Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Jahilnya Si Kembar


__ADS_3

"Ayah!" Teriak Ira dan Ima dari belakang, membuat Sid yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya terkejut.


"Ira, Ima!" Sambil mengelus dada karena terkejut.


"Maaf, ayah." Sid mengangguk, lalu kembali fokus dengan laptopnya. Karena hari ini adalah hari minggu, Sid mengerjakan pekerjaannya di rumah. Namun, setiap detik ada saja sesuatu yang mengganggunya. Terutama si kembar.


"Ayah! Ayah ini kenapa? Aku kan ingin bicara dengan ayah!" Rengek Ira.


"Iya, Ira sayang ada apa? Sebentar ya, ayah sedang bekerja." Jawab Sid dengan mata masih terfokus pada laptop.


"Huuu... Ayah!" Ira menangis tersedu-sedu, lalu diikuti Ima.


Sid menghela napas pelan, lalu mematikan laptopnya dan menatap kedua putrinya tersebut.


"Ada apa? Hmm.. Coba katakan?" Ucap Sid sambil menatap kedua putrinya tersebut.


"Baba! Aku ingin cari Baba!" Ujar Ima sambil menghentikan tangisnya dan tersenyum manis pada Sid.


"Baba ada di kamarnya dengan Nani, coba dilihat." Ira dan Ima menggeleng, lalu menarik tangan Sid dan membawanya menuju kamar ayah Deva.


"Kalian mau kemana?" Kiran yang baru selesai memasak memanggil ketiganya.


"Ke kamar Baba, bu." Jawab Ima.


"Oh, tapi jangan berisik ya? Baba sedang kurang sehat, Nani juga." Ira dan Ima mengangguk, lalu menarik tangan Sid menuju kamar ayah Deva lagi.


Ayah Deva hanya bisa menuruti kemana si kembar membawanya, mana mungkin ia menolak. Mungkin saja, jika Sid menolak kedua putrinya tersebut pasti akan berakhir dengan tangisan yang sangat mengganggu.


Ira dan Ima terus menarik tangan Sid, mereka tidak memasuki kamar ayah Deva, tetapi jauh dari sana.


"Hei! Kalian akan membawa ayah kemana? Kamar Baba disana!"


"Tidak! Kami tidak akan ke kamar Baba, kami akan bawa ayah kesana." Menunjuk kamar mereka.


"Ooo... Jadi kalian berbohong ya?" Ira dan Ima terkikik sambil terus menarik tangan Sid menuju kamar mereka.


"Ayah, lihat itu!" Menunjuk sebuah kotak berbentung persegi.


"Iya, ayah lihat. Lalu?"


"Buka itu!" Perintah si kembar yang langsung dituruti Sid.


Sid mengambil kotak itu, dan membukanya. Didalamnya terdapat kotak plastik juga.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Buka saja, ayah banyak bertanya!" Protes Ira. Sementara Ima hanya diam, karena memang Ima anak yang cenderung pendiam.


"Iya sayang." Kiran pun ternyata sudah berada di kamar Ira dan Ima. Ia memperhatikan suaminya yang sedang membuka kotak plastik.


"Duduk Kiran!" Kiran mengangguk, lalu duduk di samping Sid.


Sid terus membuka kotak tersebut, lalu saat semua kotaknya sudah terbuka dia sangat terkejut dan melemparnya ke arah Kiran.


Kiran yang sama terkejutnyapun langsung berteriak dan berlari keluar, namun gagal karena si kembar menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari luar.


"Siiiiiiidddd! Singkirkan itu, aku sangat takut!" Teriak Kiran sambil bersembunyi di belakang Sid.


"Apa?! Kau saja, aku juga takut!" Sid menggeleng.


"Tidak, aku takut! Iraaaa, Imaaaa buka pintunya!"


"Kiran, apa yang harus kita lakukan?"


"Mana aku tahu! Cepat kau singkirkan, aku takut!" Kiran mendorong Sid mendekati kotak berisi kecoa tersebut, namun Sid malah beralih ke belakang Kiran.


Flashback


Ira dan Ima berkeliling gudang, mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk alat kejahilan mereka berdua terhadap ayah dan ibunya.


"Sedang apa kalian disini?" Ayah Deva yang juga ingin mencari barang lamanya bersama ibu Aisha di gudang terkejut mendapati Ira dan Ima.


"Ooo... Kakek bantu kalian?" Keduanya mengangguk, ayah Deva menyunggingkan senyum jahilnya pada saat melihat ada kecoa yang melintas di hadapannya.


"Deva kau sedang apa?" Ibu Aisha yang baru datang merasa heran melihat suaminya sedang berusaha menangkap hewan tersebut.


"Jangan bertanya, lihat saja!" Ketusnya.


Lalu ayah Deva berdiri, dan memasukan beberapa ekor kecoa kedalam sebuah kotak plastik.


"Ini, bungkus ini dengan kertas kado di kamar Baba. Lalu berikan pada ayahmu, oke?" Keduanya mengangguk, lalu mengikuti ayah Deva menuju kamarnya. Sementara ibu Aisha hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan suami dan cucu kembarnya itu.


Flashback off.


"Sid, bagaimana ini?" Kiran sudah memeluk Sid erat, karena rasa takut pada kecoa.


Sid menghela napas panjang, lalu melirik Kiran. Sid mengangguk, lalu mencoba menenangkan Kiran. Ia memberanikan diri menangkap kecoa itu, hingga salah satu kecoa naik ke atas kepalanya dan membuatnya berteriak.


"Kiran! Kiran! Tolong, tolong aku!" Bukannya menolong Sid, Kiran malah tertawa terbahak-bahak.


Tiba-tiba pintu dibuka, Lakshmi masuk ke kamar si kembar dan membantu kakak serta kakak iparnya mengusir kecoa tersebut.

__ADS_1


"Untung ada kau! Terima kasih, Lakshmi."


"Ulah siapa ini?"


"Siapa lagi jika bukan keponakanmu yang usil itu!" Ketus Sid.


"Sepertinya mereka keturunanmu, bukan keturunanku. Buktinya kelakuan mereka sama sepertimu." Timpal Kiran.


"Kak, kak, sebelum menuduhku coba lihat kelakuan suamimu dan tanyakan padanya seperti apa kelakuannya di masa kecil pada kita!" Ujar Lakshmi diiringi tawa cemprengnya.


Kiran meletakkan jari telunjuknya di atas keningnya, lalu mulai mengingat-ingat bagaimana kelakuan Sid pada saat mereka masih kecil.


Detik berikutnya, Kiran tertawa cekikikan sendiri.


"Bagaimana, kak? Dia seperti si kembae bukan?" Kiran mengangguk, lalu memukul punggung Sid sambil tertawa.


"Iya, aku ingat bagaimana dia menceburkan aku ke kolam renang di rumah ini dulu saat kolam renangnya masih berada di dalam rumah!" Ujar Kiran. Sid langsung salah tingkah, karena memang seperti itu faktanya.


"Ah sudah cukup, aku jadi malu!" Ujar Si sambil gelagapan.


"Sudahlah, tidak baik kita membicarakan aib kak Sid. Kakak ingat kan?" Kiran mengangguk.


"Iya, dia kencing di dalam celananya kan saat kita menonton film hantu waktu itu?"


Plaakk..


Sid memukuk kening Kiran, wajahnya sudah memerah karena malu.


"Aaa.. Tidak, tidak sayang! Aku hanya bercanda." Kiran mengecup pipi Sid, lalu menarik tangan Lakshmi menuju kamarnya.


"Awas kau ya!" Teriak Sid. Kiran hanya mengedipkan matanya pada Sid, lalu membawa Lakshmi masuk ke kamarnya.


"Dasar istri tidak punya akhlak! Suka sekali mengejek suami, oh ya satu lagi! Dimana dua biji kecambah dan kecebong itu? Menyebalkan sekali!" Gerutu Sid.


Ia segera melangkah, mencari dua putri kembarnya yang usil tersebut untuk menghukum keduanya. Biasanya, Sid akan memberi keduanya hukuman berupa menyuruhnya belajar seharian tanpa henti.


"Awas ya kalian!" Ketusnya lagi.


Sid melangkah menuju kamar ayah Deva, karena ia tahu kemana anaknya akan pergi setelah mengerjainya dan Kiran.


Tepat sekali, keduanya sedang tertawa-tawa bersama ayah Deva dan ibu Aisha.


"Kalian senang kan? Sudah bisa mengerjai ayah?" Ira dan Ima meboleh, lalu cepat-cepat bersembunyi di belakang sang kakek.


"Kenapa? Datang-datang kau marah-marah."

__ADS_1


"Jangan pura-pura tidak tahu! Pasti ayah yang membantu mereka, iya kan?" Ayah Deva menyengir kuda.


Segitu dulu yaaa...


__ADS_2