
Sudah satu bulan, Sid berada di kota yang menjadi kenangan terburuk baginya. Kota dimana ia kehilangan Kiran. Entah itu selamanya, atau mungkin Kiran hanya pergi sementara darinya.
"Pak, untuk memulai proyek ini sebaiknya anda melihat dulu lokasinya sendiri." Salah seorang anak buah Sid mengusulkan.
"Dimana lokasinya? Aku ingin melihatnya, ayo kita segera pergi." Ajak Sid sambil bergegas memasuki mobil.
"Tunggu, pak! Lokasinya tidak bisa dijangkau dengan menaiki mobil, kita harus menaiki perahu untuk sampai ke desa tempat proyek tersebut." Sid berhenti.
"Perahu?" Ulangnya dengan nada ragu.
"Ya, pak. Tapi jika anda tidak ingin mengunjungi tempat itu tidak apa."
Tunggu, desa terpencil? Naik perahu? Kenapa naluri hatiku mengatakan aku harus kesana? Ada apa ini?
Sebenarnya Sid sedang tidak ingin mengunjungin tempat manapun, terlebih daerahnya adalah tempat dimana Kirananya hilang.
Tapi, naluri hatinya mendorong Sid untuk pergi ke tempat itu. Seperti ada magnet yang menarik kakinya melangkah menaiki perahu yang sudah disiapkan anak buahnya.
"Ayo, cepat. Sudah hampir sore, aku takut ombaknya semakin besar." Perintah Sid pada anak buahnya yang akan mengendarai perahu tersebut.
Perahu mulai melaju, pada saat Sid berada di tempat dimana kapal yang dibawa Maya meledak, ia kembali menitikkan air matanya.
"Kiran." Lirih Sid sambil terisak.
"Pak, maaf." Anak buahnya merasa bersalah, telah membuat Sid mengingat tragedi itu.
"Tuan muda, jangan bersedih. Semoga ada keajaiban untuk anda." Reihan mencoba menegarkan Sid.
"Tidak apa, paman." Jawab Sid sambil menghapus tetesan bening yang membasahi pipinya.
Butuh waktu satu jam untuk mencapai desa terpencil tersebut. Sid yang sedari tadi memiliki firasat aneh merasa senang saat mengetahui bahwa ia sudah sampai di tempat proyek akan berlangsung tersebut.
"Kita sudah sampai, pak. Ini adalah tempatnya, tempat proyek wisata tersebut akan berlangsung. Rencananya, kami akan memperkerjakan para muda-mudi di desa tersebut agar tidak menjadi pengangguran." Jelas anak buahnya dengan detail, namun Sid seperti tidak peduli dengan penjelasan yang baru saja keluar dari mulut anak buahnya tersebut.
Naluri hatinya menyuruhnya berjalan memasuki kawasan perumahan yang rumahnya terbuat dari kayu, bukan seperti rumah. Lebih mirip seperti gubuk.
Tanpa dia sadari, kakinya sudah melangkah. Kakinya melangkah menuju seorang wanita yang sedang duduk membelakanginya. Terlihat, perutnya besar. Dia sedang hamil, tangannya sibuk dengan daun kelapa yang sedang dianyamnya menjadi sebuah karpet.
"Tuan muda, ayo! Para pekerja sudah menunggu kita disana!" Ridan menarik Sid, tapi Sid seperti tidak ingin melangkahkan kakinya. Hatinya menyuruhnya mendekati wanita yang sedang hamil tua tersebut. Di depannya ada seorang wanita muda juga yang sedang hamil tua.
Jika Kiran masih ada, mungkin sekarang perutnya juga sudah sebesar itu.
"Tunggu sebentar!" Ucap Sid.
Wanita yang membelakanginya tersebut berhenti menggerakkan tangannya, dia merasa mengenali suara pria yang baru saja berbicara dibelakangnya.
__ADS_1
Wanita itu menoleh, mencari sumber suara. Dua orang pria sudah berjalan menjauh darinya.
Dia pun meraba dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri. Berdetak sangat kencang, seperti ada sesuatu yang membuatnya berdetak kencang.
...----------------...
Kiran sedang menganyam daun kelapa bersama Ami, mereka mengobrol begitu asyik. Sambil sesekali bersenda gurau.
"Kiran, sebentar lagi bayimu akan lahir. Apa kau sudah mempersiapkan nama untuk bayimu?" Tanya Ami penasaran.
"Tentu, sebenarnya bukan aku yang mempersiapkannya, tapi ayahnya." Jawab Kiran sambil mengingat Sid kembali.
"Siapa namanya?" Tanya Ami antusias.
"Jika anakku laki-laki, kami sepakat memberinya nama Siran Kallandra Rafandi. Siran adalah singkatan namaku dan suamiku, Siddharth dan Kiran." Jelas Kiran.
"Lalu jika perempuan?" Tanya Ami lagi.
"Perempuan?" Ami mengangguk cepat. "Zoya Siddharth Rafandi, kami sepakat memberinya nama itu."
"Bagus sekali, namanya." Puji Ami.
"Kedua nama itu suamiku yang mempersiapkannya." Ujar Kiran sambil terus menganyam daun kelapa di tangannya.
Deg...
"Tunggu sebentar." Sahut laki-laki yang berada beberapa meter di belakang Kiran, laki-laki itu tampak sedang berdebat dengan seseorang.
Kiran menoleh ke belakang, laki-laki itu tampak sudah berjalan menjauh dengan seorang laki-laki lainnya yang berbadan kekar.
Sid? Apakah itu dirimu? Tunggu, mungkin telingaku salah dengar.
Kiran kembali memfokuskan dirinya pada anyaman, tak peduli Ami menatapnya penuh tanda tanya. Ami bisa mencium gelagat tak biasa dari Kiran, saat laki-laki yang berdebat dari berada di belakang Kiran.
"Kiran, ada apa? Kenapa wajahmu pucat sekali? Kau juga seperti sedang gelisah." Ami memegang tangan Kiran, membuat Kiran kembali menghentikan aktivitasnya.
"Tidak tahu, Ami. Jantungku seperti mendapat sebuah keterkejutan." Jawab Kiran sambil meraba dadanya. Kemudian, bayi dalam perutnyapun seperti ingin merespon sesuatu. Tendangan yang kuat di perut Kiran membuat Kiran kesakitan.
"Kiran kenapa? Apa kau akan melahirkan?" Ami yang panik langsung mencoba membantu Kiran berdiri.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba bayiku menendang dengan sangat kuat sekali." Jawab Kiran lalu menggigit bibirnya mencoba menahan rasa sakitnya.
"Kita kedalam? Mungkin kau kelelahan." Kiran mengangguk. Sebelum masuk ke dalam, ia menoleh terlebih dahulu ke belakang. Mencoba mencari laki-laki yang tadi.
Sudah sangat jauh dari tempatnya berdiri, semakin jauh laki-laki tersebut, rasa sakit akibat tendangan dari bayi dalam perut Kiran sudah mereda kembali.
__ADS_1
"Kiran, ayo masuk." Ami memapah Kiran masuk kedalam gubuk yang disebut rumah itu.
Ia membantu Kiran merebahkan dirinya diatas ranjang yang sudah tak nyaman tersebut.
"Kiran, istirahatlah. Aku akan menjagamu sampai ibu Rhea pulang berjualan." Ucap Ami penuh perhatian, sambil duduk di pinggir ranjang.
"Terima kasih, Ami. Kau juga ikut istirahat, kita sama-sama hamil tua, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayimu juga." Kiran menggenggam tangan Ami.
Baginya, Ami sudah seperti adiknya. Sejak mereka berteman, Ami sudah sering membantunya.
"Kiran, sebenarnya barusan kau kenapa? Kenapa wajahmu jadi pucat sekali?" Ami kembali menanyakan pertanyaannya tadi, pasanya setelah empat bulan mereka saling mengenal Ami tidak pernah melihat wajah Kiran sepucat itu.
"Aku tidak tahu, aku seperti merasakan kedatangan suamiku kesini." Kiran duduk, lalu menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang.
"Kiran, jika apa yang kau rasakan itu benar aku akan menjadi yang paling bahagia." Ami tersenyum penuh haru.
"Ami, jika aku dijemput suamiku kau harus ikut, aku akan mengajak kakek Narja dan nenek Anjum juga. Kalia harus tinggak denganku di rumah suamiku nanti." Kiran tersenyum, matanya berbinar membayangkan kata-katanya barusan.
"Kiran, jangan seperti itu. Kami akan tetap tinggal disini, kau jangan lupa mengunjungi kami. Aku akan sangat merindukanmu nanti." Ami menunduk, ia sedih akan kehilangan sahabatnya.
"Ami, jangan sedih. Nanti aku akan mengunjungimu, jika suamiku benar menjemputku. Atau, jika anakku laki-laki dan anakmu perempuan, berdoalah semoga mereka berjodoh!" Ami tertawa, mendengar celotehan Kiran.
"Kau ini, ada-ada saja." Kiran ikut tertawa, sejenak melupakan apa yang menjadi bahasan utama mereka tadi. "Tapi, boleh juga idemu itu!" Sambung Ami yang membuat keduanya kembali tertawa.
...----------------...
Mentari pagi sudah bersinar, menyinari tubuh seorang pria yang masih terlelap setelah semalam menangisi sang pemilik hatinya yang belum kunjung ditemukan.
Seolah tak peduli dengan sinar yang menerpa tubuhnya, pria itu tetap terlelap tak ingin bangun.
Napasnya berhembus beraturan, salah satu ciri yang menandakan bahwa dia memang sedang benar-benar tidur.
Sejak semalam, rasa lelah membuat Sid tertidur nyenyak. Tentunya setelah ritual setiap malam sejak kepergian Kiran menjadi ritual wajibnya sebelum tidur. Ritual yang tak lain adalah menangisi Kiran, dan berdoa meminta pada Tuhan agar mengembalikan sang pemilik hatinya.
"Tuan muda, bangunlah. Ini sudah pagi." Reihan mengguncang-guncangkan tubuh Sid.
Sid membuka matanya, lalu menatap Reihan yang sudah berdiri di samping ranjang yang ditempatinya.
"Tuan muda, hari ini anda akan melakukan peresmian akan dimulainya proyek pulau itu. Mari, bersiaplah. Dalam dua jam acara akan dimulai." Ajak Reihan yang diangguki Sid.
Kemudian Reihan berpamitan untuk menyiapkan perjalanan mereka, sementara Sid bergegas menuju kamar mandi.
Seperti yang kemarin di rasakannya, naluri hatinya selalu menyuruhnya untuk datang ke desa dan pulau terpencil itu lagi meskipun mulut Sid berkata tidak, tapi naluri hatinya justru mendorongnya pergi kesana.
Seperti ada hal yang menanti Sid di tempat tersebut.
__ADS_1
Bersambung dulu ya...
Hai para readers, mau author crazy up gk? Kalo mau jangan lupa like, coment, vote dan kasih bunga sama kopinya ya...