
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Sid. Hari dimana sebuah pulau terpencil sudah tidak akan terpencil lagi, pulau yang semula tidak ada alat komunikasi atau alat elektronik lainnya kini akan mulai diubah oleh Sid.
"Pak, hari ini adalah peresmian dimulainya proyek kita. Apakah anda bisa datang bersama istri anda?" Tanya salah seorang anak buah Sid.
"Tentu saja, ini adalah proyek besar. Aku akan meresmikannya bersama istriku." Jawab Sid sambil menghentikan aktivitasnya yang sedang terfokus pada laptopnya.
"Baik, pak kami akan mempersiapkan kedatangan anda." Sid menganggu, lalu mengisyaratkan pada anak buahnya agar keluar dari ruangan hotelnya.
Setelah anak buahnya keluar, Sid menyimpan laptopnya dan memasuki kamar. Terlihat Kiran sedang berada di kamar mandi, ia sedang memandikan bayinya.
"Wah, anakku sedang mandi ternyata." Seru Sid sambil melangkah menghampiri Kiran.
Baby Kal tersenyum saat Sid sudah berada di samping Kiran, seolah suka saat kedua orang tuanya itu saling berdekatan.
"Dia ini sudah seperti anak dewasa saja, saat orang tuanya berdekatan pasti akan tersenyum. Padahal baru beberapa hari dia lahir." Ujar Sid sambil merangkul Kiran.
"Mungkin dia senang kita selalu berdekatan seperti ini." Ujar Kiran menimpali.
"Kalau begitu setiap hari kita harus berdekatan, agar Kal tersenyum terus." Kiran menoleh lalu menatapa wajah Sid dengan tatapan tajam.
"Bilang saja itu maumu, jangan gunakan anak kita sebagai alasan!" Cibir Kiran sambil memakaikan handuk pada baby Kal dan membawanya menuju ranjang.
Sid terkekeh, lalu dia ikut menyusul Kiran.
"Kau tahu maksudku ternyata!" Sid duduk di sebelah baby Kal, dan menggelitik perutnya.
"Tentu saja, kau memang rajanya mesum!" Kiran memakaikan pakaian pada baby Kal.
"Biarkan aku yang memakaikan pakaian padanya, kau kerjakan yang lain saja." Perintah Sid yang membuat Kiran menatapnya ragu.
"Memangnya kau bisa?" Sid mengangguk cepat. "Baiklah, aku akan memasak sarapan dulu." Sambung Kiran sambil beranjak lalu bergegas menuju dapur.
"Ayo sayang! Ayah akan mendandanimu." Gumam Sid sambil menyengir kuda.
Sid mulai memakaikan pakaian pada baby Kal, dia tidak ingat bahwa bayi harus dipakaikan minyak telon.
Setelah pakaian dipakaikan, barulah Sid memakaikan minyak telon di bajunya baby Kal. Sid memakaikan minyak telon dengan sangat banyak, sehingga wanginya tercium dari jauh.
"Wangi sekali." Gumam Sid sambil terus mendandani baby Kal.
Setelah puas dengan minyak telon, kini Sid beralih pada bedak bayi. Dia langsung memakaika bedak bayi itu ke wajah baby Kal.
"Selesai!" Seru Sid sambil tersenyum puas karena telah berhasil mendandani bayinya jadi seperti donat yang ditaburi gula pasir.
"Sid, bagaimana? Kau bisa kan mendandani..." Ucapan Kiran terhenti pada saat melihat penampilan bayinya yang sudah seperti donat yang ditaburi gula pasir tersebut.
"Bisa, lihat! Aku sudah selesai mendandaninya." Jawab Sid sambil menunjukkan baby Kal pada Kiran.
"Kau tidak waras, ya? Dia itu bayi bukan donat! Dia anakmu, Siddharth!" Teriak Kiran penuh emosi.
"Memangnya kenapa? Ini sangat bagus, kan?" Sid memperhatikan kembali baby Kal.
"Bagus kau bilang? Kau membuat anakku seperti donat yang ditaburi gula pasir!" Kiran melangkah menghampiri Sid, lalu menarik telinganya. Tangannya terlepas dari telinga Sid pada saat mencium wangi yang begitu menyengat.
__ADS_1
Lalu pandangan Kiran tertuju pada botol minyak telon yang isinya tinggal setengah saja.
"Apa lagi ini? Bagaimana bisa, kau memakaikan setengah botol minyak telon ini pada bayi? Dan bukan tubuhnya yang kau baluri, tapi bajunya!" Peperangan sepertinya akan dimulai, Sid hanya bisa menyengir kuda dan menelan salivanya.
"Maaf, aku tidak tahu!" Kiran menepuk keningnya, lalu memijit pelipisnya. Dia kembali memperhatikan baby Kal, lucu memang. Tapi, jika dibawa keluar pasti akan ditertawakan banyak orang.
"Sudahlah, pergilah! Atau aku akan semakin kesal padamu!" Usir Kiran. Namun Sid tidak berdiri sedikitpun.
"Tidak, aku ingin melihat cara mendandani bayi saja." Kira menghela napas pelan, mencoba meredam kekesalannya itu.
"Baiklah. Lihat dengan baik!" Perintah Kiran.
Sid mengangguk cepat, tatapannya ia fokuskan untuk melihat setiap gerakan istrinya dalam mendandani bayi.
"Pertama, kau pakaikan minyak telonnya pada bagian perut dan punggungnya." Sid mengangguk cepat, paham dengan arahan Kiran. "Pijat dengan pelan, lalu baru setelah itu kau memakaikan baju pada Kal. Jangan memakaikan terlalu banyak minyak telon ataupun bedak bayi! Atau penampilannya akan seperti donat gula pasir!" Sid cemberut mendengar kata donat.
"Selesai!" Seru Kiran yang langsung menggendong baby Kal.
"Good!" Sid mengacungkan kedua jempol tangannya pada Kiran.
"Sekarang kau bersiaplah, lalu sarapan. Kau akan pergi ke peresmian itu, kan?" Sid mengangguk cepat.
"Kau juga, karena kita akan pergi bersama. Dengan baby Kal juga." Kiran mengangguk.
"Baiklah, setelah aku menyusuinya aku akan bersiap-siap."
Tepat pukul delapan, keluarga kecil yang sudah rapi tersebut keluar dari hotel, dengan baby Kal yang selalu berada di gendongan sang ibu.
Ketiganya memasuki mobil, Sid menyetir mobilnya sendiri kali ini karena hampir seluruh anak buahnya sibuk di lokasi proyek.
"Tuan muda, biarkan aku yang menyetir saja." Sahut Reihan dari belakang.
"Baiklah, tapi pelan-pelan saja." Sid dan Kiran berpindah ke belakang. Kini setir diambil alih oleh Reihan, Ridan duduk di samping Reihan.
Mobil melaju pelan, menuju pelabuhan karena tidak ada jalan darat menuju lokasi proyek.
Dalam satu jam, akhirnya mereka sapai di desa terpencil itu. Nenek Anjum, kakek Narja dan Ami sudah menunggu.
"Tuan, terima kasih atas kebaikan anda." Ucap kakek Narja, berterima kasih atas rumah baru mereka.
"Terima kasih kembali, kek atas jasa kalian yang mengurus dan menjaga istriku serta ibu mertuaku."
"Hai Kiran, hai pak Sid, hai juga baby Kal." Sapa Ami sambil mencolek pipi gembul baby Kal.
"Ami, kau ikut juga." Balas Kiran sambil memeluk Ami sebentar.
"Tentu saja, aku ingin melihat si tampan ini." Ami kembali mencolek pipi gembul baby Kal, tak sadar Sid menatapnya dengan tatapan tajam.
Kiran langsung menyikut Sid, menyadari tatapan tajam Sid pada Ami.
"Kiran!" Sid cemberut.
"Kau ini kenapa?" Bisik Kiran. "Jangan begitu, memalukan!"
__ADS_1
"Apa?!" Sid membelalak.
"Tidak, sekarang tunjukkan kejutan kita untuk Ami!" Sid mengangguk.
"Ami, kami ingin memberikan sesuatu padamu. Entah itu membuatmu bahagia, atau justru sedih. Tapi kami tidak bermaksud membuatmu bersedih, jika hal itu membuatmu sedih." Ucap Sid panjang lebar. Ami mengernyitkan dahinya tak mengerti dan penasaran.
"Ada apa? Kenapa aku akan bersedih?" Kiran dan Sid saling memandang, lalu Kiran mengangguk pada Sid dak Sid juga mengangguk pada Kiran.
"Bawa dia!" Perintah Sid pada Ridan.
Ridan mengangguk patuh, lalu pergi sebentar dan kembali dengan seorang pria bertubuh tinggi dan berpenampilan kusut. Wajahnya babak belur, dipenuhi lebam serta sudut bibirnya berdarah. Seperti orang yang habis dipukuli.
"Ra... Rafa?!" Ami terlihat sangat terkejut, pria bernama Rafa itu menunduk.
"Dia suamimu, Ami?" Tanya Kiran yang diangguki pelan oleh Ami.
Ayahnya dan ibunya Ami yang tadi berdiri dari belakang menghampiri Ami.
Plak...
Sebuah tamparan keras dari ayahnya Ami mendarat di pipi Rafa.
Plak...
Tamparan kedua mendarat dari ibunya Ami.
Plak... Plak...
Disusul oleh Ami, yang mendaratkan dua kali tamparan di pipi kanan dan kiri Rafa.
"Darimana saja, kau? Hah?!" Teriak Ami sambil terus memukuli Rafa.
Rafa bersimpuh dihadapan Ami, dia menangis tersedu-sedu.
"Kenapa? Kenapa kau menangis?! Pergi saja selamanya, bila perlu pergilah ke neraka!" Ibunya Ami membangunkan Rafa, lalu mendorongnya hingga terjatuh.
"Hukumlah aku, bu. Aku pantas dapat ini, aku seorang pengecut yang meninggalkan istrinya pada saat hamil." Rafa mulai membuka suara.
"Iya, bahkan kau pantas di tusuk besi panas sampai kau mati!" Ayahnya Ami menghujani Rafa dengan pukulan yang bertubi-tubi.
Bersambung...
Nih author bawa visualnya Siddharth dan Kiran
**
**
**
__ADS_1
**