
"Hah?!" Kiran cepat-cepat berdiri, dan menjauh dari Sid.
"Maaf, sepertinya aku datang di waktu yang salah." Dokter Ema yang baru datang menggoda Sid.
"Tidak, silahkan." Sid menyengir kuda.
"Baiklah, apa yang terjadi?" Sid melirik Kiran sebelum menjawab dokter Ema.
"Begini, dokter... Hmm... Aku jatuh, dan pinggangku rasanya sakit sekali." Jawab Sid, sambil sesekali melirik Kiran yang tengah membaca majalah. Lebih tepatnya berpura-pura.
"Coba aku lihat." Sid menunjukkan pinggangnya.
"Lihat, pinggangmu bengkak. Pasti terkilir! Aku akan memberikan salep penghilang rasa sakit, tapi setelah ini panggil tukang pijat saja."
"Hah?! Tidak, tidak! Aku takut!" Wajah Sid mulai panik.
"Sid! Jika tidak di pijat, maka kau tidak akan bisa berjalan lagi!" Dokter Ema memperingatkan.
"Huh! Tidak ada ya, saran yang lebih menyenangkan?" Sid menggerutu pelan, tapi masih bisa didengar jelas oleh dokter Ema dan Kiran.
"Ada."
"Apa?" Sid menatap dokter Ema lekat-lekat.
"Cepatlah menikah, kau pasti akan tahu." Sid menghela napas kasar, mendengar jawaban dokter Ema.
"Jika bisa diberi tahu sekarang, maka beritahulah!" Ketus Sid.
"Kau memaksa, ya? Belum saatnya, saat kau menikah nanti aku akan memberitahumu!" Dokter Ema terkekeh geli.
"Baiklah, terserah anda saja." Sid mengalah. 😁
"Hei nona manis, mari antar aku keluar." Kiran menoleh, lalu tersenyum pada dokter Ema dan mengangguk.
Setelah mengantar dokter Ema keluar, Kiran kembali masuk ke dalam kamar Sid. Dan duduk di pinggir ranjang.
"Kiran, kau lelah? Jika lelah pulang saja, aku tidak apa-apa disini." Sambil memegangi pinggangnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku akan memanamimu sampai kau ada yang menemani." Jawab Kiran sambil tersenyum.
Eh, apa? Dia bilang apa? Akan menemaniku? Sungguh, kau memang berbeda dari yang lain, Kirana.
Sid tersenyum, mendengar jawaban Kiran. Sungguh, saat ini dia merasa ingin berusaha membuka hati untuk wanita manis dihadapannya ini.
"Kiran." Kiran menatap Sid. Sid meraih lengan Kiran, dan menggenggamnya. Sungguh, ini adalah sebuah kenyamanan bagi keduanya.
"Hmm.." Kiran berdeham.
"Bisakah kau melakukan sesuatu untukku?" Terdiam.
__ADS_1
"Apa? Apakah kau ingin ke kamar mandi? Atau kau lapar?" Sid menepuk keningnya pelan.
Ya ampun, dia tidak mengerti ternyata.
Sid menggeleng. "Mendekatlah!" Perintahnya.
Kiran mulai mendekatkan dirinya lagi, seperti tadi sebelum kedatangan dokter Ema.
"Apa kau bisa merasakan sesuatu disini?" Sid meletakkan tangan Kiran di dadanya.
Ya, detak jantungmu. Aku merasakannya.
Kiran mengangguk.
"Apakah detak jantungku ini normal?" mengeratkan genggamannya pada tangan Kiran.
"Aku tidak tahu." Kiran berdiri, tapi tertahan karena Sid masih memegangi tangannya dengan sangat erat.
"Terima kasih."
"Kau tidak perlu berterima kasih, sudah seharusnya aku membantu." Kiran memutar tubunya, duduk membelakangi Sid.
"Terima kasih, kau telah memberikan keindahan lagi dalam hidupku. Mencairkan gunung es di dalam hatiku. " Berhenti sejenak. "Kiran, a.. aku." Sid menggenggam erat lengan Kiran. Rasanya, lidahnya kaku. Tidak sejalan dengan hatinya yang terasa ingin mengungkapkan kata yang sangat bersejarah pada wanita dihadapannya ini.
Tuhan, beri aku keberanian. Aku mengakuinya, aku menerimanya. Aku mencintaimu, Kirana. Aku menginginkan dirimu, sebagai pendamping hidupku.
"Pergilah, kau boleh pulang. Aku akan baik-baik saja. Disini ada bi Asih yang akan mengurusku." Kiran berbalik, lalu mengangguk.
Matanya sudah berkaca-kaca, dadanya bergemuruh, sesak.
Aku mencintaimu, Siddharth Adeva Rafandi! Aku sangat mencintaimu!
Kiran memasuki mobil, ia duduk di kursi pengemudi. Punggungnya mulai berguncang-guncang, bibirnya terisak. Mula-mula isakan kecil, lalu berubah menjadi besar.
Di kamar Sid, ia hanya bisa diam seribu bahasa. Bukan lagi sakit di pinggangnya yang terkilir yang Sid rasakan, tapi rasa sakit dikala tak bisa mengungkapkan rasa cintanya.
Dia tidak mampu, bukan berarti tidak bisa. Hanya saja, belum waktunya. Terlalu berat baginya, Sid dan Kiran masih sama-sama trauma akan cinta. Akan luka pengkhianatan yang telah diberikan pasangan mereka di masa lalu.
Maaf Kiran, aku butuh waktu untuk mengungkapkannya. Aku harap kau bisa menungguku. Luka yang diberikan Kanaya masih berbekas di hatiku. Aku tidak ingin melukai perasaanmu karena aku yang masih terus mengingat Kanaya. Tapi, aku berjanji akan melupakannya.
...----------------...
Di rumah, Kiran menjadi pendiam sekali. Selama berkumpul dengan keluarganya, tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Bahkan godaan Mira, si manusia berlidah tajam tidak mampu membuat Kiran berbicara.
"Kiran, kenapa diam saja? Kau sakit?" Rhea yang cemas dan bingung mengelus punggung putri sulungnya.
"Tidak, bu. Aku istirahat lebih dulu ya? Selamat malam,bu." Kiran mengecup pipi ibunya sekilas, lalu pergi ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari ibunya lagi.
"Rhea, Kiran kenapa? Dia tampak sangat berbeda sekali. Sejak pulang dia tak bicara jika tidak ditanya!" Dendi ikut cemas dengan keadaan Kiran.
__ADS_1
"Sudahlah, mungkin dia lelah. Kau tahu sendiri, kan? Bagaimana Sid? Dia bos yang sangat galak." Rhea berusaha menghilangkan kepanikan Dendi.
Di kamar, Kiran tidak mampu lagi menahan air matanya. Buliran bening mulai mengalir membasahi pipinya.
Aku tahu! Aku sangat tidak pantas untukmu, Sid. Jika dibandingkan Kanaya, aku tidak ada apa-apanya.
Kiran keluar dari kamarnya, menuju balkon. Ia duduk di kursi kayu yang sudah berada disana. Tempat yang menjadi persinggahan favoritnya di rumahnya, ketika ia memiliki masalah selalu menangis disana.
"Perasaan apa ini? Tuhan! Katakan, dan jelaskan! Perasaan seperti apa ini? Yang telah Kau berikan padaku? Sejak awal aku berusaha menghindari perasaan ini, tapi Kau malah semakin menambah perasaan ini di dalam hatiku?!" Kiran terisak kembali.
Sid, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu.
"Aaaaarrrrggggggghhhhhhhh!" Kiran berteriak sekeras mungkin, hingga menggema di langit. Lalu menumpahkan tangisnya yang sangat besar.
Seolah mengerti perasaan Kiran yang sedang mengalami dilema cinta, langit ikut menangis, menjatuhkan air matanya. Membasahi tanah bumi yang tandus, membasahi tubuh Kiran.
Di bawah rintikkan air hujan itu, Kiran menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan seluruh isi hatinya, setelah puas ia memasuki kamarnya dalam keadaan basah kuyup.
Kiran mengganti bajunya, lalu merebahkan dirinya di atas ranjang yang berukuran cukup besar.
Kini aku tahu, Cinta itu seperti mimpi yang akan lenyap saat kita terbangun. Dan aku tidak ingin bangun, agar bisa merasakan cinta itu selamanya.
Kiran larut kembali dalam perasaannya, hingga cukup lama akhirnya ia terlelap dalam mimpinya.
...----------------...
"Ayah, aku mencintainya. Aku mencintai Kiran." Sejak kedatangan Deva ke rumahnya, Sid tidak berhenti mengatakan bahwa ia mencintai Kiran.
"Kejarlah, Siddharth putraku! Kejarlah cintamu itu!" Sid menepuk bahu putranya pelan.
"Lalu bagaimana dengan semua itu?"
"Sid, dengarkan ayah baik-baik. Lupakan Kanaya, lepaskan dia. Sekali lagi ayah bilang lupakan dia! Cinta pertama belum tentu akan menjadi cinta sejati! Lihat ke depan, cinta sejatimu adalah Kiran!" Sid mengangguk.
"Terima kasih, ayah." Deva memeluk Sid, namun Sid malah meringis kesakitan.
"Aw! Sakit!" Deva terkejut, dan langsung melepaskan pelukannya.
"Kau ini, bagaimana bisa pinggangmu terkilir, hah?! Apa yang sudah kau lakukan?" Deva menyelidik Sid.
"Tadi aku menguping Kiran berbicara, aku bersandar ke pintu. Ternyata pintunya tidak tertutup dengan benar. Jadi, pada saat aku menyandar, pintunya terbuka dan aku jatuh." Sid menjelaskan sambil menunduk.
"Bodoh! Darimana kau belajar menguping orang lain?" Deva menjitak kening Sid.
"Hehe..." Sid terkekeh, kemudian tertawa bersama Deva.
Bersambung...
Terharu deh...
__ADS_1
Jangan lupa Vote dan like ya! Biar author tambah semangat...