Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Hati yang Saling Terikat


__ADS_3

Sudah satu minggu, sejak tragedi tersebut. Sid, ayah Deva dan paman Dendi terus mengerahkan anak buah mereka untuk mencari Kiran dan ibu Rhea.


"Sid, ini sudah satu minggu. Lebih baik kita hentikan pencarian ini, mungkin mereka sudah tiada." Ucap ayah Deva pelan.


"Jika jasad Maya dan anak buahnya bisa ditemukan, lalu mengapa jasad Kiran dan ibu Rhea tidak?" Sid menatap tajam pada ayahnya. Di hari ke empat pencarian, memang jasad Maya dan para anak buahnya sudah ditemukan.


"Sid, Kiran dan ibu Rhea jatuh ke dalam laut sebelum kapal itu meledak! Mungkin saja saat kapal meledak mereka sudah hanyut terbawa ombak!" Ayah Deva berusaha meyakinkan Sid.


"Jika ayah menghentikan pencarian ini, maka aku sendiri yang akan turun mencari Kiran! Aku akan percaya pada ayah bahwa mereka tiada jika jasadnya bisa dibawa ke hadapanku. Tapi, jika tidak aku akan terus mencari mereka. Jika di laut tidak ada, aku akan mencari mereka ke seluruh daerah-daerah yang terhubung dengan lautan ini!" Ucap Sid kukuh pada pendiriannya.


Aku yakin, kau masih hidup. Hatiku dan hatimu sudah saling terikat, jika salah satu tiada pasti aku juga akan tiada.


Sid meraba dadanya, mencoba kembali meyakinkan dirinya sendiri dan mempercayai kekuasaan Tuhan. Dia yakin sepenuhnya Kirananya masih hidup, seiring dengan napasnya yang masih berhembus.


Jika Tuhan memungkinkan, maka kenapa manusia membuatnya menjadi tidak mungkin?


"Baiklah, jika itu keputusanmu. Ayah harap kepercayaanmu itu memang benar. Tapi, jika itu tidak benar ayah berharap juga kau tidak mengejar bayangan semu." Ayah Deva menatap dingin pada Sid.


Aisha, mengapa hati putramu ini begitu keras jika menyangkut hal tentang cinta dan dicintai? Aku mohon, bujuklah Tuhan kita agar mengembalikan kebahagiaannya.


Ayah Deva menghela napas kasar, lalu bergegas meninggalkan Sid sendirian berlutut di sisi pantai.


"Kembalilah, hanya kau yang aku harapkan saat ini. Kau sumber kebahagiaanku, kau warna cintaku." Lirih Sid sambil merentangkan tangannya, menyambut semilir angin pantai yang berhembus kencang.


Rentangan tangan itu, seolah meminta pada Tuhan agar mendatangkan wanita yang sangat ia cintai tersebut.


...----------------...


Di tempat lain, seorang wanita dengan perut sedikit buncit dan wanita lainnya yang hampir menginjak usia enam puluh tahun sedang terbaring lemah tak berdaya.


Wajah keduanya pucat, bibirnya pun sudah memucat. Seorang nenek terus membakar kayu di tungku apinya, mencoba menghangatkan tubuh kedua wanita yang terbaring lemah tersebut.


Seorang kakek juga ikut membantu, keduanya sudah tiga malam menunggu dua wanita asing tersebut sadar. Tepat sudah tiga malam juga keduanya menemukan dua wanita asing itu terbaring di sisi pantai terpencil dalam keadaan mengenaskan.


"Bagaimana, apa sudah ada perkembangan?" Tanya kakek itu pada nenek yang sedang duduk di samping dua wanita itu.


"Belum, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit."Jawab nenek bernama Anjum tersebut.

__ADS_1


"Rumah sakit? Jangankan rumah sakit, kita sendiri tidak mampu makan setiap hari. Lalu darimana kita harus membayar biaya rumah sakit?" Kakek bernama Narja tersebut menghela napas, menatap langit-langit rumahnya yang terdapat banyak lubang. Mungkin jika hujan, rumah mereka akan basah kuyup. Dinding yang terbuat dari papan tipis, terdapat banyak celah juga.


Tiba-tiba salah satu dari kedua wanita itu terbatuk-batuk.


"Lihat, Dia sadar!" Kakek Narja tersenyum. Nenek Anjum langsung menghampiri wanita yang berperut buncit tersebut sambil membawa segelas air hangat.


"Nak, kau sudah sadar?" Tanya nenek Anjum pada wanita itu.


"Aku dimana? Ibuku mana? Bayiku?" Wanita itu terkejut, mendapati dirinya sedang di rumah yang asing. Dia meraba perutnya, lalu menghela napas panjang setelah merasakan gerakan lembut di perutnya.


Lalu melirik ke sampingnya, menghela napas lagi karena menemukan seseorang yang dicarinya.


"Kau di rumah kami, maaf jika keadaannya seperti ini." Ucap nenek Anjum sambil memberikan segelas air pada wanita itu.


"Nak, jika boleh kami tahu apa yang terjadi? Sehingga kalian bisa terdampar di pantai?" Kakek Narja bertanya dengan nada penasaran.


Wanita itu terdiam, mengingat semua kejadian yang menimpanya.


Tiba-tiba wanita yang dipanggilnya ibu terbangun, dengan terbatuk-batuk juga. Nenek Anjum kembali mengambil segelas air hangat, dan membantu wanita itu duduk.


"Ibu, ibu, bangunlah! Apa ibu baik-baik saja?" Setelah terbangun, wanita itu langsung saling memeluk.


"Ibu, ibu tidak apa-apa kan?" Ibu Rhea mengangguk cepat.


"Nak, syukurlah kalian baik-baik saja." Ucap kakek Narja.


Ibu Rhea dan Kiran menatap kakek Narja dan nenek Anjum penuh rasa terima kasih.


"Kek, apa kakek dan nenek yang menemukan kami?" Kakek Narja dan nenek Anjum mengangguk.


"Tapi maaf, kami tidak bisa membawa kalian ke rumah sakit. Kami tidak punya uang, bahkan untuk makan sehari-haripun kami tidak punya." Jawab nenek Anjum dengan wajah sedih namun terlihat tegar.


Ibu Rhea dan Kiran tersenyum, lalu menatap sekeliling rumah yang menjadi tempat mereka berteduh saat ini. Sungguh miris, rumah tidak layak untuk di sebut tempat tinggal.


"Tidak Nek, kek, kami sangat berterima kasih atas pertolongan kalian. Jika tidak ada kalian, mungkin kami tidak akan ada disini saat ini." Ucap Kiran yang diangguki ibu Rhea.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa kalian terdampar di pantai terpencil seperti ini?" Tanya kakek Narja yang sudah sangat penasaran, sejak menemukan mereka di sisi pantai.

__ADS_1


"Kek, kami sebenarnya sedang tertimpa masalah besar, keluarga kami menjadi sandera seorang wanita jahat bernama Maya." Kiran mulai menceritakan segalanya, kakek Narja dan nenek Anjum mendengarkan.


Mereka terkejut, setelah mendengarkan apa yang dialami Kiran dan ibu Rhea.


"Apa? Ya Tuhan, sungguh jahat sekali orang itu." Ucap nenek Anjum dengan sangat terkejut.


"Nek, apa disini ada telepon umum atau nenek punya ponsel?"


"Maaf, nak." Ucap kakek Narja dengan wajah sedih. "Disini tidak ada telepon umum, bahkan kami tidak punya ponsel. Kita harus ke luar pantai ini, untuk menemukan telepon."


Kiran langsung sedih, mendengar hal tersebut.


"Kiran, jangan bersedih. Kita pasti bisa menghadapi semua ini, semoga hati Sid tergerak dan datang kesini untuk mencari kita." Ibu Rhea mencoba menghibur Kiran.


"Nak Rhea, nak Kiran, mari kita makan. Kalian pasti lapar, tapi maaf nenek dan kakek tidak bisa memberikan makanan yang enak." Ucap nenek Anjum sambil membantu Kiran turun dari ranjang.


"Tidak apa-apa, nek. Maaf keberadaan kami jadi merepotkan kakek dan nenek." Ucap Kiran tak enak hati.


"Tidak apa-apa, kakek dan nenek senang membantu kalian. Apalagi nak Kiran sedang hamil, benar kan?" Tanya kakek Narja.


Kiran mengangguk cepat.


Mereka duduk di atas karpet yang tergelar, karpet tersebut tampak sudah berlubang-lubang sama seperti keadaan rumah nenek dan kakek tersebut.


Nenek Anjum menyajikan makanan, bukan nasi yang tersaji di atas piring yang terbuat dari tanah liat tersebut, melainkan singkong yang sudah direbus dengan sambal yang hanya memakai garam.


Kiran menangis terisak, betapa susahnya kakek Narja dan nenek Anjum. Tapi, mereka masih bisa tersenyum dan berbaik hati menolongnya dengan ibu Rhea.


"Nek, apa kalian hanya tinggal berdua disini?"


"Tidak, kami memiliki seorang putri. Dia sudah menikah delapan tahun yang lalu dengan seorang pemuda dari luar kota. Setiap hari kami menunggunya menemui kami, tapi sejak itu juga dia tak pernah kembali." Nenek Anjum menitikkan air mata, disaat menceritakan tentang anaknya.


"Maaf, nek, kek, aku membuat kalian bersedih."


"Tidak apa-apa, cepatlah makan yang banyak. Kasihan bayimu, pasti dia juga kelaparan di dalam sana." Kiran langsung melahap singkong rebus tersebut, dia merasa sangat menikmatinya. Entah karena lapar, atau karena dia baru pertama kali memakan singkong.


Bersambung...

__ADS_1


Sedih guys 😭😭😭😌🙏🏻🙏🏻


__ADS_2