Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Proyek Wisata Pulau Terpencil


__ADS_3

"Bagaimana dengan pencarian Kiran?" Sid bertanya dengan wajah memelas, pada saat ayahnya mengumumkan sebuah proyek besar di pulau terpencil yang harus ditangani oleh Sid sendiri.


"Jangan pikirkan itu, tetaplah fokus pada proyek. Kiran akan jadi urusan ayah saat ini, jangan khawatir." Sid mengangguk, lalu menarik kopernya menuju mobil.


Entah kenapa, hatinya berkata untuk melakukan proyek di pulau tersebut.


"Hati-hati, jangan bertindak gegabah di pulau itu. Tapi jika kau butuh bantuan, Reihan dan Ridan aku kirim bersamamu, jadi jangan cemas jika kau kewalahan panggil saja mereka." Sid mengangguk lagi, lalu memasuki mobilnya beserta Ridan dan Reihan.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, sepanjang perjalanan Sid tidak berbicara. Hanya kedua pengawal yang dikirim ayahnya saja yang terlihat sedang mengobrol.


"Tuan muda, kenapa diam saja? Apa tuan sakit?" Tanya Reihan yang lebih akrab dengan Sid.


"Tidak, paman. Aku hanya sedikit mengantuk, karena bangun terlalu pagi." Jawab Sid berbohong.


"Tidur saja, nanti kami akan membangunkan tuan muda jika sudah sampai." Timpal Ridan.


Sid mengangguk, dan menyandarkan kepalanya. Matanya terpejam, bukan tidur. Tapi karena hatinya yang terus mengatakan untuk pergi ke pulau tersebut.


Kepalanya seperti berputar-putar, memikirkan Kirananya yang tak kunjung ditemukan. Ia berharap, walaupun ditemukan dalam keadaan sudah tiadapun ia akan menerimanya, yang terpenting baginya adalah bisa melihat Kirananya untuk terakhir kalinya.


Dimana kau, Kiran? Aku sangat merindukanmu.


Air matanya kembali lolos tanpa seizinnya, menangisi wanita yang selama hampir delapan bulan ini menjadi pemilik hatinya, menjadi sumber kebahagiaannya.


...----------------...


Kiran, ibu Rhea, beserta kakek Narja dan nenek Anjum sedang berkumpul sambil membereskan pakaian bayi yang diberikan Ami pada Kiran.


"Kira-kira apa ya jenis kelamin bayiku?" Gumam Kiran yang berhadil menarik perhatian ketiga orang dihadapannya.


"Memangnya kenapa, Kiran?" Tanya ibu Rhea sambil mengerutkan dahinya.


"Tidak ada, hanya ingin tahu saja." Jawab Kiran sekenanya. Ia menjadi teringat saat dulu mengobrol dengan Sid, di momen pertama kali tahu bahwa Kiran sedang hamil.


Flashback on


"Sayang, kemarilah." Panggil Kiran pada Sid yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Tanpa menjawab, Sid langsung menyimpan ponselnya dan menghampiri Kiran yang sedang duduk di balkon.


"Ada apa?" Sid duduk disebelah Kiran. Kiran meraih tangan Sid, dan meletakannya di perutnya yang mulai membesar.


"Apa kau merasakannya?" Sid mengangguk, seulas senyum tersungging dibibirnya.

__ADS_1


Sid kemudian mendekatkan telinganya ke perut Kiran, mencoba merasakan tendangan sang bayi di dalam perut Kiran.


"Sepertinya dia anak laki-laki." Gumam Sid sambil tersenyum.


"Apa? Bagaimana bisa kau tahu?" Kiran mencubit pipi Sid pelan.


"Buktinya dia menendang perutmu." Jawab Sid sambik terkekeh.


"Hei, semua bayi yang masih didalam perut memang akan menendang perut ibunya! Dan saat dia lahir nanti, dia akan menendangmu!" Kiran tertawa, sementara Sid cemberut.


"Kau ini, menyebalkan!" Ketus Sid pura-pura marah.


"Baiklah, kau ingin anak laki-laki kan? Itu, kan maksudmu?" Sid mengangguk cepat. "Berdoalah, semoga Tuhan mengabulkan doamu." Sid mengangguk lagi.


Flashback off


Air mata berhasil lolos, membasahi pipi Kiran yang semakin chubby.


"Kiran, kenapa?" Tanya ibu Rhea.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Bu, aku keluar sebentar. Aku ingin melihat pantai." Kiran beranjak, tanpa mempedulikan tatapan mata yang memandang bingung ke arahnya.


Kiran duduk di pesisir pantai, sambil mengelus-ngelus perutnya. Tiba-tiba, sebuah tendangan terasa. Membuat Kiran menunduk menatap perutnya.


"Kau rindu ayahmu?" Tanya Kiran pada perutnya sendiri, tendangan kembali terasa. Seolah merespon pertanyaan Kiran. "Ibu juga, ibu sangat merindukan ayahmu. Sangat. Entah kapan kita bisa bertemu dengannya, yang jelas ibu akan berdoa semoga dia datang dan menemui kita." Ucap Kiran dengan wajah tegar.


"Sampai kapan?" Tanya ibu Rhea dari arah belakang, yang membuat Kiran menoleh kebelakang. "Sampai kapan kita akan berharap Sid datang? Sudah tiga bulan berlalu, tapi apa dia pernah mencari kita? Tidak!"


"Aku masih percaya, dan aku yakin dia pasti datang. Dia akan menjemputku kesini, walaupun mungkin pertemuan kami nanti tidak direncanakan olehnya, tapi Tuhanlah yang akan merencanakannya." Jawab Kiran dengan penuh kepercayaan pada dirinya.


"Mengapa kau begitu percaya?"


"Karena hati kami satu, kami saling terikat. Keyakinan itu ada, buktinya bayi ini." Sambil menunjuk perutnya.


"Baiklah, semoga keyakinanmu itu benar." Ibu Rhea berbalik, meninggalkan Kiran yang masih terduduk di atas pasir.


Mengapa mereka tidak percaya? Sid, benarkah kau tidak mencariku selama ini? Tapi kenapa? Apakah kau percaya begitu saja bahwa aku sudah tiada? Tidakkah kau merasakan rindu yang aku rasakan padamu? Tidakkah begitu?


"Kiran, sedang apa sore-sore begini disini?" Suara yang dikenalinya bertanya, Ami.


"Ami, aku hanya sedang mencari udara segar. Aku bosan dirumah." Bohong Kiran sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


"Jangan bohong, aku sudah mengenalmu selama tiga bulan ini. Ceritalah." Ami duduk di samping Kiran, memasang telinganya untuk mendengarkan apa yang akan diceritakan Kiran.


"Ami, apa suamimu pernah mencarimu?" Ami menggeleng cepat.


"Tidak, semenjak dia pergi dan tak kembali, bahkan sekedar kabarpun tidak ada."


"Lalu, apa menurutmu suamiku sedang mencariku atau tidak disana?" Ami menatap Kiran bingung. Kenapa Kiran bertanya seperti itu padanya, kira-kira begitulah arti tatapan Ami.


"Kiran, kejadian kita berbeda. Dia tulus mencintaimu, sedangkan suamiku menikahiku karena terpaksa." Ami menghela napas pelan. "Aku yakin, suamimu masih mencarimu sampai saat ini." Sambung Ami dengan wajah penuh keyakinan.


"Kau percaya?" Ami mengangguk. "Lalu kenapa dia masih belum bisa menemukanku?" Kiran mulai terisak.


"Kiran, daerah ini sangat terpencil. Tidak ada orang yang bisa memasuki daerah ini, kecuali tidak sengaja seperti dirimu. Tapi, kedepannya mungkin bisa." Kiran mengerutkan dahinya, mencoba mencerna maksud ucapan Ami.


"Sebentar lagi, akan ada sebuah proyek di pulau ini. Proyek yang akan memperkenalkan indahnya pulau ini pada publik. Sebuah perusahaan besar dari Jakarta yang membuat proyeknya." Mata Kiran berbinar, mencoba mencari setitik harapan.


Deg...


"Apa nama perusahaannya?" Ami menatap ke langit, mencoba mengingat nama perusahaannya.


"SAR-E Group."


Deg...


"Kau serius?" Tanya Kiran antusias.


"Ya, tapi belum bisa dipastikan kapan proyek itu akan dimulai dengan resmi." Kiran kembali bersedih, seketika harapannya musnah.


Sepengetahuannya, proyek itu akan dimulai tahun depan. Artinya, harapannya untuk bertemu Sidnya secepat mungkin telah hilang.


Tanpa kedua insan tersebut sadari, mereka memiliki harapan besar untuk bertemu dan bersatu kembali.


"Kenapa Kiran? Sepertinya kau senang sekali mendengar nama perusahaan itu?" Tanya Ami cepat.


"Tidak, aku pikir perusahaan Sidku." Jawab Kiran berbohong, ia lebih memilih menyembunyikan bahwa nama perusahaan yang baru saja disebutkan Ami adalah perusahaan milik suaminya.


"Ayo kita pulang, sudah mulai gelap. Jika kita berada disini terus, akan sangat bahaya. Karena ombak pasti akan naik." Ami berdiri, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Kiran berdiri.


Kiran meraih uluran tangan tersebut, dan memilih pulang bersama Ami.


Pada gak sabar iya kan? Gak sabar apa coba? Gak sabar Kiran dan Sid dipertemukan, iya kan? Heee... Gak secepat itu, masih banyak tantangan lainnya. Tapi tetep ditunggu ya kelanjutan ceritannya! Jangan lupa selalu like, coment dan vote biar author semangat juga ngetik ceritanya... Jangan lupa juga baca karya pertama author. Ikatan Cinta Masa Kecil kisahnya Ayah Deva dan Bunda Aisha!

__ADS_1


__ADS_2