
"Bagaimana kondisi istriku, dok?" Tanya Sid pada dokter Ema yang sedang memeriksa Kiran.
Sid dan dokter Ema keluar dari ruang perawatan Kiran menuju ruangan dokter Ema.
"Sudah stabil, tapi tetap saja saat dia pulang harus banyak istirahat. Jangan sampai mengerjakan hal yang berat, apalagi terjatuh. Dan aku menghimbau, agar Kiran tidak naik turun tangga."
Sid mengangguk patuh, kali ini dia akan menjadi lebih waspada lagi pada Kiran.
"Sid, satu lagi." Sid menoleh, menatap dokter Ema penasaran. Yang ditatap tersenyum geli.
"Apa?" Tanya Sid penasaran.
"Jangan berhubungan suami istri dulu, sampai trimester pertama terlewati." Sid hanya bisa menganga.
Apa?! Gila! Tapi, kita lihat saja nanti. Semoga pesawatku tidak protes!
Sid tersenyum miris sambil mengangguk saja, karena tidak mungkin dia akan memaksa.
Sid kembali ke ruangan Kiran, jantungnya berdebar-debar ketika melihat Kiran sedang menatapnya dengan wajah murung.
"Kau kemana saja? Lama sekali!" Ketus Kiran.
"Aku menanyakan kondisimu dulu pada dokter Ema. Jangan murung, kau jelek sekali!" Ledek Sid yang membuat Kiran jadi cemberut.
"Kapan aku boleh pulang?" Sid menggeleng, dia lupa menanyakannya pada dokter Ema.
"Tidak tahu, mungkin besok sore. Nanti aku akan tanyakan lagi pada dokter Ema." Sid duduk di ujung ranjang, ia menggenggam telapak kaki Kiran yang tertutup selimut.
"Geli!" Seru Kiran saat Sid menyentuh telapak kakinya.
"Kakimu dingin sekali, apa kau tidak merasakannya?" Kiran menggeleng cepat. Sid langsung menggosok-gosok kaki Kiran agar sedikit hangat. "Kau tidak lapar?"
Kiran menggeleng lagi. "Jika kau lapar, pergilah makan! Aku tidak apa-apa disini." Seolah mengerti, bahwa Sid sudah kelaparan karena Kiran memerhatikan pola makan Sid yang tidak teratur sejak dirinya hamil.
"Tidak, aku akan menunggu Lakshmi dulu. Baru aku akan makan." Ucap Sid sambil terus menggosok telapak kaki Kiran.
"Sid, aku ingin pulang ke rumah ibu." Pinta Kiran tiba-tiba.
Sid langsung menatap Kiran dengan tatapan bingung.
"Kenapa? Apa kau tidak betah tinggal di mansion?" Tanya Sid dengan sedikit kekhawatiran.
"Tidak, bukan begitu." Kiran menggeleng cepat.
"Lalu?" Sid menghentikan kegiatannya, dan memasang telinga baik-baik agar bisa mendengar alasan Kiran ingin pulang ke rumah ibunya.
"Aku rindu ibu, aku ingin tidur dengan ibu. Aku rindu kamarku, rindu suasana rumahku!" Jawab Kiran cepat sambil membayangkan kamar kesayangannya dulu di rumah ibunya.
"Jika kau pulang ke rumah ibu, aku tidur dengan siapa di kamarku? Siapa yang akan aku peluk nanti?" Sid sedikit cemberut.
"Bukan sendirian, tapi denganmu. Aku ingin tidur di kamarku itu denganmu!" Rengek Kiran dengan gaya manjanya. Tentu saja, membuat Sid gemas padanya. "Boleh, kan?"
Sid mengangguk. "Ya, nanti kita akan pulang ke rumah ibumu."
Huft, kadang dia marah. Kadang dia manja. Sepertinya, aku harus lebih banyak bersabar lagi.
Sid mendengus sebal, tapi tentu saja dia tak bisa membuat Kiran bersedih.
__ADS_1
...----------------...
Sore hari yang cerah, Kiran sudah diperbolehkan pulang. Namun, sebelum pulang sedikit perdebatan terjadi diantara calon ayah dan ibu itu.
"Sid, aku tidak lumpuh! Untuk apa aku menaiki kursi roda?" Kiran menunjuk kursi roda yang dibeli Sid.
"Aku membelinya sengaja untukmu, aku tidak ingin kau terlalu banyak berjalan kesana-kemari!" Sid menggendong Kiran dan meletakkannya di kursi roda yang ia beli untuk Kiran.
"Tapi, aku tidak selemah itu!"
"Jangan banyak protes, ikuti saja apa yang aku perintahkan! Semua demi dirimu dan calon bayi kita!" Tegas Sid.
Karena malas berdebat, akhirnya Kiran menuruti apa yang diperintahkan Sid.
Sid mendorong Kiran menuju parkiran, tentu hal tersebut tak luput dari perhatian orang-orang yang berada di rumah sakit.
"Ini memalukan!" Gerutu Kiran dengan suara pelan. Tentunya Sid bisa mendengarnya, karena telinganya memiliki pendengaran yang cukup tajam.
"Sudah, diamlah!"
Kiran cemberut, sampai parkiran baru dia turun dari kursi roda. Sid meletakan kursi rodanya di bagasi mobil.
Sepanjang perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam. Bukan karena tidak ada bahan pembicaraan, tapi karena sang ibu hamil tertidur pulas dengan kepala menyandar ke kepala kursi.
Sesekali Sid mencuri pandang ke wajah Kiran.
Masih cantik, walaupun sedang tertidur. Tapi, kenapa dulu penampilannya konyol sekali, ya?
Sid membayangkan pada saat pertama kali Kiran masuk kerja di kantornya, rambut yang selalu di kuncir kuda, kacamata tebal, rok panjang dan kemeja panjang.
"Kenapa tertawa?" Tanya Kiran yang ternyata sudah bangun dari tidur nyenyaknya.
"Tidak, aku hanya membayangkan dulu saat melihat seorang wanita yang sangat lucu sekali." Jawab Sid disertai senyuman jahil.
"Siapa?" Tanya Kiran dengan mata yang sudah memelotot.
"Ada. Dia sangat lucu, dia wanita yang pertama kali bisa membantahku dan berani berteriak-teriak padaku. Tapi, dia cengeng sekali. Setiap aku memarahinya atau mengatainya pasti dia menangis di toilet ruangannya." Sid tertawa terbahak-bahak, sementara Kiran tertunduk malu.
His! Bos galak ini ternyata masih ingat saja, ya!
"Kenapa diam?" Kali ini Sid yang bertanya.
"Hmm... Tidak ada." Jawab Kiran datar.
"Hmm... Begitu, ya?" Kiran mengangguk.
Malu sekali aku, dulu aku begitu cengeng dihadapannya. Tapi, rasakan saja! Saat ini aku akan membalasmu! Bos galak sudah takluk, kini waktunya Kirana yang beraksi! Hahaha.
"Sid, nanti di rumah ibu kita naik mobilku! Sudah lama aku tidak menaikinya." Seru Kiran dengan sangat antusias.
"Kotak sabunmu itu maksudmu?" Sid tersenyum geli. "Memangnya masih ada? Bukannya dulu aku menyuruhmu memasukannya ke museum? Kenapa masih belum?"
"Sid!" Kiran menjewer telinga Sid, yang membuat Sid langsung mengaduh kesakitan. "Jangan menghina mobilku lagi, dia adalah mobil kesayanganku!"
"Oh, jadi kau lebih sayang mobilmu? Lalu aku?"
"Kau kakek lampir, kera albino!" Jawab Kiran dengan julukan yang dulu ia berikan pada Sid.
__ADS_1
"Masih ingat saja."
"Tentu, kau bos tergalak yang pernah aku temui!"
"Berapa bos yang pernah jadi atasanmu?"
"Dua, dan salah satunya dirimu! Jika kau tiada nanti, kau butuh dua peti mati atau dua lubang kubur!"
"Kenapa memangnya?" Tanya Sid sedikit heran.
"Satu untukmu, satu lagi untuk lidahmu itu!" Kiran menunjuk dada Sid.
"Kenapa hanya dua? Bukannya tiga ya?" Sid tersenyum jahil.
"Tiga? Untuk apa?"
"Untuk pesawat tempurku ini!" Sid menunjuk bagian utamanya.
Senyumnya sudah menjadi seringaian yang membuat Kiran bergidik ngeri.
Huhu! Aku lupa, suamiku ini memiliki kadar mesum yang sangat tinggi!
"Mesum! Kau memang rajanya mesum!" Cibir Kiran.
"Tentu, jika tidak begitu maka di perutmu itu tidak akan ada kecebongku!" Sid menunjuk perut Kiran.
"Berani sekali, kau! Anakmu sendiri kau sebut kecebong! Dia sudah akan mulai berbentuk, bukan kecebong lagi!" Balas Kiran sambil mengelus perutnya.
Rasanya, tak terima jika calon bayinya dikatai kecebong oleh ayahnya sendiri.
"Kiran, setelah bayi ini lahir kita harus membuatnya lagi!"
Kiran membelalak, bisa-bisanya suaminya itu berkata sedemikian rupa.
Ini saja masih belum tentu lahir, bagaimana bisa si raja mesum ini berkata begitu?
"Sid, sebaiknya kau diam! Dengar ya baik-baik!" Sid mengangguk, lalu sedikit menyengir kuda.
"Kau hanya pandai membuatnya saja! Tapi tidak bisa merasakan penderitaanku! Aku harus mengalami mual, muntah, dan pusing!"
"Lalu?" Sid memasukan dirinya dalam mode menyimak dan mendengarkan.
"Lalu apa? Dasar raja mesum!" Sid langsung tertawa terbahak-bahak.
"Tertawalah, rasakan saja! Nanti selama empat puluh hari atau lebih kau tidak akan bisa mendaratkan pesawat tempurmu itu!" Wajah Sid memucat seketika, karena ia baru ingat bahwa memang selama empat puluh hari atau lebih Kiran akan mengalami pendarahan setelah melahirkan.
Itu artinya, ia harus menyendiri di kamar mandi untuk menenangkan pesawat tempurnya. Ia bergidik ngeri membayangkan itu.
Miris sekali, kau harus sabar ya pesawatku!
Bersambung...
Selalu like, coment dan vote ya!
Kasih hadiah juga boleh, bunga sama kopi atau yang lainnya. Kasian kan miminnya jualan kopi sama bunga gk laku-laku 😁😁
Bercanda min!
__ADS_1