Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Membuka Identitas Kal


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Kiran dan Sid segera menanyakan dimana ruangan putranya dirawat. Setelah mengetahuinya, keduanya segera pergi menuju ruangan Kal.


Sampai di ruangan Kal, Kiran tidak dapat menahan tangisnya lagi. Ia langsung memeluk putranya yang masih terbaring lemah tak berdaya.


"Apa yang terjadi? Kenapa putraku bisa sampai seperti ini?!" Sid memarahi anak buahnya yang menyamar sebagai guru di sekolahan Kal tersebut.


"Tuan, semua ini diluar kendaliku. Awalnya tuan Kal tidak melayani mereka, tapi mereka terus mengejek Tuan Kal hingga emosinya terpancing. Tuan Kal memukul mereka terlebih dahulu, lalu mereka mengeroyok tuan Kal hingga terluka parah." Sid membelalak mendengar penjelasan tersebut.


"Siapa mereka? Dan siapa juga orang tuanya? Cari tahu semua informasi tentang keluarga anak yang sudah membuat putraku seperti ini!" Perintahnya. Tanpa menjawab, anak buah Sid langsung melaksanakan tugasnya.


Kini Sid beralih pada Kiran yang sedang menangisi Kal.


"Kal, kenapa kau bisa seperti ini hah? Siapa yang melakukan ini padamu? Ayo katakan pada ibu, ibu akan membalas mereka!" Isak Kiran sambil menggenggam tangan Kal.


Sid mengelus punggung Kiran, lalu merangkulnya.


"Sid, lihat kan?! Firasat seorang ibu tidak pernah salah! Ketakutanku jadi kenyataan, putraku tidak aman berada disana!" Sid mengangguk.


"Maaf, aku tidak mungkin menolak. Kau tahu sendiri bukan? Itu adalah keinginan Kal dan aku tidak bisa menolaknya. Tapi, sekarang aku tidak akan mengirimnya kesana lagi setelah kejadian ini."


"Itu lebih baik, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi padanya nanti."


"Tenang saja, aku sudah membuat rencana untuk membalas mereka. Setelah Kal bangun aku akan mempersiapkan segalanya." Kiran mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sid.


Ditatapnya wajah putranya, Sid begitu terpukul melihat putranya seperti ini. Meskipun ini tak seberapa dibanding pengalamannya saat masih kecil, dimana ia hampir meregang nyawa bersama sang ibu.


"Kal, bangun. Ayah dan ibu disini, ayo kita balas mereka!" Ucap Sid sambil mengelus kening Kal.


Saat keduanya sedang fokus memandangi putranya, seorang dokter masuk.


"Dokter, bagaimana keadaan putraku? Apakah ada yang serius dengan luka-lukanya?"


"Lukanya cukup serius di beberapa bagian tubuhnya, untuk itu kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Segera setelah pasien sadar." Kiran tambah sedih, entah hal seperti apa yang terjadi pada putranya hingga bisa mengalami hak seperti ini.


"Pemeriksaan lebih lanjut? Apakah seserius itu lukanya?" Dokter mengangguk.

__ADS_1


"Dokter, satu hal lagi yang aku ingin kau lakukan saat ini." Sid menatap dokter itu dengan tatapan serius. "Tolong lakukan visum padanya."


Kiran memandang Sid terkejut, ternyata Sid benar-benar akan membalas perbuatan anak-anak yang sudah mengeroyok putranya.


"Baik, pak. Kami akan segera melakukan visum pada putra anda." Sid mengangguk, lalu dokter beralih memeriksa Kal.


"Keadaan pasien sudah agak membaik, apakah kami boleh melakukan pemeriksaan lebih lanjut padanya?" Sid mengangguk lagi.


"Lakukan saja dokter, tolong bantu putraku cepat pulih." Dokter mengangguk.


...----------------...


Sudah tiga hari Kal dirawat di rumah sakit, sudah tiga hari pula Kiran dan Sid menemaninya. Dalam tiga hari ini Kakek Deva dan Nenek Aisha pun selalu mengunjungi Kal bersama si kembar.


Keadaan Kal sudah membaik, tentu saja hal itu membuat hati Sid dan Kiran agak tenang meskipun sedikit khawatir karena belum mengetahui kronologis kejadian yang menimpa putranya itu berawal dari apa.


"Kal, bagaimana keadaanmu sekarang?" Sid mengelus kepala putranya lembut.


"Aku sudah baik-baik saja, hanya tinggal sedikit pusing." Kal menjawab sambil menunduk.


"Hmm... Ayah, ini..." Kal terdiam sambil menunduk.


"Tidak apa, katakan saja ayah tidak akan marah." Sambil mengangguk meyakinkan.


"Ayah, mereka mengejekku lebih dulu. Mereka mengatai aku anak miskin, tapi aku masih diam. Hingga perkataan mereka semakin membuatku terpancing emosi, aku memukul Farid dan mereka membalasku. Jadi semua ini kesalahanku juga." Memandang ayahnya sambil tersenyum, namun dihatinya juga ada rasa takut.


"Tindakanmu sudah benar, mereka sering menghinamu dan Keyra, iya kan?" Mengangguk. "Ayah juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu. Mereka sudah keterlaluan, hanya karena kau dan Keyra tidak memakai sesuatu yang mewah jadi mereka sesuka hati menghina kalian. Sudah, mulai nanti kau akan bersekolah di tempat lain. Tapi sebelum itu ayah akan memberikan pelajaran terlebih dahulu pada mereka."


"Ya, kau benar. Dengan tidak tahu malunya juga mereka ingin Kal meminta maaf pada Farid, padahal jelas anak mereka yang lebih dulu memulai masalah dengan Kal." Timpal Kiran kesal.


"Hah? Maksudmu?" Kiran menunduk.


"Dua hari yang lalu ketika aku pulang dari rumah sakit untuk mengambil pakaianmu orang tua Farid datang ke rumah sakit ini, mereka mengotot ingin Kal meminta maaf pada putranya dan juga meminta uang untuk pengobatan. Aku bilang aku akan memberikannya saat bertemu di sekolah nanti bersamamu, tapi mereka malah menghinaku dan mengataiku dengan kasar." Jelas Kiran.


Mendengar itu, membuat Sid tamvah marah lagi.

__ADS_1


"Dengar, besok kita ke sekolah Kal untuk menemui mereka." Keduanya mengangguk.


...----------------...


Seperti yang dijanjikan Sid, hari ini Kiran dan Sid beserta Kal sudah berada di sekolah Kal untuk menemui orang tua Farid.


"Pak Sid, mereka sudah datang dan menunggu anda di ruangan kepala sekolah." Salah seorang guru memberitahukan.


Sid dan Kiran segera bergegas menuju ruang kepala sekolah, termasuk Kal yang berjalan di depan.


"Mana orang tuamu hah? Pasti malu bukan? Mereka malu memiliki anak seperti preman ini!" Ibunya Farid memandang Kal sinis.


"Siapa yang kau sebut preman? Berani sekali kau menghina putra Siddharth Adeva Rafandi!" Sid muncul di belakang Kal, membuat ibunya Farid memucat dan ketakutan.


Kiran pun keluar dari belakang Sid dan memandang ibunya Farid dengan tatapan tajam. Ayahnya Farid yang tak bersuara sejak tadi langsung bersimpuh di kaki Sid.


"Pak, maafkan aku." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Berdiri kau!" Bentak Sid.


"Kalian bilang apa tadi? Seperti preman? Anakmu yang seperti geng preman!" Kiran sudah tak bisa lagi menahan kekesalannya.


"Sudah berapa kali putramu menghina dan menyakiti Kal putraku? Tapi yang kemarin itu keterlaluan! Selama ini kami juga mengawasinya dari jauh, tapi kami tetap diam karena Kal juga diam. Dan kemarin itu adalah puncaknya diamnya Kal berubah menjadi emosi." Sid mencengkeram kerah baju ayahnya Farid.


"Kau tahu apa konsekuensinya mengganggu putraku?" Ayahnya Farid mengangguk dengan tubuh yang sudah bergetar ketakutan.


Farid hanya terdiam, ia tak menyangka bahwa Kal yang disebutnya anak miskin ternyata anak dari seorang pengusaha terkenal di tempat ayahnya bekerja.


"Pak, maafkan anak kami."


"Kau dipecat! Jangan pernah tunjukkan wajah kalian lagi di hadapan keluargaku! Pergilah yang jauh! Jika kalian berani menyakiti putraku lagi maka jangan harap kalian bisa bernapas lagi!" Hardik Sid yang membuat ketiga orang tersebut mengangguk sambil ketakutan.


Bersambung...


Besok kita ke Keyra dulu ya ceritanya!!!

__ADS_1


__ADS_2