Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kiran Hamil Lagi?


__ADS_3

Permintaan aneh nan menyebalkan selalu terucap dari bibir Kiran setiap harinya pada Sid. Tak jarang Sid merasa stres akibat permintaan Kiran.


"Apa? Tapi aku bisa mendapatkannya dimana?" Tanya Sid dengan nada bimbang.


"Dimana? Tentu saja di mall!"


"Mall itu banyak, coba sebutkan si mall yang mana?" Tanya Sid dengan nada yang mencoba tidak tinggi.


"Kau cari saja disetiap mall sampai ketemu, jika tidak jangan pulang! Jangan temui aku dan Kal!" Jawab Kiran dengan nada tinggi.


"Iya, iya, apa namanya tadi?"


"Nama apa?"


"Makanan yang kau minta, Kiranaku sayang!" Sid menepuk keningnya.


"Tidak ada, sepertinya aku tidak ingin itu." Kiran menimang-nimang kembali apa yang tadi diinginkannya.


"Apa?!" Pekik Sid sambil membelalakan matanya.


Sepertinya dia sudah gila, tadi dia berdebat denganku karena ingin makanan itu. Sekarang dia bilang tidak mau???


"Aku ingin yang lain saja." Ujar Kiran dengan santainya.


"Apa?!" Pekik Sid lagi sambil membelalakkan matanya.


"Aku ingin yang lain, Siddharth!" Teriak Kiran dengan suara menggelegar di telinga Sid.


"Ingin apa?" Sambil mengelus dadanya dan menggerutu di dalam hatinya.


"Buah naga, ah iya jus buah naga tapi nanti kau yang membuatnya di rumah, ya?" Pinta Kiran dengan wajah berbinar.


Syukurlah, bukan hal yang diluar nalar lagi.


Sid mengangguk, sedetik kemudian ia membelalakkan matanya lagi.


"Apa?!"


"Dari tadi kau ini kenapa? Selalu bilang apa dan apa?!" Sid menggeleng cepat.


Dia bilang apa tadi? Aku yang akan membuat jus buah naga itu? Tidak, jangankan membuat jus. Memegang peralatan masak ataupun membuat apapun saja aku tidak pernah!


"Cepat, pergi sana!" Usir Kiran.


"Kemana? Ini kan sudah malam, waktunya aku mendarat." Sambil melingkarkan tangannya di perut Kiran. "Hmm... Sudah waktunya kecebongku mencari induknya."


"Tidak, aku minta malam ini kau tidur di kamar lain saja ya?" Kiran memainkan kancing kemeja Sid.


"Apa?! Tidak mau!" Jawab Sid cepat.


"Sid!" Kiran mencemberutkan bibirnya.


"Kenapa kau menyuruhku tidur di kamar lain?" Sid mengacak rambutnya kesal.


"Ayolah, aku ingin tidur sendirian di ranjang besarmu." Pinta Kiran dengan wajah memelas.


"Tapi jangan menyuruhku tidur di kamar lain, aku tidur di sofa saja bagaimana?" Kiran menggeleng.


Ya Tuhan, ampunilah aku! Ada apa dengan istriku ini?


"Kiran, aku mohon jangan begitu!"


"Sekali saja." Pinta Kiran lagi dengan wajah memelas.


"Lalu aku bagaimana?" Sid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Em... Baiklah, baiklah!" Mata Sid berbinar senang.


"Tidurlah di sofa depan kamar." Kiran menyengir kuda.

__ADS_1


"Kiran kau ini kenapa? Kenapa tiba-tiba menyuruhku tidur di tempat lain?" Sid mulai mengamuk, rasanya sudah keterlaluan jika istrinya sendiri mengusirnya dan menyuruhnya tidur di tempat lain.


"Aku hanya ingin tidur sendirian, apa salahku?" Kiran menghentakkan sebelah kakinya, lalu melangkah pergi memasuki kamar. Pintu kamar dibantingnya dengan sangat keras, membuat Sid semakin bingung campur kesal.


"Dia itu kenapaaaaa?!" Teriak Sid lalu bergegas mengikuti Kiran ke kamarnya. Pintu tidak dikunci. Kiran terlihat sedang duduk di atas ranjang sambil cekikikan memainkan ponselnya.


Dengan ponsel dia bisa seperti itu, denganku dia memusingkan.


"Sayang." Panggil Sid pada Kiran.


Kiran mendongakan kepalanya memandang Sid yang berdiri di hadapannya. Lalu menunduk kembali menatap ponselnya dan cekikikan kembali.


Sid yang geram langsung merampas ponsel Kiran dari tangannya dan memasukannya kedalam saku.


"Kau ini kenapa, Sid?!" Tanya Kiran dengan nada suara tinggi.


"Kau yang kenapa? Suamimu memanggilmu, tapi kau malah sibuk dengan ponsel!" Sid mencoba meredam amarahnya, ia tidak ingin membentak ataupun berteriak pada Kiran.


"Aku tidak apa-apa!" Kiran berteriak.


"Lalu apa tadi? Minta ini, minta itu! Minta hal-hal yang aneh lainnya, sampai menyuruhku tidur diluar kau ini kenapa? Jelas aku tidak mau tidur diluar, aku tidak bisa tidur tanpa dirimu!" Sid mulai mengeluarkan suara rengekan manjanya.


"Kau ini aku hanya bercanda, baiklah-baiklah tidur di dalam ya?" Kiran membingkai wajah Sid, lalu memberinya kecupan mesra di bibir.


"Lalu?"


"Pergi ke kantor! Ini sudah hampir siang!" Sambil menunjuk jam dinding dikamarnya.


Sid menoleh pada jam dinding itu, lalu cemberut saat melihat waktu menunjukan pukul sembilan pagi.


"Nanti saja, ya? Aku lapar." Sid menyengir kuda. Lapar dalam artian lain.


"Tadi kau sudah makan banyak!" Protes Kiran.


"Bukan makan itu." Tangannya sudah melingkar di pinggang Kiran, lalu melepasnya sebentar untuk mengunci pintu.


Ya Tuhan, suami macam apa yang seperti itu? Dia ternyata rajanya mesum! Tak ku sangka.


"Ayo!" Sid menarik tangan Kiran untuk berbaring di ranjang. Sid berbaring, lalu membawa Kiran keatasnya.


"Sid, apa yang kau lakukan? Ini masih pagi!"


"Biarkan saja, memangnya kenapa?" Tangannya sudah meraba ke setiap tempat di tubuh Kiran.


"Semalam sudah, sekarang kau akan melakukannya lagi? Apa kau tidak lelah?" Mulai mencari cara melepaskan diri.


"Aku tidak pernah lelah, aku malah sangat senang." Ucap Sid dengan seringaiannya.


"Nanti Kal menangis, dan ingin kesini!" Peringat Kiran, saat Sid mulai membuka pakaiannya. Tapi Sid sudah tidak peduli, ia terus memulai aksinya yang ingin menanam di pagi hari.


Tok tok tok


Kegiatan itu terhenti, keduanya terkejut lalu merapihkan dirinya sendiri dengan secepat mungkin.


Sid melangkah menuju pintu, dan membukanya.


"Kau masih di rumah? Tidak ke kantor?" Ayah Deva yang datang sambil menggendong Kal sang cucu.


Sid menggeleng cepat, hatinya merasa gugup.


"Kiran sedang sedikit tidak sehat, aku ingin menemaninya hari ini." Sambil menatap Kiran dan memberi isyara pada Kiran untuk mengiyakan perkataannya.


Ayah Deva menatap Kiran, Kiran mengangguk cepat.


"Oh begitu, baiklah temani dia. Ayah hari ini akan membawa Kal jalan-jalan keluar, tidak apa-apa kan?" Mata Sid berbinar, ini kesempatan untuknya menanam kecebong bersama Kiran.


"Tentu saja, dia kan cucu ayah. Ayah bebas membawanya kemanapun juga." Sambil mencubit pelan pipi Kal, membuat Kal merasa geli dan tersenyum.


"Yah... Yah... uhuhu..." Gumaman Kal membuat Sid gemas.

__ADS_1


"Ya sudah, ayah pergi sekarang. Kau jaga saja Kiran, ya?" Sid mengangguk. Ayah Deva lalu pergi dan berlalu untuk membawa Kal jalan-jalan.


"Kita teruskan!" Sambil menutup pintu dan menguncinya lagi.


Aish! Dia masih saja menginginkan itu!


Kali ini Sid yang mengambil posisi diatas, tangan dan bibirnya mulai menjelajahi setiap inci daerah tubuh istrinya.


Tiba-tiba Sid berhenti, ada sesuatu yang membuatnya menghentikan itu. Ia berlari menuju kamar mandi.


Kiran yang terkejut langsung menyusuk Sid. Terdengar suara Sid sedang muntah di kamar mandi.


"Sid, kau kenapa? Buka pintunya!" Kiran mengetuk pintu kamar mandi yang ditutup Sid dan dikuncinya dari dalam.


Sid membukanya, terlihat wajahnya sudah memucat.


"Kau kenapa? Kenapa tiba-tiba muntah, apa kau sakit?" Sid menggeleng. Kepalanya juga tiba-tiba pusing.


Kiran meraba kening Sid, tidak panas dan tidak demam.


"Kepalaku pusing." Lirih Sid.


"Ayo, tidurkan saja ya? Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Sid mengangguk.


Kiran membantu Sid berjalan menuju ranjang dan merebahkannya di ranjang. Ia mengambil ponsel Sid dan menelepon dokter Ema. Setelah menelepon Kiran mengusap-usap pipi Sid.


Sid memejamkan matanya, bukan tidur tapi mencoba menghilangkan rasa pusingnya yang mendadak datang menyerangnya tersebut.


Kenapa tiba-tiba aku pusing dan mual begini? Apa lambungku sakit lagi?


"Kau sakit?" Sid menggeleng cepat.


"Entah kenapa kepalaku pusing dan aku mual sekali, padahal tadi baik-baik saja."


"Istirahat saja, dokter Ema sebentar lagi datang."


Tak lama pintu diketuk dari luar. Kiran membukanya ternyata dokter Ema sudah datang.


"Siapa yang sakit?" Tanyanya sambil melangkah memasuki kamar.


"Suamiku, dokter." Sambil menunjuk Sid yang tengah berbaring dengan wajah pucat.


Dokter Ema mengangguk, lalu melangkah mendekati Sid.


"Apa keluhanmu?"


"Baru saja aku merasa pusing dan mual." Jawab Sid dengan suara lemah.


"Apa kau punya riwayat sakit lambung?" Sid mengangguk.


"Tapi sudah satu tahun ini tidak pernah sakit lagi."


"Baiklah, coba aku akan memeriksamu saja." Dokter Ema mulai memeriksa Sid dengan stetoskop nya.


Dahinya berkerut, ketika selesai memeriksa Sid.


"Ada apa dokter?" Tanya Kiran saat melihat ekspresi dokter Ema.


"Sid baik-baik saja, dia tidak sakit."


"Hah?! Lalu kenapa aku merasa pusing dan mual?"


"Kiran coba berbaring, sepertinya dirimu yang harus diperiksa." Ucap dokter Ema sambil tersenyum.


Kiran mengangguk saja, walaupun tidak mengerti maksud dokter Ema.


Dokter Ema mulai memeriksanya, dia meraba perut Kiran lalu tersenyum dengan penuh keyakinan dia terus merabanya.


"Empat minggu, Kiran hamil lagi!" Serunya yakin.

__ADS_1


"Apa?!" Ucap Sid dan Kiran bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2