Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ke-21 (Season 2)


__ADS_3

Usai membelikan makanan untuk Kiran, Sid sudah kembali lagi kerumah dengan berbagai makanan untuk Kiran beserta makanan pesanan anak-anaknya.


Hingga pagi kembali menyapa, Kiran tak kunjung memakan makanan yang Sid belikan. Bukan karena tidak ingin tapi karena Kiran mulai menjaga dirinya dari apapun yang Sid berikan, seolah Sid telah meracuninya.


"Kiran, apa sebenci ini kau padaku? Hanya karena sebuah masalah yang belum pasti." Tanya Sid dengan wajah sendu dihadapan Kiran yang sedang duduk bersandar disofa ruang televisi.


Kiran memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah Sid. Setiap kali Kiran melihat wajahnya dulu selalu merasa bahagia, akan tetapi kini berubah menjadi benci.


Benar, jika kita terlalu mencintai pasti suatu hari akan menjadi benci.


"Kiran,"


"Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku membenciumu!" Ucap Kiran dengan suara bergetar dan air mata yang sudah turun membasahi pipinya.


Sid mendongakan kepalanya tak percaya dengan perkataan istrinya.


Lagi-lagi Kiran memalingkan wajahnya sambil menghapus air matanya yang selalu jatuh tanpa ia minta.


Sebenci itukah? Kemana rasa cinta yang dulu sangat besar untukku? Apakah semudah itu hilang?


"Baik, kau percaya Rana itu..."


"Jangan pernah sebut nama anakmu didepanku!" Pungkas Kiran dengan wajah yang masih berpaling ke arah lain.


"Kau percaya dia anakku, tapi aku sendiri tidak. Aku akan memberimu bukti bahwa dia bukan anakku!" Tegas Sid sambil mengambil kunci mobil dan pergi dari hadapan Kiran.


Tujuannya kali ini hanya satu, membuktikan bahwa Rana bukanlah anaknya. Dan Sanya mungkin sedang berusaha membuat hubungannya dengan Kiran hancur.


Begitu kencangnya Sid melajukan mobil, hingga kini mobilnya sudah terparkir dihalaman depan rumah utama ayah Deva.


Ayah Deva dan ibu Aisha segera menghampiri Sid dan memburunya dengan berbagai pertanyaan mengenai Kiran dan kondisinya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Kiran?" Sid menggeleng, lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Dia baik-baik saja, tapi hubungan kami yang semakin memburuk."


Ayah Deva tersenyum kecut dan menepuk pundak Sid.


"Kau yang menciptakan sendiri masalahmu dengannya, jadi coba bereskan saja sendiri dan gapailah hatinya kembali!"


Sid kembali megacak rambutnya frustasi. Tak ada seorangpun kini yang dapat ia andalkan. Bahkan, saat hubungannya diambang kehancuran.

__ADS_1


Akan tetapi, ditengah kebingungan itu ibu Aisha masih ada dan ternyata siap membantunya.


"Buktikan saja jika dia memang bukan anakmu, bunda akan membantumu untuk mencari kebenarannya. Akan tetapi jika kebenarannya memang seperti itu, maka terimalah apa yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya!" Nasehat ibu Aisha yang membuat semangat Sid sedikit kembali dan membuat Sid mulai memikirkan rencana yang akan dilakukannya.


"Aku punya rencana, tapi mungkin ini akan sedikit melibatkan bunda. Apakah bunda bersedia membantu?" Ibu Aisha mengangguk. Kemudian Sid mulai menjelaskan rencananya yang akan ibu Aisha mulai hari ini juga.


"Kebetulan Sanya sedang pergi shooting, tapi nanti siang sudah kembali. Jadi, sekarang bunda akan membawanya kerumah sakit karena sudah tidak ada waktu lagi untuk melakukan itu!" Sid mengangguk dan segera pergi kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit Sid segera menghubungi bagian laboratorium untuk menyiapkan keperluan tes DNA yang akan dilakukannya dengan putrinya Sanya.


Akan tetapi, cukup lama Sid menunggu Rana dan ibu Aisha tak kunjung datang. Hingga penantiannya berakhir saat Sanya yang muncul di rumah sakit.


"Sid, sedang apa kau disini?" Tanya Sanya sambil duduk disampingnya.


Sid menjauh dari samping Sanya dan menatapnya tajam. Tangannya sibuk mengetik pesan pada ibu Aisha yang mengabarkan juga sedang dalam perjalanan bersama Rana.


Pesan terkirim, namun terlambat karena ternyata ibu Aisha sudah berada didekat laboratorium.


Sid yang melihatnya langsung memberi isyarat agar ibu Aisha membawa Rana menjauh, tapi isyaratnya diketahui Sanya.


Beruntung, ibu Aisha sudah membawa Rana pergi saat Sanya melirik ke arah yang ditunjuk Sid.


Tak butuh waktu lama, tes DNA sudah dilakukan. Rana hanya diam tak mengerti dengan apa yang dilakukan dua orang asing baginya tersebut.


"Neneknya Kal, apa ini? Kenapa kalian melakukan hal seperti ini padaku?" Tanya Rana yang mendapat tatapan kesal dari Sid.


"Cukup diam, jangan banyak bertanya apalagi mengatakan hal ini pada ibumu!" Peringat Sid yang membuat Rana mengangguk.


Sid pergi menuju ruangan dokter untuk menanyakan hasilnya.


"Hasilnya akan bisa dilihat satu atau dua minggu lagi, kembalilah nanti saat aku menghubungimu, Sid!" Dokter Ema meyakinkan Sid.


Sid mengangguk dan segera meninggalkan rumah sakit.


Kembali ke rumah Kiran, itulah tujuan pulangnya. Ia sangat ingin mengabari Kiran bahwa sudah melakukan tes DNA dan akan segera membuktikan kebenaran pada Kiran.


...****************...


Di rumah sakit, Sanya menemui dokter Ema juga dan menanyakan apa yang Sid lakukan dirumah sakit.


"Apa yang anda ingin tahu, nona? Kami tidak bisa memberitahu anda apa saja yang ingin diperiksakan pasien pada kami! Itu melanggar hukum!" Tegas dokter Ema.

__ADS_1


Namun seorang perawat malah membocorkannya, hingga dokter Ema sangat marah padanya.


"Dia ingin melakukan tes DNA dengan seorang..."


"Wanita yang sedang hamil, dia ingin tahu itu anaknya atau bukan!" Potong Dokter Ema.


Sanya mengerutkan dahinya, merasa tak puas dengan jawaban keduanya.


Akan tetapi, saat Dokter Eman menyuruhnya pulang Sanya melihat sesuatu yang sangat ia kenali.


Jaket berwarna merah muda yang sepertinya tidak asing baginya dan sangat ia tahu siapa yang selalu memakainya.


"Milik siapa itu?" Tanya Sanya dengan mimik wajah curiga.


Dokter Ema melirik ke arah Sanya menunjuk, wajahnya shock mengetahui bahwa jaket gadis yang melakukan tes DNA dengan Sid tertinggal.


"Itu jaket putriku! Pasti kalian melakukan tes DNA antara Sid dan Rana, iya kan?!" Tanya Sanya dengan wajah yang sudah merasa terkejut.


"Bukan, ini milik seorang gadis bernama Tania!" Sergah dokter Ema.


Dokter Ema meraih jaket itu dan membawanya pergi ke ruang lain lalu menyimpannya. Di ruangan lain dia segera menelepon Sid dan memberitahukan hal itu.


Hingga tak butuh waktu lama Sid mengambilnya secara diam-diam dan mengembalikannya pada Rana di rumah utama.


Hingga pada saat Sanya kembali tidak ada apapun yang mencurigakan di rumah itu.


"Rana sayang, seharian ini aku diam dirumah saja?" Rana mengangguk setelah mendapat delikan tajam ibu Aisha.


"Sanya dan Rana, sebaiknya secepatnya kalian pergi dari rumah ini. Bibi mohon, berikan kami ketenangan agar Kiran kembali ke rumah ini bersama anak-anak dan juga Sid!" Pinta ibu Aisha dengan menyatukan kedua telapak tangannya didepan dada.


Sanya melirik Rana. Rana terlihat sangat berbeda dari biasanya.


"Neneknya Kal benar, bu. Kita sudah merepotkan mereka!"


Sanya memikirkannya dan akhirnya memutuskan sesuatu.


"Maaf, jika kami merepotkan tapi beri kami kesempatan untuk..."


"Kesempatan? Sudah berapa kaki?!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2