Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-24 (Season 2)


__ADS_3

"Semua itu tidak terjadi, Rana bukan anaknya Siddharth!" Dokter Ema menggenggam tangan Ibu Aisha.


"Kau yakin? Ema, jika itu benar maka berikan buktinya padaku, aku ingin secepatnya menantuku kembali dan rumah tangga anakku baik-baik saja!" Desak ibu Aisha.


Dokter Ema menggeleng, ia tak bisa menjanjikan segalanya pada ibu Aisha mengenai hasil test DNA milik Rana san Siran.


"Aisha, aku tidak bisa berjanji! Butuh watu untuk membuktikan segalanya!"


Keduanya tak menyadari ada yang sedang menguping dan mengintip pembicaraan mereka.


Sanya menguping keduanya. Wajahnya tampak panik dan khawatir, rencananya sudah pasti telah diketahui dokter Ema saat Sanya menukarkan hasil tes DNA.


Saat Kiran akan keluar, Sanya segera bersembunyi dibalik dinding.


Semua yang didengarnya bak petir yang bisa menyambar dan menghancurkan rencananya kapan saja.


"Aku harus mendapatkan Sid!" Gumam Sanya pelan.


Setelah semua pergi, kini Sanya memasuki ruangan dokter Ema dan mengambil sebuah suntikan beserta cairan yang ternyata adalah cairan beracun.


Sanya diam-diam mendekati dokter Ema yang sedang duduk menghadap ke tembok.


Tanpa perlawanan karena dokter Ema tidak melihat Sanya masuk, tiba-tiba suntikan itu sudah tertancap di lehernya.


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak dokter Ema.


Sebelum sempat melawan, tiba-tiba tubuhnya merasa lemas hingga ambruk ke lantai.


Sanya tersenyum sinis kemudian mengatur tubuh dokter Ema agar duduk bersandar diatas kursi. Seolah, bahwa dokter Ema meninggal secara tiba-tiba tanpa sakit sedikitpun.


...****************...


Tangis menghiasi sebuah kediaman sederhana dengan cat berwarna putih. Semua tak luput dari tangisan. Terutama seorang anak perempuan kecil yang sejak tadi tidak berhenti menangis memeluk sebuah jasad wanita tua.


"Ibu, kenapa pergi secepat ini?!" Lirihnya dengan tangisan yang keras.


"Adira, jangan seperti itu. Ini semua sudah takdir!" Ayah Deva merangkul Adira dan membawanya kedalam pelukan istrinya.


"Kemarin dokter Ema masih baik-baik saja, bahkan aku sempat menemuinya dan bicara banyak dengannya. Aku masih tidak percaya bahwa dia sudah tiada hari ini." Ibu Aisha terisak sambil memeluk Adira, putri dokter Ema satu-satunya.


Ia begitu bersedih melihat Adira yang jadi sebatang kara. Sejak kecil, ayahnya telah meninggalkannya dan ibunya demi wanita lain. Bahkan hari ini ibunya telah kembali pada Tuhan untuk selamanya.


"Jika ibu pergi aku bagaimana, Bi?" Lirih Adira sambil menatap ibu Aisha penuh kebingungan.

__ADS_1


Ibu Aisha menatap ayah Deva, kemudian ayah Deva mengangguk.


"Kau ikut bersama Bibi, mau kan?" Adira mengangguk ragu, ia tak yakin bisa tinggal dengan keluarga Ayah Deva. Akan tetapi, ia harus bagaimana setelah kepergian ibunya? Bukankah lebih baik jika menerima bantuan dari mereka?


...****************...


Sore hari tiba, dihiasi obrolan antara dua insan yang sudah menginjak usia tua. Wajah mereka begitu serius membahas menantunya yang telah hampir satu bulan pergi entah kemana dan tidak kembali.


"Hanya dokter Ema kunci dari segala kebenaran mengenai Sanya dan Rana, bahkan aku curiga jika kepergian dokter Ema bukan murni karena pergi biasa." Ucap ibu Aisha dengan wajah serius.


Ayah Deva terlihat berpikir, ia juga berpikir hal yang sama. Tidak percaya bahwa dokter Ema meninggal secara murni.


Dari arah pintu, datang Sid dengan wajah yang tampak lelah. Ia sudah menyerah mencari istrinya kemana-mana tapi tak bisa menemukannya.


Sudah satu bulan, ia mencari Kirana kesana kemari tapi tak ada hasil. Jangankan menemukan, petunjuk saja tidak ada.


"Sudah ada petunjuk?" Tanya ayah Deva yang langsung dijawab gelengan oleh Sid.


Kedua orang tuanya menghembuskan napas kasar, ibu Aisha merasa iba pada putranya namun tak bisa menolongnya karena saat ini bukti tentang Rana dan Sanya masih belum ada.


Sementara di kediaman neneknya Kiran, sedang dihiasi dengan canda dan tawa. Wanita yang sudah akan menginjak usia empat puluh tahun itu terlihat lebih segar dari sebelumnya.


Bahkan, dokter disana telah menyatakan bahwa kehamilannya sudah sehat tidak ada masalah apapun.


Aku bisa menjalani masa kehamilan tanpa seorang suami dulu, saat hamil Siran. Lalu sekarang kenapa tidak? Pikirnya.


Ketiga anaknya yang sudah remaja juga tak pernah merengek ingin pulang menemui ayah, karena mereka tahu suasana dan keadaan ibunya serta masalah yang sedang mereka alami.


Tapi, jauh dari lubuk hatinya Kiran ia sangat merindukan pria yang menjadi ayah dari anak-anaknya tersebut.


Tak dapat dipungkiri, bahwa ia sebenarnya membutuhkannya dalam hal seperti ini. Tapi kenyataannya ego selalu lebih besar dibandingkan perasaan sehingga Kiran tak ingin mengalah dengan pulang.


Ia tetap pada pendiriannya, untuk bercerai setelah anak keempatnya tersebut lahir.


Larut dalam pikirannya tentang Sid, Kiran tak sadar sedari tadi ada yang mengetuk pintu rumah.


"Bu, ada yang datang!" Siran membuyarkan lamunan Kiran.


Kiran mengangguk, lalu segera membuka pintu rumah. Tampak seorang pria berpakaian rapi datang membawa sebuah map.


"Silahkan masuk," perintah Kiran.


Tak berlama-lama, orang itu segera mengeluarkan sebuah surat dari map itu.

__ADS_1


"Ibu Kirana, aku sebagai pengacaramu ingin bertanya apakah anda sudah yakin untuk keputusan ini?" Kiran terdiam, lalu mengangguk samar.


"Apa anda yakin ingin berpisah dari Pak Siddharth Adeva Rafandi setelah anak keempat kalian lahir?" Kiran terdiam kembali, sebelum menjawab dengan mengangguk samar.


Pengacaranya mengulurkan surat itu dan sebuah bolpoin padanya.


"Jika begitu, tolong tanda tangani ini." Kiran menatap surat itu dan membacanya.


Surat Perpisahan


Ragu, akan tetapi jika mengingat sakit hatinya atas pengkhianatan Sid ia langsung kesal dan menandatangani surat itu.


"Baik, setelah ini saya akan memberikan surat ini pada Pak Sid agar setelah bayi kalian lahir proses perpisahan kalian akan segera berlangsung." Kiran mengangguk samar, dihatinya ada sebuah pisau yang telah menancap dan menyayat hatinya.


Sakit memang, akan tetapi Kiran lebih merasa sakit dengan kehadiran Rana dan Sanya yang merusak hidupnya bersama keluarga kecilnya terlebih membawa kenyataan pahit.


...****************...


"Apa ini?!" Sid membantingkan surat yang baru saja diterimanya.


"Surat perpisahan dari Bu Kirana, pak." Rio menjawab sambil menunduk.


"Dimana dia sekarang?!" Bentak Sid pada Rio. Rio menggeleng, ia memang tak tahu dimana Kirana saat ini.


Sid mengacak rambutnya kesal.


"Satu bulan dia pergi, hari ini dia memberikan ini? Bagaimana bisa kau tidak tahu dia dimana sedangkan kau yang membawa surat ini padaku?!" Bentaknya lagi tak terima.


Rio tak terima juga disalahkan, iapun berdiri dan menatap Sid dengan tatapan penuh keberanian.


"Maaf, pak. Bukan Bu Kiran yang memberikannya pada saya, tapi seorang pengacara datang ke kantor dan memberikannya. Maaf, Pak. Saya tidak bisa berlama-lama, permisi saya harus kembali ke kantor." Tanpa menunggu jawabannya Rio segera pergi keluar rumah.


Di dalam rumah Sid berteriak sangat keras.


Ia meraih kembali surat itu dan membacanya baik-baik. Matanya membelalak saat melihat bahwa Kiran sudah menandatangani surat itu. Bahkan dalam surat itu alamatnya sekarang dirahasiakan.


Bukan hanya itu, perjanjian juga tertera diatasnya beserta tuntutan dari Kiran.


"Aarggggghhhhhhh....!!!"


Bersambung...


Silahkan hujat, aku hanya ingin mengabulkan permintaan para pembaca setiaku yang mau tau kelanjutan dari perjuangan Sid dan Kiran dalam mempertahankan hubungannya atau malah berpisah karena hadirnya orang ketiga di masa lalu yang merusak kebahagiaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2