Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-4 (Season2)


__ADS_3

Di sebuah villa


"Ayah kenapa kita kesini? Tadi ayah bilang liburan!" Protes Kal, membuyarkan lamunan Sid akan wanita yang telah 15 tahun ini menyandang status sebagai istrinya.


Entah darimana asalnya, Sid merasa menyesal telah menikah dengan Kiran. Akan tetapi, di lain sisi Kiran adalah penyemangatnya dan wanita yang telah berkorban demi dirinya untuk memberikannya keturunan.


Kal mengguncang-guncang tubuh Sid, karena Sid terus diam saja saat dirinya terus berbicara.


"Kenapa?"


"Kenapa ayah mengajakku berlibur disini?" Tanya Kal lagi dengan raut wajah kebingungan.


"Sementara saja, nanti kita pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Saat ini ayah hanya ingin menenangkan diri saja bersamamu." Jelas Sid sambil tersenyum simpul.


Jujur saja, aku masih tidak bisa menerima perlakuan Kiran pada Kal kemarin.


Dalam hati Sid sudah dipenuhi kekecewaan pada Kiran. Bagaimana tidak, Kiran memarahi Kal hanya karena sebuah reuni kampus yang tidak ada faedahnya sama sekali.


"Reuni kampus tidak berguna!" Rutuk Sid dengan suara keras, membuat Kal sedikit terkejut.


"Apa? Siapa yang tidak berguna, ayah?!"


Sid menggeleng, lalu memeluk putranya dengan penuh kasih sayang.


"Tidak ada," jawab Sid.


...****************...


Di rumah ketiga orang tersebut sudah mulai resah karena seharian menunggu tapi yang ditunggu tidak kunjung pulang.


Tiba-tiba muncul sebuah ide di benak Kiran untuk menghubungi nomor putranya. Kiran segera meraih ponsel yang terletak diatas meja, lalu mencoba menghubungi Kal.


Akan tetapi harapan itu kandas ketika nomor Kal memberi jawaban "Nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan."


"Ada apa?" Tanya ibu Aisha saat melihat Kiran menghela napas kasar.


"Aku mencoba menghubungi Kal, tapi nomornya berada diluar jangkauan." Jawab Kiran dengan nada pasrah.


Ayah Deva dan ibu Aisha mengelus pundak Kiran.


"Coba lagi nanti hubungi, mungkin Kal akan mengangkatnya." Kiran mengangguk, lalu mengetik pesan pada Kal.


Mungkin jika aku mengirim pesan nanti Sid atau Kal akan membacanya.


Kiran mengetikan pesan, lalu mengirimnya pada nomor Kal dan Sid.

__ADS_1


Beberapa jam, hingga jam menunjukan pukul sepuluh malam tiba-tiba ponsel Kiran berdering. Kiran dengan sigap meraihnya disertai senyuman mengembang.


Ia mengira bahwa itu telepon dari Sid dan Kal, akan tetapi senyumannya hilang ketika melihat layar ponsel yang menunjukan si penelepon.


"Ira," ucap Kiran yang lalu mengangkat teleponnya.


"Kalian disana saja jangan menyusul."


...****************...


Di villa milik Sid, ayah dan anak itu sedang duduk dipinggir pantai dengan pandangan menuju pantai.


"Malam kemarin kenapa ibumu memarahimu?" Tanya Sid memulai pembicaraan.


Kal menoleh pada Sid, lalu tersenyum simpul.


"Apa karena reuni itu?" Tanya Sid lagi yanh lagi-lagi hanya ditanggapi Kal dengan senyuman.


"Dia berubah, tidak seperti yang ayah kenal dulu." Ujar Sid yang membuat Kal menoleh padanya dan menggeser duduknya hingga berada sangat dekat dengan Sid.


"Dulu, sebesar apapun kesalahan ayah dan sekesal apapun pada kenakalanmu dia tidak pernah sampai marah. Tapi kemarin itu cukup membuat ayah kecewa karena anak baim sepertimu sampai dimarahi dan dibentak hanya karena reuni kampus tidak berguna itu!" Sambung Sid dengan pandangan lurus kedepan menatap indahnya pantai dimalam hari.


"Sebenarnya aku tidak apa-apa, tapi hanya terkejut."


"Ayah tidak salah, mungkin ibu hanya merindukan teman-teman lamanya."


Sid mengelus kepala Kal, ia sangat bersyukur diberikan anugerah seindah Kal.


"Besok kita pulang?" Kal mengangguk, lalu membalas pelukan Sid.


...****************...


Di pagi hari yang cerah, Sid dan Kal sudah sampai kembali di halaman rumah utama milik keluarganya. Didalam rumah tampak sepi, hanya ada si kembar yang sedang sibuk dengan tontonan di pagi harinya.


"Kemana yang lain?" Tanya Sid membuat kedua putrinya terkejut.


Ira dan Ima langsung berlari menghampiri Sid dan memeluknya. Keduanya tampak begitu kehilangan meskipun hanya barang satu jam tidak bertemu.


"Ayah darimana saja? Kami tidak bisa tidur jika ayah tidak ada dirumah malam-malam!" Protes Ima.


Sid melirik Kal. Kal mengangguk dengan isyarat Sid yang bermaksud mengatakan jangan memberitahu siapapun semalam keduanya pergi kemana.


"Kami menginap dikantor," jawab Sid sambil membalas pelukan putri kembarnya itu.


"Bohong!" Hardik Ira dengan wajah tak percayanya. "Semalam aku menelepon kantor, paman Ridan mengangkatnya dan mengatakan bahwa ayah tidak ada disana!" Sambungnya dengan isakan.

__ADS_1


"Apa ayah tahu? Hal yang paling aku takutkan didunia ini adalah kehilangan ayah selamanya, jadi jangan pernah menghilang lagi seperti kemarin dan tadi malam!" Ujar Ima diiringi isakan seperti saudara kembarnya, Ira.


Sid mengangguk, lalu memeluk kedua putrinya yang memang sejak bayi lebih dekat dengan dirinya dibanding ibu dan yang lainnya.


"Maafkan ayah, ayah janji tidak akan mengulanginya lagi. Asalkan kalian jangan mengganggu ayah lagi!"


"Iya, jika ayah pergi siapa yang akan memberi kami bekal?" Sid menganga tak percaya dengan ucapan putri kembarnya tersebut.


Rasa haru berubah menjadi tawa dan kekesalannya sendiri. Kembar tetaplah kembar, yang sedari kecil sangat suka mengganggu dan mengerjai Sid. Akan tetapi hal itu yang menjadikan Sid semakin menyayangi keduanya.


Di moment-moment haru dan lucu tersebut tiba-tiba ponsel si sulung Kal berbunyi, membuat ketiga orang dihadapannya serentak menoleh padanya.


"Ibu," ucap Kal sambil memperlihatkan layar ponselnya.


Sid mengangguk, memberi izin Kal untuk mengangkatnya.


Kal segera mengangkat teleponnya. Hingga telepon terputus Sid menatap pintu dengan wajah tidak senang. Ia pulang bukan karena Kiran, akan tetapi demi anak-anaknya.


Entah mengapa sejak di malam ia melihat Kiran diantar oleh Rian hatinya terus merasa kecewa. Rasa cintanya seakan hilang, mungkin bisa dikatakan kini Sid masih bertahan karena anak-anaknya.


Agak siang, Kiran bersama ayah Deva dan ibu Aisha tiba dirumah utama.


"Darimana saja, kau?!" Hardik ayah Deva langsung pada Sid.


"Cih, sejak kapan kepergianku dipertanyakan?" Sid balik bertanya dengan nada tak suka.


"Bodoh! Kami semua mencarimu semalaman!" Timpal ibu Aisha.


"Aku hanya ingin menenangkan diri, aku tidak suka dirumah! Setiap detiknya sudah terasa seperti orang asing yang tidak dipedulikan saja!" Ujar Sid dengan nada candaan.


Kiran hanya mampu melihat saja, tidak berani menimpali ataupun menyapa Sid. Setelah semua bubarpun bahkan ia tak berani berkata sedikitpun pada Sid.


...---------------...


Satu minggu sejak kembalinya Sid, keadaan tak sepenuhnya normal kembali. Semua menjadi berbeda ketika Sid hanya berbicara seperlunya dengan Kiran. Bahkan Sid lebih sering pulang larut malam.


Entah karena sibuk, entah karena ingin menghindari Kiran. Keluarga yang selalu memperhatikan hal itu turut sedih dengan masalah yang entah apa asal mula penyebabnya.


"Semua perlu diluruskan kembali, kita tida bisa membiarkannya seperti ini." Ucap ayah Deva di sela-sela kumpulan keluarganya dimalam hari.


"Tidak perlu, ayah. Malam ini aku akan menunggunya pulang, aku akan mencoba bicara padanya." tolak Kiran dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, semoga semua masalah kalian cepat selesai."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2