Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Pulang


__ADS_3

Satu bulan berada di desa terpencil, kini sudah tiba bagi Sid, Kiran, dan baby Kal untuk pulang.


"Sid, sebelum pulang kita temui Ami dan bayinya dulu. Oh ya, kakek Narja dan nenek Anjum juga, ya?" Ucap Kiran sambil menyusui baby Kal. Satu minggu yang lalu, Ami sudah melahirkan bayinya dengan jenis kelamin perempuan.


Bahkan Ami dan Rafa sudah bersatu kembali.


"Tentu saja, apa yang tidak untukmu?" Jawab Sid dengan nada gombalannya yang membuat Kiran merasa sebal padanya.


"Sekarang kau semakin pandai merayu ya? Dulu saja kau galak sekali padaku!" Cibir Kiran sambil meletakkan baby Kal di box bayi karena sudah tertidur.


"Dulu itu karena kau tidak bisa bekerja dengan benar! Otakmu terlalu cekak, menelepon klien saja baru beberapa menit sudah lupa!" Balas Sid sambil tersenyum mengejek.


"Kau saja yang terlalu galak, pantas saja tidak ada sekretaris yang bisa bertahan lebih dari satu bulan bekerja padamu!" Awal dari perdebatan dimulai.


"Ada!" Tegas Sid.


"Siapa? Kanaya, begitu iya kan?!" Kiran mencemberutkan bibirnya.


"Kanaya? Jadi sekretarisku?" Sid tertawa membuat Kiran menatapnya kesal. "Jangankan dia jadi sekretarisku, bahkan dia tidak lulus sarjana!" Sid kembali melanjutkan tawanya.


Apa? Bagaimana bisa? Dia pasti bohong!


"Aku tidak bohong, dia tidak pernah lulus sarjana!" Ujar Sid diikuti tawa tegasnya, seolah tahu apa yang Kiran pikirkan.


"Lalu siapa sekretaris yang bisa bertahan lebih dari satu bulan bersamamu?" Tanya Kiran dengan nada menyelidik.


Sid mengeluarkan ponselnya dari salam saku, lalu menghidupkannya dan menunjukkannya pada Kiran.


"Ini, wanita inilah yang dengan hebatnya bertahan menjadi sekretarisku lebih dari satu bulan. Bahkan, wanita ini adalah wanita yang paling mengerti diriku. Saat ini dia juga telah memberikan anugerah terindah dan terbesar dalam hidupku." Kiran tersenyum bahagia, saat menatap layar kunci ponsel Sid yang terpasang fotonya sedang menggendong baby Kal di atas ranjang rumah sakit.


"Sid, kau ini!" Kiran memeluk Sid, dan menyembunyikan wajahnya di dada Sid.


"Kenapa? Dua tahun aku memegang kekuasaan atas perusahaan, selama itu juga tidak ada yang bisa tahan bekerja padaku. Tapi, saat kau datang seperti ada dorongan yang menyuruhku agar tidak pernah memecatmu sejelek apapun pekerjaanmu dan semengesalkan apapun dirimu. Ternyata dorongan itu pertanda bahwa ternyata Kirana Putri Farella Adiwijaya itu adalah orang yang akan bisa mengusir kesedihanku dan menggantinya dengan kebahagiaan yang besar, walau harus banyak rintangan yang kita hadapi tapi rasa cintaku pada Kiranaku ini tidak pernah pudar. Setiap detiknya, menitnya, jamnya, dan setiap harinya bahkan sampai akhir hidupku nanti rasa cinta ini akan terus bertambah, seiring berjalannya waktu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Sid melepaskan pelukan Kiran, lalu merangkul kedua bahunya.


Cup...


Satu kecupan penuh kehangatan dan kemesraan mendarat di kening Kiran.


"Aku terharu, tak pernah aku sangka bahwa laki-laki yang dulu selalu menghinaku ini sekarang jadi laki-laki yang paling mencintaiku dan sangat aku cintai. Bahkan, dari cinta kita ini sudah lahir malaikat kecil. Semoga dengan lahirnya Kal akan menjadi kekuatan besar dalam cinta kita. Aku juga sangat mencintaimu, Sid. Aku mencintaimu sampai tak terhingga sebesar apa cinta itu." Kiran kembali memeluk Sid dengan sangat erat.

__ADS_1


"Ayo, kita ke rumah nenek Anjum dulu. Kita berpamitan pada mereka sekalian menemui Ami iya kan?" Kiran mengangguk.


Menempuh perjalanan hampir satu jam, membuat Kiran sedikit kewalahan karena bayinya selalu menangis bila berada di dalam kendaraan baik kendaraan di air, atau kendaraan apapun.


"Kiran, kenapa dia menangis terus setiap naik kendaraan?" Tanya Sid sambil mengayun-ayun baby Kal yang tidak berhenti menangis. Bayi satu bulan itu seperti tidak suka naik kendaraan.


"Aku tidak tahu, saat di mobil saja dia juga selalu menangis. Tidak tahu jika naik pesawat nanti." Jawab Kiran dengan wajah bingung.


"Ya Tuhan, aku tidak bisa melihatnya menangis terus! Apa perjalananya masih lama?" Gerutu Sid.


Beberapa menit kemudian, kapal sudah sampai di tempat tujuan. Barulah baby Kal berhenti menangis juga.


"Lihat, dia berhenti menangis setelah kita turun dari kapal!" Sid mendengus sebal.


"Iya, aneh sekali." Kiran mengangangguki perkataan Sid.


"Ya sudah, ayo." Sid merangkul Kiran, dan membawanya menuju rumah kakek Narja.


Sesampainya disana ternyata semua sudah tahu bahwa Kiran akan pulang besok, mereka sudah berkumpul termasuk Ami dan Rafa yang membawa bayinya juga.


"Hallo semuanya, apa kabar?" Kiran menyapa semuanya.


"Hallo Kiran yang cantik! Kabar kami baik." Jawab Ami sambil tersenyum.


"Tidak masalah, nak. Kami hanya ingin berbuat baik, itu saja." Jawab nenek Anjum tulus.


"Terima kasih, nek, kek, dan Ami serta semuanya yang sudah berbaik hati menerimaku di desa ini. Maaf, aku tidak bisa tinggal disini lagi. Aku harus ikut pulang bersama suamiku dan juga anakku." Pamit Kiran dengan wajah sedihnya, walau bagaimanapun desa itu menyimpan banyak kenangan baginya.


"Jangan sedih, kapan-kapan kita akan mengunjungi tempat ini." Sid mengusap lembut pundak Kiran.


"Sebelum pergi, ayo kita makan bersama dulu! Nenek dan kakek sudah menyiapkan segalanya." Ucap Ami sambil memindahkan bayinya pada Rafa dan menarik tangan Kiran untuk duduk. Sid mengikuti Kiran.


Sampai sore hari, Sid dan Kiran baru pulang dari desa itu. Seperti biasa, baby Kal akan menangis saat berada dalam kapal.


"Sid, bagaimana ini? Kenapa dia menangis terus?" Ucap Kiran resah.


"Kiran, mungkin dia tidak suka naik kendaraan laut!" Timpal Ami yang tiba-tiba muncul bersama Rafa di dalam kapal.


"Ami! Kau disini?" Tanya Kiran dengan ekspresi terkejutnya.

__ADS_1


"Iya, aku dan Rafa juga akan ke Jakarta." Jawab Ami sambil tersenyum manis.


Sid menghela napas kesal, pasti istrinya setiap hari akan kedatangan Ami menyebalkan itu di rumahnya.


Tuhaaannn, kenapa selalu saja ada yang menyebalkan diantara kami?!


"Ayo, kita istirahat di kamar saja!" Ajak Sid sambil langsung menarik tangan Kiran. Baby Kal yang sedang menangis jadi diam saat Sid memegang tangan Kiran.


Sid mengajak Kiran masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan, untuk mengajaknya istirahat.


Sampai di dalam ketika Sid melepaskan tangan Kiran, baby Kal kembali menangis.


"Ya ampun, Kal!" Sid mengacak rambutnya frustasi.


"Sabar, Sid!" Kiran mengelus punggung suaminya itu.


"Aku tahu, bagaimana cara menghentikan tangisannya!" Seru Sid.


"Bagaimana?" Tanya Kiran penasaran.


"Tunggu disini!" Sid keluar dari kamar,alu tak lama kembali dengan sebuah gitar di tangannya.


"Tunggu, jangan bilang kau akan???" Kiran menatap Sid tajam.


"Diam, cukup lihat saja dan dengarkan!" Ketus Sid.


Sid duduk di depan Kiran, sementara baby Kal berbaring di ranjang. Sid mulai memetik senar gitarnya, lalu menyanyikan lagu nina bobo. Seketika tangisan baby Kal berhenti.


Kiran terkejut melihat fakta didepannya.


"Sid, dia baru berusia satu bulan!" Protes Kiran.


"Tapi lihat, saat aku bernyanyi dia tidak menangis lagi!" Sid tersenyum bangga.


Kiran hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu. Bagaimana bisa, bayi berusia satu bulan berhenti menangis ketika mendengar ayahnya bernyanyi dan memainkan gitar? Bukankah itu mustahil?!


**Bersambung...


Hai semuanya, saya irma rahmawati.

__ADS_1


Bagaimana pendapat kalian tentang cerita novel ini? Bagus kah? Kalua bagus, setelah kisah Sid dan Kiran tamat author akan membuat kelanjutannya dengan tokoh utamanya Siran Kallandra Adeva Rafandi yang tak lain adalah anak Sid dan Kiran. Jangan lupa ya selalu like, coment dan vote karena itu salah satu yang membuat author semangat upnya.


Terima kasih buat yang dari awak sudah mengikuti kisah ini**!!!


__ADS_2