
"Aku tidak percaya semua ini! Rana bukan anakku, ini pasti permainan Sanya!" Ucap Sid tak percaya.
"Siddharth," sahut seseorang dari belakang yang sejak tadi melihat Sid dalam posisi seperti itu.
Sid menoleh lalu tersenyum sinis pada Sanya. Senyum itu lebih tepatnya disebut senyum penuh luka.
"Kau tidak percaya dengan kenyataan yang sudah tertulis itu? Tapi, kau bisa melihatnya sendiri!" Sambil menarik tangan Rana dan menunjukan wajah Rana kedepan mata Sid.
"Kau melihat ini, lihatlah wajahnya dan amati baik-baik. Bukan tidak mungkin tidak memiliki hubungan darah jika wajah kalian semirip ini! Dia memang anakmu, jika kau tak percaya maka dengarkan ceritaku baik-baik!" Nada suara Sanya meninggi.
"Beberapa minggu setelah aku menikah, aku dinyatakan hamil padahal dalam keadaan yang tidak pernah dan belum disentuh oleh suamiku! Tapi, suamiku masih menerimaku dan saat Rana lahir, dia tidak menerimanya. Kau tahu kenapa? Hmm?! Karena wajahnya sangat mirip denganmu dan suamiku membencimu karena telah merebut popularitasnya!" Jelas Sanya yang membuat Sid menatap Rana dengan tulus.
Sid berdiri dengan sisa kekuatannya. Lalu menatap Sanya tajam. Kini waktunya untuk menjelaskan lagi masalahnya.
"Jika memang kau hamil karenaku, kenapa tidak datang dari dulu dan meminta pertanggung jawabanku? Kenapa baru sekarang kau datang lalu menghancurkan rumah tanggaku?!" Hardik Sid.
Sanya terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Sid.
"Karena aku..."
"Karena kau tidak ingin popularitasmu terganggu, bukan?! Kau egois, lalu sekarang kau datang menghancurkan segalanya lagi! Kebahagiaanku, istriku, anak-anakku hingga hatiku! Mereka pergi, karena KAU!!!" Teriak Sid.
Sid tertawa sinis, entah apa yang membuatnya tertawa seperti itu. Yang jelas itu adalah tawa yang sudah terbalut dengan luka.
"Selamat, tunggu setelah bayiku lahir kau akan bisa mendapatkanku! Kau datang dengan tujuan memintaku bersamamu bukan? Ya, setelah kami berpisah, aku akan menikahimu!"
"Kau dapatkan ragaku, tapi tidak dengan cinta dan hatiku. Keduanya sudah mati bersama dengan perginya Kiran yang membawa perasaanku." Ucap Sid dengan nada sendu. Hati dokter Ema teriris menyaksikan Sid yang terlihat sangat lemah saat ini.
Sanya sudah terdiam tak mampu berbicara lagi. Alih-alih dapat segalanya, kini malah ia akan menjadikan hidupnya masuk dalam nerakanya Sid yang pernah ia ciptakan dulu.
Lubang neraka itu telah lama ia gali, ternyata tak mampu memasukan wanita lain dalam neraka itu, tapi dirinya sendirilah yang kini akan masuk kedalam neraka Sid yang ia ciptakan sendiri.
Sid berjalan gontai menuju parkiran rumah sakit. Didalam mobil Sid menundukan kepalanya pada setir mobil. bahunya berguncang-guncang akibat tangisannya.
Aku hancur, bersama dengan perginya dirimu. Tidakkah kau peduli itu?
__ADS_1
Sid menatap dirinya sendiri dalam bayangannya di cermin kecil.
Ia telah membenci wajahnya sendiri, wajah polos yang menyembunyikan dosa besar dalam pernikahannya selama belasan tahun.
Mungkin ini hukuman untuk dosa besar yang telah aku sembunyikan selama belasan tahun itu.
Rasa takut yang beberapa hari laku hinggap dihatinya kini terbukti nyata. Dimana Sanya telah datang sebagai badai yang menerpa kebahagiaan keluarga kecilnya.
...****************...
Kiran menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Hari ini mereka akan mengurus untuk masuk ke sekolah baru.
Sudah satu minggu mereka tinggal dirumah Nenek Santi, neneknya Kiran.
"Eh, Kiran jangan seperti itu biarkan nenek saja yang melakukannya!" Nenek Santi mengambil piring yang Kiran bawa untuk makan anak-anaknya dan meletakannya dimeja.
Lalu mendudukan Kiran diatas kursi.
"Nek, biar aku saja. Nenek sudah harusnya istirahat. Jadi, biar aku yang melakukan segalanya!" Kiran mencoba menghentikan neneknya yang akan kembali mengerjakan pekerjaan rumah.
Kebersamaan itu membuat Kiran lupa akan masalahnya dan membuat kandungan Kiran semakin sehat dan membaik.
Sebenarnya, berat bagi Kiran untuk menjalani masa kehamilannya tanpa Sid. Akan tetapi, bila mengingat ia bisa meski tanpa Sid seperti dulu saat mengandung Kal, itu membuatnya percaya bahwa ia yakin mampu meski tanpa peran suami disampingnya.
...****************...
Beberapa bulan berlalu tanpa terasa. Sudah berbulan-bulan pula Sid mencari Kiran kesana kemari tapi tak kunjung bisa menemukannya. Sepertinya Kiran sudah pandai dalam mengasingkan dirinya.
Sid begitu frustasi akan hal itu, hingga membuatnya setiap malam melampiaskan sakit kepala dan pusingnya dengan meminum-minuman berkadar alkohol tinggi.
Tak jarang, dirumah ia mengamuk dengan melemparkan barang-barang dikamarnya hingga pecah dan berserakan dimana-mana.
Ibu Aisha dan Ayah Deva sendiri jatuh sakit saat mendengar kabar bahwa Kiran tidak bisa ditemukan. Apalagi saat mengetahui bahwa Rana adalah putrinya Sid dengan Sanya.
Awalnya mereka tak percaya, namun setelah melihat hasil tes mereka jadi sangat shock dan terjadilah keduanya jatuh sakit.
__ADS_1
Ibu Rhea bahkan setiap hari datang ke rumah utama ayah Deva untuk menanyakan kabar terbaru Kiran. Akan tetapi setiap pulang ia selalu membawa kabar buruk.
Beberapa hari yang lalu Sanya telah pergi tanpa membawa Rana untuk keperluan shooting filmnya. Hal itu membuat rasa benci Sid beserta keluarga terhadap Rana meninggi.
Kebenarannya, adalah memang Sanya sengaja ingin menghancurkan kebahagiaan Sid bersama Kiran dengan cara membawa Rana masuk kedalam keluarga Sid.
Meski belum berhasil, akan tetapi setidaknya kehancuran bagi Sid dimulai secara perlahan.
Buktinya, hari ini seorang pengantar surat datang membawa surat dari pengadilan yang sudah ditandatangani Kiran dan akan diproses oleh pengadilan setelah bayi Kiran lahir.
Sid merasa tidak percaya bahwa ia dan Kiran akan benar-benar berpisah setelah ini.
"Dimana dia sekarang?" Tanya Sid pada pengantar surat. "Dimana pengirim surat ini tinggal sekarang?"
Pengantar surat itu menggeleng.
"Surat ini datang langsung dari pengadilan, pak. Jadi saya tidak tahu istri anda tinggal dimana saat ini!" Jawab pengantar surat itu seraya pergi meninggalkan Sid yang terlihat sangat buruk keadaannya.
Wajah yang tak terawat, bulu-bulu halus mulai tumbuh disekitar area wajahnya. Sid tersenyum jika mengingat Kiran yang tidak suka melihat kumis dan jenggot tumbuh diwajahnya.
Hatinya menghangat mengingat kenangan itu. Ingin sekali, melihat Kiran marah dan menegurnya akibat kumis dan jenggot. Pasti akan sangat lucu, tapi sayang semua itu tinggal kenangan dan akan segera sirna.
...****************...
Empat bulan berlalu, kandungan Kiran sudah mencapai usia lima bulan. Perutnya sedikit terlihat lebih besar.
Nenek Santi terus merawatnya, meski sudah tua tapi lihai dalam mengurus wanita hamil. Akan tetapi beberapa hari yang lalu nenek Santi sudah tak berada dirumah lagi karena harus mengurus suaminya yang bekerja diluar negeri. Jadi, kini Kiran hanya tinggal bersama anak-anakanya di rumah nenek Santi.
Tentunya dengan segala keperluan yang sudah tersedia.
Saat sedang asyik bercengkrama dengan anak-anaknya, Kiran dikejutkan dengan suara dering ponsel yang ternyata telepon dari ibunya.
"Apa?!"
Bersambung...
__ADS_1