Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Mencurahkan Isi Hati II


__ADS_3

"Pak..."


"Sebentar saja, Kiran. Peluklah aku." Bisik Sid ke telinga Kiran.


Kiran memilih untuk menuruti perkataan Sid, hingga tak lama pelukan itu terlepas dan membuat jantung Kiran berdebar kencang.


"Kita pulang naik mobilku saja, Kiran." Sid menyerahkan kunci mobil pada Kiran. Sid naik ke kursi penumpang. Mau tidak mau, Kiran mengambil alih tugas sebagai supir.


Sid menyalakan mobil mewah milik Sid, ia hanya diam, karena tidak begitu paham dengan mobil automatic.


"Kau bisa membawa mobil matic kan?" Sid seperti mengetahui pikira Kiran.


"Bi... Bisa, pak." Jawab Kiran percaya diri. Mobil pamannya juga automatic. Dia mulai mengingat-ingat cara mengemudikannya.


"Pelan-pelan saja." Ujar Sid sambil menyandarkan tubuhnya.


Kiran mulai melajukan mobil perlahan. Semua lancar. Mobil mulai berjalan mulus membelah jalanan kota Jakarta.


"Sudah ada rencana mengganti mobil?"


"Belum, pak."


Kiran selalu sebal setiap kali Sid membicarakan tentang mobilnya. Di sebuah perempatan, lampu lalulintas menyala merah. Kiran menghentikan mobilnya.


Kiran menguap, dia masih mengantuk. Tiba-tiba lampu lalu lintas berubah warna hijau. Kiran menginjak pedal gas dalam-dalam, ia lupa bahwa yang dikemudikannya saat ini adalah mobil Sid. Kiran panik, tidak mampu menguasai kemudi. Ia membanting setir ke kanan, hingga terdengar suara benda terbanting keras. Kiran menutup wajahnya pasrah.


"Apa-apaan ini?!" Teriak Sid kesal. Dia membuka pintu keluar dari mobil.


Kiran mengikutinya, dan terkejut ketika melihat bemper mobil Sid penyok karena menabrak tempat sampah.


"Ya Tuhan." Kiran bergumam lirih.


"Kirana, ini mobil injection bukan lansia seperti mobilmu!" Teriak Sid penuh amarah.


"Maaf." Lirih Kiran.


"Sudahlah, besok biar dibawa supir ke bengkel." Sid mengelus mobil kesayangannya dengan penuh iba.


Sid masuk kembali ke dalam mobil, tapi tetap duduk di kursi penumpang.


Kiran menghela napas berat, cobaan masih belum berakhir. Ia masih harus mengemudikan mobil Sid menuju rumah sang pemilik mobil.

__ADS_1


...----------------...


Kiran membuka pintu rumah Sid, lalu memapah Sid memasuki rumah.


"Pak, kamar anda di mana?"


"Ke ruang keluarga saja, disana." Sid menunjuk sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Setelah sampai, Kiran membantu Sid duduk di atas sebuah karpet berwarna cokelat yang menutupi lantai. Dia bersandar ke sofa yang sangat empuk.


"Pak, anda ingin minum apa? Saya akan mengambilkannya, agar anda merasa lebih baik."


"Terserah." Sid memejamkan matanya.


Kiran melangkah menuju dapur, ia tidak kesulitan karena semua ruangan di rumah Sid diberi petunjuk.


...----------------...


Teh panas di dalam gelas tinggal sedikit, Sid dan Kiran duduk berhadapan diatas karpet ruang keluarga. Yang seorang tak berhenti meracau, yang lainnya mendengarkan dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan.


"Kau pernah jatuh cinta, Kiran?" Kalimat pembuka.


Kiran mengangguk. Tak ada gunanya mengingat tentang Rian. Saat ini dia pasti sudah melupakan Kiran.


"Aku juga, dan aku sangat membenci itu. Jika boleh meminta, aku ingin Tuhan menghapuskan kata 'Cinta' dari kamus kehidupan. Siapa bilang cinta itu indah? Hanya anak-anak labil yang bilang seperti itu! Karena sejatinya cinta itu luka, rasa sakit, kepedihan. Bahagia hanya topeng pelapis yang digunakan untuk membohongi banyak orang." Sid terdiam. Hening beberapa waktu.


Kiran mengangguk, ia mengingat waktu event itu, dimana ada seorang wanita yang menemui Sid.


"Dia wanita kedua yang berhasil merebut hatiku, setelah mendiang ibuku dan dia juga yang berhasil membuat lelaki sepertiku, meneteskan air mata. Kau tahu kenapa?" Kiran menggeleng.


"Tentu saja karena cinta itu. Jadi siapa yag bilang, bahwa cinta itu indah? Bullshit! Kami saling mencintai, bahkan kami akan menikah. Tiga bulan sebelum menikah, aku harus pergi ke London untuk mengurus perusahaan, dan pada dua minggu sebelum pernikahan aku kembali."


Sid memicingkan matanya menatap Kiran. "Hari itu, aku tidak memberi tahu Kanaya bahwa aku akan kembali. Aku memilih untuk menjadikan kedatanganku sebagai kejutan, dan aku sendiri pergi ke apartemennya. Namun, disana aku menemukan hal yang sangat mengejutkan. Kau tahu apa itu?" Kiran menggeleng lagi.


"Aku memergokinya sedang tidur bersama pria lain. Dan, sungguh ironisnya bukan hanya tidur biasa, mereka tidur dalam arti yang lain. Hari itu, hatiku sungguh hancur. Aku meninggalkannya, bahkan aku sampai melakukan hal bodoh. Sangat bodoh!" Isakan mulai terdengar dari bibir Sid. Air mata Kiran bahkan sudah tak terbendung lagi mendengarkan cerita dari bosnya itu.


"Saat itu aku seperti manusia yang tidak mempunyai otak. Kau tahu apa yang aku lakukan karena wanita jal*ng itu?"


Kiran menggeleng. Dia merasa iba terhadap Sid, hatinya ikut tersayat. Ingin rasanya Kiran membekap mulut Sid daj memeluknya, agar berhenti berbicara.


Aroma luka menguar sangat tajam. Di sisi lain, ia ingin agar Sid mencurahkan seluruh isi hatinya, agar Sid merasa lega.


Perlahan, seperti gerakan Slow motion Sid membuka jasnya, lalu membuka satu persatu kancing kemeja merah maroon yang ia gunakan. Pakainnya mulai terbuka.

__ADS_1


Jemari besar Sid membuka kemejanya. Membuat Kiran terkesiap dan mengerjap-ngerjapkan matanya, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Disana, di dada putih milik Sid, tertoreh dua bekas luka. Satu seperti bekas tembakan, dan yang kedua adalah garis horisontal kira-kira sepanjang lima sentimeter. Garis berwarna merah muda yang sangat kontras dengan dadanya yang mulus


"Satu minggu setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Kanaya, ia menikah dengan laki-laki yang tidur dengannya waktu itu. Aku merasa gila, sampai aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Aku menusuk dadaku dengan pisau. Dan ini adalah bekas tusukan pisau itu." Sid menunjuk bekas luka seperti garis itu. Kiran tercengang, tangisnya pecah.


"Kau pernah bilang bahwa aku pengecut dalam menghadapi cinta, bukan? Aku tidak sepengecut itu, buktinya demi dua orang wanita yang sangat aku cintai, aku rela mati. Yang pertama adalah ibuku, luka tembakan ini aku dapat pada saat diriku masih kecil."


Kiran menutup mulutnya, ia tak menyangka bahwa kisah cinta Sid sangat tragis.


"Setelah kejadianku ini, ayahku mengirimku ke London." Sid mengangkat kepala, menghadapkannya ke langit-langit rumah.


"Aku tidak lama disana, aku memutuskan untuk kembaki ke Jakarta. Tapi aku memilih tinggal di rumah sendiri. Dan tentunya ayahku langsung memberikan tanggung jawab perusahaan padaku. Dengan janji, bahwa aku tidak akan menemui Kanaya lagi. Sekali lagi, aku bukan pengecut Kiran! Aku memulai hidup baru dengan pribadi baru. Sebagai Siddharth Adeva Rafandi yang tidak memiliki hati dan pengampunan bagi siapapun yang berani berkhianat padaku!"


Sid menurunkan kepalanya, membuat Kiran lega. Karena sejak tadi ia tak kuat melihat kedua bekas luka dari dada Sid.


"Tidak ada gunanya lagi aku mengingat Kanaya, sudah jelas dia wanita yang tidak baik. Bahkan dia tak bisa menjaga kesucian hati dan dirinya untukku sebelum menikah, bagaimana jika kami sudah menikah?" Sid menarik napas pelan, lalu menghembuskannya pelan. Seolah mengumpulkan amunisi untuk melanjutkan penuturannya.


"Mungkin kau akan berpikir, zaman sudah modern. Bisa saja aku melakukan operasi plastik untuk menghilangka kedua bekas luka ini. Tapi aku tidak aka pernah melakukannya, agar setiap aku bertemu Kanaya, dan jika Kanaya memintaku kembali, aku akan ingat bahwa dia tidak pantas padaku. Dan luka ini, akan jadi saksi bahwa Siddharth bukanlah seorang pengecut."


Tetesan bening mengalir dari bola mata Sid.


"Dan luka ini, aku membiarkannya, agar aku bisa selalu memiliki semangat untuk membalaskan dendam pada keluarga pembunuh ibuku."


Berbagai perasaan bercampur memenuhi dada Sid. Antara iba, takjub, prihatin, dan miris. Kenapa seseorang yang memiliki cinta dan kesetiaan yang teramat besar seperti Sid harus memiliki takdir yang sangat kejam?


Jika boleh berharap, Kiran menginginkan lelaki seperti Sid, yang akan selalu mencintai dan setia padanya.


"Kiran..." Lirih Sid sambil meraih lengan Kiran.


"Jangan sekali-kali kau menyebutku pengecut lagi. Apa kau sudah menemukan pengganti yang kau cintai?"


Ya, pak. Aku menemukannya, hanya ciri-cirinya saja. Aku ingin yang sama sepertimu.


Kiran meringis, lalu menggeleng.


"Kau akan menemukannya, semoga dia jadi seseorang yang paling mencintai dan mengerti dirimu." Sid tersenyum samar, lalu mengangkat tangannya. Membelai pipi mulus Kiran.


"Pak..." Lirih Kiran sambil terisak.


Sid tak menjawab, ia menyelonjorkan kakinya dan tubuhnya hingga berbaring di atas karpet, dengan kepala berada di pangkuan Kiran. Tak lagi disadarinya, ketika Kiran menidurkan kepala Sid di atas bantal dan menyelimutinya.


Bersambung...

__ADS_1


Sedih deh... 😭😭😭


__ADS_2