Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kasih Sayang Kal pada Ira dan Ima


__ADS_3

Ketiga anak-anak Sid dan Kiran tumbuh dengan sangat cepat, sampai tak terasa Kal sudah menginjak usia remaja. Semakin bertambahnya usia Kal, maka semakin sayang juga Kal pada si kembar Ira dan Ima.


"Kakak, aku ikut kakak main!" Ira yang selalu menempel pada Kal selalu ingin ikut kemanapun Kal pergi. Sedangkan Ima dia lebih memilih bersama ibunya dan ayahnya seharian jika hari libur.


"Kakak mau pergi ke rumah teman, Ira lebih baik bersama ibu dan ayah." Ira menggeleng cepat, lalu menarik baju Kal.


"Aku ikut kakak!" Rengeknya.


Kal menghela napas pelan, lalu membingkai wajah Ira dengan tangannya.


"Tidak boleh ikut, nanti kakak belikan Ira es krim ya?" Seketika mata Ira berbinar, lalu mengangguk cepat.


"Kakak, Ima juga mau es krim!" Ima yang tadi duduk langsung berlari menghampiri kakaknya.


"Iya, Ima kakak juga akan membelikannya untukmu." Sid mengecup kening dan pipi kedua adiknya, lalu berpamitan pada Sid dan Kiran untuk pergi ke rumah temannya.


"Hati-hati di jalan, Kal. Jangan lupa pulang sebelum sore!" Kal mengangguk, lalu mencium pipi ibunya sekilas.


...----------------...


Sore harinya barulah Kal pulang dengan tangan membawa tiga bungkus es krim kesukaannya dan juga si kembar.


"Dari mana, Kal?" Ayah Deva yang baru melihat Kal sedari pagi langsung menanyai Kal saat melihatnya baru pulang.


"Baba, dari rumah teman." Jawab Kal sambil menghampiri ayah Deva yang disebutnya sebagai Baba. Baba adalah nama panggilan sayang dari Kal untuk sang kakek.


"Pantas saja, Baba mencarimu sedari pagi tidak ada!" Ketus ayah Deva.


"Maaf, Ba. Dimana Nani?" Nani nama panggilan Kal untuk sang nenek, ibu Aisha.


"Disini, sayang!" Seru ibu Aisha sambil berjalan menghampiri Kal dengan tangannya yang membawa nampan berisi cemilan kesukaan Kal.


"Ibu dan Ayah?"


"Disini!" Kal menoleh ke kursi di ruangan keluarga, tampak Sid dan Kiran sedang duduk bersama si kembar yang sudah terlelap.


"Ira dan Ima tidur? Lalu es krimnya?" Sambil menunjukan ketiga es krim yang dibawanya.


"Taruh saja di kulkas, atau masukan saja ke perut Babamu." Ujar Sid sambil tersenyum jahil.


"Diam kau! Kenapa selalu mengerjai ayahmu sendiri?" Ketus ayah Deva.


"Sudah Baba, ayah hanya bercanda!" Kal mengusap punggung ayah Deva.


"Ayahmu itu memang sangat keterlaluan!" Ibu Aisha menimpali.


"Nani dan Baba, dia anakmu mana mungkin sifatnya berbeda dengan kalian. Pasti ada salah satu dari kalian yang sifatnya seperti itu." Ujar Kal geli.

__ADS_1


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, tentu saja sifat ayahmu itu seperti kakek tua ini." Ibu Aisha menunjuk ayah Deva.


"Aisha! Kau dan Sid sama saja, pantas saja dia juga menyebalkan!" Ayah Deva cemberut.


"Kalian bertiga sama saja." Kal dan Kiran menengahi.


"Apa ini? Apa sekarang keluarga ini akan jadi seperti keluarga kampanye pemilu begitu? Isinya hanya debat dan debat saja entah apa yang diperdebatkan!" Lakshmi yang baru pulang dari kampus merasa kesal, karena saat baru pulang dari kampus ia malah melihat pemandangan menyebalkan dirumahnya, yaitu perdebatan keluarga aneh tersebut.


Aih, aku juga kan bagian dari keluarga aneh ini juga!


Lakshmi menggelengkan kepalanya, lalu melangkah masuk menuju kamarnya meninggalkan keluarga yang masih berdebat tersebut.


Di sela-sela debat mereka tiba-tiba si kembar menangis, mungkin karena berisik dengan perdebatan keluarganya.


"Ibu, Ayah!" Panggil Ima sambil terisak.


Sid dan Kiran menoleh, sementara ayah Deva dan ibu Aisha terus berdebat.


"Kakak..." Ira memanggil kakaknya.


"Iya sayang, kemarilah." Sid menggendong Ima, sementara Kiran menggendong Ira.


Kal mengambil es krim yang tadi diletakannya di kulkas lalu memberikannya pada Ira dan Ima.


"Kal, ayo kita ke taman belakang! Biarkan Ira dan Ima bersama ibumu di kamar." Sid menarik tangan Kal dan membawanya menuju taman belakang.


"Ayah, di gudang aku menemukan gitar. Gitar milik siapa itu? Boleh aku mengambilnya?" Sid terdiam, lalu mengangguk.


"Ambilah, itu milik ayah. Apa kau suka musik?" Kal mengangguk.


"Suka, aku ingin menjadi seorang penyanyi terkenal jika aku sudah besar nanti." Ucap Kal penuh semangat.


"Tentu saja, ayah akan mendukung dan terus mendoakan semoga apa yang kau impikan akan tercapai. Tapi, ayah harap kau tidak akan pernah melangkah ke jalan yang salah." Kal mengangguk mendenga nasehat dari sang ayah.


"Ambilah gitarnya, dan bawa kemari! Ayah akan mengajarimu cara memainkannya." Kal mengangguk lagi, lalu segera berlari menuju gudang.


Tak lama ia kembali dengan sebuah gitar berwarna hitam di tangannya.


"Ini, ayah." Sid mengambilnya, lalu memainkannya.


Sid mulai memetik senar gitarnya dan menyanyi dengan suaranya yang merdu. Rasanya Kal seperri terhipnotis oleh alunan lagu dan musik yang dimainkan ayahnya.


"Ayah, kenapa ayah tidak jadi musisi saka?" Sid berhenti memainkan gitarnya dan menatap putranya sambil tersenyum.


"Sejak kecil ayah sudah sibuk membantu Baba, tapi tidak apa-apa, ayah harap kau yang akan meneruskan cita-cita ayah ini. Menjadi musisi terkenal tanpa orang dalam ataupun dengan hal-hal kotor lainnya." Sid menghela napas sebentar, lalu kembali meneruskan kata-kata yang ingin diucapkannya pada Kal.


"Kal, berjuanglah dari nol. Agar kau tahu bagaimana rasanya berjuang keras mewujudkan sebuah impian, wujudkan cita-citamu!" Sid menyimpan gitarnya, lalu merangkul Kal.

__ADS_1


"Iya ayah, aku berjanji pada ayah." Sid mengangguk.


"Hmm..." Kiran berdeham dari belakang kedua pria tersebut. "Ayah dan anak sedang bicara apa? Tampak serius sekali."


"Tidak ada, apa perdebatannya sudah selesai?"


Kiran mengangguk cepat.


"Kemana mereka sekarang?"


Kiran menunjuk ke lantai paling atas rumah tersebut, lalu tersenyum geli.


"Apa?!" Sid terkejut, lalu berusaha menahan tawanya.


Dapat dilihat, bahwa ayah Deva dan ibu Aisha sedang kepanikan meminta tolong dari lantai paling atas rumah mereka yang sudah lama kosong.


"Siapa yang melakukan ini pada mereka?" Tanya Sid dengan tawanya.


"Siapa lagi jika bukan putri kesayangannya, Lakshmi kesal dan merasa jengah dengan perdebatan mereka, lalu menggiring keduanya kesana dan menguncinya." Jelas Kiran yang membuat Sid dan Kal tertawa terbahak-bahak.


"Baba dan Nani memang menyebalkan, tapi aku sayang mereka jika tidak berdebat terus." Ujar Kal.


"Iya, ibu juga sebal jika mereka sudah berdebat tidak tahu waktu." Timpal Kiran diikuti tawa merdunya.


"Semoga ayah dan ibu tidak seperti itu jika sudah tua nanti." Kal berdoa, karena ia pasti akan lebih memilih tinggal sendiri daripada ibu dan ayahnya akan menjadi tukang debat seperti nenek dan kakeknya.


"Haha! Itu sebabnya selama ayah masih lajang, ayah lebih memilih tinggal sendiri di rumah yang berada di komplek daripada tinggal bersama Babamu!" Celetuknya. "Kita lihat saja, ayah dan ibumu ini seperti apa saat tua nanti!" Sambungnya lalu tertawa kembali.


"Kakak, ayah, ibu!" Si kembar datang dari arah belakang, membuat ketiga orang yang sedang tertawa tersebut menoleh secara bersamaan.


"Ayah, ayo!" Ima menarik tangan Sid menuju ke dekat kolam renang.


"Ayo kemana, Ima?" Sid terus mengikuti kemana putrinya pergi.


Ima berhenti berlari saat berada di tepi kolam renang.


"Kenapa? Ada apa disini?" Ima menggeleng, lalu entah apa yang dipikirkannya sehingga ia mengedipkan matanya pada Ira.


Ira mengangguk, Kal dan Kiran hanya menatap Ira dan Ima dengan tatapan bingung.


Ira berlari, Sid tidak menyadari bahwa Ira sudah berada di belakangnya.


Byuurr...


Lalu Ima dan Ira tertawa puas, diikuti Kal dan Kiran.


"Kau kalah oleh anak berusia enam tahun!" Ujar Kiran sambil terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2