Bos Galak Idamanku

Bos Galak Idamanku
Kekacauan di Luar Gedung


__ADS_3

"Untuk apa kau kesini?" Tanya Sid dengan wajah datarnya.


Ikhsan memerhatikan Kiran, yang tampak terlihat sangat cantik. Sid yang tahu bahwa Ikhsan sedang memerhatikan istrinya menjadi tambah kesal.


"Hei, kau! Mata empat, jangan melihat istriku, atau aku akan membuat matamu tidak bisa melihat lagi!" Ancam Sid dengan wajah bersungguh-sungguh.


"Eh, tidak, pak. Maaf." Ikhsan gelagapan.


"Pergi sana, lebih baik kau makan saja! Jangan kembali kesini, dan jangan harap kau bisa memperhatikan istriku lagi!" Ikhsan segera berbalik, dengan bibir yang sudah menyerupai kerucut.


...----------------...


"Lepas! Aku harus menghentikan pernikahan ini! Aku tidak rela dia menikah dengan gadis itu!" Kanaya berusaha masuk, namun Mira dan Lakshmi menahannya.


"Hei Kanaya, jangan harap kau bisa masuk! Pergilah, jangan menemui kakakku lagi! Dia sudah bahagia dengan kakak ipar Kiran!" Lakshmi menjambak rambut Kanaya. Kanaya meringis kesakitan.


"Kak, apa yang akan kita lakukan dengan wanita ini?" Tanya Mira sambil berfikir.


"Mira, kita harus memberinya pelajaran yang akan diingat olehnya selamanya! Jika tidak, maka dia pasti akan berusaha mengganggu lagi kak Sid." Mira menatap Kanaya dengan tatapan membunuh.


"Kak, apa kita penjarakan dia saja?" Mira kembali bertanya.


"Tidak, kemarin dia sudah masuk penjara karena menusuk kakakku dengan pisau. Dan aku tidak tahu bagaimana bisa dia keluar dari penjara?! Sekarang, kita akan membuatnya jera saja! Ayo, kita bawa dia kepada paman Ridan! Pasti dia tahu apa yang akan dilakukan pada wanita yang tidak tahu malu seperti Kanaya!" Mira menarik tangan Kanaya, sedangkan Lakshmi tetap menjambak rambut Kanaya hingga berantakan.


"Lepaskan! Kau mau membawaku kemana?!" Kanaya berusaha melepaskan tangan Lakshmi dan Mira.


"Paman, lihat ini! Dia tidak pernah jera rupanya, dia mungkin berhasil melarikan diri dari penjara. Aku ingin minta tolong padamu, buat dia jera! Agar dia tidak bisa mengganggu kakakku lagi!" Lakshmi menyeret Kanaya pada pria yang berumur hampir empat puluh tahunan yang bernama Ridan itu.


"Tenang saja, nona. Semua ini akan ku atasi, kami akan memberitahu tuan Deva. Tapi untuk sementara, kami akan menahannya terlebih dahulu." Ridan membawa Kanaya pergi, entah kemana.


"Wah, kak Lakshmi! Keren sekali! Kau bisa membuat Kanaya seperti itu!" Puji Mira.


"Tentu saja, jika aku tak membuatnya seperti itu pasti dia akan kembali lagi untuk mengganggu kakak kita!" Lakshmi membanggakan diri.


"Ya sudah, kak. Ayo kita kembali ke dalam." Ajak Mira menarik tangan Lakshmi memasuki aula pernikahan.


Terlihat, Sid dan Kiran sedang duduk di pelaminan dengan senyum yang terus mengembang di bibir keduanya.


"Lihat itu! Mereka serasi sekali ya? Yang satunya cantik dan manis, yang satunya lagi tampan dan berwibawa!" Lakshmi memuji-muji Kiran dan Sid.


"Aaa... Iya, kak. Andai aku juga menemukan laki-laki seperti itu." Mira berkhayal.


Mereka terus memperhatikan keserasian Sid dan Kiran, terlebih ketika berdiri Sid melingkarkan tangannya di punggung Kiran.

__ADS_1


"Hei kalian!" Tiba-tiba seseorang memanggil Lakshmi dan Mira, keduanya sontak menoleh.


"Ya paman?" Ternyata Dendi yang memanggil mereka.


"Kemarilah! Kita makan dulu!" Lakshmi dan Mira segera berlari menghampiri Dendi, mereka sudah merasa lapar. Terlebih setelah menghajar Kanaya yang berusaha masuk ke dalam gedung ini.


Kembali ke Kiran dan Sid


"Sayang, kau lapar?" Tanya Sid pada Kiran, karena sejujurnya Sid sudah merasa lapar.


"Kenapa? Apa kau lapar? Aku akan mengambilkan makanan untukmu." Kiran berdiri, dan segera beranjak. Tapi Sid menahan tangannya.


"Tidak, bukan kau yang akan mengambilkannya. Biar dia saja!" Sid menunjuk pelayan catering yang sedari tadi berdiri di sekitarnya.


"Baiklah." Kiran duduk kembali disamping Sid.


"Hei, kau! Ambilkan aku makanan!" Perintah Sid yang langsung dituruti pelayan catering itu.


Tak lama, pelayan catering kembali membawa sepiring makanan dan memberikannya pada Sid.


"Ayo, kita makan. Kau suapi aku."


"A... Apa? Kau sudah besar, kenapa masih harus di suapi?" Kiran gelagapan.


Memalukan, dia pikir dunia ini miliknya ya? Tapi, anehnya aku malah senang. Kiran, suamimu itu benar-benar tidak punya urat malu ya sepertinya?!


Dengan terpaksa, walaupun senang Kiran menyuapi Sid makan.


"Kau pasti juga belum makan, sekarang kau makan juga." Sid balik menyuapi Kiran. Mereka saling menyuapi hingga makanan di piringnya habis.


"Sudah kenyang?" Sid mengangguk. "Tunggu sebentar, aku akan menyimpan ini dulu."


"Tidak, biarkan dia saja yang menyimpannya." Sambil menunjuk pelayan yang tadi memberikan makanan pada mereka.


Pelayan itu mengambilnya, tersenyum sekilas. Kiran membalas senyumannya sementara Sid langsung menariknya kedalam pelukannya.


"Dengar ya, aku tidak suka kau tersenyum pada pria lain." Bisik Sid ke telinga Kiran.


Ya Tuhan, sebenarnya ini awal kebahagiaan atau awal dari apa? Tersenyum saja tidak boleh!


"Iya, iya. Maaf, aku tidak akan begitu lagi." Kiran mengalah, dia tidak ingin berdebat di hari pernikahannya ini.


"Bagus, begitu! Menurutlah pada suamimu ini." Kiran mulai sebal dengan pria yang dia peluk ini.

__ADS_1


Aih, kau masih menyebalkan juga! Aku jadi rindu saat bekerja sebagai sekretarismu.


Kiran menyengir kuda, mengingat pada saat dia masih menjadi sekretaris di kantornya Sid.


...----------------...


Hari sudah malam, tamu-tamu sudah pulang semua. Hanya tinggal keluarga saja yang berada di gedung itu.


"Hei kalian!" Teriak Lucas, kakeknya Sid yang memang sudah datang seminggu sebelum pernikahan Sid bersama keluarganya.


"Kakek, darimana saja? Dari tadi aku tidak melihatmu!" Sid menarik tangan Kiran menemui kakeknya.


"Kakek tadi disana, bersama nenek dan paman juga bibimu." Menunjuk tempat duduk yang sedang di duduki Deva. Deva yang menyadari keberadaan mertuanya, langsung berjalan mendekati mereka.


"Ayah, ibu, sebaiknya kalian pulang lebih dulu dan istirahatlah di rumahnya Sid. Kalian pasti lelah, berada di gedung ini seharian." Ujar Deva.


"Baiklah, setelah ini kami akan istirahat." Jawab Ibu mertuanya.


"Iya, Reihan nanti akan mengantar kalian ke rumah Sid."


"Lalu Sid? Dia akan kemana?" Tanya Resha penasaran.


"Dia akan tidur di mansion utama bersama Kiran." Jawab Deva, membuat Sid dan Kiran sedikit terkejut.


"Apa? Mansion utama?" Sid sedikit bergidik ngeri.


Mansion utama? Bersama ayah dan Lakshmi? Ya Tuhan, lindungi kami dari adikku yang gila itu! Pasti saat ini dia sedang menyiapkan ulang keusilannya!


"Iya, kenapa kau terkejut? Adikmu dan Mira sudah menyiapkan kejutan untuk kalian." Sid tambah ngeri, saat ayahnya mengatakan bahwa Lakshmi dan Mira sudah menyiapkan kejutan untuknya.


Kejutan apa? Kejutan yang buruk, pasti iya.


"Hei! Kenapa kau malah melamun?" Deva membuyarkan lamuna Sid. "Jangan lupa, sebelum tidur buka dulu kado kalian yang sudah diantarkan ke kamar kalian!" Lanjutnya.


"Baik, ayah." Ucap Sid sedikit gugup.


"Ya sudah, kita pulang. Ini sudah malam, sudah waktunya kalian membuatkan cicit untukku." Ucap kakek Lucas dengan nada jahil.


"Eh, kakek... Kami..." Sid gelagapan


"Sudah! Kalian pulang duluan! Jangan banyak bicara!" Deva memotong.


Sid menarik tangan Kiran menuju keluar, dan memasuki mobil yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2