
Pagi menyapa, sang surya sudah terbit dari timur. Dalam sebuah rumah besar, seluruh penghuninya sudah berkumpul di meja makan. Meja makan yang biasanya hanya akan diisi oleh empat orang kini penuh.
Bi Asih sibuk menyajikan makanan untuk mereka, dibantu Kiran dan ibu Aisha.
"Kiran, duduk saja. Kau sedang hamil, kan?" Kiran mengangguk, lalu duduk dengan mengambil tempat di sebelah Sid.
"Ayo, makanlah. Makan yang banyak, agar bayimu sehat dan kau juga tidak kurus." Ujar kakek Lucas sambil memperhatikan tubuh Kiran yang tampah ramping.
Sid melirik Kiran, lalu memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Benar kata kakeknya, Kiran jadi kurus setelah hamil bayi kembar.
"Kakek benar, makan yang banyak atau ibu Rhea dan ayah Andra akan menghukumku serta memarahiku." Masih dengan mata tertuju pada tubuh Kiran.
"Kenapa? Kenapa kami akan memarahi dan menghukummu?" Tanya ayah Andra keheranan.
"Tubuh Kiran jadi kurus semenjak menikah denganku, pasti kalian mengira aku tidak memberinya makan." Jawab Sid dengan konyolnya, membuat semua orang sontak tertawa.
"Sid, kau ini ada-ada saja!" Celetuk ibu Aisha dengan tangan yang sibuk menyajikan makanan untuk ayah Deva.
Akhirnya sarapan berlangsung dengan suasana ramai, kadang ada yang bercanda hingga membuat salah satunya pura-pura marah. Namun tidak dengan Rafa, ia tampak lesu.
"Rafa, kenapa? Kau sakit? Aku akan mengambilkan obatmu, jika kau sakit." Seketika semua orang beralih memperhatikan Rafa.
Rafa langsung salah tingkah, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Rafa masih dengan salah tingkah.
"Kau sakit? Kenapa diam saja? Makananmu juga masih utuh." Sid bertanya dengan rasa penasaran, takut keadaan Rafa yang baru membaik akan parah lagi.
"Eh, tidak, aku hanya..." Rafa menunduk, mengingat surat yang ia berikan pada Ami waktu dirumah sakit saat dirinya sekarat.
"Hanya apa?" Kiran ikut penasaran.
"Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan! Aku baik-baik saja." Ucap Rafa setengah gelagapan.
Flashback...
Setelah memberikan surat pada Ami, Rafa merasa dirinya tidak tenang. Bukan karena nyawanya sudah berada di unung tanduk, tapi karena memikirkan surat yang diberikannya pada Ami.
Surat yang berisi tentang kenyataan bahwa ia adalah kakak sambungnya Kiran.
Ami keluar dengan surat itu, karena. merasa penasaran Ami melanggar janjinya pada Rafa yang menyuruhnya berjanji akan membuka surat itu bila Rafa telah tiada.
*Ami, aku tidak ingin kau merasa dibohongi dan terkejut. Ada sesuatu yang ingin aku beritahukan padamu, mengenai Kirana.
__ADS_1
Tolong beritahu dia bahwa ayahnya masih hidup hingga saat ini, pamannya yang bernama Dendi yang dulu ingin menghabisi ayahnya.
Dan satu hal lagi, dia juga adalah ayahku. Aku dan Kiran adalah saudara tiri*.
^^^Ami membelalakan matanya, membaca surat itu. Ternyata suaminya dan Kiran adalah saudara tiri. Tapi bagaimaba bisa? Bukankah orang tua Rafa masih hidup?^^^
Ami membalikkan kertasnya, ternyata masih ada surat disana.
Orang tua yang selama ini bersamaku adalah orang tua angkatku, mereka sebenarnya hanya ingin memanfaatkanku agar menghancurkan perusahaan ayahnya Sid. Orang tua angkatku sendiri adalah pamannya Kirana, paman Dendi dan Asri. Asri menyamar sebagai pembantu di rumah Sid.
Mata Ami membelalak, ia sadar apa maksud dari surat ini. Rafa memintanya untuk segera memberi tahu Kiran mengenai bahaya yang sedang mengancamnya.
Lalu, karena keadaan Rafa semakin parah membuatnya lupa akan pesan Rafa yang sangat penting tersebut. Hingga beberapa hari kemudian, saat Ami mendengar bahwa ada kekacauan di rumah Sid ayah Deva barulah Ami mengingatnya dan datang ke rumah Sid untuk membantunya bersama Rio dan Aira.
Flashback off
"Baiklah, jika tidak apa-apa. Tapi kak, apa kau akan ikut ibu ke rumah setelah ini?" Rafa tersenyum, ketika Kiran memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Tentu saja, aku akan membawa Ami dan Keyra tinggal di rumah ibu." Sambil tersenyum bahagia.
"Kenapa tidak tinggal disini saja? Agar Kal punya teman bermain." Kiran cemberut.
"Bilang saja agar kau punya teman untuk bergosip!" Sid ikut menimbrung.
"Sudah! Pagi-pagi kalian sudah akan berdebat?" Ayah Deva melerai Sid dan Kiran.
"Deva, kau diam saja! Kau juga sering mengajakku berdebat di pagi hari!" Ibu Aisha akhirnya ikut juga.
"Siapa yang selalu lebih dulu mengundang perdebatan? Bukankah kau? Hal sepele saja kau membuatku memulai debat!" Sid dan Kiran menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang lainnya sudah mulai membubarkan diri karena sudah selesai sarapan.
"Kau sendiri yang selalu memulai! Masalah ****** ***** saja kau marahi aku! Warna ****** ***** yang kau pakai tidak sesuai warna pakaianmu kau pasti memarahi aku!" Ibu Aisha meninggikan nada suaranya.
"Ayah, ibu!" Tegur Kiran, namun keduanya tak peduli dengan teguran Kiran.
Kakek Lucas dan nenek Alya memberi isyarat pada Kiran dan Sid untuk meninggalkan ayah Deva dan ibu Aisha.
"Kau yang tidak bisa mengaturnya!"
"Apa?!" Mata ibu Aisha membelalak. "Memangnya warna ****** ***** yang kau pakai itu harus sesuai dengan warna pakaian yang akan kau pakai, ya?"
"Tentu saja, memangnya kenapa?" Ayah Deva menunjukan wajah penuh kebanggaan.
"Tidak sekalian kau ubah warna tubuhmu juga?!"
__ADS_1
"Tidak, aku tidak sudi!" Ketus ayah Deva.
"Jika saja kau bukan suamiku, aku pasti sudah memotong pancuran penghasil bocahmu itu dengan gergaji mesin!" Ayah Deva membelalak.
"Jika kau berani aku akan membuat pinggangmu patah!"
"Aku berani, tentu saja berani jika kau bukan suamiku!" Ibu Aisha tak ingin mengalah.
Sid yang masih berada disana bersama Kiran hanya terdiam dan bingung menyaksikan perdebatan sepasang suami istri tersebut.
"Sid, ayo! Lebih baik kita istirahat saja di kamar, aku pusing melihat mereka berdebat seperti itu." Kiran memijat pelipisnya.
"Iya, ayo. Jangan sampai kau kesal pada perdebatan mereka. Aku takut anakku segila mereka." Sid merangkul Kiran, membawanya menuju halaman belakang rumah, bukannya ke kamar.
"Kenapa ke halaman?"
"Disini suasananya tenang, segar. Sudah lama kita tidak menghirup udara segar dengan ketenangan begini. Ayo, kita nikmati disini sebelum aku sibuk ke kantor lagi." Kiran mengangguk, lalu menarik tangan Sid untuk duduk di bangku panjang yang menghadap tanaman bunga mawar putih dan merah yang terlihat indah.
"Sid, bunganya sangat indah sekali."
"Iya, tapi ada bunga yang lebih indah dari bunga mawar disini." Ucap Sid sambil menatap Kiran penuh cinta.
"Bunga apa? Aku ingin melihatnya!" Kiran menegakkan duduknya.
"Masuklah ke kamar, berdirilah di depan cermin, lalu lihat ke cermin itu sambil tersenyum. Disana akan muncul bunga yang paling indah dan cantik." Dengan kepolosannya dan kebodohannya, Kiran menuruti perkataan Sid dan memasuki kamarnya.
Kiran berdiri di hadapan cermin, lalu mencari-cari bunga yang dikatakan Sid yang sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Beberapa menit, tak kunjung menemukannya lalu memikirkan kembali kata-kata Sid.
Masuklah ke kamar, berdirilah di depan cermin, lalu lihat ke cermin itu sambil tersenyum. Disana akan muncul bunga yang paling indah dan cantik.
Kiran menepuk keningnya, lalu terkekeh sendiri. Lalu ia kembali berdiri di hadapan cermin sambil tersenyum.
Aku, bunga yang paling indah dan cantik yang kau katakan itu adalah aku!
"Kau bunga yang paling indah dan cantik bagiku. Bunga Kirana, bunga yang hanya boleh dicium dan dimiliki oleh Siddharth. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu hingga aku tidak bisa mengukur seberapa besarnya cintaku padamu. Jangan pernah pergi dariku, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu." Sid memeluk Kiran dari belakang, lalu mengecup pipi Kiran singkat.
Kiran mengangguk, lalu membalikan tubuhnya dan memeluk Sid erat.
"Aku tidak tahu, sampai kapan aku bernapas dan sampai kapan aku ada di dunia ini. Tapi, aku akan selalu berusaha untuk berada disisimu selama napas ini masih berhembus. Terima kasih, untuk kebahagiaan yang tak terhingga ini. Aku sangat mencintaimu, lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Terima kasih telah mengajarkan padaku segala hal baik." Sid mengangguk dan membalas pelukan itu.
Bersambung...
__ADS_1