Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Pulang


__ADS_3

Bulan madu yang berlangsung kurang lebih satu minggu, kini telah selesai. Sudah waktunya bagi Kiran dan Sid untuk pulang ke Indonesia.


"Semua sudah beres?" Kiran mengangguk. "Tidak ada yang tertinggal? Coba periksa kembali, jangan sampai kau meninggalkan satu barangpun disini!" Kiran kembali memeriksa barang-barangnya.


"Sudah, lengkap. Tidak ada lagi yang tersisa." Sambil memeriksa barang-barangnya.


"Kita pulang hari ini?" Kiran mengangguk lagi antusias.


"Aku sudah merindukan Jakarta." Ucap Kiran sambil tersenyum membayangkan rumahnya.


"Aku juga ingin mencobamu di Jakarta!" Sambil menyeringai.


Plak


Kiran memukul tangan Sid.


"Kau belum puas ya? Satu minggu ini kau tidak membiarkan aku tidur nyenyak!" Protes Kiran.


"Sayang, aku ingin tahu saja. Apakah suasananya akan berbeda atau tidak jika kita melakukannya di jakarta." Ucap Sid beralibi.


"Bilang saja, itu hanya alasan! Kalau mesum ya sudah mesum saja, kau memang rajanya mesum. Kadar mesummu sangat tinggi!" Kiran mencibir Sid.


"Berani kau ya, sekarang?"


"Kapan aku tidak berani? Dulu saja aku berani kan membentakmu?!" Kiran terkekeh.


"Uuuuhhh, kau ini memang menggemaskan! Aku selalu ingin melahapmu, ayo!" Sid membawa Kiran berbaring di ranjang. "Penerbangan jadwalnya jam empat sore, sekarang baru jam delapan pagi. Ini yang terakhir disini, aku ingin menikmatimu sebelum pulang."


"Hah?! Kau ini!" Kiran beranjak, namun Sid menarik tangannya hingga menimpa tubuhnya. Tanpa menyia-nyiakan lagi kesempatan, Sid segera melakukan hal yang baginya menjadi candu tersebut.


"Sid, gila!" Ucap Kiran dengan napas terengah-engah.


"Hmmm... Lagi, sayang." Ucap Sid sambil terkekeh.


"Sid!" Kiran sudah akan berteriak, Sid pun membungkam Kiran kembali Kiran dengan ciumannya.


Seketika, hasratnya kembali bergejolak. Merekapun melakukannya lagi. Kali ini tidak lama, karena tenaga Sid dan Kiran mulai melemah. Sid membaringkan dirinya di samping Kiran, dengan napas keduanya yang terengah-engah.


"Sudah kan? Aku sudah lelah!" Protes Kiran.


"Jika kau ingin lagi tidak masalah, aku akan melakukannya lagi." Sid terkekeh.


Plak

__ADS_1


Kiran memukul tangan Sid seperti tadi.


"Sudah! Kau ingin membunuhku ya? Cukup, aku tidak sanggup lagi melayani ketinggian nafsumu itu!" Kiran cemberut.


"Ayo kita tidur, jangan lupa pasang alarm. Aku takut kebablasan." Kiran memasang alarm di ponselnya, lalu memejamkan dirinya untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar.


Olahraga panas yang baru saja mereka lakukan, membuat keduanya sangat kelelahan.


...----------------...


Tepat jam empat kurang lima belas menit, Sid dan Kiran sudah berada di bandara. Mereka tidak ingin terlambat, jadi pergi lebih awal dari jadwal.


"Kau minum dulu obat ini, agar nanti kau tidak pusing dan mual." Sid menyerahkan satu tablet obat tidur pada Kiran.


Kiran menerimanya dan langsung meminumnya.


"Kau meminumnya disini?" Kiran mengangguk. "Awas, jika kau ketiduran disini! Aku tidak akan menggendongmu!"


"Kau jahat sekali!" Ketus Kiran.


"Bercanda, ayo kita masuk kedalam pesawat!" Sid menarik lengan Kiran menuju pesawat.


Sambil menunggu pesawat terbang, Sid membuka ponselnya. Ada tiga panggilan tak terjawab dari ayahnya. Ada lima pesan juga dari ayahnya. Sementara Kiran sudah tertidur.


"Ada apa, kenapa ayah memanggilku sampai tiga kali?" Sid membuka pesannya, dan membacanya.


Sid, cepat pulang! Kanaya berulah lagi!


Siddharth, ayah harap kau cepat membaca pesan ini. Atau kita semua akan berada dalam bahaya*.


Sid terkejut, dalam bahaya? Apakah yang di maksud ayahnya? Sid cepat-cepat menelepon ayahnya. Enam kali, tidak diangkat. Perasaannya sudah gelisah, ada sesuatu yang membuatnya sangat ingin cepat sampai di Jakarta.


Tuhan, lindungi ayahku serta keluargaku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat ini.


Tak lama, pengumuman pesawat akan terbang sudah terdengar.


Sungguh lama, terbang dari Maldives ke Jakarta. Sid sejak tiga puluh menit akan sampai sudah tidak tenang. Gelisah, khawatir sudah memenuhi perasaannya.


"Kiran, ayo bangun! Kita sudah sampai." Sid mengguncang tubuh Kiran, Kiran terbangun.


"Apa? Sudah sampai?" Sid mengangguk, wajahnya masih terlihat gelisah. "Sid, kenapa wajahmu nampak gelisah seperti itu? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Sid menggeleng.


"Tidak, tapi jika kita terlambat sedikit saja mungkin akan terjadi hal yang buruk itu!"

__ADS_1


"Apa, memangnya ada apa Sid?" Kiran ikut gelisah.


"Ayo, kita harus pergi! Tidak ada waktu untuk menjelaskan hal itu!" Sid menarik lengan Kiran.


Sepanjang perjalanan Kiran dan Sid sangat khawatir, apalagi setelah Sid menceritakan mengenai pesan dari ayah Deva.


"Sid, semoga ayah baik-baik saja." Sid mengangguk.


"Tenang, ayah adalah orang yang hebat. Dia selalu bisa mengatasi keadaan yang sangat darurat sekalipun."


Kiran menepuk pundak Sid, mencoba menguatkan suaminya itu.


Mereka sudah sampai di mansion utama, tampak sepi.


"Kenapa sepi sekali?" Gumam Kiran dan Sid bersamaan.


Tiba-tiba, televisi yang berada di meja menyala. Memutar dan menunjukan sebuah video yang sangat mengejutkan Sid dan Kiran.


"Hallo Siddharth, apa kabar? Jika kau sudah selesai berbulan madu, artinya kau sudah melihat video ini juga. Dan istrimu, hallo salam kenal Kirana! Aku Kanaya, kau pasti tahu diriku bukan? Sid, kau berbulan madu terlalu lama. Dan terlalu bersenang-senang di bulan madumu itu, sampai kau tidak memperhatikan ayah kesayanganmu dan juga adikmu ini." Detik berikutnya, video menunjukkan ayah Deva dan Lakshmi yang menjadi korban penyanderaan Kanaya dan keluarganya.


"Ayah! Lakshmi!" Video seketika mati, menunjukan layar biru.


"Sid, apa di.. dia?"


"Kanaya, berani-beraninya dia!" Sid meraih sebuah vas bunga, dan melemparkannya ke sembarang arah hingga hancur berkeping-keping.


"Sid, kendalikan dirimu!" Kiran memegang tangan Sid, dan memeluknya. Mencoba meredakan amarah Sid.


"Kiran, dia..." Sid terduduk, dia menyesal selama di Maldives tidak pernah menelepon ayahnya. "Ini semua salahku, aku tidak pernah meneleponnya pada saat disana."


"Sid, bersabarlah! Kita harus mencari cara untuk membebaskan ayah dari Kanaya." Kiran melepaskan pelukannya, dan menghapus air mata Sid.


"Kiran, Kanaya dan keluarganya sangat berbahaya. Kita harus sangat berhati-hati saat menghadapi mereka."


"Sid sebahaya apapun mereka, pasti punya kelemahan juga. Bukankah ayah mengatakan bahwa perusahaan keluarga Kanaya sudah berada di bawah kendali ayahmu? Begini, sekarang kita laporkan mereka secara diam-diam. Kita sendiri juga akan ikut mencari mereka, kita akan mengecoh mereka." Kiran memberi saran.


"Bagaimana caranya?" Kiran mendekatkan bibirnya pada telinga Sid, lalu membisikkan sesuatu.


"Tidak! Itu tidak boleh! Aku tidak akan pernah melakukan itu, kau adalah istriku! Aku tidak bisa berdekatan apalagi bermesraan dengan wanita selain dirimu!" Protes Sid. "Kiran, aku ini suamimu! Aku akan menjaga kehormatan dan kesucian rumah tangga kita, aku tidak akan pernah melakukan itu!" Sid menegaskan, sebab baginya rumah tangganya dan Kiran adalah sesuatu yang sangat suci.


"Sid, ini hanya sementara!"


"Tidak, kita akan menggunakan cara lain! Aku tidak akan melakukan cara seperti ini! Bagiku, kesucian rumah tanggaku sangat berarti!" Sid membingkai wajah istrinya.

__ADS_1


Kiran tersenyum, ia begitu terharu dengan ketegasan dan kebesaran rasa cinta Sid padanya.


Bersambung...


__ADS_2