Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Siddharth Yang Rapuh


__ADS_3

Sudah dua minggu lamanya, Sid mengurung diri di dalam kamarnya. Setiap malam, tak henti-hentinya menangis.


Ayah Deva selalu membawakan makan malamnya setiap waktu makan malam tiba, tapi pada saat pagi hari saat pelayan mengambilnya selalu utuh.


Jangankan Sid memakannya, bahkan menyentuhnyapun tidak sama sekali.


"Sid, ayah mohon makanlah sedikit saja." Ayah Deva menyendok makanan, dan mencoba menyuapi Sid.


Namun Sid menepisnya, sehingga membuat ayah Deva ikut tambah sedih. Semenjak kepergian Kiran, Sid tidak pernah bicara juga.


"Sid, demi ayah bicaralah! Makanlah walau hanya sedikit saja. Ayah mohon padamu, jika tidak ayah akan mengakhiri hidup ayah saja!" Ucap ayah Deva sambil menyendok lagi makanan, dan menyodorkannya pada Sid.


"Tidak, aku akan makan nanti." Sid berbicara, tapi ayah Deva tetap menangis.


"Sudah berapa hari kau tidak makan? Ayah minta kali ini saja, kau harus makan!" Tangis mulai pecah, ayah Deva sudah mulai pasrah dengan putranya ini.


"Baiklah." Ayah Deva langsung menyuapi Sid makanan, walaupun jelas terlihat bahwa Sid seperti mayat hidup.


Tatapannya kosong, seolah telah kehilangan arah hidup. Bahkan mengunyah makananpun sepertinya lama sekali.


Meski begitu, ayah Deva akan terus berusaha membuat putranya itu kembali seperti semula.


Kali ini, ayah Deva senang karena Sid mau makan walaupun hanya beberapa sendok. Itupun disuapi olehnya, hal itu membuat ayah Deva seperti memiliki anak kecil kembali.


"Ayah." Seseorang memasuki kamar Sid, memanggil Deva.


"Lakshmi, tolong simpan ini ke dapur. Ayah akan menemaninya terus." Perintahnya pada Lakshmi sambil memberikan piring berisi makanan.


Lakshmi menurut, dan langsung menyimpankan piring tersebut ke dapur. Tak lama ia sudah kembali lagi ke kamar Sid. Lakshmi mendekati Sid, dan duduk disamping kakaknya tersebut.


Perlahan, ia menyandarkan kepalanya di tangan Sid. Air mata Lakshmi turun, isakkan terdengar dari bibirnya.


"Kak, aku merindukanmu. Aku rindu bercanda denganmu." Lirih Lakshmi, yang membuat air mata Sid ikut turun. "Apa kakak tidak merindukanku? Aku sangat merindukan semuanya, canda dan tawa bersamamu. Apa kau tidak merindukan tingkah jahilku? Kak, aku rindu menjahilimu seperti dulu. Aku mohon kakak bicaralah padaku, marahilah aku saat aku berhasil menjahili kakak sampai kakak kesal dan jengkel padaku!" Sambung Lakshmi dengan isakan yang semakin keras.


"Sid, kau dengar? Kau dengarkan kata adikmu?" Tanya ayah Deva sambil membingkai wajah putranya yang tampak pucat.

__ADS_1


"Sid, besok peringatan kematian ibumu! Apa kau akan seperti ini di hari peringatannya? Apa kau tidak ingat pesan ibumu? Tersenyumlah, di hari dimana dia akan diperingati!" Tak menyerah begitu saja, ayah Deva dan Lakshmi terus membujuk Sid agar dia kembali bicara dan beraktivitas seperti biasa.


"Kak, aku tahu setelah kepergian kak Kiran kau sangat sedih. Tapi, jangan menjadi Sid yang rapuh seperti ini! Itu membuat kami tersiksa, sangat tersiksa!" Sid tetap diam, hanya air mata yang berhasil meluncur di wajahnya yang sudah ditumbuhi kumis dan janggut akibat tak mengurus dirinya sendiri.


Ayah Deva dan Lakshmi kembali terisak, berbagai cara mereka lakukan agar Sid kembali normal. Tapi, rasanya hanya sia-sia saja yang mereka dapatkan. Sid tetap seperti mayat hidup. Bernapas tapi tak bergerak.


...----------------...


Sudah sangat jauh, Kiran dan ibu Rhea berjalan menjajakan dagangan mereka. Tapi, baru tiga bungkus ikan yang berhasil mereka jual. Meski begitu, keduanya tak menyerah. Walaupun keringat sudah membasahi tubuh mereka akibat teriknya matahari yang menyengat tubuh keduanya.


"Bu, kita berhenti sebentar. Aku lelah!" Seru Kiran sambil menunjuk pohon yang rindang dengan daunnya.


"Ayo, kau pasti lelah." Ibu Rhea mengambil kantong kresek yang dibawa Kiran, dan berjalan menuju pohon tersebut.


Kiran dan ibu Rhea terduduk di bawah pohon itu. Kiran mengelus perutnya yang sudah mulai membesar, dengan penuh kasih sayang.


"Kiran, apa kau lapar? Atau haus?" Kiran menggeleng.


"Bu, aku tidak lapar ataupun haus." Kiran tersenyum.


"Tidak, bu. Dagangan kita belum banyak yang terjual, kita jual lagi sampai habis, baru kita pulang." Kiran menggeleng tak setuju.


"Tapi bagaimana denganmu? Atau biar kau saja yang pulang, ibu akan tetap menjual dagangan ini." Usul ibu Rhea.


Kiran menggeleng lagi.


"Kiran, aku mohon jangan keras kepala. Jika nanti kita bertemu Sid dan melihat keadaanmu seperti itu, apa yang harus ibu katakan padanya?" Ibu Rhea memelas. Kata-katanya sedikit menghibur Kiran, tapi membuat Kiran jadi semakin merindukan ayah dari bayinya tersebut.


"Ibu, katakan saja padanya bahwa aku ngidam berjualan ikan-ikan ini!" Jawab Kiran diikuti tawa renyahnya.


Ibu Rhea terharu, walaupun dalam keadaan seperti ini Kiran masih bisa bercanda.


Andra, tolong kau lihatlah! Putrimu ini sama seperti dirimu, dia masih bisa bercanda dan tertawa walaupun hidupnya sedang miris seperti ini. Terima kasih, kau telah memberikan aku putri yang sangat kuat. Kali ini, aku meminta padamu agar meminta pada Tuhan untuk mengakhiri penderitaan putriku, tolong bawa Sid pada Kiran.


"Bu, kenapa ibu menangis?" Kiran menghapus air mata Rhea, dan memeluknya.

__ADS_1


"Ibu merindukan ayahmu." Jawab ibu Rhea asal.


"Bu, ayah sudah bahagia disana." Kiran menunjuk langit.


"Tidak, dia pasti menangis melihat kondisi kita saat ini." Kiran menggeleng.


"Bu, justru ayah bahagia."


"Kenapa seperti itu?" Tanya ibu Rhea dengan wajah heran.


"Karena kita memilih bertahan dan bekerja keras, daripada mengemis dalam keadaan seperti ini." Jawab Kiran begitu bijaknya, ibu Rhea semakin terharu dan bangga pada Kiran.


"Ibu beruntung, memiliki putri seperti dirimu. Semoga kebahagiaan akan segera datang, dan tidak akan ada lagi pengganggu dalam rumah tanggamu dan Sid." Kiran mengangguk, lalu memeluk ibunya dengan sangat erat.


"Bu, ayo kita jual ikan-ikan ini lagi." Ibu Rhea mengangguk cepat, lalu berdiri dan membawa dua kantung kresek berisi macam-macam ikan yang akan dijualnya dari hasil melautnya kakek Narja.


Mereka kembali menjajakan dagangan dengan berjalan mengelilingi desa terpencil di dekat pantai tersebut.


Sore hari, Kiran dan ibu Rhea pulang. Dagangan mereka tinggal sedikit, sehingga Kiran dan ibu Rhea pulang dengan hati yang senang.


"Bu, pak, kami pulang." Seru ibu Rhea pada kakek Narja dan nenek Anjum.


"Wah, putri dan cucuku sudah pulang. Nenek dan kakek sudah sangat khawatir, takut terjadi apa-apa pada kalian." Sambut nenek Anjum.


"Kiran keras kepala, bu. Tadi aku sudah mengajaknya pulang, tapi dia tetap ingin melanjutkan berjualan." Adu ibu Rhea pada nenek Anjum.


"Kiran, besok kau tidak boleh berjualan! Ini hukuman karena kau keras kepala." Kiran cemberut mendengar kata-kata nenek Anjum.


Sejak kehadiran Kiran dan ibu Rhea, nenek Anjum dan kakek Narja menjadi sangat bahagia. Pasalnya, rumah mereka menjadi hangat dengan candaan dari Kiran.


Bahkan, warga desa disana yang hanya berjumlah sedikit begitu menyayangi Kiran. Mereka menganggap Kiran dan ibu Rhea seperti saudaranya sendiri. Apalagi, ada seorang wanita muda yang juga sedang mengandung empat bulan sering mengunjungi Kiran. Tak lupa juga memberi Kiran pakaian dan perlengkapan bayi.


Bersambung...


Hmm... Author sedih liat Sid kaya gitu, tapi bahagia karena Kiran yang kuat dan tegar walaupun harus menjalani hidup susah di tengah desa terpencil di sebuah pantai.

__ADS_1


__ADS_2