
"Kiran, kau serius selama ini tinggal dirumah ini?" Tanya Sid saat ibu Rhea sedang berada di dapur menyiapkan makanan.
Kiran mengangguk, sambil tersenyum tipis.
"Maaf." Sid menunduk.
"Untuk apa minta maaf?"
"Hmm... Menurutmu?" Sid semakin menunduk.
Bagaimana bisa, istriku sendiri dalam keadaan seperti ini sementara aku berada di rumah mewah. Ya Tuhan, pasti selama ini dia sangat menderita.
"Sudahlah, jangan dipikirkan." Kiran meraih tangan Sid dan menggenggamnya. "Boleh aku meminta sesuatu padamu?" Sid mengangguk cepat.
Aku akan selalu memberikan apa yang kau inginkan, asalkan kau tetap bersamaku.
"Katakanlah!"
"Tolong perbaiki rumah ini, selama ini kakek Narja dan nenek Anjum sangat berjasa padaku. Anggap saja, kau membalas kebaikan mereka dengan memberi mereka rumah yang layak huni karena telah menyelamatkanku dan mengurusku." Pinta Kiran dengan penuh harap pada Sid.
Apa yang tidak untukmu? Kau adalah jiwaku, jika kau bahagia maka aku juga akan bahagia.
Sid tersenyum, lalu mengangguk. Ia mendekap Kiran lalu mencium puncak kepalanya.
Ini yang aku rindukan darimu, Sid. Dari luar kau terlihat galak, tapi hatimu sangat penuh kebaikan.
"Terima kasih." Ucap Kiran sambil membalas dekapan Sid.
"Tidak masalah, selama itu membuatmu bahagia." Balas Sid lalu kembali mencium puncak kepala Kiran.
"Kalian bermesraan terus!" Protes ibu Rhea yang baru keluar dari dapur dengan membawa semangkuk singkong di tangannya.
"Bu!" Kiran cemberut, dia malu sendiri.
"Makanlah!" Ibu Rhea menyajikan singkong itu.
Sid kembali tercengang, bukan karena tidak tahu apa makanan yang berada di hadapannya, tapi karena dia kembali menyadari bahwa mungkin selama ini Kiran juga setiap hari memakan makanan tersebut.
Sid mengambil singkong itu, dan mencoba rasanya. Untuk pertama kali dia memakan singkong yang hanya di rebus saja.
Apa Kiranku juga memakan ini setiap harinya?
Hatinya kembali sakit, membayangkan Kiran yang hanya memakan singkong rebus saja setiap hari. Pantas saja, badannya kurus walaupun sedang hamil karena ternyata jangankan gizi, bahkan nasi saja mereka tidak bisa memakannya karena keadaan mereka yang sangat sulit seperti ini.
Dia memasukan singkong itu kedalam mulutnya. Detik berikutnya air mata berhasil lolos dari matanya.
Hambar, rasanya sangat hambar. Tak bisa aku bayangkan setiap hari Kiran hanya memakan ini saja.
__ADS_1
Sid menghapus air matanya, membuat kedua wanita berbeda usia di hadapannya kebingungan.
"Sid, kenapa?" Tanya ibu Rhea dengan wajah bingung.
"Tidak, bu. Apa kalian setiap hari hanya memakan ini?" Tanya Sid sambil menghapus air matanya lagi.
Kiran mengangguk.
"Hampir setiap hari kami memakan ini, jika hasil penjualan ikan hanya sedikit dan tidak cukup untuk membeli beras." Jawab ibu Rhea sambil menunduk.
Sid mengusap wajahnya, pikirannya membayangkan bagaimana setiap hari istrinya memakan singkong rebus saja. Bahkan, mereka harus berjalan jauh agar bisa menjual ikan seperti tadi pada saat Sid bertemu dengan Kiran.
"Sid, jangan sedih." Kiran mengelus punggung Sid.
"Maaf, maaf, dan maaf. Aku seharusnya waktu itu tetap bersamamu, dan aku seharusnya menceritakan tentang Maya padamu. Aku bodoh, aku seharusnya dihukum karena membuatmu seperti ini." Sid memeluk Kiran lagi, isakan terdengar dari bibirnya.
Semenjak bersama Kiran, Sid jadi lebih mudah menangis.
"Menangislah, jika itu meringankan bebanmu dan membuatmu sedikit tenang. Jika kau harus dihukum, itu sudah terjadi. Perpisahan kita kemarin adalah hukuman bagimu. Aku tidak akan pernah menghukummu, yang pantas menghukum manusia adalah Sang Pencipta, bukan manusia." Kata-kata bijak Kiran lontarkan pada Sid, membuat Sid semakin terharu dan bangga memiliki sosok istri seperti Kiran.
"Terima kasih, aku bangga memiliki dirimu." Ucap Sid membuat Kiran dan ibu Rhea tersenyum.
"Terima kasih kembali, suamiku. Aku juga bangga memiliki suami yang sangat setia seperti dirimu. Bahkan, disaat aku hilang seperti ini kau masih percaya bahwa aku masih ada." Sid meraih kedua tangan Kiran, menggenggamnya erat.
Dia sangat takut, takut kehilangan lagi Kiran.
Tuhan, jangan kau pisahkan kami lagi.
"Tunggu, Sid. Kita harus menunggu kakek dan nenek dulu, selain itu aku juga baru akan pulang jika kau sudah memperbaiki rumah kakek Narja dan nenek Anjum ini." Sid menepuk keningnya.
"Baiklah, besok rumah ini akan segera diperbaiki. Sekarang, kalian ikut bersamaku kan?" Kiran mengangguk. "Kakek dan nenek yang telah menyelamatkanmu itu juga untuk sementara sampai rumah mereka selesai di buat akan tinggal di Villaku." Sambung Sid yang langsung diangguki Kiran.
Sore harinya, kakek Narja dan nenek Anjum baru pulang setelah seharian berlayar untuk menangkap ikan.
"Sepertinya di rumah kita ada tamu!" Gumam nenek Anjum yang terkejut melihat Sid sedang mengobrol dengan Kiran dan ibu Rhea.
"Iya, apa dia suaminya Kirana?" Nenek Anjum menggeleng tanda tak tahu.
"Kek, nek, kalian sudah pulang? Kemarilah, ada yang ingin kami bicarakan dengan kakek dan nenek." Kiran menarik tangan kakek Narja dan nenek Anjum untuk duduk di depan Sid.
"Perkenalkan, saya suaminya Kiran. Kek, nek, saya ingin membawa Kiran pulang. Sebelum itu, saya sangat berterima kasih atas kebaikan kakek dan nenek yang telah mengurus istri dan mertua saya saat mereka ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri. Sebagai balasannya, Kiran dan saya akan memperbaiki rumah kakek dan nenek." Jelas Sid langsung pada kakek Narja dan nenek Anjum.
"Nak, sudah kewajiban kami menolong sesama manusia. Tidak perlu melakukan apapun, kami ikhlas menolong Kiran dan bu Rhea." Balas nenek Anjum yang diangguki kakek Narja.
"Tidak, biarkan kami membalasnya." Sid mencoba meyakinkan keduanya.
"Baiklah, terima kasih banyak."
__ADS_1
"Terima kasih banyak juga, karena kakek dan nenek sudah menyelamatkan Kiran dan ibu mertuaku."
Sore itu, mereka membereskan barang-barang yang masih layak pakai di rumah kakek Narja dan nenek Anjum. Setelah semua beres, mereka langsung berangkat menuju Villa Sid yang tentunya harus menyeberangi lautan terlebih dahulu dengan perahu.
Sepanjang perjalanan, Sid tak henti-hentinya tersenyum gembira. Ia sangat terharu, karena istrinya dan bayinya yang masih berada di dalam perut itu ternyata sangat kuat.
Mereka sangat kuat, bahkan bisa melawan kematian yang sudah sangat dekat dengan mereka.
"Sid, kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu?" Tanya Kiran curiga.
Sid melirik Kiran yang duduk disebelahnya, lalu merangkulnya mesra dan mengusap perut Kiran lembut membuat bayi yang berada didalam perut istrinya itu menendang dengan sangat kencang.
"Lihat dan rasakan! Bukankah dulu kau ingin merasakan tendangan yang kuat darinya?" Sid mengangguk.
"Kiran, aku pikir walaupun selamat tapi bayiku tidak akan selamat. Tapi, apa yang aku pikirkan ternyata salah. Mungkin, jika bayi ini tidak akan selamat maka sudah terjadi dari dulu. Saat kau terus mengalami pendarahan tapi tidak keguguran. Aku sadar, dia kuat seperti ibunya." Ucap Sid sambil terus mengelus perut istrinya.
"Dia juga kuat seperti ayahnya. Dia anak kita, bukti kuatnya cinta kita." Kiran memegang tangan Sid yang mengelus perutnya, lalu mengarahkannya pada bagian yang ditendang.
"Aku sekarang yakin sekali, bahwa dia adalah bayi laki-laki."
"Kau memang tidak pernah berubah!" Ketus Kiran.
"Tentu saja, aku tidak akan berubah." Sid menyengir kuda. Jujur saja, hal yang paling ia rindukan dari Kiran adalah jika mereka sedang berdebat pasti Kiran akan terlihat lucu dan menggemaskan.
"Sid, bagaimana kabar ayah? Paman Dendi? Mira dan Lakshmi?" Hampir saja, Kiran melupakan keluarganya tersebut.
"Mereka baik, hanya saja paman Dendi jadi lebih suka menyendiri semenjak kepergian kalian. Mira juga sering menangis, jika merindukan ibu." Jawab Sid sambil menunjukkan kesedihannya kembali.
"Aku sangat merindukan kalian semua, kalian memiliki tempat-tenpat teristimewa dalam hatiku." Kiran melingkarkan lengannya di perut Sid.
Sid memeluk Kiran, namun pelukannya jadi berbeda karena perut Kiran yang besar menghalangi keduanya.
Tiba-tiba Kiran memegangi perutnya, lalu meringis kesakitan.
"Aaah!" Ringis Kiran.
"Ada apa?!" Sid mulai panik. "Apa kau akan melahirkan?" Kiran menggeleng.
"Tidak tahu, tiba-tiba sakit!" Jawab Kiran dengan wajah menahan sakit.
Sid yang panik langsung memanggil ibu Rhea.
"Bu, Kiran kesakitan!" Nenek Anjum yang bersama ibu Rhea ikut terkejut. Ibu Rhea dan nenek Anjum langsung berlari menghampiri Kiran.
"Ibu!" Panggil Kiran sedikit berteriak.
"Sid, sepertinya sudah saatnya!" Seru ibu Rhea.
__ADS_1
Sid yang tidak mengerti malah berdiri dengan wajah panik.
Bersambung...