
Dalam sebuah keluarga mungkin yang membuat ramai adalah seorang anak kecil, akan tetapi berbeda dengan keluarga yang satu ini. Keluarga besar Slaven Adeva Rafandi atau yang lebih dikenal dengan pak Deva.
Keluarga tersebut tampak ramai dengan perdebatan antara pasangan tua kakek Deva dan nenek Aisha, terlebih ketika ketiga cucu kesayangannya sudah beranjak dewasa. Hal itu membuat rumah menjadi sepi.
Bukan hanya rumah, akan tetapi hati seluruh penghuni keluarga juga merasakan hal yang sama. Tidak ada tangisan bayi, tidak ada Kirana yang berteriak-teriak akibat stres dengan ulah si kembar.
"Si kembar sudah ikut kakaknya menjadi besar, sekarang rumah jadi sepi." Ucap Sid pada Kiran yang sedang sibuk melipat pakaian-pakaian dan menaruhnya ke lemari besar.
"Salahmu sendiri, terlalu cepat memutuskan untuk memberikan Kal adik. Sudah aku bilang tunggu Kal besar baru kita memberinya adik agar tidak kesepian seperti ini." Kiran menjawab sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Kau benar, tapi bukankah kita masih bisa memberikan Kal adik dan..." Sid tak meneruskan ucapannya setelah mendapat delikan tajam dari Kiran.
"Kau pikir melahirkan anak semudah buang air besar?" Kiran masih menatap Sid tajam, sedangkan Sid hanya menunduk.
"Kau bilang tadi tunggu Kal besar baru memberinya adik!" Mulai melancarkan protesnya.
"Kau pikir aku bodoh? Kita sudah punya seorang putra dan dua orang putri, belum lagi kedua putri kita itu suka sekali membuat seisi rumah menjadi rusuh!" Gerutu Kiran sambil menginget kejadian-kejadian naas yang menimpa dirinya dan Sid dari mulai tercebur ke kolam renang hingga terkunci di kamar yang dipenuhi kecoa akibat ulah si kembar.
Sid ikut membayangkannya, lalu ia bergidik ngeri membayangkan rusuhnya si kembar.
"Kau benar, kedua putri kita rusuh sekali!" Lalu menggigit bibirnya kuat-kuat.
"Jadi, bagaimana? Kau masih tetap ingin menambah anak lagi?" Sid tersenyum, lalu mengangguk.
"Apa salahnya kita mencobanya lagi? Selain itu, agar ayah dan bunda tidak kesepian dan stres di masa tuanya." Sid memeluk Kiran, membuat aktivitas Kiran terhenti.
Kiran berbalik dan membalas pelukan tersebut.
"Apa kau setuju?" Sambil melepaskan sebelah tangannya dan memegang dagu Kiran.
Kiran mengangguk, ia juga tak bisa menolak karena sebenarnya Kiran juga menginginkan kehadiran seorang bayi lagi dalam keluarganya.
"Tapi aku takut, takut tidak bisa lagi...."
"Sstt..." Sid memotong kata-kata Kiran dan meletakan jari telunjuknya di bibir Kiran. "Tidak ada yang tidak mungkin selama kau masih memiliki rahim maka tidak mungkin kau tidak bisa hamil lagi." Sid meyakinkan Kiran. Kiran mengangguk, lalu memeluk suaminya kembali.
"Oh iya, apa kau sudah makan malam?" Sid menggeleng.
__ADS_1
"Makan malamku adalah dirimu, sayang." Sambil tersenyum jahil.
"Aku benar-benar serius, Sid! Kau menjawab seperti itu lagi aku tidak akan memenuhi keinginanmu itu!" Sid mulai cemberut, lalu mencubit pipi istrinya gemas.
"Belum, aku belum makan malam. Ayo temani aku makan malam!" Kiran mengangguk, lalu mengantar Sid menuju ruang makan.
Setelah selesai makan malam Sid dan Kiran kembali ke kamarnya. Keduanya tidak langsung tidur, melainkan melakukan proses pembuatan kecebong keempat.
Jangan tegang, ngelucu dikit bawa-bawa kecebong 🤣
...----------------...
Dua bulan berlalu. Selama itu pula Sid dan Kiran selalu berusaha untuk mendapatkan keturunan kembali, tapi sampai saat ini Kiran belum mendapatkan tanda-tanda kehamilan.
Hal itu membuat Kiran cukup gelisah, ia takut ketakutannya akan menjadi benar dimana Kiran sudah tak bisa memiliki momongan lagi.
"Sid, bagaimana? Sudah dua bulan, tapi belum ada tanda-tanda apapun." Ucap Kiran dengan wajah gelisah di hadapan Sid.
"Jangan takut, mungkin kita hanya harus berusaha lagi. Bagaimana jika nanti siang kita ke dokter spesialis kandungan atau semacamnya?" Kiran menggeleng.
"Jangan takut, bila memang sudah tidak bisa tidak mengapa. Tapi kenapa tidak mencobanya saja?" Kiran tampak berfikir, mencoba meyakinkan diri juga dengan usulan suaminya.
"Baiklah, kita akan mencobanya kesana." Sid merangkul Kiran dan mengelus bahunya lembut.
Siangnya keduanya benar-benar sudah berada di rumah sakit untuk memeriksakan diri terkait dengan masalah kehamilan.
"Jadi begini, kami ingin menambah momongan lagi. Memang kami sudah tidak lagi muda tapi tidak ada yang tidak mungkin bukan selama Tuhan masih memberi kami kepercayaan. Kami ingin tahu, apa salah satu dari kami ada yang bermasalah atau memang belum dipercayakan kembali oleh Tuhan?" Ujar Sid menjelaskan maksud kedatangannya pada seorang dokter yang tak lain adalah dokter Niken yang dulu membantu persalinan Kiran bersama dokter Ema.
"Baik, Sid. Untuk masalah seperti ini kita harus melakukan pemeriksaan terhadap cairan kalian berdua. Apa kalian bersedia?" Kiran dan Sid saling melirik, lalu mengangguk.
"Ya, kami bersedia."
"Mari, ikut ke laboratorium untuk mengambil cairan kalian." Sid dan Kiran segera mengikuti dokter Niken menuju laboratorium rumah sakit.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, ketiganya kembali ke ruangan dokter Niken.
"Kapan kami bisa mengetahui hasilnya?" Sid bertanya dengan nada yang tidak sabar.
__ADS_1
"Minggu depan kau boleh kembali kesini untuk mengetahui hasilnya. Oh ya, jangan lupa selama hasilnya belum keluar Kiran coba konsumsi ini mungkin bisa membantumu untuk kembali hamil lagi." Sambil menyerahkan bingkisan berisi tablet obat.
Kiran mengambilnya lalu mengangguk.
"Baik, terima kasih atas bantuanmu. Minggu depan kami akan kembali untuk melihat hasilnya, sampai jumpa dokter Niken." Pamit Sid sambil merangkul Kiran dan membawanya keluar.
Selama perjalanan Kiran tak berhenti berfikir. Berpikir tentang masalahnya bersama Sid saat ini, yang tiba-tiba memiliki kendala untuk menambah keturunannya.
"Sid, kenapa sekarang kita bisa susah memiliki keturunan lagi? Apa mungkin aku bermasalah?" Sid melirik Kiran dengan tangan tetap menyetir mobil lalu kembali memfokuskan dirinya menyetir.
"Kenapa bicara seperti itu? Mungkin hanya belum saja, bersabarlah dan semua akan baik-baik saja." Jawab Sid disertai senyuman yang mampu membuat hati Kiran menghangat.
"Kenapa kau begitu ingin lagi memiliki seorang anak diusia yang tak lagi muda?" Sid menghentikan mobilnya, bukan karena pertanyaan Kiran melainkan karena sudah sampai di rumah mereka.
"Dengar sayang, aku hanya ingin hiburan dari anak-anak kita dimasa tua kita nanti." Menghela napas sebentar lalu melirik istrinya kembali. "Mungkin saja saat Kal, Ira, dan Ima dewasa kita tidak akan terlalu kesepian jika ada anak kita yang masih kecil." Sambungnya sambil tersenyum hangat lagi.
Kiran terdiam, memikirkan perkataan Sid.
"Kau benar, anak-anak tidak akan selamanya bersama kita. Mereka akan pergi baik menempuh pendidikan, atau menikah dengan pasangannya lalu ikut ke rumah pasangannya." Sid mengangguk, lalu membukakan sabuk pengaman Kiran.
"Setidaknya kita tidak kesepian di masa tua kita nanti." Sid mengulangi ucapannya.
"Iya, ayo turun kita sudah sampai di rumah kan?" Sid mengangguk, lalu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Kiran.
Saat turun dari mobil Kiran merasa asa yang aneh dengan dirinya, ia merasa tubuhnya terasa berat dan seperti sedang menginginkan sesuatu yang belum pernah dimakannya.
Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba ingin ikan goreng? Apa aku hamil lagi?
Kiran menggeleng, lalu mengikuti langkah kaki Sid yang sudah memasuki rumah. Saat memasuki rumah Kiran kembali merasakan keanehan pada tubuhnya.
Ia merasa begitu letih. Padahal tadi Kiran baik-baik saja, tapi saat ini malah menjadi tiba-tiba merasa letih dan mengantuk.
Kiran duduk di sofa ruang keluarga yang kosong, lalu menyandarkan kepalanya ke kepala kursi hingga tak sadar bahwa kantuk telah menyerangnya hingga membuatnya terlelap di sofa.
Sid pun merasa bingung ketika mendapati Kiran sudah tertidur diatas sofa ruang keluarga dengan posisi duduk bersandar...
Bersambung....
__ADS_1