
Seperti kehamilan sebelumnya, Kiran begitu menikmati masa-masa kehamilan ketiganya tersebut.
Akan tetapi ia merasa sedikit bingung ketika jika di kehamilan sebelumnya ia pasti akan mual dan muntah di pagi hari, berbeda dengan kali ini ia lebih suka makan. Bahkan pola makannya bisa dikatakan menjadi lebih sering.
Hari ini Kiran sudah makan sebanyak empat kali, akan tetapi ia masih ingin makan untuk kelima kalinya.
"Sayang, kau ini kenapa? Kau sudah makan empat kali!" Tegur Sid yang melihat Kiran sudah akan mengambil nasi lagi.
"Aku lapar, sekarang aku jadi lebih sering kelaparan!" Ucap Kiran sambil terus mengambil nasi.
Bukan hanya satu piring, Kiran sudah mengambil dua piring yang ia isi dengan nasi. Sid mulai merasa bingung, ia juga tidak mungkin melarang Kiran makan.
Tapi Sid juga merasa tidak tenang. Karena Kiran tidak pernah makan sebanyak itu dari dulu.
"Cukup, hentikan! Setelah ini jangan makan apapun lagi atau kau bisa sakit perut dan muntah!" Tegur Sid sambil menjauhkan nasi serta lauk-pauk yang terhidang di meja makan.
Kiran mengangguk, tapi mulutnya masih terus mengunyah.
Ibu Aisha dan Ayah Deva sejak tadi juga memperhatikan bagaimana menantunya makan. Ibu Rheapun yang sudah beberapa hari menginap di rumah keluarga ayah Deva ikut kebingungan.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Kiran? Dia itu mengidam karena hamil atau memang rakus?" Tanya ayah Deva sambil meneguk ludahnya, memperhatikan juga bagaimana cara Kiran makan.
"Ssstt!" Tegur Ibu Aisha sambil menyikut lengan ayah Deva dan memelototinya. "Mungkin itu bawaan bayi yang dikandungnya," Sambungnya lalu kembali memperhatikan menantunya yang masih makan.
Setelah selesai makan, Kiran kini berlanjut mengambil beberapa cemilan dan menghabiskannya.
"Sudah?" Tanya Sid setelah melihat istrinya sudah tampak kenyang. Kiran mengangguk, lalu kini berdiri dan melangkah memasuki kamarnya.
Sid menatap punggung Kiran hingga menghilang, lalu kini menatap kedua orang tuanya yang berdiri di dekat pintu dapur.
"Ada apa?" Tanya Sid pada Ibu Aisha dan Ayah Deva. Keduanya menggeleng.
Setelah itu Sid juga bergegas menuju kamar untuk menyusul Kiran.
Beberapa hari berlalu sikap Kiran masih sama, bahkan keanehan pada dirinya semakin bertambah. Pola makan Kiran setiap harinya menjadi hampir enam kali dalam sehari, namun yang membuat Sid dan keluarganya heran adalah karena tubuh Kiran tidak menjadi gemuk meskipun sering makan dengan porsi yang banyak.
"KIni tidak bisa dibiarkan! Dia terus makan tapi tubuhnya malah semakin kurus, bahkan kemarin saat aku membawanya ke dokter keadaan bayinya malah lemah!" Ujar Sid pada keluarganya. Saat ini mereka sedang berkumpul kecuali Kiran, karena Kiran lebih sering tertidur.
"Kau benar, ayah takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padanya!" Sahut ayah Deva dengan wajah cemas.
__ADS_1
Merekapun berunding untuk melakukan tindakan selanjutnya pada Kiran. Namun, di tengah rundingan tersebut tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah kamar Sid.
"Aaaaaaaaa, tidaaaakk!"
Sontak semua orang yang tengah berkumpul tersebut segera berlarian menuju arah suara.
Sampai di tempat sumber suara jeritan itu berasal Sid sangat terkejut, ia mendapati Kiran sedang berdiri dengan tangan yang berpegangan pada kepala ranjang dan kaki yang sudah berlumuran darah.
"Kiran!" Pekiknya sambil menghampiri Kiran dan menggendongnya.
"Sid, cepat bawa dia ke rumah sakit!" Ucap ibu Aisha dengan wajah yang sudah sangat khawatir.
Kiran dibawa ke rumah sakit, selama perjalanan Kiran tak henti-hentinya berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
Sid yang mengemudikan mobilnya sudah merasa sangat takut dan khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Kiran. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh lama untuk sampai di rumah sakit.
Sesampainya disana Kiran segera ditangani oleh dokter, sementara Sid menunggu di depan ruangan UGD.
Ayah Deva dan Ibu Aisha yang baru sampai langsung menghampiri Sid dan menanyakan keadaan Kiran.
"Bagaimana? Apa yang terjadi?"
"Kiran masih ditangani dokter di dalam," Jawab Sid dengan nada sendu dan tatapan khawatir.
Dokter akhirnya keluar dari ruangan UGD, Sid segera menghampiri dokter tersebut.
"Anda keluarga dari pasien?" Sid mengangguk.
"Aku suaminya,"
"Kondisi pasien kritis, apa anda tahu bahwa pasien sedang hamil?" Sid mengangguk lagi, kali ini ayah Deva yang mendekat.
"Apa yang terjadi dokter?" Tanya ayah Deva.
"Pasien mengalami keguguran, kehamilan pasien tampaknya sangat lemah. Sepertinya makanan yang dimakan pasien tidak tersalurkan pada bayinya dan tidak menjadi nutrisi pada bayinya. Kehamilan pasien juga mengalami komplikasi!" Jelas dokter tersebut yang membuat Sid seketika menjadi sedih.
"Sekarang keadaannya kritis, sebaiknya setelah ini pasien jangan mengalami kehamilan lagi. Kami khawatir bisa saja pasien tidak bisa diselamatkan karena kondisinya terlihat sering tidak stabil."
Setelah selesai berbincang dengan Sid, dokter tersebut kembali masuk untuk melihat kondisi Kiran kembali.
__ADS_1
Sid terduduk lemas, ia menyesal dengan keputusannya untuk memiliki bayi lagi.
"Ini semua kesalahanku, jika saja aku tidak menginginkan anak lagi pasti kondisinya tidak akan seperti ini!" Ucap Sid dengan nada sedih.
"Tidak, sudah jangan bersedih," Ibu Aisja duduk disamping Sid dan memegang pundaknya.
"Lebih baik sekarang kau temui Kiran dan beri dia semangat, jangan memikirkan bayi lagi. Kalian masih punya Kal, Ira, dan Ima! Mungkin tuhan hanya mengizinkan kalian memiliki tiga orang anak,"
Sid melirik ibunya dan memeluknya.
"Ayo, sekarang kita temui Kiran!"
... ----------------------------...
Satu hari pasca keguguran, Kiran sudah siuman.
"Kau sudah bangun? Kenapa lama sekali tidurnya? Hmm, apa kau tidak merindukan aku dan anak-anak?" Ucap Sid sambil menggenggam tangan Kiran.
Kiran tersenyum, lalu membalas genggaman tangan Sid. Akan tetapi tangan lainnya meraba perutnya.
"Bayiku? Apa yang terjadi? Kenapa perutku sakit sekali?" Tanyanya cemas.
Sid terdiam, ia bingung harus menjelaskan apa.
"Sid!" Ucap Kiran sambil menarik tangannya.
"Dia sudah tenang, dia tidak mau hadir dalam hidup kita." Ucap Sid sambil membuang tatapannya ke arah lain.
Kiran langsung histeris, lalu Sid memeluknya dan menenangkannya.
"Kenapa? Kenapa dia pergi? Padahal aku sudah menjaganya dengan baik!" Teriak Kiran dalam pelukan Sid.
"Kiran, Kiran! Ssstt... Sudah cukup, tidak apa-apa. Yang penting bagiku saat ini kau sudah selamat dan baik-baik saja, itu sudah cukup!"
Beberapa saat Kiran menangis dalam pelukan Sid, ia masih bingung bagaimana bisa semua terjadi. Padahal Kiran sudah selalu siaga dan menjaga kandungannya dengan baik dan teliti.
Akan tetapi mungkin Tuhan tidak menakdirkannya lagi memiliki bayi.
Setelah satu minggu berada di rumah sakit akhirnya ia diperbolehkan pulang, sebenarnya bukan karena dokter memperbolehkan. Akan tetapi karena Kiran sudah sangat merindukan anak-anaknya di rumah, terutama merindukan Kal yang selalu menjadi penyemangatnya. Merindukan Ira dan Ima dengan tingkah jahilnya.
__ADS_1
Bersambung...
Ada yang kangen kah sama Sid dan Kiran? Author up loh hehehe nanti up lagi bulan Mei habis lebaran 😁😁😁 untuk sekarang jangan lupa baca karya baru author judulnya Jerat Cinta Duda Arrogant dan Bukan Yang Kedua... Dijamin enggak nyesal baca Rudra si duda 🤣🤣🤣