
Tiga bulan berlalu tak terasa, hari ini wakti yang diperkirakan dokter Ema pada Kiran untuk melahirkan bayi kembarnya melalui operasi.
Tegang memang, tapi semua tak masalah bagi Kiran selama bayinya bisa lahir dan baik-baik saja.
Sudah tiga hari Kiran berada di rumah sakit, untuk menjaga keadaannya tetap stabil hingga operasi berlangsung.
"Jangan tegang, Sid! Aku yang akan dioperasi bukan kau!" Kiran mencoba mencairkan suasana, ketika melihat Sid yang wajahnya sudah tegang.
"Aku takut, sangat takut." Sid menggenggam tangan Kiran dengan sangat erat.
"Jangan takut, percayalah Tuhan akan memberi kami keselamatan." Kiran meyakinkan Sid.
"Bagaimana bisa kau sesantai ini? Sedangkan aku jadi yang paling tegang disini."
"Kuncinya yakin dan percaya pada Tuhan, maka Tuhan sendiri pasti akan mengambulkan semua harapan serta doa. Bahkan, Tuhan juga akan memberi kita keselamatan." Sid tersenyum bangga, istrinya memang tiada duanya. Pikirannya selalu dewasa dan positif.
"Permisi, sudah waktunya Kiran masuk ruang operasi." Dokter Ema sudah berdiri di ambang pintu.
"Tunggu sebentar." Cegah Sid pada para perawat yang akan mendorong brankar Kiran menuju ruang operasi. Sid mengecup tangan Kiran, lalu mengecup keningnya.
Lalu Sid melepaskan gelang yang dibuat dari benang yang sudah sejak kecil ia pakai dan memakaikannya di tangan Kiran.
Kiran tersenyum, lalu mengecup tangan Sid.
Semua mengantar Kiran menuju ruang operasi, Sid serta keluarganya berhenti di depan pintu. Sebelum Kiran masuk ke dalam ruang operasi Sid kembali mengecup kening Kiran.
Pintu tertutup, lampu ruangan operasi menyala pertanda bahwa operasi sedang berlangsung.
Ayah Deva, ibu Rhea, ibu Aisha, ayah Andra, dan Sid duduk dengan wajah tegang di depan ruang operasi.
Sesekali Sid berdiri mendekati pintu ruang operasi, lalu duduk lagi dengan perasaan gelisah dan khawatir.
Ibu Aisha menepuk pundak Sid.
"Sid, tenangkan dirimu."
"Bunda, aku takut." Ibu Aisha menggeleng.
"Jangan takut, Tuhan tidak akan pernah berkehendak tanpa alasan." Sid mengangguk.
"Ini pernah kami lalui, dimana ibumu berjuang melahirkan Lakshmi dengan cara seperti ini. Bahkan, keadaan ibumu kau tahu sendiri bukan? Seperti apa? Ibumu habis tertembak, keadaannya sangat kritis waktu itu." Ayah Deva menceritakan kembali ketika Ibu Aisha dioperasi demi menyelamatkan Lakshmi.
"Aku ingat, bahkan saat itu ayah sudah sangat bersedih." Ayah Deva mengangguk.
"Kiran akan baik-baik saja, berdoalah pada Tuhan!" Sid mengangguk.
Satu jam menunggu, lampu ruangan operasi sudah dimatikan. Dokter Ema keluar dengan senyum sumringahnya.
"Kabar bahagia untuk kalian semua!" Serunya diikuti dua orang suster dengan masing-masing menggendong bayi merah berjenis kelamin perempuan.
__ADS_1
Sid hanya diam, hatinya sangat senang dan terharu.
"Sid, lihatlah dua putri kembarmu." Seru dokter Ema.
Namun Sid tidak bergerak sedikitpun, malah ayah Deva dan Ibu Aisha yang bergegas mengambil bayi itu.
"Wah, lucu sekali." Baru Sid sadar setelah ibu Aisha dan ayah Deva membawa dua bayi itu kehadapannya.
"Sangat manis dan cantik, sangat mirip ibunya juga." Ujar Sid sambil mengusap pipi kedua bayinya.
"Maaf, bayinya akan kami bawa ke ruangan khusus terlebih dahulu agar tidak kedinginan." Dua perawat itu kembali menggendong bayi Sid dan membawanya menuju ruang khusus untuk bayi.
"Lalu Kiran?" Dokter Ema mengangguk.
"Dia sangat baik, keadaannya sangat cepat kembali stabil. Kau boleh melihatnya nanti." Sid menghela napas lega.
"Siapa nama bayinya? Kalian sudah menyiapkannya kan?" Sid mengangguk.
"Zoya Amaira Siran Rafandi dan Zoya Raima Siran Rafandi. Nanti kalian bisa memanggilnya Ira dan Ima."
"Nama yang bagus, tapi bagaimana cara kami membedakannya nanti?" Ayah Andra bertanya dengan nada bingung.
"Salah satu diantara kedua bayinya memiliki tahi lalat di hidungnya, seperti yang dimiliki Sid jadi dia adalah kakaknya." Ucap dokter Ema menengahi. "Karena saat kami mengeluarkan bayi pertama dia memiliki tahi lalat di hidungnya." Semua mangut-mangut.
"Keren! Satunya mirip ayahnya dan yang satunya lagi pasti seperti ibunya. Asalkan sifatnya saja tidak boleh sama seperti Sid." Celetuk ibu Aisha dengan lucunya membuat Sid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa memangnya?" Ayah Deva tak mengerti apa yang dimaksud ibu Aisha.
"Kalian bermain rahasia? Menyebalkan!" Ketus ayah Deva.
"Tanyakan saja pada anakmu itu." Menunjuk Sid yang masih salah tingkah. "Kau tahu bagaimana dia waktu kecil kan? Tontonannya berita bisnis, dan itu membuatku merasa aneh!" Ayah Deva baru mengerti, itu membuatnya tersenyum kecut.
"Haha, itu adalah ciri khas keturunanku!" Ucapnya diiringi tawa renyah.
"Ya, setidaknya tidak seperti kakeknya yang ini." Ibu Rhea ikut menimbrung sambil menunjuk ayah Andra. "Dia sudah tua tapi masih suka menonton film kartun." Ayah Andra memelototi ibu Rhea, lalu ibu Rhea membalasnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Daripada aku menonton sinetron di channel ikan terbang itu!" Ketusnya.
"Haha nanti kau bisa selalu menyanyikan lagu kumenangiss... Membayangkan..." Ayah Deva bernyanyi.
Semua orang tertawa mendengar ayah Deva menyanyi.
...----------------...
Tiga hari berlalu, Kiran sudah berada di mansion utama. Semua menyambut kepulangan Kiran bersama baby kembarnya yang lucu tersebut.
"Kiran, apa setelah ini kalian akan menambah bayi lagi?" Tanya ibu Aisha dengan senyum nakalnya.
Kiran menatap Sid canggung, Sid menggeleng cepat.
__ADS_1
"Tidak, sudah cukup! Lebih baik ayah dan bunda saja yang menambah anak." Ayah Deva tersenyum senang, lalu mengangguk menyetujui ucapan Sid.
Berbeda dengan ibu Aisha yang langsung mendelik tajam pada suami dan anaknya itu.
"Jangankan menambah, membuatnya saja aku sudah tidak mau!" Ketusnya yang langsung mengundang tawa semua orang saat ini.
"Aisha, Aisha! Kau benar, jangankan menambah anak membuatnya saja sudah tidak sanggup." Timpal ibu Rhea.
Semua orang tertawa karena kelucuan ibu Rhea dan ibu Aisha, sementara kedua laki-laki yang bersangkutan hanya cemberut saja.
Tidak istri tidak anak bisanya hanya meyebalkan saja! Ayah Deva merutuku ibu Aisha dan Sid dalam hatinya.
Istri dan istrinya besan selalu saja menyebalkan! Ayah Andra merutuki ibu Rhea dan ibu Aisha.
"Rhea, pasti mereka merutuki kita!" Bisik ibu Aisha pada ibu Rhea.
"Kau benar, sudah pasti!" Balas ibu Rhea diiringi tawa renyahnya.
"Sudah! Kalian memang menyebalkan, tidak pernah menurut pada suami!" Cibir ayah Deva.
"Kami akan menurut jika uang belanja kami dinaikkan!" Ibu Aisha memulai demonya.
"Benar!" Kiran dan ibu Rhea ikut mendukung ibu Aisha.
"Memangnya kalian yang membeli bahan makanan? Harusnya bi Asih yang berdemo, bukan kalian karena dia yang menjadi juru masak!" Cibir ayah Deva yang membuat ketiganya hanya terdiam malu.
"Tenang saja, Kiran!" Ujar Sid menenangkan. "Kau istri yang baik, aku akan menambah uang bulananmu."
"Jadi maksudmu bunda dan ibu mertuamu bukan istri yang baik, begitu?" Ibu Aisha dan ibu Rhea menarik telinga Sid, hingga Sid mengaduh kesakitan.
"Sudah! Sudah! Kalian ini bisanya berdebat saja!" Kiran melerai.
Kal yang baru turun bersama bi Asih mentertawakan Sid yang telinganya masih ditarik ibu dan ibu mertuanya.
"Kal!" Sid cemberut.
"Ayah, adik?" Menunjuk dua bayi yang berada di keranjang bayi.
Sid mengangguk. Lalu menggendong Kal dan membawanya menuju kedua adiknya.
"Ucuu... Antik..." Ucap Kal sambil mencolek pipi kedua adiknya.
Kedua bayi itu tersenyum mendapat sentuhan dari kakaknya.
"Sid, mereka tersenyum disentuh Kal."
Sid mengangguk. "Mereka akan menyayangi kakaknya, dan kakaknya juga akan melindunginya selalu."
"Kal jaga adikmu ya?" Kal mengangguk, seolah mengerti apa yang dikatakan ibu dan ayahnya.
__ADS_1
Semua tersenyum bangga pada Kal.
Bersambung...