
Terlihat Sid sedang memasukan beberapa helai pakaian kedalam kopernya, tak lupa juga memasukan beberapa helai pakaian milik Kal yang berada disana.
"Sid, apa yang kau lakukan?" Kiran mencekal tangan Sid, namun Sid menghempaskannya kasar. Ia terus memasukan pakaiannya kedalam koper.
Kiran mulai merasa kesal dengan apa yang dilihatnya, pikirannya memikirkan apa kesalahannya hingga Sid berubah seperti saat ini.
"Apa aku punya salah padamu?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Kiran. Membuat Sid menghentikan kegiatannya tersebut.
"Tidak," jawab Sid dengan singkat namun membuat Kiran semakin yakin bahwa Sid sedang marah. Bukan hanya marah, tapi sangat marah padanya.
Setelah koper terisi penuh, Sid menutupnya dan menarik kopernya menuju kamar Kal. Kiran terus mengikuti Sid.
"Kau mau kemana?"
"Kemanapun aku pergi, itu bukan urusanmu!" Bentak Sid dengan kasar.
Kiran merasa sakit hati atas perkataan Sid, hingga kali ini Sid tidak dikejarnya.
Sementara Sid semakin merasa kesal ketika Kiran sama sekali tidak menyadari kesalahannya sendiri.
Sid melangkah memasuki kamar Kal, lalu kembali keluar dengan tangan yang menyeret koper dan tangan lainnya menggenggam tangan Kal.
Kiran yang melihat hal itu kembali menghampiri Sid dan menahan tangan Kal.
"Kemana? Sebenarnya kenapa?" Tanya Kiran sudah dengan terisak.
Sid tidak mengindahkan pertanyaan Kiran, ia terus menarik Kal menuju keluar rumah dan memasuki garasi. Kiran mengikuti keduanya dengan perasaan yang masih bingung antara marah dan sedih juga bertanya-tanya ada apa dengan suaminya hingga mengabaikannya seperti itu.
"Sid!" Isak Kiran saat Sid sudah akan memasuki mobilnya.
"Kau boleh pergi, tapi katakan apa kesalahanku dulu?! Sampai kau mengabaikan aku seperti ini!"
Sid terdiam, ia sebenarnya ingin mengingatkan Kiran. Akan tetapi bayangan Rian yang mengantarkan Kiran tadi membuatnya berada dalam keegoisan.
Setidaknya dia harusnya menelepon aku, bukan? Bukannya malah minta diantar pria b*jingan itu!
"Kau pikirkan saja sendiri!" Ucap Sid sambil menunjuk kepalanya.
Setelah itu Sid memasuki mobil bersama Kal dan melajukannya entah menuju kemana meninggalkan Kiran yang menatapnya dengan tatapan sedih dan bingung.
Ibu Aisha yang melihat adegan demi adegan antar anak dan menantunya itu ikut merasa bingung.
Iapun menghampiri Kiran dan mengelus punggung menantunya tersebut. "Apa kalian bertengkar?"
Kiran menoleh, lalu menggeleng dan memeluk ibu Aisha.
__ADS_1
"Lalu ada apa?" Tanya ibu Aisha penasaran.
Ayah Deva ikut menghampiri Kiran, dan menanyakan apa yang terjadi pada ibu Aisha dengan isyarat. Namun ibu Aisha menggeleng karena tidak tahu pasti apa penyebab dan asal dari masalah tersebut.
"Ayo, masuklah dulu! Ini sudah malam," ajak ibu Aisha sambil memapah Kiran masuk kedalam rumah.
...-----------------...
Tepat disebuah pekarangan rumah bertingkat dua yang tidak terlalu besar, Sid menghentikan mobilnya. Sebelum turun ia melirik sang putra disampingnya yang tampak terlelap.
Maafkan ayah, tapi ini kesalahan ibumu!
Sid turun dari mobil dengan membangunkan Kal terlebih dahulu. Saat terbangun Kal sempat kebingungan mengapa ia berada di depan rumah lama milik ayahnya tersebut.
"Ayo masuk, ini sudah malam!" Ajak Sid pada Kal.
"Tapi kenapa kita kesini, ayah?" Sid menggeleng, lalu lebih memilih menarik tangan Kal masuk kedalam rumah.
Sepanjang malam Sid tak tidur sedikitpun. Ia hanya menatap Kal yang sudah tertidur kembali dengan tatapan miris pada putranya tersebut.
Bagaimana tidak, Kal yang tidak punya salah apapun harus disalahkan oleh ibunya akibat keterlambatannya.
"Bagaimana bisa dia memarahi anaknya sendiri? Walau tanpa kesalahan apapun!" Gumam Sid sambil mengelus kepala Kal dengan lembut.
Sid turun dari ranjang, lalu meraih ponselnya. Matanya membelalak ketika melihat banyak panggilan tak terjawab dari nomor ayah dan ibunya.
"Sebanyak ini? Pasti mereka akan mengintrogasiku!" Gumamnya. Kini tangannya menyentuh ikon pesan, dan membukanya. Terlihat puluhan pesan dari ayah Deva, ibu Aisha, dan Kiran.
Satu-persatu pesan dibacanya. Hingga salah satu pesan cukup membuatnya terkejut.
Sid, jika kau tidak pulang dan menceritakan apa masalah antara kalian ayah akan mengirim orang untuk menghabisimu!
Pesan ancaman dari ayahnya sendiri membuat Sid cukup terkejut. Sepanjang ini, ayahnya tidak pernah sampai mengancam dirinya seperti itu.
Hingga siang hari, Sid tidaa keluar sedikitpun dari dalam rumah lamanya tersebut. Ia bahkan mematikan ponselnya karena kesal dengan orang-orang yang terus meneleponinya sejak semalam. Kegiatannyapun hanya memasak untuk Kal serta menghibur Kal yang terus merengek ingin pulang.
Sore harinya Sid merasa tambah kesal lagi ketika melihat sebuah mobil yang dikenalinya masuk kedalam halaman yang cukup luas tersebut.
Sid menghela napas kasar, lalu memanggil Kal dan mengajaknya keluar melalui halaman belakang rumahnya.
"Ayah, kita akan kemana?"
"Kemanapun, kita akan pergi liburan hari ini!" Seru Sid berusaha meyakinkan Kal. Kal dengan polosnya mengangguk percaya.
"Tapi, pakaian kita..."
__ADS_1
"Beli yang baru!" Jawab Sid segera.
Sementara dirumahnya, ayah Deva, ibu Aisha, dan Kiran beserta si kembar sedang kebingungan mencaru Sid dan Kal kesana kemari.
"Kemana mereka? Apa mungkin tidak kerumah ini?" Tanya ayah Deva.
"Tidak, ayah! Mereka pasti kerumah ini. Buktinya rumah ini tidak terkunci dan beberapa pakaian mereka ada disini." Jawab Kiran yakin sambil menunjuk lemari yang sudah berisi beberapa helai pakaian Sid dan Kal.
"Lalu sekarang kemana mereka?" tanya ibu Aisha bingung.
Lalu tiba-tiba seorang pelayan yang khusus membersihka ruamh Sid datang dengan beberapa barang belanjaan untuk dapur, membuat Kiran semakin yakin bahwa suami dan anaknya berada di rumah itu.
"Risa!" Panggil Kiran pada pelayan bernama Risa tersebut.
Risa menoleh, lalu segera menghampiri Kiran.
"Ya, nyonya."
"Apa Sid dan Kal kesini?" Risa mengangguk cepat. "Sekarang mereka dimana?"
Risa menggeleng, menandakan bahwa ia tidak tahu kemana perginya majikannya tersebut. "Maaf, nyonya. Tadi pagi mereka masih disini tapi sekarang aku tida tahu mereka kemana. Mungkin sedang keluar untuk jalan-jalan." Jelas Risa yang membuat ketiga orang yang sedang kebingungan tersebut menghela napas lega.
Akan tetapi, hingga langit berubah menjadi senja dan sudah berjam-jam menanti, kedua orang yang ditinggu tersebut tidak muncul juga. Membuat ketiganya yang menunggu semakin bingung sekaligus kesal.
"Coba hubungi Sid!" Perintah ayah Deva pada Risa yang sedang menyajikan makanan.
"Baik, tuan besar." Patuh Risa yang langsung mengambil telepon rumah dan mencoba menghubungi Sid.
Beberapa kali mencoba, tidak ada satupun yang terhubung. Hanya suara perempuan didalam ponsel yang menyabut, mengatakan bahwa "Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah beberapa saat lagi"
"Tidak aktif, tuan."
Ayah Deva menghembuskan napas kasar lalu membanting sebuah vas bunga dihadapannya.
"Kemana dia? Ada apa ini sebenarnya!" Teriaknya penuh amarah.
Kiran sedikit terkejut. Begitu juga ibu Aisha.
"Sepertinya ini kesalahanku." Ucap Kiran tiba-tiba membuat kedua mertuanya menoleh padanya secara bersamaan.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Semalam..."
Bersambung...
__ADS_1