
Hari minggu telah tiba, hari yang ditunggu-tunggu para karyawan kantor. Tidak ada pekerjaan, tidak ada perangkat kerja, itulah yang dinanti-nanti para karyawan dan atasan di kantor.
"Hmmm... Segarnya, akhirnya aku bisa istirahat." Kiran menggeliat, ia baru terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Kakak!" Tiba-tiba sebuah suara cempreng menggema di kamar Kiran.
"Shit! Bisa tidak, mengetuk pintu dulu?" Kiran menatap Mira adiknya dengan tatapan membunuh.
"Hehe, maaf kak. Aku ingin bertanya sesuatu pada kakak!" Mira terkekeh.
"Apa? Pagi-pagi sudah mengganggu orang lain dengan pertanyaan saja, apa kau tidak punya pekerjaan lain?" Kiran mencerca Mira.
"Huft, kakak ini! Di rumah galak pada adiknya, tapi di kantor kalah dengan pak Sid!" Mira balas mencibir Kiran.
"Huh! Kau ini... Cepat katakan, apa yang ingin kau tanyakan? Aku tidak punya waktu untuk meladeni mulut tajammu itu!" Ketus Kiran.
"Kakak, pak Sid suka bunga mawar ya?"
Kiran menoleh, mengerutkan dahinya.
Kenapa manusia berlidah tajam ini tiba-tiba menanyakan pak Sid?
"Memangnya kenapa?"
"Kakak! Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, itu tidak sopan!"
"Baiklah, baiklah! Tidak, dia suka bunga kamboja dan melati!" Jawab Kiran berbohong. "Sudah, ya? Kakak ingin mandi, kau keluar sana dari kamar kakak!" Kiran berdiri, lalu mendorong Mira keluar dari kamarnya.
Setelah Mira keluar, Kiran mengunci pintu kamarnya dan bersender di pintu itu.
"Kenapa banyak sekali yang menanyakanmu? Aku cemburu!" Menyadari kata-kata yang baru saja di gumamkannya, Kiran segera menutup mulutnya dengan tangannya.
Ya Tuhan, kau mengatakan apa? Baru saja apa yang kau katakan, Kiran?! Jangan bodoh, dia tak akan mungkin mencintaimu!
Kiran menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri, mencoba menepis bayangan Sid yang selalu membayanginya sejak kejadian malam itu, dimana Sid menceritakan seluruh bebannya pada Kiran.
"Kira-kira dia sedang apa ya, sekarang?" Mulai merindukan sosoknya.
Saat pikiran Kiran melayang pada sosok Sid, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Kiran meraih ponselnya yang sedang di charger. Aira yang meneleponnya.
"Hallo, Aira."
"Kiran, kita jalan-jalan! Tidak boleh bilang tidak dan alasan lainnya, ini hari terakhirku menjadi wanita lajang!" Tanpa basa-basi, Aira mengatakan tujuannya menelepon Kiran.
"Tentu saja, sayang! Apa yang tidak untukmu?" Goda Kiran.
"Huh! Kau ini, jangan menggombaliku! Aku sudah akan bersuami!" Rajuk Aira dengan suara manja, lalu mereka berdua terkekeh.
"Baiklah, dimana kita bertemu?"
"Di taman XX. Aku akan menjemputmu!"
"Tidak, aku akan menemuimu langsung disana!" Bantah Kiran.
"Jangan! Bisa-bisa aku berlumut, saat kau datang nanti!"
"Tenang saja, aku tidak akan lama kali ini. Aku akan membawa Siran!" Seru Kiran.
"Siran?" Ulang Aira.
"Iya, mobil baruku, diberikan pak bos."
"Waaaahhh... Ya sudah, cepat datang ya!"
"Okay baby!" Telepon terputus, Kiran segera meraih handuknya dan memasuki kamar mandi.
...----------------...
__ADS_1
"Ayah, aku pergi sebentar untuk mencari udara segar."
"Kemana, Sid?" Deva yang sedang duduk bersama Lakshmi menoleh pada Sid.
"Kakak akan kemana? Aku ikut!" Lakhsmi berdiri.
"Ke belakang rumah, masih mau ikut?" Lakhsmi mengerucutkan bibirnya, membuat Sid terkekeh.
"Aku pikir jalan-jalan ke tempat yang jauh!" Ketus Lakhsmi. Sid mengangkat bahu, lalu berlalu meninggalkan adik dan ayahnya.
Sampai di belakang rumah, ia duduk di sebuah bangku putih yang di hadapannya berjejer bunga mawar kesukaannya.
Saat sedang asyik duduk sambil memandangi bunga-bunga yang indah, tiba-tiba pikirannya melayang pada Kiran.
Sedang apa ya dia? Dimana?
Sid memukul keningnya. Sambil terkekeh sendiri.
"Ada apa denganku? Kenapa malah memikirkannya?" Tanya Sid pada dirinya sendiri.
"Kakak!" Lakshmi tiba-tiba datang dari arah belakang, mengejutkan Sid.
"Lakhsmi! Aku terkejut!" Lakshmi tertawa terbahak-bahak.
"Kakak, sedang memikirkan apa? Sampai terkejut begitu?!"
"Kakak sedang memikirkan Kir... Eh, kantor!" Sid mengelus dadanya, ia terkejut. Hampir saja mengatakan nama Kiran di hadapan adiknya.
"Kir apa?" Lakshmi menatap mata kakaknya itu dalam-dalam, meminta untuk segera dijawab.
"Tidak ada! Pergi saja, jangan merusak hari santaiku!" Ketus Sid dengan wajah datar.
"Cih! Sudah bermain rahasia lagi!" Lakshmi mencibir Sid.
"Masih kecil, jangan suka penasaran dengan urusan orang dewasa!" Sid balas mencibir adiknya.
Sid lalu berdiri, dan melangkah meninggalkan Lakshmi yang masih cemberut di tempatnya.
"Kantor!" Padahal tidak ingin pergi kesana.
...----------------...
"Aira, siapa laki-laki baik hati itu?"
"Rio. Namanya adalah Rio." Kiran tercengang, merasa mengenali nama itu.
"Apa pekerjaannya?" Mulai memasang telinga, ingin mendengarkan Aira.
"Dia asisten pribadi CEO yang bernama Siddharth." Jawab Aira sambil tersenyum, membayangkan calon suaminya.
"Hah?! Rio yang menyebalkan itu?"
"Kau mengenalnya?" Kiran mengangguk.
"Dia itu asisten pribadi bosku!"
"Hah?!" Aira terkejut.
"Dia sangat menyebalkan!" Kiran kemudian menceritakan segalanya.
"Yang paling menyebalkan kau tahu?" Aira menggeleng. "Dia menyebutku manekin ondel-ondel waktu aku pertama kali memasuki kantor!" Aira berdecak sebal, mengingat moment itu.
"Sebentar, Kiran! Aku ke toilet dulu." Kiran mengangguk.
Setelah Aira pergi ke toilet, Kiran memainkan ponselnya. Tidak sadar pada saat ada seseorang yang melangkah mendekatinya sambil tersenyum.
"Sedang apa?" Tanyanya sambil menatap Kiran.
__ADS_1
"Sedang menunggu temanku, dia sedang ke toilet baru sa... Eh?!" Kiran mendongakkan wajahnya, dia terkejut bukan main.
"Pa.. Pak Sid!"
"Biasa saja, kenapa kau memelotiku?" Sid duduk di sebelah Kiran.
"Tidak, pak aku hanya terkejut." Balas Kiran malu-malu.
"Sejak kapan ya, taman ini jadi kantor?" Sis menatap Kiran berusaha mencari entah apa di dalam mata Kiran yang memiliki tatapan teduh itu.
"Maksud anda?" Kiran mengerutka dahinya. Tak mengerti.
"Ini bukan kantor, jangan terlalu formal. Sid, panggil aku Sid."
"Tapi aku tidak enak, pak."
"Kiran, kau sahabatku bukan?" Kiran mengangguk.
"Ya sudah, tidak usah canggung! Call me Sid, please?!" Sid mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Sid." Sid tersenyum, Kiran ikut tersenyum. Lalu memalingkan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Bukan karena panasnya cuaca, tapi karena malu dengan tatapan hangat Sid.
"Kau bilang tadi bersama temanmu, lalu mana sekarang?" Sid menerawang, mencari sosok yang disebut teman oleh Kiran.
"Hmm.. Dia sedang ke toilet."
"Maaf, Kiran kau menunggu lama ya?" Panjang umur, yang dibicarakan datang.
"Tidak apa-apa." Balas Kiran.
"Eh, siapa dia?" Aira menunjuk Sid.
"Dia bosku, pak Siddharth."
"Kau? Bukankah kau calon istri Rio?"
"Ah, iya pak. Aku Aira, calon istri Rio." Aira memperkenalkan diri membungkukkan badannya sebentar.
"Aku Siddharth, bos Kiran dan Rio."
Hening sejenak, lalu Sid mulai membuka kembali pembicaraan.
"Kalian sedang apa disini?" Bertanya pada kalian, tapi matanya tetap memandangi Kiran.
"Kami hanya jalan-jalan saja." Sid membulatkan bibirnya, mangut-mangut.
Tiba-tiba ponsel Aira berdering, Aira menjauh sebentar untuk mengangkatnya. Tak lama, ia kembali.
"Pak Sid, Kiran. Maaf, aku duluan ya? Ibu menyuruhku pulang."
"Hei, kau tadi yang mengajakku! Dan sekarang kau juga yang buru-buru pulang!" Protes Kiran.
"Maaf!" Aira terkekeh.
"Ya sudah, pergi saja! Calon pengantin baru harusnya tidak berkeliaran!" Ejek Kiran. Aira melangkah, sambil terkekeh karena ejekan Kiran.
Kini, tinggal Sid dan Kiran berdua duduk di bangku taman. Keduanya diam, menatap lurus ke depan. Tak bicara sepatah katapun.
"Kiran." Sid memulai pembicaraan.
"Hmmm." Sid mengerutkan dahinya.
"Tidak jadi." Ketus Sid. Kiran menoleh, lalu tertawa melihat pria disampingnya itu
"Kenapa? Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?" Kiran menggeleng
Bersambung...
__ADS_1
Setuju gak kalo ini visualnya Siddharth? Kebetulan namanya Siddharth juga! 😁