Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-14 (Season 2)


__ADS_3

Sid mengendalikan mobil dengan laju cepat. Membuat Sanya berekspresi ketakutan sepanjang perjalanan. Kal malah tertawa senang dengan tindakan Sid tersebut yang sebenarnya ingin membuat Sanya tidak nyaman bersamanya.


"Ayah hebat sekali! Apa dulu ayah pernah jadi pembalap?" Tanya Kal sambil menyengir kuda.


Sid menggeleng cepat. "Baru kali ini ayah mengebut seperti ini."


Sanya tertegun, mengerti bahwa Sid sedang membuatnya merasa tidak nyaman.


Sebenci itukah kau padaku?


Sanya terus menatap Sid di depan, Sid tersenyum sinis rencananya berhasil membuat Sanya tidak nyaman dan gelisah.


"Kenapa gelisah? Tenang saja, aku sudah puluhan tahun mengendarai mobil!" Sid berkata dengan nada yang justru membuat Sanya semakin khawatir. "Meskipun, beberapa minggu yang lalu aku baru mengalami kecelakaan dengan mobil baruku." Sambungnya.


Sanya semakin panik, ia sangat ketakutan dengan apa yang diceritakan Sid.


Hingga sampai di tempat les musik Kal, Sanya ikut turun dengan sangat cepat. Padahal tempat yang dituju masih berada jauh dari tempat Kal les musik.


"Terima kasih atas tumpangannya." Ucap Sanya sambil berjalan menuju sebuah gang kecil.


Sid mengangguk disertai senyuman sinis. Lalu memutar balik arah mobilnya menuju kantor.


...****************...


Di rumah, Kiran terus cemberut mengingat Sid yang mengantarkan Sanya ke tempat yang dikatakan Sanya ada sedikit pekerjaan disana.


Pekerjaan rumah bahkan ia serahkan pada pelayan seluruhnya, rasanya tak ada semangat dalam hatinya. Pertanyaan malah semakin muncul dalam benaknya tentang siapa Sanya dan apa kaitannya dengan masa lalu Sid.


"Pulang dari kantor nanti aku harus bertanya padanya!" Tekad Kiran dengan hati yang berusaha dikuatkan jika saja ada cerita yang akan menyakitkan baginya.


Hingga hampir malam Kiran menunggu, saat suaminya sudah memasuki garasi bersama mobilnya Kiran dengan cepat menyambutnya.


Namun, saat akan membukakan pintu malah Sanya yang lebih dulu membukakan pintu untuk Sid.


"Sid, baru pulang?" Tanya Sanya dengan ramah.


Sid tentu saja acuh pada Sanya, ia hanya menjawab dengan mengangguk samar dan langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Kiran. Dengan cepat Kiran memeluknya dan mencium pipinya.


Sanya terdiam menyaksikan hal itu, dalam hatinya ada rasa sakit yang begitu besar.


Dengan segera Sanya beranjak menuju kamarnya, agar tak menyaksikan lagi pemandangan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu.


"Mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar mandi." Kiran memeluk lengan Sid dan berjalan bersama Sid menuju ke kamar.


Sanya yang masih mengintip semakin merasa hatinya teriris.

__ADS_1


Di dapur Kiran sedang sibuk memasak makanan kesukaan Sid, meskipun sudah tengah malam tak membuatnya kelelahan dan malas untuk memasak makanan bagi Sid.


Akan tetapi, lagi-lagi gangguang datang dari Sanya yang tiba-tiba sudah berada disamping Kiran dengan pakaian yang tidak sopan.


Gaun tidur tipis berwarna merah yang hanya menutupi paha, membuat Kiran risih sendiri melihatnya.


"Kau sedang masak nasi goreng bawang?" Tanya Sanya yang hanya diangguki Kiran. "Wow, ini adalah makanan kesukaan Sid! Dia selalu memakan itu sebelum berangkat kuliah. Dari mana kau mengetahuinya?" Ucap Sanya tanpa rem pada perkataannya.


Kiran hanya terdiam, memandang Sanya dengan tatapan canggung.


"Kau bertanya seperti itu seolah tidak mengetahui bahwa Kirana adalah istriku!" Sahut Sid yang baru datang ke dapur.


Sanya dan Kiran menoleh bersamaan, Sid menghampiri Kiran dan merangkulnya.


"Rana adalah istriku, tentu saja dia tahu apa makanan kesukaan suaminya." Ujar Sid dengan merangkul Kiran. Kiran mengerutkan dahinya mendengar nama panggilan Sid padanya.


"Rana?" Sid melirik Kiran, kemudian menyengir kuda.


Kiran menggeleng sambil tertawa geli.


"Nama panggilan baru?" Sid mengangguk. "Terinspirasi darimana?"


Sid menyengir kuda lagi.


Setelah candaan berhenti, Sid melirik nasi goreng yang sudah tersaji di atas piring.


"Untukku?" Kiran menggeleng dan membawakan nasi goreng itu ke meja makan. Kemudian kembali dengan mendorong Sid ke dekat meja makan.


"Makan, kau pasti lelah." Sid mengangguk, lalu langsung duduk dan melahap nasi goreng buatan Kiran.


"Kau selalu tahu selereku, aku sangat lelah jadi kembali bersemangat. Bahkan, nasi goreng ini membuatku tidak lelah lagi untuk mengeluarkan adiknya Kal lagi." Canda Sid yang membuat Kiran kembali tergelak. Sementara Sanya berpamitan pergi ke kamar.


"Aku permisi, sepertinya keberadaanku mengganggu."


Kiran dan Sid mengacuhkan Sanya, keduanya fokus dengan candaan mereka.


...****************...


Benar saja, setelah memakan nasi goreng dan jeda sebentar untuk mengobrol Sid langsung menepati kata-katanya untuk mengeluarkan adik dari Kal lagi.


Hingga kini keduanya tertidur nyenyak. Saking nyenyaknya, alarm yang berbunyi dan juga sinar matahari yang telah menembus dinding kamar tak mereka hiraukan.


Keduanya masih tidur nyenyak dengan tubuh hanya terbalut satu selimut saja. Posisi mereka tidak perlu dipertanyakan lagi, dengan kepala Kiran tertidur diatas dada bidang Sid.


Suara pintu diketuk yang membangunkan mereka setelah beberapa kali ketukan, tentu saja ibu Aisha yang melakukan itu.

__ADS_1


Kiran dengan cepat memakai pakaiannya, sementara Sid kembali memejamkan matanya.


"Kiran, apa bisa nanti ke kamar ibu? Bantu ibu membereskan barang-barang!" Teriak ibu Aisha.


Kiran yang sudah memakai gaun tidur seadanya membuka pintu, lalu menjawab pertanyaan ibu Aisha.


"Iya, bu. Setelah ini aku langsung ke kamar ibu." Ibu Aisha mengangguk dan langsung kembali ke kamarnya.


Kiran menutup pintu kamarnya dan bermaksud ingin ke kamar mandi. Namun Sid mencegahnya dengan cara menarik tangannya dan menjatuhkan Kiran diatasnya yang masih belum memakai apapun.


"Sid! Mandi, jangan seperti itu!" Ucap Kiran dengan menarik hidung Sid.


"Satu kali lagi?" Kiran menggeleng. "Satu kali!"


Kiran menggeleng lagi. "Ibu pasti menunggu dikamarnya!"


"Dia pasti tidak akan marah dan mengerti!" Sid mulai melancarkan aksinya.


"Sid!" Sid meletakan jari telunjuk di depan bibir Kiran, kemudian mulai membuka gaun tidur Kiran.


Saat sudah terbuka, suara pintu diketuk lagi mengejutkan keduanya. Bukan hanya diketuk, tapi orang itu membukanya langsung dan membuat Sid dan Kiran langsung menoleh serta menutupi dirinya dengan selimut.


Orang itu membelalakan matanya, kemudian keluar dari kamar Kiran dan Sid lagi sambil menutup pintunya dengan cepat.


"Maaf!" Ucapnya sambil berlari menjauhi kamar Sid dan Kiran.


Ia berjalan sambil menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya, karena melihat adegan panas didepan matanya sendiri.


Sementara di kamar Sid dan Kiran berdebat.


"Sid, apa aku bilang?" Ketus Kiran.


Sid hanya menyengir kuda dan terkekeh.


"Tidak apa-apa, dia tidak akan mengganggu kita lagi setelah melihat sesuatu yang sedang tertancap itu!"


Kiran menggeleng tak percaya dengan ucapan suaminya.


"Tapi Sanya... Pasti... Akan.... Sid!" Sid membuat ucapan Kiran jadi terhenti, akibat sesuatu yang sudah ia dorong dan tarik.


Hingga akhirnya, keduanya larut dalam olahraga pagi yang cukup membuat berkeringat. Meskipun tak lama, akan tetapi itu membuat keduanya lumayan kelelahan.


Bersambung...


Bonus nih adegan olahraganya, biar agak keringetan 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2