja, tambah indah dengan kehadiranmu disisiku." Jawab Sid sambil melepaskan genggaman tangannya daj merangku Kiran mesra.


"Apa? Coba katakan, sekali lagi!" Kiran menatap Sid gemas.


"Tambah indah dengan hadirnya dirimu disisiku." Ulang Sid lalu mengecup mesra kening Kiran.


Disaat momen romantis itu, tiba-tiba sepasang kekasih berjalan melewati Kiran dan Sid dengan tangannya yang memegang gula-gula kapas. Kiran menelan ludah, entah kenapa dihatinya terbesit niat untuk merebut makanan itu ditangan orang yang tak dikenalnya tersebut.


"Sid, sepertinya enak sekali ya?" Ucap Kiran sambil menepuk-nepuk paha Sid, sementara matanya terus menatap gula-gula kapas itu.


"Apa? Apa yang enak?" Sid mengedarkan pandangannya, mencari tahu apa yang diinginkan istrinya. Pandangannya terhenti, saat melihat pasagan yang baru saja berjalan melewati mereka sambil membawa gula kapas.


Sid melirik Kiran, lalu mengikuti arah pandangnya. Sama. Ternyata Kiran menginginkan itu.


"Kau mau itu?" Kiran mengangguk. "Aku akan membelikannya." Sid beranjak, tapi Kiran menahannya.


"Aku ingin yang ditangan wanita itu!" Rengek Kiran sambil menujuk wanita itu.


"Apa?!" Sid membelalakan matanya. "Kiran, itu tidak mungkin. Aku akan membelinya saja, ya?" Sid memelas pada Kiran.


"Aku ingin itu!" Rengek Kiran lagi, Sid bimbang mana mungkin dia akan memintanya pada orang itu.


Bagaimana ini? Tidak mungkin, bila aku harus memintanya.


"Sid!" Tegur Kiran, membuyarkan lamunan Sid.


"Eh, iya-iya. Kiran kita beli saja, ya? Lihat itu!" Sid menunjuk pedagang gula-gula kapas.


Tapi pandangan Kiran tetap pada gula-gula kapas yang ada pada tangan wanita yang duduk tidak jauh dari hadapannya.


"Sekalian kita belikan untuk Kal!" Bujuk Sid.


"Tidak mau, untuk Kal belikan saja dari sana. Tapi aku tetap ingin yang itu!"


Huft, aku harus bagaimana?


Sid mulai melangkah menuju wanita itu, ia melirik kesana-kemari dan mencoba menyembunyikan rasa malunya.


"Nona, maaf." Ucap Sid gugup. Sepasang kekasih itu menoleh.


"Ya, ada apa?" Jawab laki-lakinya sambil tersenyum ramah.


"Eh itu, itu hmm..." Sid benar-benar gugup, ia tidak tahu harus bilang apa. Jika tidak, pasti Kiran akan sangat marah.


"Ada apa, pak? Katakan saja!" Ujar wanita itu tak kalah ramah.


"Bisa kau berikan gula-gula kapas itu padaku? Dan kau beli lagi yang baru, istriku ingin yang ada ditanganmu." Ucap Sid setengah gugup. Wanita dan pria itu saling menoleh, bingung.

__ADS_1


"Pak, disana ada pedagangnya. Kenapa tidak membelinya saja disana?" Sambil menunjuk ke arah pedagangnya.


"Jika istriku mau pasti aku sudah membelikannya, tapi dia ingin yang ada ditanganmu." Jawab Sid cepat.


"Istrimu sedang hamil, ya?" Sid mengangguk.


Lebih baik aku iyakan saja, agar dia bisa dengan suka rela memberikannya.


"Baiklah, terimalah." Wanita itu memberikannya.


"Terima kasih, ini untukmu belilah yang banyak." Sid memberikan selembar uang dengan pecahan lima puluh ribu.


"Terima kasih kembali, pak." Wanita itu menerimanya. Sid melangkah kembali ke tempat Kiran duduk.


"Wah, dia memberikannya?" Seru Kiran antusias.


Sid menggeleng. "Tidak."


"Apa?!" Kiran cemberut.


"Tidak, ini dia memberikannya padaku." Sid memberikannya pada Kiran, sedetik kemudian Kiran langsung menyambarnya dan memakannya.


"Umm.... Ini enak sekali." Gumam Kiran.


"Makanlah, habiskan!" Ketus Sid.


"Tentu." Ucap Kiran dengan suara manja. "Kau tidak mau? Ini sangat manis." Tawar Kiran pada Sid.


"Aku ingin yang disini, sebagai upah memintakannya pada wanita tadi." Menunjuk bibir Kiran. "Pasti itu sangat manis." Sambungnya dengan ekspresi yang sudah berubah.


"A... Apa?"


"Hmm... Manis!" Sid tersenyum puas.


"Gila!"


"Aku ingin lagi." Sid kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Kiran, namun Kiran segera menghalanginya dengan gula kapas ditangannya.


"Kau licik, ya!" Sid mengambil gula kapas itu dan memakannya.


"Sid, kau jahat!" Ketus Kiran. "Berikan, aku masih ingin itu!" Sid menyingkirkan gula kapas itu dengan cepat.


"Ini, makanlah disini." Menunjuk bibir bibirnya sambil tersenyum jahil.


"Apa? Kau tidak waras ya!" Kiran menarik hidung Sid.


"Cepat, habiskan ini disini!" Menunjuk bibirnya lagi.


"Jika dirumah aku mau, tapi disini pasti akan menjadi tontonan semua orang." Kiran terkekeh.


"Rupanya kau ingin juga ya?" Sid menaik turunkan alisnya.


"Kenapa tidak?"


"Wah, ternyata Kiranaku ini tidak sepolos dulu ya? Siapa yang mengajarkanmu?"


"Kau." Kiran menunjuk dada Sid.

__ADS_1


"Aku?" Kiran mengangguk. "Ternyata pelajaran dariku cepat sekali ya kau mengerti? Tidak sia-sia aku berusaha keras mengajarkanmu." Sambil mencubit kedua pipi Kiran lalu mengecup si gkat bibirnya.


"Ayo kita pulang, ini sudah malam sekali." Kiran berdiri, namun tiba-tiba merasa kepalanya pusing.


"Ada apa?" Sid cepat-cepat menangkap tubuh Kiran yang hampir terjatuh.


"Tidak apa-apa, mungkin karena aku terlalu lama berada di luar ruangan."


"Baiklah, ayo kita pulang saja." Kiran mengangguk, Sid merangkul Kiran sambil berjalan takut Kiran terjatuh.


"Kau yakin baik-baik saja?" Kiran mengangguk cepat.


...----------------...


"Hoek... Hoek..."


"Rafa, kau kenapa? Kenapa muntah-muntah seperti itu? Apa kau sakit?" Ami memijat tengkuk leher Rafa, sambil mengolesinya dengan minyak kayu putih.


"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya masuk angin." Jawab Rafa dengan suara serak.


Tuhan, tolong jangan biarkan aku seperti ini di depan Ami. Biarkan hukuman ini aku alami sendiri.


"Kau serius?" Rafa mengangguk, sambil memberikan senyuman palsu pada Ami.


"Aku baik-baik saja."


"Jika kau sakit tidak usah ke kantor." Ami kembali mengelus-ngelus punggung Rafa.


"Tidak apa-apa, pergilah ke dapur dan masak saja. Aku akan menemani Keyra di kamar." Ami mengangguk, namun hatinya khawatir dan ingin menemani Rafa.


Kenapa dengannya? Apa dia sakit parah?


Rafa menghela napas lega, karwna Ami mau pergi dari hadapannya.


Tiba-tiba saja perutnya bergejolak lagi, sesuatu di dalam perutnya meminta untuk dikeluarkan. Rafa segera memuntahkannya lagi dan terkejut saat melihat sesuatu yang dimuntahkannya.


"Tidak, ini tidak mungkin!" Rafa mencuci tangannya dan membersihkan wastafel yang dipenuhi muntahan darahnya.


Tuhan, aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak ingin Ami tahu tentang ini!


Rafa mencuci wajahnya, lalu berlari ke kamarnya. Di tengah larinya, ia tersandung kaki kursi hingga terjatuh. Kepalanya terbentur ke ujung lemari pendek hingga ia tak sadarka diri.


Ami yang baru keluar dari dapur sangat terkejut mendapati Rafa yang sudah tergeletak dilantai tak sadarkan diri.


"Rafa!" Ami segera menghampri Rafa, terlihat hidungnya sudah mengeluarkan darah.


"Rafa, bangun!" Ami mengguncang-guncangkan tubuh Rafa dengan sangat keras. Namun Rafa tak kunjung membuka matanya.


"Ayah, ibu!" Teriak Ami memanggi orang tuanya yang sedang berada di ruang keluarga.


"Ada apa, Ami?" Tanya ayahnya Ami yang terkejut dan panik mendengar Ami berteriak.


"Rafa, ayah lihat Rafa!"


Ayahnya Ami membelalakan matanya, dan langsung meraih Rafa.


"Cepat, kita bawa dia ke rumah sakit!"

__ADS_1


Bersambung...


Rafa kenapa ya? Kiran juga kenapa?


__ADS_2