Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kiran Shock Berat


__ADS_3

Kiran meraba dadanya, hal tersebut membuatnya sangat shock berat. Hampir saja ia kehilangan nyawanya karena tindakannya sendiri.


"Nona, nona, nona muda anda tidak apa-apa?" Reihan menggucang tubuh Kiran pelan, mencoba menyadarkan Kiran dari shocknya.


Kiran menoleh, lalu menggeleng. Tapi jantungnya tetap saja berdebar-debar. Hatinya dipenuhi rasa takut.


"Sid, panggilkan Sid!"


Reihan membelalakan matanya. "Nona, tuan muda baru saja berangkat ke Singapura, mungkin besok dia baru akan kembali. Lebih baik nona istirahat saja, tenangkan diri anda." Kiran mengangguk saja, percuma dia menuntut agar Sid pulang sekarang juga.


Kiran membaringkan dirinya diatas bed rumah sakit, pikirannya terus memikirkan kejadian barusan saat ia hampir terjatuh dari lantai paling atas rumah sakit.


"Nona, apa perlu kupanggilkan dokter untuk memeriksa anda?" Kiran menggeleng cepat.


Sid, aku takut.


"Tapi nona baik-baik saja, kan?" Reihan kembali bertanya, memastikan bahwa nona mudanya memang baik-baik saja.


Kiran tidak menjawab, pandangannya lurus ke atas. Hal itu membuat Reihan cukup cemas.


"Nona." Reihan memanggil Kiran lagi.


Sepertinya aku harus memanggil dokter, keadaan nona Kiran seperti tidak baik.


Reihan berbalik, keluar dari ruangan yang ditempati Kiran. Sepuluh menit kemudian ia kembali membawa dokter untuk memeriksa Kiran.


"Dokter, sepertinya nona Kiran tidak baik-baik saja. Tolong periksa dia." Sambil menunjuk Kiran yang berbaring namun tak tidur, matanya terus membuka menatap lurus ke atas.


"Nona Kirana, anda baik-baik saja kan? Tolong bangunlah sebentar." Dokter mencoba mengajak Kiran bicara.


Kiran bangun, namun tak berucap separah katapun. Pandangannya tetap memandang lurus tak menoleh pada dokter yang sedang memeriksanya.


"Apa terjadi sesuatu padanya? Mungkin sesuatu yang sangat mengejutkan?" Reihan mengangguk, kemudian menceritakan kejadian yang tadi dilihatnya.


"Apa yang terjadi pada nona? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Reihan cemas.


"Dia mengalami shock berat, mungkin karena kejadian baru saja ia jadi sangat terkejut dan ketakutan." Reihan langsung membelalak, ia ketakutan.


Apa yang harus aku katakan jika tuan muda kembali? Dia pasti akan sangat marah besar!


"Apa dia akan pulih lagi?"


"Ya, setiap orang yang shock perlahan akan pulih, tapi waktunya tidak bisa ditentukan. Terkadang bisa bertahun-tahun lamanya dia baru sembuh. Tapi, mungkin ini tidak akan lama. Oh ya, apakah dia sedang hamil juga?" Reihan mengangguk cepat.


"Dia sedang mengandung anak kembar."

__ADS_1


"Begitu? Dimana suaminya? Dalam keadaan seperti ini seharusnya orang-orang terdekatnya menemaninya, agar keadaannya cepat pulih."


"Suaminya baru berangkat ke Singapura, untuk menjemput dokter spesialis Leukimia untuk mengobati kerabat kami." Jawab Reihan gugup.


"Apa maksudmu dia istrnya tuan Sid?" Reihan mengangguk. "Ya Tuhan, bisa mati aku!" Dokter itu berubah jadi cemas, saat mengetahui bahwa Kiran adalah istri dari Sid.


"Maka dari itu, tolong bantu aku agar saat besok tuan Sid datang nona Kiran sudah baik-baik saja." Pinta Reihan dengan wajah memelas dan cemas.


"Baiklah, aku akan berusaha menyadarkannya." Sambil menunjuk Kiran yang sedari tadi tidak bergerak dan berkata apapun sedikitpun.


...----------------...


Malam harinya dokter yang memeriksa Kiran kembali menemui Kiran, untuk membuat Kiran normal kembali tentunya.


"Nona Kiran, apa anda mendengarku? Tuan Sid akan pulang, ayolah bicaralah denganku." Dokter itu memegang bahu Kiran.


Kiran masih tidak bergeming sedikitpun, hanya matanya yang menoleh kesana-kemari.


Dokter senang, karena pandangan Kiran sudah tidak lagi memandang ke satu arah.


"Bicaralah, nona Kiran." Kiran masih diam membisu.


Dokter itu nampak cemas, jika Sid pulang dan melihat istrinya dalam keadaan seperti ini maka habislah dia. Rumah sakit ini pun pasti akan habis juga.


Bagaimana ini? Aku bisa mati!


Dokter yang bernama Niken itu menggeleng cepat.


"Reihan, apa kau sekarang sudah kehilangan kemampuanmu? Sehingga menjaga menantuku saja kau tidak becus?!" Emosi ayah Deva memuncak, ketika melihat menantunya seperti patung.


"Kiran, ini ayah! Kau baik-baik saja, kan? Katakan apa yang terjadi padamu?" Ayah Deva memegang bahu menantunya itu, dan berusaha mengajaknya bicara.


Dari pintu muncul Lakshmi yang membawa Kal di gendongannya.


"Buu... Mbu..." Panggil Kal sambil menunjuk Kiran, dia ingin digendong Kiran nampaknya.


"Sebentar, ya? Ibumu sedang sakit." Ujar Lakshmi sambil membawa Kal keluar.


"Maaf tuan Deva, kejadiannya saat aku baru sampai di rumah sakit. Nona Kiran tadi..."


"Cukup! Sekarang cari psikolog agar mereka bisa mencari cara membuat Kiran kembali normal!" Potong ayah Deva.


Reihan mengangguk, lalu keluar untuk melaksanakan perintah sang tuan besarnya.


Sementara ayah Deva masih terus mencoba membuat Kiran bicara, ia juga sangat takut putranya akan sedih ketika melihat istrinya dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


"Kiran sayang, menantuku. Bicaralah, apa kau tidak ingin bicara dengan ayahmu ini?" Tanya ayah Deva kembali, namun Kiran masih tetap diam.


"Deva, percuma saja. Meskipun dia bicara, tapi itu tak menjamin dia akan normal kembali dalam waktu satu malam." Dokter Niken kembali berbicara.


"Niken, ini pasti akan membuat Sid sangat terkejut. Cobalah, sebelum Reihan kembali dengan psikolog coba kau lakukan sesuatu yang bisa perlahan mengembalikannya." Dokter Niken mengangguk cepat, lalu dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan memperlihatkan foto pernikahan Kiran dan Sid.


"Kiran, coba lihat ini!" Kali ini Kiran tersenyum, mulai merespon dokter Niken.


"Ya, siapa laki-laki ini?" Kiran kembali diam.


Ayah Deva melirik dokter Niken, dokter Niken menggeleng tanda tak tahu lagi harus berbuat apa pada Kiran.


"Telepon Reihan, tanyakan dia masih dimana?" Ayah Deva mengangguk, sementara dokter Niken kembali mencoba mengajak Kiran bicara.


Telepon tidak diangkat, ayah Deva melirik jam di tangannya. Sudah pukul sembilan malam, ia takut esok akan segera tiba dan keadaan Kiran masih seperti patung.


"Kiran, ini ayah! Apa kau tidak takut ayah dimarahi suamimu? Bukankah kau tidak suka Sid memarahi ayah?" Ayah Deva kembali mengajak Kiran bicara, ia ingat betul bahwa Kiran paling tidak suka jika Sid sudah memarahi ayahnya.


Psikolog akhirnya tiba bersama Reihan.


"Cepat, lakukan sesuatu yang bisa membuatnya kembali normal." Ayah Deva menunjuk Kiran.


"Baik, bersabarlah."


Psikolog bernama Hera itu segera memeriksa Kiran, ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat setelah selesai memeriksa Kiran.


"Dia terkena shock berat, bisa sangat lama untuk menyadarkannya." Ayah Deva ikut shock.


Apa yang harus aku katakan pada Sid besok?


"Lebih baik biarkan dia istirahat, dia juga sedang hamil bukan?" Ayah Deva mengangguk. "Mungkin jika dia istirahat bisa ada perkembangan, jangan khawatir. Aku akan menjaganya disini."


"Baik, aku percayakan menantuku padamu. Semoga esok saat Sid datang dia sudah normal kembali." Hera mengangguk.


Ayah Deva keluar dari ruangan Kiran, kini tinggal Hera, Reihan, dan dokter Niken yang bertugas menjaga Kiran.


"Kirana, namamu Kirana kan?" Hera mencoba mengajak Kiran berbicara seperti yang dilakukan dokter Niken dan ayah Deva tadi.


Kiran menatap Hera dengan wajah datarnya. Hera mengelus tangan Kiran, dan meletakkannya di perut Kiran.


"Kau sedang hamil bayi kembar, iya kan? Bukankah itu sangat istimewa? Tak semua wanita dianugerahi bayi kembar, kau dan Sid termasuk keluarga kecil paling beruntung dan bahagia. Kalian dianugerahi putra yang sangat tampan dan pintar, lalu kembali dianugerahi calon bayi kembar." Sambil membingkai pipi Kiran lembut.


Kiran kembali menatap Hera lekat-lekat, mungkin merasa asing dengan suara daj wajahnya.


"Sekarang bicaralah, kasihan bayi kembar kalian dan kasihan suamimu. Dia sedang bekerja disana, itu atas permintaanmu bukan? Maka sekarang bicaralah, atau saat dia kembali nanti semua akan hancur." Seketika tetesan bening itu meluncur dari mata Kiran.

__ADS_1


Hera tersenyum, perlahan ia berhasil mengembalikan kenormalan Kiran.


__ADS_2