
Sepulangnya dari rumah sakit, Kiran langsung menyuruh bi Asih dan Reihan untuk memulai sandiwaranya.
"Nona, ada apa dengan bi Asih? Dia baik-baik saja, kan?" Kiran menggeleng, lalu memulai tangis sandiwaranya.
"Dia tidak dapat diselamatkan, dia sudah meninggal." Ucap Kiran sambil terisak.
Bagus! Aku berhasil menyingkirkan nenek lampir itu, sekarang tidak ada yang bisa menghalangiku untuk menghancurkan kekuargamu, tuan Deva!
"Apa?! Tidak, itu tidak mungkin! Ini salahku, seharusnya aku tidak oingsan atau semua ini tidak akan terjadi pada bi Asih!" Asri pura-pura terisak juga.
"Semua sudah takdir, mungkin bi Asih harus pergi dengan cara seperti ini untuk menghadap kembali sang Pencipta. Tapi jasa-jasanya di keluarga ini sangat besar, dia akan selalu dikenang." Kiran mengatur nada suaranya sesendu mungkin. Dalam hatinya, ingin cepat-cepat menangkap wanita jahat di hadapannya ini.
"Sebenarnya siapa orang yang telah melakukan ini pada bi Asih, dan apa tujuannya?" Kiran mengerutkan dahinya. Berusaha bersandiwara sebaik mungkin agar tidak dicurigai Asri.
Tenang saja, nona Kirana! Setelah ini kau tidak perlu penasaran dengan pembunuh pembantu tua itu! Karena kau sendiri sudah tidak akan bisa melihat faktanya lagi, saat semua rencanaku telah berhasil.
Asri tersenyum sinis, lalu saat Kiran menatapnya ia berpura-pura terisak kembali.
"Asri, tolong ambilkan air minum di dapur." Asri mengangguk, lalu bergegas menuju dapur. Langkahnya begitu cepat, disertai senyum penuh kemenangan karena beranggapan bahwa Kiran sangat polos dan bodoh, sehingga tidak bisa mengetahui bahwa penjahat besar dirumahnya berada di sekitarnya setiap hari.
Bodoh! Terlalu bodoh, kau akan mati bersama mereka. Jika kemarin aku akan menyiksamu, hari ini aku putuskan untuk melenyapkanmu juga.
Asri kembali dengan membawa segelas air di dapur, dalam perjalanan menuju Kiran ia terkejut bukan main ketika melihat ada beberapa pria bertubuh kekar sedang berdiri di samping Kiran. Disana bahkan terdapat bi Asih.
Mulutnya menganga, rasa takutnya sudah tidak bisa disembunyikan. Asri berbalik, dan tambah terkejut ketika paman Reihan sudah berdiri di belakangnya.
"A... Ada apa ini?" Tanya Asri tergagap.
"Ikut aku." Paman Reihan mencengkeram keras pergelangan tangan Asri dan membawanya menuju tempat Kiran berdiri.
"Apa kau pikir kami tidak tahu? Siapa yang jahat di rumah ini?" Ucap Kiran sinis sambil menunjuk ke arah cctv yang terpasang di depan kamarnya. "Ah, ternyata kau tidak pintar ya!" Ejek Kiran sambil mencebikan bibirnya.
"Nona, apa maksud nona? Siapa yang jahat?" Asri pura-pura tak mengerti.
Salah satu anak buah yang berdiri di samping Kiran mengeluarkan ponselnya, lalu diikuti Kiran dan yang lainnya. Semua ponsel itu dibuat memutar video ketika Asri mengejar bi Asih.
Asri terkejut bukan main, setahunya Kiran sedang tidur ketika ia menusuk bi Asih.
"Aku tidak tidur! Meskipun kamarku kedap suara, tapi sedikit suara masih bisa didengar!" Seolah tahu apa yang Asri pikirkan.
"Nona, akan kita apakan dia?" Kali ini Reihan yang bersuara.
"Lakukan apa yang menurut paman benar, jangan biarkan dia lepas dan mengancam keselamatan keluarga ini lagi." Kiran menghela napas panjang. "Siapa kau? Kenapa kau ingin sekali menghabisi keluarga ini?" Tanya Kiran pada Asri.
"Kau bertanya aku siapa? Aku adalah musuh kalian! Terutama ayah mertuamu itu! Dia menolakku demi wanita tidak tahu malu itu, dia membuatku menderita bertahun-tahun! Aku tidak terima, setiap hari aku berusaha membalas perbuatannya dengan menyakiti keluarganya. Tapi sialnya kau yang membuat ini gagal!" Teriak Asri dengan sorot mata penuh kebencian.
__ADS_1
"Cukup!" Reihan memutar pergelangan tangan Asri, sehingga ia meringis kesakitan.
"Paman, selebihnya aku serahkan padamu." Reihan mengangguk. "Mungkin aku tidak tahu, dendam seperti apa antara kau dan ayah Deva dulu. Tapi, kau akan mendapat hukuman yang setimpal karena telah berani untuk melenyapkan salah satu dari keluarga kami!"
Paman Reihan membawa Asri pergi untuk diberikan hukuman oleh mereka.
Kiran menghela napas lega, lalu tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang begitu nyeri pada perutnya.
"Aaah, sakit."
"Nona, anda kenapa?" Salah satu pria yang berdiri menghampiri Kiran.
"Mungkin aku hanya kelelahan, aku akan istirahat." Jawab Kiran ramah.
"Mari, aku akan mengantarmu nona." Bi Asih membantu Kiran berjalan menuju kamarnya.
"Bibi minta kalian berjaga di depan kamar nona Kiran, yang lainnya di depan kamar tuan muda kecil. Bibi takut terjadi hal yang tidak diharapkan." Minta bi Asih pada para anak buah ayah Deva tersebut.
Mereka mengangguk, lalu membagi kelompok menjadi dua dan melaksanakan instruksi yang diberikan bi Asih.
Setelah bi Asih pergi, Kiran berbaring di atas ranjang. Ia begitu lega, karena tidak terjadi kekerasan dalam menangkap Asri. Saat ini ia merindukan Sid, entah mengapa ia berfirasat akan terjadi hal buruk pada suaminya itu.
Kiran kembali berdiri, mencari ponselnya untuk menelepon Sid. Namun ia lupa, bahwa ponselnya tadi diletakannya diatas meja di depan kamarnya.
"Apa anda butuh sesuatu, nona? Biar saya yang akan mengambilnya." Kiran menggeleng.
"Aku hanya ingin mengambil ponselku, tadi tak sengaja tertinggal disini." Kiran menunjuk meja di belakang tubuh pria penjaga kamarnya.
Dengan sigap penjaga itu mengambilkan ponsel Kiran, dan memberikannya pada Kiran. Kiran menerimanya sambil tersenyum ramah.
Iapun langsung membuka ponselnya dan menelepon Sid.
"Hallo? Kau sedang apa?" Telepon sudah diangkat. "Kau tahu? Rencana kami sudah berhasil, sekarang dia sudah dibawa oleh paman Reihan!" Seru Kiran senang. Ternyata memang Sid sudah mengetahui, ada keganjalan pada pembantu yang ia kerjakan membereskan rumahnya tersebut.
Tiba-tiba didalam telepon terdengar suara tembakan, Kiran sangat terkejut.
"Hallo? Sid, ada apa?! Sid!" Kiran memanggil-manggil Sid, namun tak ada jawaban.
"Tuan muda!" Terdengar suara Ridan memanggil Sid, Kiran membelalakan matanya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
Apa yang terjadi? Jangan-jangan suara tembakan tadi....?
"Hallo, Sid?!" Dengan menahan tangis, Kiran mencoba memanggil Sid lagi.
"Hallo, nona?" Kiran tambah yakin terjadi sesuatu yang buruk pada Sid, ketika mendengar suara paman Ridan yang menjawabnya.
__ADS_1
"Ada apa? Dimana Sid?"
"Nona, tuan muda tertembak!"
"Apa?!" Kiran memegang kepalanya, tiba-tiba matanya menjadi gelap.
Bruk...
Kiran jatuh pingsan.
"Nona!" Bi Asih yang baru akan mengantar buah untuk nonanya dengan cepat menghampiri Kiran yang sudah berada di tangan para penjaga kamarnya. Seketikan keadaan berubah jadi tegang lagi.
"Nona, ayo bangun!"
"Tolong bawa nona Kiran ke kamarnya!" Seru bi Asih yang langsung diangguki oleh salah satunya.
Kiran digendong, lalu dibawa ke kamarnya dan direbahkan diatas ranjang.
Bi Asih mengambil minyak kayu putih, lalu didekatkannya pada hidung Kiran agar Kiran menciumnya dan tersadar.
Kiran benar-benar bangun, tentunya dengan kepanikan yang masih ada pada dirinya.
"Mana ponselku?" Bi Asih segera memberikannya.
Kiran mengambilnya cepat, lalu menelepon Sid lagi berkali-kali. Tidak ada jawaban, panggilan diluar jangkauan.
Tidak! Tuhan selamatkan dia, lindungilah dia!
Air mata mulai membasahi pipi chubby milik Kiran, ia sangat takut terjadi sesuatu pada suaminya.
"Nona, ada apa?"
"Tolong siapkan penerbangan ke London! Aku harus melihat suamiku disana, aku tidak bisa jauh darinya dalam keadaan dia seperti itu." Pinta Kiran pada salah satu anak buahnya.
"Nona, maaf kami tidak bisa jika tanpa izn tuan Reihan."
"Lakukan! Atau aku akan memecatmu, dan mengatakan ini pada ayah Deva!"
Akhirnya, dengan terpaksa anak buah itu mengangguk.
"Baik, nona penerbangannya besok." Akal mulai muncul, ia tak akan membiarkan istri dari tuannya pergi dalam keadaan seperti itu. Konsekuensi yang terjadi jika ia ceroboh sedikit saja terhadap keadaan dan keselamatan Kiran ia tahu.
Nyawanya yang akan jadi taruhannya.
Bersambung...
__ADS_1