Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Ngidam Pertama di Kehamilan ke Tiga


__ADS_3

Sebagian wanita hamil mungkin ada yang merasakan beberapa tanda-tanda kehamilan yang berat, salah satunya adalah Kiran di kehamilan pertama dan keduanya. Namun, ada juga yang tidak memiliki tanda-tanda kehamilan apapun seperti Kiran saat ini juga dikehamilan ketiganya ia tak mengalami keluhan apapun seperti mual, muntah, dan mengidam.


Hal itu tentu saja membuat Sid sang suami bingung dan senang.


"Jadi tidak ada apapun yang kau inginkan?" Kiran menggeleng cepat. Sebab ia tak mengidam apapun, yang dia inginkan saat ini hanya istirahat dan istirahat.


"Jika aku ingin sesuatu aku akan meneleponmu nanti." Sid mengangguk, lalu mengusap kepala istrinya sebentar dan berangkat menuju ke kantor. Tak lupa sambil mengantar Kal, Ira, dan Ima ke sekolah.


Setelah Sid berangkat ke kantor Kiran tidak pergi kemanapun. Ia tetap di posisinya yang duduk bersandar pada kepala ranjang.


Mungkin satu-satunya gejala kehamilan yang ia rasakan saat ini hanya tubuhnya mudah lelah dan sering tidur.


Merasa bosan, Kiran menyalakan televisi yang sengaja diletakkan dikamarnya. Sebuah tayangan televisi di channel yang bertuliskan keren menayangkan sebuah acara makan-makan. Saat Kiran melihat dimana seorang artis beramput pirang membeli buah mangga ditaburi bubuk cabai Kiran mulai merasa air liurnya menetes.


"Sepertinya rasanya enak sekali dan akan membuatku segar." Gumam Kiran. Tangannya sudah meraba-raba perut dan mengelusnya.


Kiran turun dari ranjang kemudian mengambil ponsel yang terletak diatas meja riasnya. Ia mengetikkan ponselnya mengirim pesan pada Sid, sampai beberapa saat belum ada balasan.


Kesal, Kiran langsung menghubungi Sid dengan meneleponnya.


"Ya, sayang?"


"Aku ingin buah mangga muda yang dipotong seperti bunga, yang ditaburi bubuk cabai." Ucap Kiran langsung mengatakan keinginannya.


"Apa? Dimana aku bisa mendapatkan makanan seperti itu?" Nada suara Sid jelas seperti kebingungan.


"Di penjual manisan mangga yang suka berjualan ditaman xx."


"Baik, aku akan segera membelinya untukmu." Kiran menutup teleponnya, hatinya menjadi berbunga-bunga setelah mengatakan keinginannya pada Sid.


Sid sendiri jelas tak akan bisa menolak permintaan istrinya, karena mau bagaimanapun Kiran meminta hal-hal semacam itu juga karena efek sedang mengandung keturunannya.


...----------------...

__ADS_1


Sid terus berkeliling taman demi membelikan makanan yang sepertinya diidamkan Kiran untuk pertama kalinya di kehamilannya yang ketiga tersebut.


Sudah hampir setengah jam ia mencari, namun tidak kunjung menemukan buah mangga dipotong berbentuk bunga tersebut. Tapi ia tak menyerah, demi Kiran. Semua demi Kiran, demi bayinya juga.


Sampai salah satu pedagang yang baru datang membuat Sid tersenyum senang.


"Itu dia! Pasti buah mangga itu yang Kiran inginkan!" Gumamnya sambil berjalan menghampiri pedagang tersebut.


"Berapa harganya?" Tanya Sid pada pedagang tersebut.


"Satunya lima ribu, pak. Mau membeli berapa?" Sid terdiam, berpikir keras.


Berapa yang harus aku beli? Kiran tidak mengatakannya.


Tanpa pikir panjang lagi Sid mengambil keputusannya.


"Semuanya aku beli, jadi berapa?" Mata pedagang itu membelalak. Terkejut, ia baru datang tapi dagangannya sudah habis jika dibeli oleh Sid.


"Anu... Emm... Semuanya...."


"Ambilah, pak. Tolong dibungkus semuanya." Perintah Sid sambil tersenyum hangat.


"Ya ampun pak, itu terlalu banyak." Protes pedagang tersebut.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini rezeki anda hari ini." Pedagang tersebut mengambilnya, lalu membungkus seluruh buah mangganya kedalam kantung kresek dan menyerahkannya pada Sid.


"Terima kasih, pak. Semoga anda dan keluarga anda sehat selalu." Sid mengangguk, lalu bergegas pulang karena pasti Kiran sudah menunggunya.


Lebih tepatnya menunggu pesanannya datang.


...----------------...


"Ini, aku sudah membawakannya untukmu." Sid menyerahkan dua kanting kresek berukuran besar berisi mangga yang diinginkan Kiran.

__ADS_1


Kiran membelalak, lalu menatap Sid dengan tatapan terkejut. Kemudian menatap kantung kresek yang diserahkan Sid padanya.


"Kau ini kenapa?" Tanya Kiran dengan wajah tak percaya.


"Aku kenapa? Aku baik-baik saja, ini terimalah."


"Sid, kenapa kau membeli buah mangga sebanyak ini?" Sambil menunjuk mangga yang sudah dikupas dan dibentuk menjadi bunga tersebut.


Kiran menatap kembali suaminya dengan tatapan tak percaya.


"Siapa yang akan memakan semua ini?" Rutuk Kiran.


"Kau." Sid menunjuk Kiran. "Aku tidak tega pada pedagangnya, lagipula aku takut kau nanti tidak puas dengan satu mangga saja jadi aku membeli semuanya."


Kiran menghela napas kasar, lalu membuangnya dengan kasar juga. Ia mengusap dadanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bagaimana bisa ada suami seperti ini? Jika dia seperti ini pada setiap pedagang, bumi pasti akan kehabisan barang dagangannya setiap waktu!


"Jadi bagaimana? Kau mau atau tidak?!" Tanpa berpikir cepat Kiran mengangguk.


"Tapi tidak mungkin aku akan memakan semuanya."


Sid terdiam, berpikir keras. Bodoh juga dirinya sendiri, tak memikirkan siapa yang akan memakan semua mangga tersebut dalam waktu sehari.


"Bagikan saja pada tetangga bagaimana?" Dengan cepat Sid mengangguk setuju atas usul Kiran.


...----------------...


Disebuah rumah kecil, lebih tepatnya di pekarangan belakang rumahnya yang lumayan kecil namun sejuk dan nyaman seorang gadis yang baru menginjak usia remaja sedang duduk dengan sebuah gitar ditangannya.


Gadis itu adalah Keyra, matanya nampak terlihat merah dan sembab. Tatapan matanya pun sendu.


"Ayah, Ibu, kenapa kalian pergi secepat ini? Lihatlah, disini aku bersedih sendirian." Lirihnya dengan sangat pelan.

__ADS_1


"Kalian tidak akan ada yang bisa menggantikan."


Ada sedikit pengumuman, mungkin dalam jangka waktu lama cerita ini tidak akan up. bukan hanya cerita ini, akan tetapi novel Siran juga tidak akan up mengingat author sibuk kerja dan melakukan hal lainnya di dunia nyata.


__ADS_2