
"Sid, jangan seperti itu." Isak Kiran.
"Tidak, kau tetap akan aku kurung di kamar sampai kau benar-benar menyadari kesalahanmu."
"Aku sudah sadar! Aku menyesal, telah pergi tanpa izin darimu." Memelas, tapi hatinya memaki laki-laki yang mempunyai gelar suami di hadapannya ini.
Manusia lucknut! Selalu saja tidak memakai hati jika ingin menghukum seseorang.
"Tidak, aku tidak akan goyah dengan pendirianku ini. Aku akan tetap menghukummu." Kiran cemberut, ia melepaskan pelukannya pada Sid.
Pikirannya mulai melayang-layang ke sebuah ide agar ia bisa bebas dari hukuman suaminya ini.
Tidak, tidak! Bukankah itu akan membuatku terlihat seperti ratu mesum?
"Sid, apa hukumannya bisa ditukar?" Tawar Kiran dengan hati yang geli memikirkan tawarannya itu.
"Dengan apa? Asalkan itu tidak merugikanku ataupun dirimu sendiri." Sid menyeringai, ia tahu apa yang sedang dipikirkan Kiran saat ini.
Kiran membisikkan sesuatu ke telinga Sid. Sid mangut-mangut dengan wajah senang.
"Baiklah, berapa menit perjalanan dari mansion ke rumah sakit?"
"Dua puluh lima menit, kenapa?" Tampang penasaran Kiran mulai terlihat, tapi hatinya merasa takut bahwa Sid akan membuat Kiran menebusnya dengan jawaban dari pertanyaannya itu.
"Satu menit dihitung satu malam, artinya selama dua puluh lima malam juga kau harus menebusnya." Kiran membelalak.
"Apa?!"
"Jangan membantah, atau hukumanmu akan semakin lama usai."
Haha, jangan coba-coba mempermainkanku!
"Aku bisa mati, jika harus begitu." Gerutu Kiran.
"Aku punya penawaran juga untukmu." Sid menyengir kuda, ide-ide jahil mulai berlintasan di pikirannya. "Tidak setiap malam, tapi dalam seminggu minimal tiga malam."
"Apa?!" Mata Kiran membelalak lagi.
Ringan, tapi... Itu akan semakin lama!
"Bagaimana, apa kau setuju?" Sid mengulurkan tangannya, mengajak Kiran bersalaman tanda bahwa Kiran setuju dengan penawaran Sid.
Dengan terpaksa, Kiran membalas uluran tangan itu. Wajah puas Sid terpampang jelas, membuat Kiran bergidik ngeri.
Bersiaplah, Kiran! Aku tidak akan mengampunimu. Kira-kira begitu iya, kan? Yang kau pikirkan itu?
"Istirahatlah, besok kita harus mengantar Ami dan Rafa ke bandara." Sambil membantu Kiran berbaring dan menyelimutinya.
Sid ikut berbaring di samping Kiran, ia juga mengantuk akibat tidak tidur lagi sedari tengah malam.
__ADS_1
Mereka berdua tidur berpelukan, tak peduli bahwa keduanya tidur di rumah sakit. Mesra tak memilih tempat, di rumah sakitpun mereka akan mengumbar kemesraannya.
...----------------...
Pagi hari tiba, Sid dan Kiran sedang dalam perjalanan menuju bandara. Mereka akan mengantar Rafa yang akan di pindahkan ke Singapura untuk dirawat.
Semalam Rafa sudah siuman ketika Kiran dan Sid baru beberapa menit terlelap.
"A... Ami." Lirih Rafa dengan suara lemah.
"Ssst... Jangan bicara, kau akan sembuh! Percayalah!" Ami menggenggam erat tangan suaminya itu.
"Kita akan kemana?"
"Singapura, kita akan ke Singapura untuk menyembuhkanmu."
Rafa menggeleng, ia merasa tidak perlu untuk ke Singapura mengobati penyakitnya.
"Jangan, tidak perlu." Tolak Rafa masih dengan suara lemah.
"Jangan keras kepala! Aku tidak bisa jika harus hidup tanpa dirimu lagi, Rafa!" Ami mulai terisak lagi. Rafa melepaskan genggaman tangan Ami, lalu memberikan sebuah surat padanya.
"Baca ini, setelah aku tidak ada lagi di dunia ini." Ami mengambil surat itu, lalu memasukannya ke dalam tas yang tersampir di bahunya.
"Apa maksudmu? Kau tidak akan tiada, kau pasti akan sembuh!" Ami menegaskan.
"Ami, itu tidak mungkin lagi. Penyakit yang aku derita ini sudah stadium akhir." Rafa tiba-tiba terbatuk-batuk, hidungnya mengeluarkan darah lagi. Ami panik dan segera meminta pertolongan perawat untuk segera memeriksa Rafa.
Kiran dan Sid yang sedari tadi mengikuti di belakang ambulan langsung turun dari mobil dan mengikuti Ami memasuki rumah sakit.
"Ami, ada apa?" Ami membalikan tubuhnya, dan langsung memeluk Kiran dengan tangis yang sudah tidak bisa ditahan.
"Ra... Rafa, dia..." Ami tak tahu harus mengucapkan apa, dia terlalu takut untuk bicara. Hatinya sangat mengkhawatirkan Rafa.
"Tidak, semua pasti baik-baik saja. Rafa pasti akan sembuh." Kiran menegarkan Ami.
"Ada apa?" Tanya Sid dengan wajah bingung.
"Tidak tahu, tapi pasti keadaan Rafa memburuk lagi."
Tiba-tiba dokter keluar dari ruang tindakan.
"Dokter, bagaimana suamiku?" Dokter menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Ami.
"Pasien mengalami koma, dia harus segera menjalani terapi atau penyakitnya akan semakin menggerogoti tubuhnya dan mungkin hidupnya tidak akan lama lagi." Ami meraba dadanya, hatinya terasa sakit.
"Aku akan memanggil dokter dari Singapura, dia akan melakukan terapinya disini." Ujar Sid sambil mengeluarkan ponselnya.
Dia mencoba menghidupkan ponselnya, tapi tidak bisa karena kehabisan baterai.
__ADS_1
"Kiran, kau tunggu disini bersama Ami tidak apa-apa, kan?" Kiran mengangguk cepat.
"Sid, lakukanlah apa yang menurutmu bisa menyelamatkan nyawa Rafa untuk Ami. Semoga apa yang kau lakukan ini kelak akan menjadi contoh yang baik untuk putra-putrimu, pergilah." Kiran memeluk Sid, Sid membalas pelukan itu lalu mengecup kening Kiran.
"Aku pergi? Jaga dirimu dan bayi kita baik-baik! Jangan melakukan apapun tanpa sepengetahuanku, aku akan menyuruh paman Reihan untuk menjagamu!" Kiran mengangguk cepat.
Tanpa berfikir panjang, Sid segera berlari menuju area bandara untuk segera melakukan penerbangan ke Singapura demi menjemput dokter yang akan menangani Rafa.
Sepeninggal Sid, Kiran membawa Ami duduk di kursi tunggu dan menenangkannya. Mata Ami terlihat sudah sembab akibat menangisi Rafa terus menerus.
"Ami, sudah jangan menangis." Kiran memeluk Ami.
"Kiran, apa ini? Belum lama kami bersama, tapi Rafa akan meninggalkanku lagi. Bahkan, dia tidak akan pernah kembali lagi setelah ini." Isak Ami. Kiran ikut menangis, penderitaan Ami tak sebanding dengan deritanya.
Dulu Rafa tak mencintainya, sekarang Rafa mencintainya tapi tetap akan pergi juga meninggalkannya.
"Hidupku hanya dipenuhi luka, aku ingin mati saja." Ami berdiri dari duduknya, lalu berlari menaiki lift.
Kiran mengikuti Ami di belakang, ia berjalan pelan karena takut membuat kandungannya terganggu.
Lift berhenti di lantai paling atas rumah sakit, Kiran tak lama juga sampai di tempat Ami berada.
"Ami, apa yang akan kau lakukan?" Teriak Kiran sambil meraih tangan Ami dan memegangnya dengan erat, takut Ami akan meloncat dari tempatnya.
"Aku akan mengakhiri seluruh penderitaan ini!" Ami menghempaskan tangan Kiran hingga terlepas.
"Lalu bagaimana dengan Keyra? Jika kau pergi dan Rafa juga pergi, siapa yang akan menjaganya dan memberikannya kasih sayang?" Ami menoleh dan menatap Kiran dengan mata sembabnya.
"Ya, siapa yang akan membesarkannya? Apa kau akan tega meninggalkannya sendirian? Setidaknya pikirkan dia sebelum kau melakukan tindakan bodoh seperti ini!"
"Keyra?" Kiran mengangguk.
"Apa kau tidak kasihan padanya? Jika dia kehilangan ayahnya maka jangan sampai Keyra kehilangan ibunya juga, karena setelah kita kehilangan seorang ibu Keyra bisa salah arah saat besar nanti!"
"Aku akan mempercayakan Keyra padamu, agar aku tidak perlu mengatakan padanya jika ayahnya tiada." Ami kembali melangkah menuju sisi bangunan rumah sakit itu, dia sudah bersiap untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga.
"Ami, tidak! Jangan!" Teriak Kiran sambil berusaha menarik Ami, Ami menghempaskan tangannya hingga posisi Kiran berbalik menjadi dia yang terjatuh.
"Amiiii!" Teriak Kiran.
"Kiran! Tidaaaakkk!" Ami meraih tangan Kiran, dan menariknya lagi keatas.
"Maaf, Kiran." Ami memeluk Kiran sesegera mungkin.
Kiran hanya terduduk dengan wajah shock. Hampir saja, jika Ami tidak segera menarik tangannya mungkin Kiran yang akan terjatuh dari atas rumah sakit dan tidak akan selamat.
"Kiran, kau tidak apa-apa kan?" Kiran hanya diam, ia masih merasa ketakutan.
"Nona muda!" Reihan menghampiri Kiran, dan membantunya berdiri.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan? Anda bisa membahayakan nyawa nona muda!" Tegur Reihan pada Ami.
Beruntung Reihan tidak mengetahui kejadian yang baru saja hampir merenggut nyawa Kiran, jika ia tahu pasti Ami akan segera kehilangan Rafa dan nyawanya sendiri.