Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Melihat Sosok Yang Telah Lama Tiada


__ADS_3

"Kau baik-baik saja? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Sid terus bertanya pada Kiran.


"Sid, aku baik-baik saja. Aku hanya shock, aku sudah tidak apa-apa." Kiran memeluk Sid, lalu melepaskannya kembali


"Apa sebenarnya yang terjadi?"


"Sid, sebelum aku mengatakannya tolong kau percaya padaku dulu." Kiran meraih kedua tangan Sid, dan menggenggam jemarinya.


"Iya, tapi ada apa? Mengapa kau sampai harus berpura-bura terkena shock berat seperti tadi? Apa kau tahu, itu membuatku sangat terpukul!" Sid melangsungkan aksi protesnya terlebih dahulu, sebelum memasang telinganya untuk mendengar apa yang akan diceritakan Kiran.


"Aku memang sangat terguncang ketika hampir terjatuh dari atap rumah sakit, tapi aku seperti ini karena menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan tentang salah satu keluarga kita."


"Katakan, tapi tenanglah dulu."


"Ayah, ayahmu..." Dengan suara bergetar mencoba menceritakan apa yang direkam matanya pada saat hampir jatuh dari atas rumah sakit.


"Ayah? Ada apa dengan ayah?" Sid mulai memasang wajah penasaran.


"Ibu, Ayah,... Ibu Aisha, di...dia..."


"Ibuku? Apa? Kiran, coba kau ceritakan dengan perlahan. Ibuku kenapa? Dia sudah lama tiada, memangnya kenapa?" Kiran menggigit bibirnya, tidak mampu mengatakan fakta besar yang dilihatnya.


"Dia masih hidup, dia belum tiada." Dengan tubuh gemetar, dan suara ikut bergetar juga.


"Apa?! Tidak, kau pasti berhalusinasi!" Sid terkekeh, tak percaya dengan apa yang dikatakan Kiran. "Sudah dua puluh enam tahun ibu tiada, tidak mungkin dia masih hidup!"


"Sid, sudah ku bilang pasti kau tidak akan percaya padaku! Percayalah, aku melihatnya dengan mataku sendiri. Aku juga kenal dengan wajah ibumu, dia masih hidup." Kiran bersikeras, pandangannya kemarin sama sekali tidak salah, wanita yang dilihatnya jelas adalah ibu mertuanya.


"Kiran, dia sudah lama tiada!"


"Ta... Tapi, Sid aku melihatnya sen..."


"Kau pasti lelah, dan juga kau pasti benar-benar shock dengan kejadian kemarin! Ayo, istirahat saja." Sid membaringkan Kiran di atas ranjang, lalu menyelimutinya dan menina bobokannya seperti pada anak kecil.


Mungkin aku memang berhalusinasi, ibu Aisha sudah lama sekali tiada mana mungkin dia masih hidup.


Pikiran Kiran terus membayangkan tragedi kemarin, sebenarnya ia buka membayangkan tragedi tapi lebih ke penglihatannya saat melihat sosok wajah yang sangat mirip ibu mertuanya tersebut.


"Tidur, sayang. Aku ada disini, bersamamu untuk menemanimu." Sid mengelus-elus kepala Kiran.


Kiran memasukkan tubuhnya ke dalam pelukan Sid, lalu mencoba memejamkan matanya dan menghilangkan pikirannya yang memikirkan sosok ibu mertuanya itu.


Flashback on


"Aaaaaa...." Kiran berteriak panik, tak bisa menahan tubuhnya agar tak terjatuh.


"Kiraaaannn!" Ami meraih lengan Kiran secepat mungkin, lalu menariknya dan berusaha membawa Kiran kembali naik ke atas.

__ADS_1


Kiran menunduk kebawah, betapa tingginya gedung rumah sakit ini. Bila ia terjatuh, pasti tak akan selamat.


Tapi, ketika matanya menatap ruangan di bawahnya ia sangat terkejut. Seorang wanita dengan pakaian putih membawa boneka bayi sedang menari-nari didalam ruang itu.


Tidak, itu tidak mungkin! Aku pasti salah lihat!


Kiran menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, lalu mendongak lagi ke atas. Ami masih berusaha membawa tubuhnya naik.


Perlahan, tapi akhirnya ia sudah berada di posisi aman kembali. Kiran terduduk lemas, ia sangat shock dengan dua kejadian yang baru saja menimpanya daj hampir merenggut nyawanya.


Ia melamun, tak menghiraukan Ami yang bertanya akan keadaannya. Hingga Reihan datang, dan membawa Kiran beristirahat di kamar yang disewa Sid untuknya.


Flashback off


"Aku tidak salah lihat, itu bu Aisha!" Gumam Kiran yang masih bisa di dengar pria yang sedang memeluknya.


"Kenapa kau masih memikirkan itu? Sudahlah, kau pasti hanya berhalusinasi! Ibuku sudah tiada, bunda Aisha sudah meninggal." Tegas Sid sambil mengeratkan pelukannya pada Kiran. "Tidurlah, tidak baik jika kau banyak pikiran seperti ini. Kau pasti semalam tidak tidur, iya kan? Sekarang kau tidur!" Kiran mengangguk.


Ia memang lelah belakangan ini, ia ingin melupakan pikirannya tentang ibu Aisha sejenak dan mengistirahatkan dirinya.


Sid benar, Kiran tidak boleh banyak pikiran dulu. Atau dua bayi dalam kandungannya akan terganggu, atau akan memicu pendarahan seperti yang terjadi pada saat ia mengandung Kal dulu.


...----------------...


Sore harinya baru Kiran terbangun. Pada saat terbangun ia tak mendapati suaminya di sampingnya lagi.


Kemana dia? Kenapa sudah tidak ada?


"Sid!" Panggil Kiran sambik terisak.


Ia memasuki kamar mandi, tidak ada siapa-siapa.


"Kau sudah bangun? Ayo, makan dulu! Aku sudah membelikan makanan untuk kau makan sekarang." Ternyata Sid keluar untuk membelikannya makanan, itu membuat hati Kiran menghangat seketika.


"Aku pikir kau pergi lagi dariku."


"Dia tidak akan berani meninggalkanmu, menantuku! Dia sudah menjadi budak cintamu, jangankan pergi darimu kau masuk ke kamar mandi sebentar saja pasti dia akan mencarimu." Sahut ayah Deva yang sudah berdiri di ambang pintu.


Sid dan Kiran menoleh bersamaan, lalu saling bersitatap.


"Ayah sejak kapan disini?" Sid mendekati ayahnya.


"Lima menit yang lalu. Bagaimana, apakah menantuku sudah baik-baik saja? Oh pasti, karena suaminya sudah pulang." Bertanya, lalu di jawab sendiri.


"Ayah, maaf sudah merepotkan ayah kemarin." Ujar Kiran tak enak hati.


"Tidak apa-apa, demi kebahagiaan anak-anakku aku rela direpotkan." Ayah Deva tersenyum pada Kiran.

__ADS_1


Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku harap kau percaya padaku.


"Ada apa? Ada masalah?" Tanya ayah Deva yang melihat mata Kiran terus menatapnya.


Kiran menggeleng. "Tidak ada"


"Baiklah, kalian makan dulu. Setelah itu temui aku di belakang rumah sakit ini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Sid dan Kiran mengangguk, tapi Kiran merasa aneh dengan ayah Deva yang tiba-tiba berencana seperti itu.


Kenapa ayah menyuruhku menemuinya di belakang rumah sakit? Ada apa?


Sid menatap punggung ayahnya hingga menghilang dibalik pintu, lalu setelah itu ia duduk di sofa dan menyiapkan makanan yang baru dibelinya untuk istrinya.


"Sayang, duduklah! Ayo makan dulu." Sid membawa Kiran duduk di sofa, lalu menyuapi Kiran makanan sampai habis.


"Mau kemana?" Kiran menahan Sid yang akan beranjak.


"Aku akan keluar sebentar, kau tunggu disini. Aku akan segera kembali." Kiran mengangguk.


Setelah Sid pergi, ia membuka tirai yang menutupi jendela yang menghadap area belakang rumah sakit, pandangan matanya terus tertuju pada area itu.


Hingga tiba-tiba matanya menangkap ada seseorang dibawah. Kiran menatapnya terus, berharap ia salah lihat. Namun tidak, itu nyata! Ia kembali melihat ibu Aisha, ibu mertuanya yang dikatakan sudah lama tiada.


"Kiran, ada apa?" Sid menepuk bahu Kiran, Kiran segera menoleh pada Sid.


"Li... Lihat itu!" Sambil menunjuk ke area yang bisa dilihat dari jendela itu. Namun sayang, sosok yang ingin ditunjukkannya sudab menghilang.


"Ada apa? Disana itu orang yang terkena tekanan jiwa atau stress!"


"Tidak! Aku mungkin salah lagi!" Gumam Kiran pelan.


"Salah apa?" Kiran menggeleng, lalu mencoba menenangkan dirinya.


"Ayo, kita harus menemui ayah di taman itu." Sid menarik tangan Kiran menuju keluar.


Tampak di area belakang rumah sakit sepi, ayah Deva sedang duduk di bangku yang terdapat disana.


"Ayah, ayah ingin bicara apa?" Ayah Deva menoleh, lalu tersenyum.


Ia menepuk-nepukkan tangannya di bangku kosong. Sebagai kode menyuruh Sid membawa Kiran duduk.


Sementara hening, hanya helaan napas yang terdengar.


"Bagaimana? Ayah bingung ingin memulai pembicaraan darimana." Lalu menghela napas panjang, dan mengeluarkannya pelan.


"Ada apa, ayah?" Sid merasa penasaran, begitu juga Kiran.


"Ibumu..." Berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


Bersambung...


Komennya jangan lupa ya? penting banget buat author.


__ADS_2