Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Bahaya Yang Selalu Mengintai


__ADS_3

"Sid, apa yang akan kita lakukan?" Sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Entah, tapi sepertinya kita harus menyelidiki wanita itu di rumah sakit." Kiran menatap Sid dengan tatapan bingung.


"Kita harus melihat data tanggal dimasukannya wanita itu ke rumah sakit."


"Kau benar, ayo kita pergi sekarang! Sebelum semuanya terlambat." Kiran menarik tangan Sid, namun Sid tidak bergerak. "Ada apa? Cepat!"


"Tidak, kau tunggu disini! Paman Reihan yang akan membawa data-data itu kesini, kita akan memeriksanya disini!" Kiran mengangguk, Sid langsung menelepon Reihan.


"Jangan lupa, kirim juga seseorang untuk mengawasi ayah dan menjaganya."


"Iya, tenang saja. Aku sudah mengirim paman Ridan untuk menjaga ayah disana tanpa diketahui siapapun."


"Baiklah, kita tunggu saja paman Reihan sekarang." Sid mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi Reihan.


Hampir satu jam menunggu, akhirnya Reihan datang dengan membawa satu buah berkas berisi data pasien rumah sakit.


"Tuan muda, ini data yang anda minta."


"Terima kasih, tolong bantu aku mencari tanggal dimana bunda Aisha dimasukkan ke rumah sakit itu." Reihan mengangguk, lalu duduk di samping Sid dan memeriksa satu-persatu lembaran berkas itu.


"Aisha Satiya Hasan, Sid!" Seru Kiran sambil menunjukan berkas yang dibacanya.


"Ya, ada apa?"


"Baca ini! Ibumu dimasukkan ke rumah sakit satu minggu setelah kalian memakamkannya!" Sid mengambil berkas itu, lalu membacanya dengan teliti.


"Astaga, apa ini? Apa artinya...? Lalu siapa yang dimakamkan waktu itu?!"


"Tuan muda, kita harus segera menyelidikinya!"


"Kau benar, sepertinya kita harus segera menyelidiki apa yang terjadi di rumah sakit tempat ibu dinyatakan tiada dulu."


"Sid, tapi itu sudah lama sekali! Kau bayangkan, sudah dua puluh enam tahun yang lalu!" Sid terdiam, ia putus asa. Namun sangat penasaran juga dengan apa yang terjadi hingga bisa ibunya masih hidup sedangkan dulu yang dimakamkannya jelas-jelas ia melihat bahwa itu benar-benar ibunya.


"Tapi pasti rumah sakit itu masih menyimpan rekaman cctvnya bukan? Paman Reihan, siapkan keberangkatan kita ke London!"


"Baik, tuan muda."


"Aku ikut, aku akan ikut denganmu."


"Tidak, kau harus tetap disini bersama Kal!" Kiran menggeleng.


"Sid, aku takut kau kenapa-napa."


"Ingat dua janin yang ada di rahimmu sekarang ini!" Menunjuk perut Kiran.

__ADS_1


"Mereka kuat, seperti aku dan kau. Aku akan ikut bersamamu, kau tidak boleh menolakku!" Tegas Kiran keras kepala.


"Kirana! Diam disini, kau masih harus istirahat! Apa kau ingin aku mati jika terjadi sesuatu padamu dan kandunganmu?" Kiran menggeleng, Sid langsung memeluk Kiran.


"Maaf, baiklah. Tapi aku mohon berhati-hati dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu menunggumu disini, jika ada apa-apa tolong kabari aku." Sid mengangguk.


"Ayo, bantu aku berkemas."


"Tuan muda, aku akan mempersiapkan keberangkatanmu dulu. Besok aku akan menjemput anda." Reihan berpamitan, lalu pergi untuk mempersiapkan keberangkatan Sid ke London.


Malam harinya, saat Sid sedang mengemasi pakaiannya yang akan dibawa ke London sedikit jengah, terlebih ketika Kiran tak henti-hentinya memeluknya.


"Sayang, jangan sedih. Aku akan kembali, jika tidak sedang hamil seperti ini aku pasti akan membawamu bersamaku." Sid berbalik, lalu mengelus kepala Kiran.


"Tidak apa-apa, tapi mungkin aku tidak akan bisa tidur karena khawatir padamu."


"Aku akan mengabarimu selalu, jangan khawatir." Sambil mengecup kening Kiran.


"Jaga dirimu baik-baik."


"Aku pasti akan menjaga diriku baik-baik, kau juga jaga dirimu dan bayi kita baik-baik." Kiran mengangguk, lalu memeluk Sid erat.


Mereka tak sadar, ada yang sedang menggunakan keadaan ini sebagai kesempatan.


Aku akan melakukan apapun, termasuk membalaskan dendam ini.


Berbalik, tidak ingin melihat moment pelukan mesra antara Sid dan Kiran yang akan berpisah selama beberapa hari.


"Bayangan apa? Tidak ada apa-apa disana."


"Tidak, tadi aku melihat bayangan seseorang berdiri disana." Menunjuk ambang pintu.


"Mungkin itu pelayan yang melewati ruangan ini." Kiran mencoba berfikir positif.


"Iya, kau benar mungkin hanya pelayan yang lewat saja." Merangkul Kiran, lalu membawanya duduk di tepi ranjang.


"Sid, apa kau akan lama disana?"


"Tidak tahu, semoga saja tidak lama dan aku bisa menemukan rekaman cctv itu secepatnya." Harap Sid penuh keraguan, pasalnya sudah terlalu lama kejadian dimana ibunya dinyatakan tiada. Mungkin saja, rekaman itu sudah hilang atau rusak.


"Semoga saja kau bisa mendapatkan rekaman itu, dan ibu cepat normal kembali."


"Iya, berdoalah selalu pada Tuhan. Semoga dia senantiasa membuat keluarga kita tak terpisahkan." Kiran mengangguk, lalu memeluk lagi Sid.


Pelukan seseorang tercinta memang sangat nyaman, apalagi seorang suami. Kenyamanan pelukan Sid adalah obat sekaligus penawaran dari kerinduan dan sakitnya Kiran.


"Sid, aku takut sekali. Takut tak bisa merasakan pelukan hangat dan nyaman ini lagi."

__ADS_1


"Jangan bicara begitu, aku akan selalu ada untuk memberikanmu pelukan ini. Tidak ada yang bisa membuat kita terpisah kecuali Tuhan sendiri." Sid meletakan jari telunjuknya di bibir Kiran. Sebagai isyarat agar Kiran berhenti berbicara hal seperti itu.


"Semoga setelah ini tidak akan ada lagi sesuatu yang merusak kebahagiaan kita dan kebersamaan kita." Sid mengangguk.


"Ayo, tidurlah! Ini sudah malam, waktunya bagimu dan baby kembar didalam sana istirahat." Sambil merangkul Kiran dan membawanya berbaring di ranjang.


"Peluk aku, jangan lepaskan aku." Sid menuruti perkataan Kiran, lalu memeluknya dengan erat.


Firasat besar terlintas di benak dan pikiran Kiran, ia merasa ada bahaya yang selalu mengintai suaminya.


Ya Tuhan, lindungilah suamiku dimanapun dia berada.


Kiran mencoba memejamkan matanya di dalam pelukan Sid. Sid yang merasa istrinya sedang gelisah hanya mampu mengusap-usap rambut Kiran.


Ia tahu apa yang ada di pikiran istrinya. Rasa takut. Ya, ia bisa merasakan bahwa Kiran memiliki rasa takut yang besar dihatinya saat ini.


"Jangan takut, aku akan selalu baik-baik saja. Doamu akan dikabulkan Tuhan, kau orang yang baik maka Tuhan akan selalu mengabulkan doa-doamu." Gumam Sid sambil terus mengusap kepala Kiran.


Sid mengecup puncak kepala Kiran, lalu menarik selimut dan menyelimuti Kiran.


"Selamat malam, semoga mimpi indah." Gumamnya lagi. Di rasakannya napas Kiran sudah teratur, tanda bahwa ia sudah tertidur pulas.


Sid mematikan lampu kamar, dan menyalakan lampu tidur. Ia tak langsung tidur, melainkan turun dari ranjang dan pergi menuju kamar putranya yang sedari tadi sudah tidur pulas.


"Kal, apa kau bisa merasakannya? Merasakan rasa takut ibumu? Jika ya, artinya kita sama. Selama ayah pergi ayah harap kau akan selalu menghiburnya denganmu. Maaf, jika ayah tak bisa bersama kalian lagi setelah ini. Tapi, percayalah ayah akan selalu bersama kalian, disini." Menunjuk dada Kal. "Di hati kalian berdua." Sambungnya lalu mengecup pipi Kal dan meninggalkannya kembali menuju kamarnya.


"Tuan muda, anda belum tidur?" Bi Asih yang baru melangkah menuju kamarnya berpapasan dengan Sid.


"Bi, bibi juga belum tidur? Aku tak bisa tidur, kepalaku sakit. Terlalu banyak ujian yang menimpa keluarga ini, aku takut terjadi sesuatu pada Kiran dan anak kami." Sid menghela napas panjang, lalu membuangnya kasar.


"Tuan muda, jangan khawatir. Pergilah, lindungi tuan besar dan nyonya besar, bibi disini akan menjaga nona muda dan tuan kecil. Kalian adalah keluarga bibi, bibi akan melindunginya hingga titik darah penghabisan." Bi Asih menepuk bahu Sid.


Bi Asih adalah pembantu yang sudah bekerja di rumah ayah Deva sedari ayah Deva menginjak usia remaja, bahkan ia sudah seperti keluarga bagi keluarga ayah Deva.


"Bi, tolong jika terjadi sesuatu disini secepatnya kabari aku." Bi Asih mengangguk, lalu menarik tangan Sid dan mengantarkannya ke kamarnya.


"Tidurlah, tuan muda. Temani nona muda, sedari kemarin ia tampak gelisah." Sid mengangguk, lalu masuk ke kamarnya.


Bi Aisha memang sangat menyayangi Sid, karena sejak kepergian ibu Aisha ialah yang mengurus Sid bersama ayah Deva.


"Wah, pembantu yang sangat mulia!" Seseorang bergumam di balik tembok sambil tersenyum sinis.


Akan kulenyapkan seluruh keluarga ini beserta keturunannya!


Bersambung...


Maaf ya atas keterlambatan author up bab baru nya, author agak sedikit kurang fit jadi dari pagi rasanya pusing liat hp. 😅

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya lewat vote, like, vote.


.


__ADS_2