Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Mabuk Lagi


__ADS_3

Ruangan itu hening, lampu sengaja tak dinyalakan. Satu-satunya pencahayaan hanya berasal dari sebuah jendela kecil.


Sebuah meja besar dan kursi kerja ditempatkan berhadapan dengan sebuah rak.


Seorang pria duduk di kursi dengan tubuh tegak, tanpa penerangan ribuan watt pun, dia bisa membaca tulisan rapi di atas kertas berwarna biru dalam genggamannya. Tadi, begitu dia memasuki rumah, pembantunya langsung menyerahkan sebuah amplop berwarna sama.


Ketika membuka mata setiap pagi, yang ingin aku lihat untuk pertama kali adalah dirimu Sid. Maafkan aku, Sid.


Tulisan tersebut, Sid sangat mengenalnya. Siapa lagi? Jika bukan Kanaya, wanita di masa lalunya yang selalu membayangi hari-harinya.


Sid membuang kertas itu tempat sampah. Lalu, ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Pesan yang diterimanya hari ini membuat kepalanya pusing.


Semua itu membuat Sid memaksa dirinya sendiri untuk menuangkan kembali ribuan potong kenangan yang dikuburnya dalam-dalam. Mengapa Kanaya muncul lagi dalam hidupnya? Mengusik dan membuatnya tidak bisa hidup tenang.


Mengapa, pada saat dulu Sid pergi Kanaya tidak memintanya untuk tidak pergi? Dan mengapa baru sekarang Kanaya kembali dalam hidupnya?


Selama tiga tahun terakhir, Sid membangun benteng tinggi. Tidak membiarkan hatinya untuk disapa oleh kata cinta lagi. Hanya luka yang bisa ditawarkannya.


Sid sengaja bersikap galak dan dingin layaknya gunung es. Bukan karena dirinya tak punya hati dan perasaan seperti apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya. Dia hanya ingin menjauhkan jiwanya dan hatinya dari luka cinta yang akan lebih besa lagi. Hati pria itu sudah hancur, hancur oleh seorang gadis bernama Kanaya.


Apa maksudmu, Kanaya? Ingin kembali padaku? Aku tidak sudi! Kau bahkan tidak bisa menjaga kesucian diri dan cintamu sebelum memiliki ikatan suci pernikahan, lalu bagaimana setelahnya?


Sid memejamkan mata dan memijit-mijit pelipisnya. Pintu diketuk dari luar, dan sebuah kepala perempuan paruh baya muncul.


"Tuan muda, ingin minum apa?"


Sid membuka mata dan menoleh. "Tidak, bi. Aku tidak ingin minum apa-apa. Aku akan mandi, dan kembali lagi ke kantor."


"Kantor? Tapi ini sudah jam delapan malam, tuan."


"Ada banyak pekerjaan yang harus di kerjakan." Sid berjalan menuju kamarnya, dan memasuki kamar mandi, setelah itu ia benar-benar pergi menuju ke kantor.


...----------------...


Mobil sedan mewah itu meluncu membelah jalanan kota Jakarta yang diterangi lampu-lampu. Sid memutuskan untuk kembali ke kantor. Di rumah membuatnya sangat pusing, terlebih ia tidak bisa berhenti memikirkan Kanaya. Di kantor mungkin ia bisa dengan menyibukkan diri untuk pekerjaannya.


Menuju kantor, Sid melihat sebuah bar.


Sid membuat keputusan secepat kilat. Ia membelokkan mobilnya menuju bar itu. Kehadiran Kanaya membuatnya merasa pusing. Mungkin dengan sedikit minum, bisa menenangkan perasaannya. Pria itu keluar dari mobil dan melangkah memasuki bar itu.


...----------------...


"Aira, kau beruntung sekali, ada yang bisa menerimamu apa adanya. Walaupun setelah insiden itu."


"Kiran, sudahlah jangan bahas itu lagi, aku ingin berbicara padamu tentang bosmu!" Aira memegang lengan Kiran.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Kiran mengerutkan keningnya mendengar kata 'Bosmu'.


"Sewaktu di Bandung, aku melihatnya. Pada saat aku memergoki Rian selingkuh."


"Aku tahu, bahkan dia juga tahu bahwa Rian adalah Kekasihku, maaf, mantan maksudku." Kiran mulai tidak suka, jika membicarakan Rian.


"Lalu bagaimana kau dengan bosmu itu?" Tanya Aira penasaran.


"Bagaimana apanya?"


"Dia masih galak?"


"Tidak usah ditanyakan."


"Kenapa dia galak seperti itu?" Aira memasang wajah penasaran.


"Aku tidak tahu, tapi aku juga ingin tahu." Jawab Kiran mulai serius.


"Kenapa tidak menanyakan langsung saja padanya?"


"Aku sungkan, sikapnya sangat dingin."


"Terima apapun resikonya. Daripada kau tiada karena rasa penasaran!" Aira menunjuk Kiran dengan jarinya. "Lagipula, sejak kapan Kiran menjadi pengecut?"


...----------------...


Sid mengerjap-ngerjapkan matanya yang berkunang-kunang. Kepalanya pusing dan berdenyut-denyut sejak tadi. Setelah membayar minumannya, Sid berjalan terhuyung-huyung menuju mobil. Seorang satpam datang menghampiri.


"Pak, apa anda masih bisa menyetir? Atau perlu saya panggilkan taxi?" Tanya satpam itu.


"Aku tidak mabuk." Gumam Sid.


Jawaban itu justru menunjukkan bahwa Sid sudah mabuk.


"Bisa menyetir sendiri?" Tanya satpam itu lagi.


"Tentu saja, bodoh! Kenapa setiap kali aku masuk ke bar, kalian para satpam selalu menanyakan aku bisa menyetir atau tidak?! Tentu saja bisa, jika tidak untuk apa aku memiliki dan membeli mobil!" Kata Sid di tengah mabuknya.


Sid berjalan terhuyung, hingga hampir terjatuh. Namun dengan sigap, satpam itu menahan lengan Sid dan membimbingnya menuju mobil.


"Aku ingin pulang." Ujar Sid. Dia sudah duduk di jok pengemudi mobilnya.


"Iya, pak. Maaf saya buka sopir, saya hanya satpam disini." Satpam itu tersenyim Entah ramah, atau memang geli mendengar ocehan Sid yang tidak jelas.


"Sudah ku bilang, aku bisa menyetir! Buktinya aku memiliki mobil!" Sambil berusaha memasukkan kunci mobilnya. Lalu menyalakan mesinnya dan menutup pintu mobilnya.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, pak." Teriak satpam itu saat mobil Sid melaju.


Mobil itu melaju perlahan. Sid mengintip jam dinding digitar di radio. Pukul dua belas malam. Sid sudah akan melaju menuju rumahnya, saat tiba-tiba ia teringat bahwa di rumahnya ada adik dan ayahnya yang sedang menginap. Otaknya pun memerintahkan berbeda. Dia merubah arah jalannya meluncur dan membelah jalanan menuju ke suatu tempat.


Di tengah perjalanan, Ponsel Sid berdering menandakan panggilan masuk.


Sid mengangkatnya, karena yang menelepon adalah Deva, ayahnya.


"Sid, kau dimana? Kenapa tidak pulang ke rumah?"


"Maaf, ayah. Aku sedang di apartemen, ada apa?" Jawab Sid berbohong.


"Besok ayah harus menemani adikmu, Lakshmi ke London. Ayah pikir, akan memintamu untuk mengantar ayah ke bandara."


"Jam berapa penerbangannya?"


"Jam empat sore."


"Baiklah, aku akan usahakan. Sudah dulu, aku ingin istirahat." Tanpa menunggu jawaban dari Deva, Sid menutup teleponnya.


"Huft, maaf ayah, aku berbohong dan minum lagi." Gumam Sid.


...----------------...


Malam sudah merambat sejak tadi. Membungkus seluruh penghuni bumi dengan lapisan gelap yang lembab, membiarkan orang-orang terlelap dalam mimpi masing-masing. Dan sejenak terbebas dari kehidupan yang terlalu menuntut.


Sudah sejak jam sembilan Kiran tidur, mengistirahatkan benaknya yang tak kunjung lelah mengenang seorang terkasih yang telah hilang.


Ponsel di atas meja di samping ranjangnya bernyanyi nyaring. Kiran mendesah, mengabaikan. Gadis itu mengambil selimut dan menutupkannya hingga ujung kepalanya.


Tapi, ponselnya tak kunjung diam. Hingga enam kali terus bernyanyi nyaring. Kiran bangun, dan meraih ponselnya. Ia langsung menerima panggilan itu tanpa melihat nama yang tertera di layar.


Kiran menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo." Sapa Kiran dengan suara parau karena mengantuk.


"Kau dimana? Sedang apa?" Si penelepon balik bertanya


"Ya jelas sedang..." Kiran tersentak. Mendengar suara itu membuatnya terlonjak duduk, dan mengembalikan kesadarannya dalam sekejap.


"Hah...!"


Bersambung...


Siapa ya yang nelpon Kiran? Ada apa kira-kira?

__ADS_1


__ADS_2