
Ponsel Kiran berdering, dilayarnya tertera nama Aira, orang yang sudah menjadi sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Ya, Aira ada apa?" Kiran tersengal-sengal, karena pada saat Aira menelepon ia baru keluar dari ruangan Sid.
"Kiran, kau sedang apa? Kenapa napasmu seperti itu?"
"Biasa, aku baru menghadap rival abadiku! Bos Galak!"
"Sampai seperti itu? Memangnya bosmu itu dimana? Di luar kota?"
"Ruangannya persis di hadapanku. Tapi setiap aku mendengarkan dia bicara, rasanya sakit hati sekali. Jadi aku butuh perjuangan, agar aku bisa menahan emosiku dan tidak hilang akal." Kiran terkekeh.
"Kau bisa makan siang bersamaku?"
"Bisa. Tentu saja bisa, apalagi jika kau membayar makanku!" Ucap Kiran sambil terkekeh.
"Serius? Lalu bagaimana dengan... Siapa kau bilang, nama bosmu itu?"
"Pak Sid!" Seru Kiran dengan wajah kesal.
"Iya, bagaimana dengannya? Apa tidak akan mencarimu?" Tanya Aira menerawang.
"Kebetulan, hari ini dia sedang ada pertemuan dengan temannya. Jadi aku tidak perlu mendampinginya dengan asistennya yang gila itu!"
"Good!"
"Tunggu, tunggu. Sepertinya aku mencium sesuatu yang baik, ada berita baik ya?"
"Iya, proposalku tembus. Perusahaan Xx di Bandung bersedia kerjasama. Besok aku akan ke Bandung untuk tanda tangan kontrak." Kalimat Aira mengalir lancar, membuat Kiran mengingat Rian yang tadi malam mengatakan bahwa ia juga akan ke Bandung.
"Wow, great, Honey!. Artinya kau benar-benar akan mentraktirku makan siang?"
"Tentu saja, apa yang tidak untukmu?"
"Horeee. I love you Aira!"
"Ah, kau ini! Jika aku mentraktirmu, baru kau mengatakan hal yang romantis padaku!" Aira pura-pura marah, Kiran menumpahkan tawanya yang merdu.
"Aku jemput?"
"Tidak, tidak. Biar aku saja yang menjemputmu."
"Tapi tempat makannya lebih dekat dengan kantormu! Jadi biar aku yang menjemputmu!"
"Kiran, waktu istirahatmu hanya satu jam kan?"
"Ya, lalu?"
"Jika kita naik mobilmu yang merugikan itu, bisa-bisa jam 7 malam kita baru sampai! Jadi, aku yang akan menjemputmu, oke?"
"Aira, seperti itu sekali kau merendahkan mobil kesayanganku!"
"Bukan, Kiran. Jangan marah. Aku hanya..."
"Apa?"
"Hanya berusaha realistis saja."
__ADS_1
Kiran menghela napas panjang. "Ya sudahlah. Aku tunggu ya."
"Oke, bye."
...----------------...
"Apa? Yang benar? Kau tidak bercanda, kan?" Kiran sontak terbangun. Matanya membelalak terbuka. Rasa kantuk yang tadi masih menggelayut manja saat Rian meneleponnya, kini raib tak berbekas.
"Ya, sayang. Aku tidak bercanda." Rian tertawa. "Lusa aku ke Jakarta, setelah pergi ke Bandung. Kau tau kenapa? Karena aku sangat merindukanmu!"
Kiran tersenyum, ada yang menghangat di hatinya, seolah-olah mentari baru terbit disana. "Beberapa bulan lalu, kau juga berjanji akan kesini. Tapi batal."
"Maaf, sayang. Kemarin tiba-tiba aku ada urusan yang sangat penting. Tapi, sekarang aku berjanji, aku tidak akan batal kesana lagi."
"I hope so."
"Lusa hari ulang tahunku, dan aku ingin merayakannya bersamamu. Berdua saja."
"Aku sangat senang mendengarnya. Aku sudah tidak sabar, menunggu lusa."
"Ya sudah, kau tidurlah. Aku ada urusan yang..."
"Sangat penting!" Potong Kiran. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.
"Nanti kita lanjutkan lagi mengobrol. See you next day, my girl. I Love You."
"Love you too."
Begitu sambungan terputus, Kiran melemparkan ponselnya ke ranjang. Dia melompat-lompat girang. Bibirnya tak henti-henti berdendang riang. Dia beranjak ke kamar mandi untuk menyikat giginya sebelum tidur.
...----------------...
"Sid, cucuku! Apa kabar?" Sapa Kakeknya yang sudah menyambutnya di ambang pintu.
"Kabarku baik, kakek dan nenek apa kabar?" Tanya Sid kembali.
"Tentu saja baik! Ayo kita masuk, paman dan bibimu sudah menunggu di dalam!" Seru neneknya sambil menarik Sid dan membawanya ke dalam.
"Aryan, Resha, Risya dan Rasya! Lihat ini siapa yang datang!" Seru Lucas, kakeknya Sid.
Keempat pemilik nama yang disebutkan menoleh, lalu tersenyum saat melihat Sid yang datang.
"Wah, keponakanku yang paling tampan ternyata berkunjung ya, setelah sekian lama!" Aryan menyambut keponakannya itu dengan pelukan.
"Bagaimana kabarmu? Ayahmu dan adikmu?"
"Kabar kami baik, paman dan bibi bagaimana?"
"Kami semua baik, kau datang sendiri?" Tanya Aryan sambil melirikan matanya ke belakang Sid.
"Iya paman, kebetulan aku ada pertemuan dengan klien nanti malam di cafe xx. Jadi, sekalian saja aku berkunjung pada kalian. Aku juga merindukan kalian."
"Baiklah Sid, kalau begitu kau istirahatlah! Kau pasti lelah, selain itu persiapkanlah pertemuanmu nanti malam." Sid mengangguk, lalu Aryan mengantarkan Sid menuju kamarnya. Kamarnya adalah kamar mendiang ibunya dulu saat masih kecil dan masih tinggal di kota kelahirannya ini. Kota Bandung.
Malam harinya Sid sedang bersiap-siap menuju cafe tempat pertemuannya dengan kliennya.
Sesampainya disana, ia duduk di kursi dan meja yang sudah di atur. Saat menunggu, ia menemukan pemandangan yang paling menjijikkan baginya.
__ADS_1
Bagaimana tidak, tepat di seberang tempat duduknya ada sepasang kekasih yang sedang duduk dengan posisi mesra. Yang perempuan menggelayut manja di lengan laki-laki, sambil sesekali mengecup pipi laki-lakinya yang terlihat sangat senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari perempuannya. Sesekali mereka saling berbalas mengucapkan kata-kata mesra, membuat Sid semakin jijik melihatnya.
"Sayang, kau cantik sekali malam ini!" Puji sang pria pada perempuannya itu.
"Tentu saja, aku tidak mungkin jelek! Makanya kau mau bersamaku!" Si pria terkekeh mendengar kata-kata perempuannya itu.
"I love you dear. Aku dan Kamu selamanya." Sang pria mengecup jemari wanita itu.
Menjijikkan!
Batin Sid jengkel melihatnya, tapi tiba-tiba adegan mesra itu terhenti ketika ada seorang perempuan lainnya menghampiri sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta itu.
"Kak Rian!" Sapa perempuan bernama Aira itu agak ragu.
Pria dan perempuan itu sama-sama menoleh kepada Aira. Refleks, sang pria yang dipanggil Rian itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan perempuan di hadapannya.
"Aira, kau sedang apa disini?"
Sinar keterkejutan yang amat sangat membayang di kedua bola mata pria itu. Wajahnya pias seketika, seolah-olah yang baru saja dilihatnya bukan Aira, melainkan makhluk halus.
"Kak, dia siapa?" Aira menatap wanita yang bersama Rian dengan tatapan tajam.
Rian berdiri, dan mendekati perempuan yang tadi bermesraan dengannya.
"Sebentar, ya?" Perempuan itu mengangguk.
Rian kemudian menarik lengan Aira membawanya menjauh, menuju ke dekat toilet.
"Aira, semua ini tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa menjelaskan segalanya." Ucapnya pada Aira sambil menyeka dahinya yang tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin.
"Jawaban klise yang diucapkan seseorang ketika terpergok sedang selingkuh!" Jawab Aira sengit.
"Kau sedang apa di bandung?"
"Tidak penting!" Aira menatap Rian lamat-lamat.
"Tolong, tolong jangan beritahu Kiran masalah ini. Aku..."
"Kak, Kiran itu sahabatku!" Potong Aira. "Dia sudah seperti saudaraku sendiri! Tidak mungkin aku merahasiakan hal sebesar ini padanya!" Jeda sebentar.
"Kakak tahu tidak? Disana dia menjaga hatinya untukmu, tapi kau malah mengkhianatinya!"
"Maaf, Ra! Aku khilaf. Jarak yang jauh membuatku sakit. Padahal aku sangat butuh seseorang di dekatku." Rian mengalihkan tatapannya, tak berani menentang mata Aira yang penuh kemarahan.
"Apapun itu, aku akan tetap memberitahukan kebenaran ini pada Kiran!" Suara Aira melengking, mulai melangkah menjauh meninggalkan Rian.
"Aira, aku pastikan kau tidak akan pernah bisa memberitahukan hal ini pada Kiran!" Teriak Rian yang masih bisa di dengar Aira.
Rian mengotak-ngatik ponselnya, dan menelepon entah siapa.
Sesampainya di luar, Aira bermaksud memberi tahu Kiran. Namun tiba-tiba...
Bug...
Bersambung...
Wah tiba-tiba ada apa ya??? Penasaran? Simak lanjutannya besok!...
__ADS_1