Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ayah Deva Sadar


__ADS_3

Sudah dua malam, ayah Deva terbaring lemah di rumah sakit. Masa kritis sudah terlewati. Hanya tinggal menunggu keadaannya pulih sepenuhnya.


Sid yang sangat menyayangi ayahnya, tidak pernah beranjak meninggalkan ayahnya walaupun hanya sebentar.


"Ayah, bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Aku sudah membaik, seperti yang kau lihat saat ini." Deva tersenyum. Ia sangat mengerti putranya, yang saat ini sangat bersedih atas tragedi yang dialaminya. "Tadinya, aku pikir aku akan menyusul ibumu." Sid membelalak, saat Deva mengatakan hal itu.


"Tidak, ayah! Kau tidak boleh berpikiran seperti itu. Jika tidak ada dirimu, lalu siapa yang akan mengawasiku?" Sid meraih tangan ayahnya, dan menggenggamnya kuat


Bagi Sid, setelah kematian ibunya, hanya ayahnya yang selalu ada disisinya.


"Sudah ada Kiran, bukan?" Sambil menunjuk Kiran yang baru datang membawa pakaian ganti untuk ayah Deva.


"Lalu aku? Apa ayah tega padaku? Sejak baru lahir, aku tidak bisa merasakan kasih sayang ibu. Apa sekarang aku juga harus kehilangan kasih sayang ayahku?" Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Lakshmi, yang baru saja datang bersama Kiran, kakak iparnya.


"Kemarilah, putriku sayang." Deva merentangkan tanganya, meminta Lakshmi memeluknya. Dengan cepat, Lakshmi memeluk ayahnya.


"Jika ayah tiada kemarin, masih ada kakakmu bukan? Dia akan menjagamu, seperti ayah menjagamu. Ada Kiran kakak iparmu, kan? Dia seperti ibu kalian, yang menyayangi kita semua sepenuh hati." Deva mengelus kepala putrinya.


"Ayah, bersumpahlah bahwa ayah tidak akan berkata tentang kematian lagi. Ayah akan bersamaku, walaupun aku sudah menikah nanti, aku akan tinggal bersama ayah. Aku tidak akan meninggalkan ayah sendirian." Lakshmi terisak, Sid dan Kiran ikut menangis.


"Baiklah." Deva mengangguk, lalu meraih wajah putri semata wayangnya itu dan menghapus air matanya.


"Ayah, aku ingin bertanya sesuatu pada ayah." Sid duduk, di kursi yang berada disamping bed rumah sakit.


"Tentang Kanaya dan keluarganya itu, kan? Tentang siapa sebenarnya mereka?" Sid mengangguk. "Ayah akan meceritakannya, sekarang. Sudah saatnya, karena mereka sudah tiada."


"Kau masih ingat, nama Yessi Atmadjaya?" Sid menggeleng.


"Aku ingat namanya, tapi lupa orangnya."


"Dulu, saat ibumu mengandung Lakshmi, dia menculik ibumu dan menyekapnya berhari-hari." Menghela napas pelan, berusaha menahan air mata yang sudah akan meluncur dari matanya. "Kami berhasil menemukannya dan membawanya ke kota Bandung. Tapi, Yessi dan anak buahnya mengetahui tempat persembunyian kami di Bandung. Kami dikepung, ayah menyuruh Reihan membawa ibumu ke London. Mereka berhasil berangkat ke London, bersama nenek dan kakekmu. Ayah dan Ridan menghadapi Yessi dan anak buahnya. Tapi, ayah tertembak oleh Yessi. Ayah dibawa ke rumah sakit, dan esoknya sudah sadar kembali." Air mata Deva mulai turun, hati Sid berdebar.


"Tapi, pada saat ayah akan menyusul ibumu ke London. Malah hal mengejutkan yang menyambut ayah disana." Berhenti lagi.


"Apa yang terjadi, ayah?" Sid semakin penasaran. Lakshmi dan Kiran diam mendengarkan.


"Yessi sudah menyekap kembali ibumu dan keluarganya, serta Dendi pamannya Kiran. Dari sana, ayah terus berusaha melepaskan ibumu dan menangkap Yessi." Air mata kembali meluncur dari mata Deva. Sudah tak terhitung, tapi Deva begitu bersedih, mengingat cerita tragis kematian sang istri tercinta. Aisha.


"Pada saat ayah kesana, ibumu benar-benar disandera oleh Yessi. Ayah menembak Yessi, tapi kau tahu apa yang terjadi? Dia menembak ibumu, dan sialnya, di sisa napas terakhirnya dia juga menembakmu. Kau tahu persis, dengan melihat luka yang ada di dadamu!" Sambil menunjuk dadanya, meraba bekas luka tembakan itu.

__ADS_1


Kepalanya mulai berdenyut, tiba-tiba sebuah bayangan mulai muncul satu-persatu. Kepalanya semakin sakit, bayangan dikepalanya mulai jelas. Kejadian demi kejadian bermunculan kembali. Mulai dari bagaimana ibunya dihabisi, dan tertembaknya Sid sendiri. Sid mulai kehilangan kesadarannya.


"Sid!" Kiran meraih Sid yang sudah mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Ayah Deva dan Lakshmi ikut panik.


"Lakshmi! Panggilkan dokter!" Lakshmi segera keluar, lalu tak lama kembali dengan dokter Ema.


"Ada apa?" Tanya dokter Ema.


"Tolong Sid, aku tidak tahu dia kenapa!" Dokter Ema dan Kiran membawa Sid dan membaringkannya di sofa. Dokter Ema segera memeriksanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya ayah Deva pada saat dokter Ema selesai memeriksa keadaan Sid.


Kiran dengan setianya, mengelus-ngelus kepala Sid. Seperti mencoba mengurangi rasa sakit suaminya itu.


"Sepertinya, memori ingatannya yang pernah hilang mulai kembali."


Deva tersenyum, begitu juga Lakshmi dan Kiran.


"Tapi, dia harus mendapat perawatan juga. Untuk berjaga-jaga agar pada saat dia menderita sakit kepala yang lebih hebat dari ini, dia akan cepat pulih."


"Lakukan yang terbaik, Ema." Deva mengangguk.


Beberapa perawat laki-laki membantu memindahkan Sid yang sudah tidak sadarkan diri ke ruangannya.


Satu minggu, Sid dan Deva sudah pulih. Mereka sudah pulang dari sore hari, rumah yang kemarin sepi seperti kuburan itu, malam ini sudah kembali ramai dipenuhi kehangatan.


Bukan karena banyaknya anggota keluarga itu, tapi karena perdebatan seorang kakak dengan adiknya yang tiada henti. Lebih bagus, jika yang menjadi bahan perdebatan adalah hal yang penting. Tapi, bagi Siddharth dan Lakshmi hal yang sangat kecilpun juga akan menjadi bahan perdebatan mereka.


Namun, hal seperti itu tak membuat Deva dan menantunya kesal. Justru menambah kehangatan keluarga tersebut.


"Lakshmi, kau memang adik yang tak berakhlak! Malam pertama kakakmu sendiri kau buat jadi kacau!" Sid terus menggonjak adiknya.


"Sudah ku bilang, kak! Itu idenya Mira!"


"Ide Mira, ataupun dirimu sendiri, jujur saja! Itu membuatku sial berlipat-lipat!" Kesal Sid.


"Hah, ternyata kakak juga punya otak mesum ya?" Lakshmi balas mencibir Sid.


"Tentu saja, tujuh puluh persen otak laki-laki isinya mesum!" Timpal Deva. Sid langsung menunduk, pipinya bersemu merah.


"Lakshmi, kakakmu itu memang rajanya!" Celetuk Kiran tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Kiran! Kau ini, ya?!" Sid tambah malu, dia sudah menjadi salah tingkah. "Jangan terlalu jujur, sayang. Itu memalukan!" Sid berbisik di telinga Kiran.


Kiran terkikik, suaminya ini punya rasa malu juga ternyata jika di hadapan ayahnya.


"Lihat! Lihat! Mereka menjadi tidak punya urat malu sepertinya, di hadapan orang lain saja berani berbisik-bisik begitu! Apa yang kau rencanakan, kak? Apa mencoba memakai posisi baru untuk membuat Kak Sid dan kak Kiran junior?" Deva sudah tak kuat, melihat kelucuan tingkah putra dan menantunya itu yang masih menjadi pengantin baru.


"Masuk ke kamar, sana! Coba posisi baru itu!" Perintah Lakshmi dengan sedikit ejekan.


"Lakshmi! Adik tak punya akhlak!" Sid mencubit tangan Lakshmi.


"Siddharth raja mesum!" Balas Lakshmi.


"Biarkan saja, yang penting dengan istriku sendiri!"


"Kak Kiran, cepatlah hamil! Biar raja mesum itu tidak bisa memuaskan dirinya!" Sindir Lakshmi.


Deva tak berkata apa-apa lagi, karena kelakuan menantu dan putranya itu persis seperti dirinya sendiri dengan Aisha.


Astaga, bukan hanya wajah. Tapi anak pertamaku memang seperti diriku.


"Ayah, sebaiknya ayah istirahat sekarang. Tidak baik ayah tidur larut malam, ayah baru saja pulih kan?"


"Iya, ayah tidak baik. Ayah lebih baik istirahat, atau kak Sid tidak akan bisa mendaratkan pesawatnya itu di bandara."


Taaak...


Sebuah jitakan mendarat dari jari Sid ke kening Lakshmi, yang membuat Lakshmi meringis kesakitan.


"Sudah, sudah! Ayah akan istirahat. Sid, jangan lupa!" Ucap ayah Deva sambil berlalu.


"Jangan lupa apa?" Tanya Sid tak mengerti.


"Pantang menyerah, sebelum kecebongmu tumbuh di rahim Kiran!"


"Hah?! Eh... Em.... iya." Sid dan Kiran salah tingkah.


**Bersambung ...


Jangan lupa buat yang baca, tinggalkan jejak ya di komentar.


Like, sama votenya jangan lupa ya**!!!!

__ADS_1


Follow ig author yaa...



__ADS_2