Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-5 (Season2)


__ADS_3

Tengah malam, Sid baru pulang dari pekerjaan kantornya. Tentunya dengan penampilan yang sangat mengerikan, wajahnya terlihat sangat lelah.


Kiran yang sedari tadi menunggu kepulangan Sid langsung berlari menghampiri pintu ketika Sid sudah akan membuka pintu.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Kiran sambil mengambil tas Sid. Namun pertanyaan tersebut tidak digubris oleh Sid. Jangankan dijawan, bahkan Sid tidak melirik Kiran sedikitpun.


"Sudah lama, tapi kau masih marah juga Padaku tanpa alasan yang jelas!" Ucap Kiran dengan nada sedih.


"Ya, sudah lama tapi kau masih belum juga menyadari apa kesalahanmu!" Kali ini Sid menjawab Kiran. Meski dengan nada dingin nan datar, tapi Kiran cukup senang karena Sid sudah mau berbicara dengan dirinya.


Sid berjalan menuju kamarnya, diikuti Kiran yang tersenyum kecut.


"Setidaknya, bicaralah denganku agar semua masalah kita selesai!" Usul Kiran yang langsung mendapat senyum sinis dari Sid.


"Bicara?" Kiran mengangguk. "Waktu itu aku ingin bicara baik-baik padamu, tapi kau tidak sadar sudah membuat masalah ini semakin rumit dengan kehadiran mantan kekasihmu itu!" Ujar Sid masih disertai senyuman sinis.


Deg...


Hati Kiran merasa sedikit teriris, ia merasa Sid terlalu berlebihan mengenai Rian.


"Kau berlebihan, kami hanya..."


"Setidaknya kau berpikirlah dengan jernih sedikit saja!" Potong Sid cepat. "Seharusnya jika aku tidak ada kau meneleponku, bukannya menerima tawaran dari mantan kekasihmu! Apa kau ingin kembali padanya? Hah? Menyesal bersamaku yang tidak baik ini?!" Hardik Sid sambil menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.


"Aku merasa kau semakin hari semakin tidak menghargaiku, pertama kau membentak Kal karena aku yang terlambat pulang. Kedua kau pulang diantar oleh Rian. Siapa yang berlebihan? Aku atau dirimu?!" Sambung Sid lagi. Kali ini Sid tidak tinggal diam, ia bergegas keluar dari kamar dan memasuki kamar kosong yang biasa dipakai untuk tamu.


Entah aku menyakitimu atau tidak, tapi kau yang lebih dulu memulai masalah diantara kita!


Sid mengunci pintu kamar rapat-rapat, malam ini dia sangat lelah karena pekerjaan kantor yang sangat banyak. Saat pulang kerumah bukannya hilang rasa lelahnya melainkan malah semakin bertambah dengan pertengkaran didalam hubungannya.


...****************...


Kiran terdiam mendengar penjelasan Sid, sakit memang kejujuran yang dikatakan suaminya itu. Akan tetapi, jelas sudah bahwa perkara masalah antara dirinya dan Sid dimulai olehnya sendiri.


Ya Tuhan, aku salah. Pantas saja, semua ini pantas aku dapatkan!


Air mata mulai turun membanjiri wajah Kiran. Kini ia sadar akan masalah rumah tangganya ternyata sepenuhnya kesalahan dirinya.

__ADS_1


"Pantas saja dia marah dan kecewa, ternyata kesalahanku memang tak seberapa tapi pasti ini sangat menyakitinya!" Gumam Kiran sambil terisak.


Kemudian Kiran bergegas untuk menyusul Sid ke kamar tamu. Namun sesampainya di depan kamar tamu yang ditenpati Sid ia tak bisa masuk karena pintunya sudah dikunci oleh Sid dari dalam.


Kiran mencoba mengetuknya hingga berkali-kali, namun tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda Sid akan membuka pintunya. Hingga Kiran menempelkan telinganya pada pintupun dari dalam tidak terdengar apapun, hening.


"Apa dia sudah tidur?" Gumamnya sambil mencoba mengecek kembali apakah ada suara dari dalam kamar tersebut atau tidak.


Setelah beberapa kali, akhirnya Kiran menyerah dan bergegas menuju arah lain. Kamar anak sulungnya.


Terlihat pintunya masih terbuka dan pada saat Kiran membukanya lebih lebar terlihat Kal sedang duduk dan belajar.


Kiran mengetuk pintu sebanyak tiga kali sebelum masuk ke kamar putra sulungnya tersebut.


"Boleh ibu masuk?" Kal mengangguk, lalu Kiran memasuki kamar.


"Ibu belum tidur?" Tanya Kal yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Kiran.


"Sudah, teruskan belajarnya besok pagi. Sekarang sebelum istirahat ibu ingin mengatakan sesuatu padamu!" Kal menatap wajah Kiran, lalu mengangguk pada Kiran.


"Ibu minta maaf jika waktu itu memarahimu tanpa alasan, tapi percayalah semua terjadi tanpa ibu sadari." Ucap Kiran dengan raut wajah penuh penyesalan.


Dengan penuh haru Kiran memeluk Kal. Satu masalah selesai, kini tinggal satu masalah lagi dengan laki-laki yang bergelar suaminya.


Akan tetapi Kiran tidak sadar, bahwa yang sedang ia pikirkan kini sedang berada di ambang pintu. Sid berdiri dengan bibir yang menyunggingkan senyum. Rasa marahnya dan kecewanya telah hilang saat melihat istrinya sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada putranya.


Saat Kiran hendak berbalik, ia langsung berlari kecil menuju kamarnya. Kini tujuannya kembali pada kamarnya sendiri bukan kamar tamu. Sid langsung menidurkan dirinya diatas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi lehernya.


Matanya pura-pura ia pejamkan.


Kiran memasuki kamarnya dengan mata membelalak, saat melihat Sid sudah berada diatas ranjangnya dan tertidur dengan nyenyak.


"Bukankah tadi dia masih..." Ucapannya terhenti, Kiran kebingungan dengan tindakan suaminya itu.


Sikapnya seperti anak kecil, marah tapi saat tidur seolah dia tidak bisa marah.


Kiran duduk disamping ranjang lalu merebahkan dirinya disamping Sid. Sebelum tidur ia masih sempat memandangi wajah Sid terlebih dahulu.

__ADS_1


Wajah Sid terlihat tenang. Tidak seperti malam-malam kemarin yang terlihat kesal. Aneh memang, tapi saat tidurpun Sid masih bisa memperlihatkan ekspresi perasaan dalam hatinya.


"Maaf, puas kan? Jangan marah lagi, apalagi sampai pergi menjauh dariku!" Gumam Kiran dengan tangan mengelus rambut Sid.


Matanya sudah terpejam, namun berbanding terbalik dengan Sid yang membuka matanya lebar. Tangannya sudah menjulur dan melingkarkannya diperut Kiran.


Bahkan dalam hitungan detik, tubuh Kiran sudah berada didalam dekapannya.


Kau ini sejak dulu masih saja bodoh! Mana bisa aku menjauh lama-lama darimu, bahkan aroma dan tubuhmu saja sudah seperti menjadi candu bagiku. Bahkan candunya tidak berbahaya bagiku.


Sid memandangi wajah Kiran dengan waktu yang lama hingga akhirnya ia ikut menyusul Kiran memasuki alam lain yang disebut mimpi.


...****************...


Sinar mentari pagi mungkin cukup membuat silau jika kita melihatnya dengan mata terbuka. Tapi jika dengan mata tertutup... Eh, bukankah jika mata tertutup tidak bisa melihat apapun?


Baik, lanjut!


Disamping tubuhnya, Kiran merasa ada sesuatu sebuah suhu yang sangat panas menyengat. Namun Kiran sadar bahwa itu bukan panas matahari.


Hal itu membuatnya terpaksa membuka matanya sebelum waktunya


Saat membuka mata Kiran berubah menjadi was-was dan khawatir, pikirannya sudah tertuju pada suaminya yang sudah berwajah sangat pucat.


Tangannyapun tergerak dan langsung diletakannya diatas kening Sid. Beberapa saat, akhirnya terasa bahwa suhu tubuh Sid lebih panas dari biasanya.


"Sid, bangun! Apa kau sakit?" Sambil mengguncang-guncangkan tubuh Sid. Namun yang dibangungkan enggan bangun. Hanya terdengar dehaman dari mulutnya.


"Tubuhmu panas sekali, apa kau sakit? Atau...?"


"Sedikit," jawab Sid sambil menarik selimut kembali dan menutupi tubuhnya hingga hanya tersisa kepalanya saja.


Kiran dengan cepat turun kedapur untuk mengambil air hangat. Tak lupa juga menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Sid.


Pada saat sampai di area ruang tamu, matanya kembali membelalak saat melihat seseorang sedang duduk bersama ayah Deva yang terlihat sangat kesal.


"Kau sedang apa disini...?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2