
"Ayah!" Kiran ikut menghampiri ayah Deva yang tertembak.
"Deva! Tidaaakk!" Ibu Aisha pun ikut meraih tubuh suaminya.
"Aisha, Sid, Kiran jaga diri kalian baik-baik." Ucap ayah Deva lemah.
"Tidak! Ayah tidak boleh bicara seperti itu!" Sid meletakan tangannya di bibir ayahnya.
Ayah Deva meraih tangan ibu Aisha dan menggenggamnya, lalu mengecupnya singkat.
"Terima kasih, untuk segalanya yang telah kau berikan. Putra dan putri yang sangat baik dan pemberani. Terima kasih, telah kembali untukku." Ayah Deva mengecup lagi tangan ibu Aisha.
"Tidak, kau tidak bisa seperti ini Deva! Aku baru saja kembali untukmu, kau tidak akan pergi! Tidak boleh!" Ibu Aisha menangis tersedu-sedu.
"Sid, ayo bawa ayah ke rumah sakit!" Ucap Kiran.
"Kalian tolong bantu kami!" Perintah Sid pada beberapa anak buahnya.
Namun, saat Sid dan ibu Aisha terfokus pada ayah Deva tiba-tiba paman Dendi menarik tangan Kiran dan membawanya menjauh dari Sid.
"Sid!" Teriak Kiran.
Sid menoleh, lalu terkejut melihat Kiran yang sudah berada di tangan paman Dendi. Dengan pistol yang ditodongkan ke arah perut Kiran.
"Disini ada bayi kembar, kan? Sayang sekali, ia tidak akan bisa melihat duni bersama ibunya."
"Tidak! Jauhkan senjatamu darinya!" Ucap Sid. "Bunda, bawa ayah pergi ke rumah sakit! Kalian jaga ayahku dan juga bunda!" Ibu Aisha mengangguk, lalu segera membawa ayah Deva ke rumah sakit.
"Ayo, selamatkan dia jika kau bisa!" Paman Dendi memindahkan pistolnya ke kepala Kiran, lalu menarik Kiran dan membawanya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Sid.
Sid berlari mengejar paman Dendi, namun terhalang oleh anak buah paman Dendi yang mencoba menghabisinya.
"Minggir kau! Atau riwayatmu akan tamat detik ini juga!" Ancam Sid. Namun orang itu tidak sedikitpun melangkah, malah mengacungkan senjatanya dan mengarahkannya pada Sid.
Dengan berani Sid melawannya, namun karena tangannya yang terluka ia menjatuhkan senjatanya ke lantai. Anak buah paman Dendi tersenyum senang, Sid kebingungan karena tangannya terasa sakit tidak memungkinkan untuk melawan.
Anak buah paman Dendi sudah mendekat, ia mengarahkan pistol ke kepala Sid. Sid menutup matanya.
Dor...
Sebuah tembakan terjadi, Sid membuka matanya. Lalu meraba tubuhnya. Tidak ada tembakan yang terkena tubuhnya.
Lalu Sid melirik anak buah paman Dendi yang tadi mencoba menembaknya, masih berdiri dengan raut wajah yang datar.
Bruk...
Tiba-tiba ia terjatuh, dan menampilkan empat sosok yang dikenal Sid.
"Pak Sid, cepat selamatkan Kiran! Aku dan Rafa yang akan menghadapi mereka disini!"
"Baik, terima kasih. Tolong lindungi Lakshmi dan Mira juga disana!" Sambil menunjuk anak buahnya yang melingkar melindungi Lakshmi dan Mira.
__ADS_1
Sid segera berlari keluar ruangan, dengan diikuti Rio dan Aira.
Ketiganya memasuki mobil dengan Rio yang mengendarai mobilnya. Mobil melaju dengan cepat.
"Kemana perginya mereka?" Tanya Sid pada Rio.
"Kak Sid, mereka pergi ke arah perbatasan kota Jakarta dengan Jawa Barat."
"Apa? Kemana mereka akan pergi?"
"Dimana Kal?" Tanya Aira lagi.
"Dia berada di bandung bersama kakek dan nenekku. Kemarin Kiran mengantarkannya kesana, karena di rumah pembantu kami berkhianat."
"Artinya paman Dendi juga kesana membawa Kiran! Ayo cepat, Rio kita harus segera melaju kesana!" Seru Aira yang diangguki Rio.
"Tidak!" Larang Sid cepat.
"Kenapa, kak?"
"Butuh waktu berjam-jam jika kita menyusul dengan memakai mobil, lebih baik kita naik helikopter milik ayahku agar bisa segera sampai sebelum paman Dendi sampai lebih dulu kesana!" Usul Sid. "Ayo, arahkan mobilnya ke lapangan mansion utama!"
"Baik, pak." Rio mengangguk lalu memutar arah mobil menuju mansion utama.
Tak lama, mereka sampai di mansion utama. Namun Rio dan Aira sedikit bingung dan khawatir, karena pilot helikopternya tidak ada sedangkan mereka tidak bisa mengendalikannya.
"Ayo cepat!" Sid menarik keduanya menaiki helikopter dengan posisi dirinya sendiri yang memegang kemudi.
"Pak, siapa yang akan menerbangkan helikopternya?" Tanya Rio khawatir.
Mana aku tau? Tidak pernah melihatmu menerbangkannya, keluargamu kan selalu memakai pilot! Dalam keadaan seperti ini saja dia masih bisa marah gara-gara pertanyaanku!
Rio cemberut, sementara Aira tersenyum kikuk melihat kedua pria di depan dan sampingnya masih bisa membuat hiburan tak di sengaja.
Helikopter mulai terbang didalam kendali Sid, hingga beberapa jam akhirnya mereka sampai di halaman rumah kakek dan neneknya Sid.
Keluarga pemilik rumah tersebut agak terkejut melihat ada helikopter mendarat di halaman rumah mereka, jika Sod tak segera turun dan menemui mereka.
"Sid! Ada apa? Kenapa tanganmu terluka begini?" Seru kakek Lucas dengan nada panik.
"Kakek, dimana Kal?"
"Di dalam, ada apa?"
"Bawa dia pergi dari sini secepatnya! Kita sedang dalam bahaya, cepat!" Kakek Lucas mengangguk, ia mengerti keadaan sedang darurat maka ia tak akan bertanya sedikitpun lagi.
"Rio, kau dan Aira tahu bukan tempat dimana Kiran tinggal setelah dia hanyut waktu itu?" Rio mengangguk. "Bawa dia kesana! Ingat, jangan berhenti jika ada yang mengejar kalian!" Rio mengangguk lagi.
"Ayo, cepat masuk ke mobil kakek Lucas!" Keluarga kakek Lucas segera masuk ke dalam mobil. Mobil ada dua, yang lainnya di kendarai Rasya adik dari ibu Aisha.
"Kal, kau anak yang kuat! Pergi bersama kakek buyutmu, ya? Ayah akan menjemputmu, pasti akan menjemputmu!" Sid mencium pipi Kal sebelum Kal di bawa pergi.
__ADS_1
Paman Aryan kakak dari ibu Aisha tetap bersama Sid untuk membantunya.
"Paman, kita harus melakukan sesuatu sebelum paman Dendi datang."
"Tapi apa yang terjadi? Dimana Kiran dan yang lainnya?" Paman Aryan kebingungan.
"Paman, nanti saja aku menceritakan segalanya! Kita harus segera melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Kiran!"
Paman Aryan mengangguk. Keduanya memasuki rumah untuk membuat jebakan menangkap paman Dendi dan menyelamatkan Kiran.
Tak butuh waktu lama, akhirnya paman Aryan dan Sid selesai membuat jebakan dengan bahan dan alat-alat serta senjata yang ada di rumah itu.
"Ayo, paman! Kita harus bersembunyi!" Paman Aryan mengangguk, lalu ia dan Sid memasuki salah satu kamar di rumah itu.
Sangat lama mereka menunggu, hampir lima jam akhirnya suara deruman mesin mobil terdengar di halaman rumah kakek Lucas.
"Itu dia!" Sid mengintip dari jendela, tampak paman Dendi menyeret Kiran keluar dari dalam mobil.
Tentunya dengan senjata yang terus ditodongka pada Kiran.
"Bersiaplah, paman!" Paman Aryan segera turun ke lantai utama, berpura-pura bahwa ia tak mengetahui apapun
Braak...
Pintu rumah ditendang oleh paman Dendi hingga terbuka, lalu menyeret Kiran hingga terjatuh kelantai. Untungnya perutnya tidak terbentur.
"Dendi! Apa yang kau lakukan, hah? Kenapa kau berbuat kasar pada keponakanmu sendiri?!" Paman Aryan mendekati Kiran dan meraihnya.
"Diam kau, dimana Kal? Dimana keluargamu yang bodoh itu?!" Teriak paman Dendi.
"Kenapa kau mencari mereka, hah?! Katakan apa tujuanmu datang ke rumah ini? Kenapa kau berteriak-teriak seperti manusia yang tidak waras?!" Paman Aryan berpura-pura terpancing emosinya.
"Untuk membalaskan sakit hatiku karena kalian menikahkan Aisha dengan Deva!"
"Itu bukan pilihan kami, itu adalah keputusan Aisha sendiri! Kau tidak berhak mengatur Aisha harus menikah dengan siapa! Deva adalah kebahagiaannya! Mau bagaimanapun keadaannya bersama Deva itu adalah keputusannya sendiri, kenapa kau mengungkit-ungkit kisah lama?!"
"Aku tidak terima!" Teriak Dendi sambil mengacungka pistolnya pada Kiran bersiap menembaknya.
"Lalu kenapa kau melampiaskan dendammu pada Kiran dan Sid, hah?! Kiran adalah keponakanmu sendiri!" Paman Aryan merangkul Kiran, lalu membisikan sesuatu padanya. Kiran mengangguk.
"Dia tidak berguna!"
"Kiran tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, jangan mencoba memasukannya dalam dendammu!"
Kesal, akhirnya paman Dendi merebut Kiran dari rangkulan paman Aryan. Sementara dari atas tangga Sid sudah bersiap-siap menyerang paman Dendi.
Namun paman Dendi sudah mengetahuinya, sehingga ia menembak Sid. Sid dengan sigap menghindar.
"Sudah aku duga! Aku akan menghabisimu dan mereka semua! Pertama, aku harus menemukan keluarga bodoh kakekmu itu!" Paman Dendi berbalik, lalu melangkah keluar.
Sid dan paman Aryan segera mengejarnya. Namun bukan paman Dendi jika tidak licik, karena ternyata rumah kakek Lucas sudah dikepung oleh anak buahnya yang tersisa.
__ADS_1
Bersambung...
Vote sama Likenya yaa ditunggu!